Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
OTITIS MEDIA, NURUL KHALIDA - 2406499992 - Coggle Diagram
OTITIS MEDIA
FARMAKOLOGI
Patofisiologi
Pengertian
Inflamasi telinga tengah
Infeksi bakteri / virus
Area di belakang membran timpani
Etiologi
Virus
ISPA
Common cold
Bakteri (>80% OMA)
Streptococcus pneumoniae
Haemophilus influenzae non-typeable
Moraxella catarrhalis
Staphylococcus aureus
Lebih sering dewasa
Termasuk MRSA
Faktor risiko
Usia
Bayi dan anak 6 bulan–2 tahun
Lingkungan
Asap rokok
Polusi udara
Penitipan anak / sekolah
Perubahan musim
Kebiasaan
Minum susu sambil berbaring
Anatomi
Tuba Eustachius anak
Lebih pendek
Lebih lebar
Lebih horizontal
Celah bibir / langit-langit
Gangguan otot palatum
Disfungsi tuba Eustachius
Genetik
Respons imun
Regulasi inflamasi
Klasifikasi
OMA
Infeksi akut
Inflamasi
Membran timpani bulging
OME
Efusi telinga tengah
Tanpa infeksi aktif
Tanpa bulging
OMSK
Inflamasi kronis
Telinga tengah dan mastoid
Perforasi membran timpani
Otorea purulen berulang / menetap
Otitis media rekuren
≥3 episode / 6 bulan
≥4 episode / 12 bulan
Minimal 1 episode dalam 6 bulan terakhir
Mekanisme patogenesis
Kerentanan anatomis
Tuba Eustachius pendek dan horizontal
Migrasi patogen dari nasofaring
Disfungsi tuba Eustachius
Infeksi virus pada epitel nasofaring
Inflamasi mukosa
Edema dan obstruksi tuba
Gangguan drainase
Tekanan negatif telinga tengah
Inflamasi dan efusi
Akumulasi cairan
Masuknya patogen
Aktivasi Toll-like receptors (TLRs)
Pelepasan sitokin
IL-8
TNF
IL-1β
IL-6
IFN-γ
Edema
Otalgia
Akumulasi pus
Kronisitas
Adhesi bakteri pada mukosa
Pembentukan biofilm
Resistensi terhadap antibiotik dan respons imun
Infeksi persisten
OME persisten / OMSK
. Penggolongan Obat dan Mekanisme Kerja
Antibiotik beta-laktam
Mekanisme umum
Ikatan dengan PBP
Inhibisi transpeptidase
Hambatan cross-linking peptidoglikan
Kerusakan dinding sel
Lisis osmotik
Amoksisilin
Penisilin
Bioavailabilitas ±70%
Distribusi ke efusi telinga tengah
Ekskresi urin (±60% utuh)
t1/2t_{1/2}t1/2 ±1 jam
Amoksisilin-klavulanat
Amoksisilin + inhibitor β-laktamase
Proteksi cincin beta-laktam
Hambatan inaktivasi antibiotik
Sefaleksin
Sefalosporin generasi 1
Bioavailabilitas hampir 100%
Tidak dimetabolisme di hati
Ekskresi urin (>90% utuh)
Sefuroksim
Sefalosporin generasi 2
Prodrug: sefuroksim aksitil
Hidrolisis di mukosa usus / darah
Absorpsi meningkat bersama makanan
Ekskresi ginjal
Sefiksim
Sefalosporin generasi 3
Absorpsi oral 40–50%
Distribusi luas
Ekskresi urin (50%) dan feses (10%)
Antibiotik makrolida
Mekanisme
Ikatan reversibel subunit 50S
Hambatan translokasi peptidil-tRNA
Inhibisi sintesis protein
Bakteriostatik
Eritromisin
Tidak stabil dalam asam lambung
Konsumsi saat perut kosong
Metabolisme hati: CYP3A4
Ekskresi feses dan urin
Azitromisin
Bioavailabilitas 30–40%
Volume distribusi 31,1 L/kg
Distribusi jaringan, paru, tonsil
t1/2t_{1/2}t1/2 40–68 jam
Ekskresi empedu (50%) dan urin (12%)
Antibiotik lincosamide
Klindamisin
Ikatan subunit 50S
Hambatan peptidil transferase
Terminasi prematur polipeptida
Absorpsi oral hampir sempurna
Ikatan protein >90%
Metabolisme hati
Antibiotik fluoroquinolone
Levofloksasin / siprofloksasin / ofloksasin
Inhibisi DNA gyrase
Inhibisi topoisomerase IV
Gangguan supercoiling DNA
Hambatan replikasi DNA
Bakterisidal
Ekskresi urin
t1/2t_{1/2}t1/2 6–8 jam
Antibiotik sulfonamida
Kotrimoksazol
Sulfametoksazol + trimetoprim
Inhibisi dihydropteroate synthase
Hambatan sintesis folat
Gangguan sintesis DNA
Analgesik dan antipiretik
Parasetamol
Inhibisi COX sentral
Modulasi jalur serotonergik / kanabinoid
Penurunan prostaglandin SSP
Analgesik
Antipiretik
Absorpsi cepat
Metabolisme hati
Ekskresi urin
Ibuprofen
NSAID nonselektif
Inhibisi COX-1 / COX-2
Hambatan sintesis prostaglandin
Analgesik
Antipiretik
Antiinflamasi
Ikatan protein 99%
Metabolisme hati: CYP2C9
Obat otik dan topikal
Hidrogen peroksida 3%
Reaksi dengan katalase serumen
Pelepasan O₂
Pelunakan serumen
Disintegrasi kotoran telinga
Asam asetat 2%
Antiseptik topikal
Pembersihan liang telinga
Ofloksasin / siprofloksasin tetes telinga
Fluoroquinolone topikal
Eradikasi bakteri lokal
Pilihan pada perforasi / otorea
Risiko ototoksisitas rendah
FARMASI KLINIS
Algoritma Terapi Populasi Umum
Panduan nasional (Kemenkes RI)
Stadium oklusi tuba Eustachius
Tujuan
Membuka tuba Eustachius
Terapi
Parasetamol / ibuprofen
Antibiotik bila dicurigai infeksi bakteri
Stadium hiperemis / presupurasi
Tujuan
Mengatasi infeksi
Meredakan inflamasi
Terapi utama
Amoksisilin 7–10 hari
Dewasa: 3 × 500 mg/hari
Anak: 25–50 mg/kgBB/hari, 3 dosis
Analgesik / antipiretik
Alergi penisilin
Eritromisin 7–10 hari
Dewasa: 4 × 500 mg/hari
Anak: 25–50 mg/kgBB/hari, 4 dosis
Stadium supurasi
Tujuan
Mencegah ruptur membran timpani
Mencegah komplikasi
Terapi
Miringotomi oleh dokter THT
Bulging hebat
Nyeri berat
Amoksisilin dosis adekuat selama 10 hari
Analgesik / antipiretik
Stadium perforasi
Tujuan
Membersihkan sekret purulen
Mencegah infeksi sekunder
Terapi lokal
H₂O₂ 3%
3 × 4 tetes/hari
Didiamkan 2–5 menit
Asam asetat 2%
Ofloksasin tetes telinga
2 × 5–10 tetes/hari
Maksimal 2 minggu
Antibiotik sistemik
Dilanjutkan 7–10 hari
Edukasi
Menjaga telinga tetap kering
Menghindari masuknya air
Stadium resolusi
Tujuan
Penutupan perforasi membran timpani
Terapi
Menyelesaikan antibiotik
Durasi 7–10 hari
Kriteria rujukan (TACC)
Tidak membaik setelah 48–72 jam
Mastoiditis akut
Paresis saraf fasialis
Perforasi menetap >2 bulan
Kecurigaan OMSK
Panduan internasional (AAP / DiPiro)
Keputusan antibiotik vs observasi
Antibiotik segera
Usia 70 dB
Labirintitis / fistula labirin
Antivertigo
Antiemetik
Antibiotik
± kortikosteroid
Paralisis saraf fasialis
Kortikosteroid
Dekompresi saraf fasialis
Abses otak
Metronidazol + seftriakson IV
Alternatif: meropenem IV
Kecurigaan Pseudomonas
Seftazidim / sefepim IV
Durasi: 4–8 minggu
Meningitis
Seftriakson / meropenem IV
Metronidazol
Monitoring Terapi
Efikasi dan gejala klinis
Evaluasi awal: 48–72 jam
Demam menurun
Otalgia berkurang
Iritabilitas anak menurun
Tidur membaik
Nafsu makan membaik
Kegagalan terapi
Gejala menetap / memburuk
Evaluasi antibiotik lini kedua / ketiga
Resolusi otorea
Sekret purulen berhenti
Telinga kering
Evaluasi hari ke-7 hingga 1–2 minggu
Skor otologi
Tinnitus
Sekret
Sekret purulen
Edema mukosa
Skor 90 dB
Tes penala
Rinne
Weber
Schwabach
Identifikasi tuli konduktif / sensorineural
Pemeriksaan laboratorium
Suhu tubuh
Kembali afebris
Darah rutin
Leukosit normal
Kultur sekret telinga
Eradikasi bakteri
Kultur ulang pada otorea menetap / kegagalan terapi
Keamanan obat dan ESO
Beta-laktam
Amoksisilin / amoksisilin-klavulanat
ESO
Diare
Mual
Ruam
Gangguan fungsi hati
Interaksi
Metotreksat: peningkatan kadar / risiko supresi sumsum tulang
Warfarin: peningkatan INR / perdarahan
Alopurinol: peningkatan risiko ruam
Seftriakson
ESO
Presipitasi kandung empedu pada anak
Kontraindikasi
Larutan IV mengandung kalsium pada neonatus ≤28 hari
Levofloksasin
ESO
Tendinitis
Ruptur tendon
Neuropati perifer
Pemanjangan QT
Interaksi
Kortikosteroid: peningkatan risiko ruptur tendon
H₂O₂ 3%
Rasa hangat / terbakar sementara
Iritasi lokal liang telinga
NURUL KHALIDA - 2406499992