Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Asal-Usul Nama Banjar Angkah - Coggle Diagram
Asal-Usul Nama Banjar Angkah
Sinonim
Besar & Raksasa
Tekun & Rajin
Bukan & Tidak
Dilaksanakan & Melakukan
Hidup & Menjalankan
Kelian & Pengurus Adat
Membangun & Membuat
Upacara & Pujawali
Asri & Indah
Banjar & Dusun
Kata Seru
“
Wah
, susah juga ya, Pak?” tanya Men Bekung.
“
Wahai
wargaku, sebelum bekerja mari kita berkumpul di luar pura
“
Oooo
ya, pintar sekali anak Ibu..."
"
Nah
ditu dogen kejang”.
Wah
, itu bukan main-main. Itu adalah hal serius yang harus segera ditangani.
“
Nah
, laut cening mulih,” jawab sang raksasa.
Kata Depan
Mulut gua itu menghadap
ke
timur,
ke
arah matahari terbit.
Mereka mengumpulkan kayu bakar dan segala bahan yang mudah terbakar untuk dimasukkan
ke
dalam gua sang raksasa.
Para warga sudah datang sendiri
ke
kediamannya.
Para warga berbegas masuk
ke
dalam gua membawa kayu bakar dan bahan-bahan lain yang mudah terbakar.
Seluruh warga dusun keluar
dari
dalam gua, tetapi tidak pulang ke rumah masing-masing.
Mereka bekerja di ladang dengan tekun
dari
pagi hingga
sore hari.
Ketika hari menjelang sore, Men Bekung dan Pan Bekung pulang
dari
ladang
.
Kita tidak perlu susah-susah merawat anak itu
dari
kecil.
“Baiklah, Bu. Ibu tidak usah khawatir. Nanti saya jemur. Ibu dan Bapak pergi saja
ke
ladang,” jawab anaknya.
Setelah itu, Men Bekung dan suaminya berangkat
ke
ladang.
Kata Keterangan Waktu
Pagi hari
yang cerah pada beberapa hari sebelum
upacara, kentungan di banjar tersebut sudah berbunyi.
Mereka bekerja di ladang dengan tekun dari
pagi hingga
sore hari.
Nanti
mungkin saja dia akan memakan kambing atau ternak sapi kita.
“Selamat
malam
, Bapak-Bapak warga dusun.
Sekarang
dia memakan ayam dan babi.
Ada kemungkinan pada saat guanya terbakar, dia tertidur pulas dan
akhirnya
mati terbakar.
Besok
adalah giliran ibu- ibu untuk membuat sesajen.
Selanjutnya
, ketua serati membacakan pembagian tugas untuk ibu-ibu.
Kemarin
masih banyak.
Sejak
saat itu penduduk desa tidak merasa khawatir akan kehilangan warganya setiap kali upacara di Pura Desa dan Puseh.
Antonim
Banyak & Sedikit
Benar & Salah
Bertanya & Menjawab
Pagi & Malam
Hilangnya & Ada
Mulai & Menghentikan
Bapak-Bapak & Ibu-Ibu
Luar & Dalam
Raksasa & Kecil
Perempuan & Laki-laki
Kata Sadang
Sang
Raksasa
Sebagai
umat
yang beragama Hindu
Gotong-royong hanya dilakukan oleh
kaum
laki-laki.
Setelah halaman pura bersih, warga mulai membangun tempat untuk
para
ibu membuat sesajen nantinya.
Kegiatan itu dipimpin oleh ketua adat
yang
dikenal dengan istilah kelian adat atau orang
yang
dituakan dalam adat.
Kelian adat segera memberi tahu warga dusun untuk mengadakan rapat dalam rangka membuat strategi melawan
si
raksasa.
Tidak akan kubiarkan ayam-ayam kita memakannya,” sahut
si
gadis siluman.
Diceritakan
si
Gadis Cantik yang tinggal sendirian di rumahnya.
Mungkin saja siluman di rumah Pan Bekung itu adalah anak raksasa
yang
pernah saya dengar beritanya.
Sebagai
umat
beragama, kita harus tetap melaksanakan upacara itu walau apa pun yang terjadi,” kata kelian adat.
Jenis Kalimat
Tidak Langsung
Ya, saya pernah mendengar bahwa di dusun yang jauh dari sini pernah ada raksasa yang suka memangsa manusia.
Berdasarkan penyelidikan warga diketahui bahwa raksasa itu memiliki anak perempuan.
Berdasarkan cerita itu, masyarakat percaya bahwa kejadian di Dusun Angkah berhubungan dengan raksasa di Dusun Padangan.
Warga Dusun Angkah akhirnya mengetahui bahwa gua tersebut memang dihuni oleh raksasa.
Ketua serati mengumumkan bahwa ibu-ibu keesokan harinya harus membawa perlengkapan upacara berupa janur, ron (daun enau), semat, minyak kelapa, jajan, buah-buahan, bunga, dan daun pisang.
Langsung
“Nah, laut cening mulih,” jawab sang raksasa.
“Baiklah, Nak, mari kita kumpulkan seluruh warga
untuk membahas masalah ini,” jawab Kaki Basuk.
“Kek, kami mohon petunjuk bagaimana cara kita melawan raksasa yang menjadi ancaman bagi warga kita,” kata kelian adat.
“Apa yang harus kita lakukan?” kata warga yang
lainnya.
“Benar, kita tidak boleh meniadakan upacara itu,”
kata warga serentak.
Kata Keterangan Tempat
Sejak saat itu penduduk desa tidak merasa khawatir akan kehilangan warganya setiap kali upacara
di Pura Desa dan Puseh.
Sampai saat ini upacara
di pura
itu berjalan dengan baik dan lancar.
Di luar
gua mereka menyalakan banyak api obor.
Selang berapa lama sejak kematian sang raksasa di dalam guanya, tersiar berita
di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan
Dia tidak diizinkan ikut bekerja berat
di ladang ataupun di sawah.
Raksasa tidak bisa menyelamatkan diri dan akhirnya mati
di dalam gua.
“Nah ditu dogen kejang”. Artinya, ’
Silakan saja taruh disana.’
Kayu bakar yang sudah terkumpul lalu masuk ke kediaman sang raksasa
di sebelah timur dusun.
Harus menghangatkan badan dengan berjemur
di pagi hari.
Di atas
gua itu ada sebidang tanah lapang.
Dampak
Pilihan kata membuat Legenda Asal-Usul Nama Banjar Angkah lebih hidup dan menarik. Pilihan kata membantu pembaca membayangkan suasana dalam cerita, kata seru menunjukkan perasaan tokoh, kalimat langsung membuat percakapan terasa nyata, sedangkan kalimat tidak langsung membantu menjelaskan kejadian dengan lebih singkat.