Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Otitis Media dan Faringitis, RAZKY RIANDIKA RIADI 2406499960 Modul…
Otitis Media dan Faringitis
Patofisiologi
Otitis Media
Bakteri
Persistensi bakteri di telinga tengah
Bakteri melekat pada mukosa dan membentuk biofilm
Bakteri menjadi lebih terlindungi dari respons imun dan terapi antibiotik
Infeksi sulit dieradikasi
Peningkatan mediator inflamasi
Potensi perkembangan menjadi OME persisten atau otitis media supuratif kronis (CSOM)
1 more item...
Virus
Kolonisasi bakteri patogen pada nasofaring
Infeksi virus saluran pernapasan atas menginfeksi epitel nasofaring dan tuba Eustachius
Perubahan respons imun, peningkatan sitokin dan mediator inflamasi, serta peningkatan adhesi bakteri pada epitel
Perubahan karakteristik mukus dan penurunan pembersihan mukosiliar
Disfungsi tuba Eustachius
Gangguan drainase sekresi dan timbulnya tekanan negatif di telinga tengah
1 more item...
Faringitis
Bakteri
bakteri menginfeksi mukosa faring
Bakteri melekat pada epitel faring
kolonisasi mukosa.
Bakteri GAS melepaskan berbagai eksotoksin.
Streptococcal Pyrogenic Exotoxins (SPE A, B, C, dan SSA)
sitokin (IL-1, IL-6, TNF-α, IFN-γ) dilepaskan
1 more item...
Streptolysin O
masuk ke sirkulasi sistemik
1 more item...
Virus
Rhinovirus dan Coronavirus
Virus masuk melalui epitel bersilia
Menimbulkan edema dan hiperemia pada membran mukosa hidung
Memicu peningkatan aktivitas sekretorik kelenjar mukosa
Menyebabkan pembengkakan mukosa rongga hidung, tuba eustachius, dan faring
terbentuk bradikinin dan lysyl-bradikinin di rongga hidung
1 more item...
Adenovirus dan Virus Influenza
Virus menginvasi sel epitel mukosa faring/respiratori secara langsung
Replikasi virus di dalam sel menimbulkan efek sitopatik
Terjadi nekrosis jaringan epitel (pada influenza)
Muncul respons inflamasi
Adenovirus
1 more item...
Influenza
1 more item...
Penggolongan Obat
ANTIBIOTIK
BETA LAKTAM
Beta Laktam menembus dinding sel
berikatan dengan Penicillin-Binding Proteins/Enzim Transpeptidase
Hambat proses cross-linking
Dinding sel bakteri tidak dapat terbentuk sempurna
Dinding bakteri menjadi lemah.
Lisis karena pengaruh tekanan osmotik
1 more item...
MAKROLIDA
Berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri
Menghambat proses translocation
sintesis protein pada bakteri terblokir.
Pertumbuhan bakteri terhambat
Contoh: Azitromycin, Eritromycin
LINCOSAMID
Berikatan dengan subunit ribosom 50S
Mengganggu aktivitas peptidil transferase
pembentukan rantai polipeptida menjadi terhambat
proses translokasi/elongasi terganggu
Pertumbuhan dan multiplikasi bakteri terhambat
Contoh: clindamycin, lincomycin
Fluoroquinolone
Menghambat DNA gyrase (topoisomerase II)
proses supercoiling terganggu (relaksasi)
Replikasi DNA terganggu
Menghambat topoisomerase IV
Menghambat pemisahan DNA hasil replikasi
segregasi DNA terganggu
Bakterisidal
Contoh: Levofloxacine, Ciprofloxacine
Sulfonamida
bersaing dengan enzim dihydropteroate synthase.
Menghambat sintesis PABA menjadi asam dihidropteroat
Sintesis asam folat terganggu
Replikasi dan pembentukan DNA terhambat
Contoh: Sulfomethoxazole, Sulfathiazole
INOSINE PRANOBEX
Efek Imunomodulasi
Respon Seluler (Th1)
meningkatkan sitokin proinflamasi
menurunkan sitokin antiinflamasi
meningkatkan Maturasi & diferensiasi limfosit T
meningkatkan Populasi & aktivitas sel Natural Killer
meningkatkan Kemotaksis & fagositosis Neutrofil, Monosit, Makrofag
1 more item...
Respon Humoral
meningkatkan Diferensiasi Sel B menjadi Sel Plasma
meningkatkan Produksi antibodi
Efek Antiviral Langsung
Modulasi Ribosom
Berikatan dengan ribosom sel terinfeksi
Modifikasi sterik struktur ribosom
RNA host mengungguli RNA virus pada ikatan ribosom
Kesalahan pembacaan genom virus
Ribosome stalling & context-dependent decoding
Inhibisi Biosintesis Purin
Terdisosiasi melepaskan inosina
Inhibisi konversi Ribosa Fosfat -> PRPP
Memblokir sintesis nukleotida purin (Adenilat & Guanilat)
Menghambat pembentukan RNA virus
Paracetamol
Acetaminofen bertugas untuk menghambat Peroksidase (POX)
menghambat pembentukan PGH
Produksi PGE menurun
meningkatkan ambang nyeri dan menurunkan set point suhu
NSAID
NSAID menghambat COX-1/COX-2
menurunkan sintesis eikosanoid
efek farmakologi (analgesik, antipiretik, antiinflamasi)
Contoh: IBUPROFEN
Antijamur
berikatan dengan ergosterol
Terbentuk pori/kanal transmembran
terjadi keboroan ion ion dan komponen seluler
Homeostatis terganggu , sel jamur mati
Contoh: Nystatin
Dekongestan
Obat mengaktivasi reseptor α₁-adrenergik pada pembuluh darah mukosa hidung.
Subunit Gαq mengaktifkan fosfolipase C (PLC).
PLC memecah PIP₂ menjadi IP₃ dan DAG.
IP₃ meningkatkan pelepasan Ca²⁺ intraseluler sehingga memicu kontraksi otot polos.
Kontraksi otot polos menyebabkan vasokonstriksi lokal.
Kongesti vaskular mukosa hidung berkurang sehingga terjadi efek dekongestan.
Contoh: Pseudoephedrine, Phenylephrine
Kortikosteroid
Kortikosteroid berikatan dengan glucocorticoid receptor
berpindah ke nukleus dan menghambat aktivitas HAT
HDAC2 yang bisa deasetilasi histon ditarik
Kromatin menjadi lebih tertutup dan transkripsi gen inflamasi ditekan
Produksi berbagai protein inflamasi menurun
Inflamasi pada saluran napas berkurang
Contoh: Dexamethasone, Prednisone, Methylprednisolone
ANTISEPTIK
Disosiasi PVP-I menembus membran sel mikroba.
Oksidasi gugus tiol (-SH) dan gugus fungsi esensial memicu denaturasi protein
Keutuhan membran sel mikroba mengalami kerusakan fatal.
replikasi serta transkripsi genetik terganggu
Inaktivasi total berujung pada kematian mikroorganisme.
Povidone Iodine
ANTIHISTAMIN
inverse agonist yang menstabilkan reseptor H₁ untuk menghambat efek histamin.
Aktivasi jalur pensinyalan intraseluler oleh reseptor H₁ berkurang,
Respons alergi dan gejala inflamasi berkurang
Contoh : Cetirizine, Loratadine,Klorfeniramin maleat (CTM)
OBAT CUCI TELINGA
Interaksi dengan enzim katalase pada serumen telinga.
Pelepasan gelembung gas oksigen (O2)
Ekstraksi, pengangkatan, dan pemecahan struktur serumen.
Pelunakan massa kotoran telinga.
Efisiensi pembersihan saat irigasi atau tindakan ekstraksi.
Hidrogen Peroksida 3%
Tatalaksana
Umum
Otitis Media
Otoskopi
menentukan tipe otitis media
Penatalaksanaan berdasarkan stadium
Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Antibiotik
Analgetik/Antipiretik
Stadium Hiperemis (Presupurasi)
Antibiotik Sistemik
Amoksisilin
Analgetik/antipiretik
Stadium Supurasi
Miringotomi
Antibiotik Sistemik
Amoksisilin
Analgetik/Antipiretik
Stadium Perforasi
Cuci Telinga
H2O2 3%
Asam asetat 2%
Ofloxacin
Antibiotik Sistemik
Stadium Resolusi
Antibiotik Sistemik
Faringitis
membedakan etiologi virus dan bakteri
Terapi Simptomatik
Terapi Antibiotik (khusus infeksi bakteri / skor tinggi)
Lini 1
Amoksilin-klavulanat,Penicillin VK,Penicillin G
Lini 2
Eritromisin,Azitromisin,KlaritromisinCefalosporin gen satu atau dua,Levofloksasin
1 more item...
Khusus
IBU HAMIL
OTITIS MEDIA
Antibiotik untuk ibu hamil:
Beta-laktam (kategori B)
Golongan makrolida (kategori B) seperti Azitromisin.
Terapi Simptomatik
Parasetamol
Faringitis
First line therapy
Penicillin G → 1,2 juta U intramuskular → 1 dosis
Penicillin VK → 2–3 x 500 mg → 10 hari
Amoksisilin → 3x 500 mg → 10 hari
Terapi suportif
Paracetamol untuk nyeri dan demam--> REKOMENDASI
HINDARI konsumsi ibuprofen dan aspirin
Kumur menggunakan larutan garam hangat atau gargarisma khan
Lozenges tablet hisap untuk nyeri tenggorokan
GERIATRI
Faringitis
Virus
Non Farmakologis
Simptomatik
Bakteri
Antibiotik
Penisilin VK 500 mg, 2 kali sehari selama 10 hari
Benzathine penicillin 1,2 juta IU secara intramuskular (IM)
Alternatif
antibiotik berbasis eritromisin.
Otitis Media
Antibiotik diberikan ketika infeksi menyebar ke struktur di sekitarnya.
Amoksisilin dosis tinggi atau amoksisilin–klavulanat efektif.
Alternatif
Sefalosporin, seperti sefuroksim atau cefdinir
Penisilin
Fluorokuinolon
PEDIATRI
OTITIS MEDIA
OTITIS MEDIA AKUT
Penanganan Nyeri & Terapi Simtomatik
Analgesik Topikal
Tentukan perlu dioberservasi atau pemberian antibiotik segera
Pemberian Antibiotik
Terapi awal
2 more items...
fluoroquinolone DILARANG untuk <12 tahun
OTITIS MEDIA EFUSI
Observasi selama 3 bulan
Gunakan Tympanostomy Tube jika dengan indikasi hilang pendengaran
Jika terjadi otorea akut
Gunakan Antibiotik Topikal
Ciprofloxacin otic drops atau Ofloxacin drops
Terapi antibiotik tidak disarankan pada pasien anak dengan OME, KECUALI:
OME yang dipicu oleh rhinosinusitis ,
Adanya infeksi bakteri pada organ sekeliling
Faringitis
risiko faringitis dapat dilakukan menggunakan Centor Score.
Hasil positif → terapi antibiotik
Dianjurkan menggunakan amoksisilin
Hasil Negatif→ tidak perlu terapi
Monitoring terapi
Otitis Media
Evaluasi respon awal pada OMA
Keberhasilan Terapi:
hilangnya demam , berkurangnya otalgia, penurunan iritabilitas, serta perbaikan pola tidur dan nafsu makan.
Resolusi Otorea
berhentinya sekret purulen atau mukoid sehingga telinga menjadi kering permanen.
Penilaian Skor Otologi
Monitoring Pasca-Tindakan Bedah
kavitas mastoid yang kering, bersih, dan sehat.
Bebas dari seperti otalgia berat, pusing/vertigo vestibular, atau kelumpuhan saraf wajah
Pemeriksaan Otoskopi / Otomikroskopi / Otoendoskopi
OMA
hilangnya penonjolan membran timpani
OMSK
berkurang/hilangnya tanda inflamasi mukosa telinga tengah,
Pemeriksaan Audiometri Nada Murni
Pemeriksaan Tes Penala
Faringitis
Parameter
Suhu Tubuh
Penurunan suhu hingga normal
Nyeri Tenggorokan & Nyeri Telan (Odinofagia)
Meredanya rasa nyeri
Tanda Inflamasi Lokal
Berkurangnya eritema
bengkak pada mukosa faring
KGB Servikal Anterior
Pengecilan ukuran kelenjar dan hilangnya nyeri tekan.
Gejala Sistemik & Pencernaan
Meredanya pusing/sakit kepala, mual, muntah, nyeri abdomen, malaise, serta pulihnya nafsu makan.
Lab Tes
Throat Swab
Eradikasi bakteri menyeluruh (hasil kultur steril/negatif).
RADT
Hasil tes negatif (menandakan bakteri aktif sudah hilang).
DPL
Penurunan jumlah leukosit dan hitung jenis neutrofil hingga kembali ke batas normal
Pemeriksaan Mikroskopis (Gram / KOH)
Tidak ditemukannya lagi sel kuman patogen, sel ragi, atau hifa pada hasil swab mikroskopis.
RAZKY RIANDIKA RIADI
2406499960
Modul Pernapasan C