Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
OTITIS MEDIA DAN FARINGITIS, SAVITRI OKTAVIA R., 240642115 - Coggle Diagram
OTITIS MEDIA DAN FARINGITIS
FARINGITIS
PATOFISIOLOGI
Bakteri GAS menempel pada epitel faring di reseptor CD46, CD44 dan glikan dengan adanya kapsul asam hialuronat
SpeB dan SLS merusak sambungan antar sel
SLO dan NADase merusak Golgi apparatus
Kematian sel sehinggabakteri dapat menginvasi jaringan melalui pyroptosis
Memicu respons inflamasi sel dan melepaskan sitokin proinflamasi IL-37, IL-8, C5a
GAS menghindari deteksi imun dengan
mendegradasi LL-37
,
memotong IL-
8, dan
memecah C5a
SLS menekan rekrutmen neutrofil
1 more item...
TATALAKSANA NASIONAL
First Line
Amoksilin-klavulanat
Anak (250 mg, 3x sehari)
Dewasa (500 mg, 3x sehari)
selama 10 hari
Penicillin VK
Anak (250 mg, 2 – 3x sehari)
Dewasa (500 mg, 2 – 3x sehari)
selama 10 hari
Second Line
Eritromisin
Anak (250 mg, 4x sehari)
Dewasa (500 mg, 4x sehari)
selama 10 hari
Supportif
NSAID: Aspirin
Kumur dengan larutan garam / gargarisma khan
Akibat jamur
Nistatin 100.000–400.000 IU, 2 kali/hari
Akibat virus
Antivirus (isoprinosine) 60–100 mg/kgBB dibagi dalam 4–6x/hari (orang dewasa)
TATALAKSANA INTERNASIONAL
First Line
Penisilin 500mg 2x sehari selama 10 hari
Pasien alergi penisilin
Sefalosporin 20mg/kg/dosis 2x sehari
TATALAKSANA PADA PEDIATRI
First Line
Amoksisilin 50mg/kg/dosis
1x/hari selama 10 hari
Alergi penisilin
Sefaleksin 25mg/kg/dosis
2x/hari selama 10 hari
Klindamisin 10mg/kg/dosis
3x/hari selama 10 hari
TATALAKSANA PADA IBU HAMIL
First Line
Penicillin G → 1,2 juta U intramuskular → 1 dosis
Penicillin VK → 2–3 x 500 mg → 10 hari
Amoksisilin → 3x 500 mg → 10 hari
Supportif
Paracetamol untuk nyeri dan demam
Hindari ibuprofen dan aspirin
Kumur menggunakan larutan garam hangat atau gargarisma khan
Lozenges tablet hisap untuk nyeri tenggorokan
TATALAKSANA PADA GERIATRI
Antibiotik
Penisilin VK 500 mg, 2 kali sehari selama 10 hari
Benzathine penicillin 1,2 juta IU secara intramuskular (IM)
Simptomatik
Parasetamol
PARAMETER MONITORING
Tanda inflamasi lokal
Berkurangnya eritema (kemerahan) & bengkak pada mukosa faring, tonsil, dan uvula.
Pembersihan bercak eksudat purulen (patchy exudates).
Hilangnya petekia palatum & ruam skarlatiniform.
Faringitis akibat jamur (Candida) ⟶ hilangnya plak/pseudomembran putih di orofaring dan pangkal lidah.
Faringitis Viral
Tampak faring dan tonsil hipermis, eksudat.
Coxsachievirus ⟶ lesi vaskular di orofaring dan lesi kulit ⟶ maculopapular rash
Faringits Bakterial
Tampak tonsil membesar, faring dan tonsil hipermis dan terdapat eksudat di permukaan
Timbul bercak petechiaepeda palatum dan faring
Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal, nyeri saat ditekan
Faringit Fungal
Tampak plak putih di orofaring & pangkal lidah
OTITIS MEDIA
PATOFISIOLOGI
Infeksi Saluran Napas Atas (ISPA) oleh virus
Inflamasi & Gangguan Mukosiliar
Obstruksi Tuba Eustachius & Penurunan Ventilasi
Innflamasi sehingga menyumbat tuba Eustachius
Penurunan ventilasi pada ruang telinga tengah
Kaskade Perubahan Tekanan & Penumpukan Sekret
Sumbatan tuba Eustachius memicu serangkaian kaskade
Peningkatan tekanan negatif di telingah tengah
Peningkatan eksudat dari mukosa yang meradang
1 more item...
Inflamasi meluas
Terjadi kerusakan/gangguan pada aparatus mukosiliar
TATALAKSANA NASIONAL
Pemeriksaan berdasarkan stadium
Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Antibiotik sebagai
first line
apabila risiko bakteri
Analgetik: parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali
Stadium Hiperemis (Presupurasi)
Antibiotik sistemik: amoksisilin 3x500 mg/hari (Dewasa); 25-50 mg/kgBB/hari (anak)
Analgesik: parasetamol
Stadium Supurasi
Miringotomi
Antibiotik sistemik: Amoksisilin dosis adekuat selama 10 hari
Analgetik/Antipiretik
Stadium Perforasi
Cuci telinga: H2O2 3% 3x/hari 4 tetes di telinga yang sakit, didiamkan selama 2-5 menit
Cuci telinga: Ofloxacin (2x/hari, 5-10 tetes di telinga yang sakit selama maksimal 2 minggu)
Antibiotik sistemik dilanjutkan hingga 7-10 hari
Stadium Resolusi
Antibiotik sistemik dilanjutkan hingga tuntas 7-10 hari
TATALAKSANA INTERNASIONAL
First Line
Amoksisilin 875mg dan Klavulanat 125mg, PO 2x sehari
Risiko infeksi
Amoksisilin 2000mg dan Klavulanat 125mg, PO 2x sehari
Pasien alergi beta-laktam
Dosisiklin 100mg oral tiap 12 jam
Levofloxacin 500-750mg oral 1x sehari
Lini terakhir
Klaritromisin 500mg tiap 12 jam selama 5-10 hari
TATALAKSANA PADA PEDIATRI
Terapi simptomatik
Demam
PCT/Asetaminofen (15 mg/kg setiap 4-6 jam)
Ibuprofen (10 mg/kg setiap 6 jam).
Analgesik topikal
Lidokain 2% sebanyak 1-2 tetes.
Kombinasi benzokain + fenazon yang ditempelkan pada membran timpani.
Antibiotik segera
Anak usia < 6 bulan.
Anak usia 6 bulan–2 tahun dengan OMA bilateral atau diagnosis pasti.
Anak usia ≥ 6 bulan dengan gejala berat (nyeri telinga ≥48 jam, demam ≥39°C, atau adanya otorea)
First Line
amoksisilin high dose 80-90 mg/kg/day
Suhu <39C
Amoksisilin 80–90 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2 dosis
Suhu ≥39∘C dan/atau otalgia berat)
90 mg/kg/hari Amoxicillin +6,4 mg/kg/hari Clavulanate, rasio 14:1 terbagi dalam 2 dosis
TATALAKSANA PADA IBU HAMIL
Antibiotik
Beta-laktam (kategori B) dengan penyesuaian dosis
Jika terjadi alergi → Golongan makrolida (kategori B) seperti Azitromisin.
Eritromisin sebaiknya dihindari
Simptomatik
Parasetamol
Kortikosteroid intranasal ⟶ budesonide (kategori B)
Antihistamin: Tidak dianjurkan pada trimester pertama
Loratadine
pada trimester 2 dan 3 serta
Cetirizine
pada trimester 3 diperbolehkan
TATALAKSANA PADA GERIATRI
First Line
Amoksisilin dosis tinggi atau amoksisilin–klavulanat.
Alternatif
Sefalosporin, seperti sefuroksim atau cefdinir
Penisilin
Fluorokuinolon
PARAMETER MONITORING
Keberhasilan terapi
Penurunan atau hilangnya demam (suhu tubuh)
berkurangnya otalgia (nyeri telinga)
penurunan iritabilitas/kegelisahan pada anak
perbaikan pola tidur dan nafsu makan
Otorea
berhentinya sekret purulen atau mukoid sehingga telinga menjadi kering permanen.
Monitoring setelah 48-72 jam
Otoskopi
berkurangnya atau hilangnya penonjolan membran timpani, kemerahan mereda, muncul kembali refleks cahaya, hilang cairan di liang telinga luar
berkurang/hilangnya tanda inflamasi mukosa telinga tengah, hilangnya jaringan granulasi, keerhasilan penutupan perforasi membran timpani.
Keutuhan dan keberhasilan graft membran timpani
Tes Penala
Rinne
Normal: suara terdengar seimbang di kedua telinga
Gangguan
Lateralisasi ke telinga sakit (ipsilateral): Tuli konduktif (3–5 dB).
Lateralisasi ke telinga sehat (kontralateral): Tuli sensorineural.
Weber
Positif: Konduksi udara (KU) > Konduksi tulang (KT).
Negatif: Konduksi tulang (KT) > Konduksi udara (KU) ⟶ Tuli konduktif
PENGGOLONGAN OBAT
Antibiotik: Beta Laktam
Contoh
Penisilin
Sefalosporin
Mekanisme
Menembus dinding sel dan berikatan dengan Penicillin-Binding Proteins
Menghambat proses cross-linking
Dinding sel bakteri tidak dapat terbentuk sempurna
tidak dapat menahan osmotic pressure
Bakteri lisis
Antibiotik: Makrolida
Contoh
Azitromisin
Eritormisin
Mekanisme
Berikatan reversibel pada subunit 50s ribosom bakteri
Menghambat
translocation
sintesis protein pada bakteri terblokir.
Sintesis protein terhambat
Antibiotik: Lincosamid
Contoh
Clindamycin
Lincomycin
Mekanisme
Berikatan dengan subunit ribosom 50S
Mengganggu aktivitas peptidil transferase
Pembentukan rantai polipeptida menjadi terhambat
Elongasi terganggu sehingga rantai protein tidak dapat diperpanjang
peptidil-tRNA dilepaskan lebih awal
Pertumbuhan bakteri terhambat
Antibiotik: Fluoroquinolone
Contoh
Levofloxacine
Ciprofloxacine
Mekanisme
Menghambat topoisomerase II
supercoiling terganggu (relaksasi)
Replikasi DNA terganggu
Menghambat topoisomerase IV
Menghambat pemisahan DNA hasil replikasi
segregasi DNA terganggu
Bakterisidal
Antibiotik: Sulfonamida
Contoh
Sulfomethoxazole
Sulfathiazole
Mekanisme
Competitive inhibitor terhadap enzim dihydropteroate synthase.
Menghambat sintesis PABA menjadi asam dihidropteroat
Sintesis asam folat terganggu
Replikasi dan pembentukan DNA terhambat
Antivirus: Inosine Pranobex
Mekanisme
Seluler (Th1)
Meningkatkan sitokin proinflamasi
Menurunkan sitokin inflamasi
diferensiasi limfosit T
meningkatkan Reseptor Fc IgG & C3 pada Eosinofil
Respon humoral
Meningkatkan diferensiasi Sel B menjadi Sel Plasma
Meningkatkan produksi antibodi
Modulasi ribosom
Berikatan dengan ribosom sel terinfeksi
Modifikasi sterik struktur ribosom
Kegagalan pembacaan genom
Ribosome stalling & context-dependent decoding
Inhibisi biosintesis purin
Terdisosiasi melepaskan inosina
Inhibisi konversi Ribosa Fosfat
Memblokir sintesis nukleotida purin
Menghambat pembentukan RNA virus
Paracetamol
Mekanisme
Jalur COX
Menghambat aktivitas COX di SSP
Prostaglandin menurun
Efek analgesik dan antipiretik
Jalur Serotonergik
stimulasi turun
Peningkatan aktivitas serotonin di SSP
efek analgesik
Jalur Kanabinoid
AM404 menghambat uptake anandamid & 2-AG
Aktivasi sistem kanabinoid
efek analgesik
Jalur TRPV1
AM404 mengaktivasi reseptor TRPV1
modulasi transmisi sinaptik glutamatergik
efek analgesik
NSAID
Selektif COX-1
Inhibisi COX 1
Menurunkan Prostaglandin
Menurunkan proteksi lambung
Menurunkan fungsi ginjal
resiko iritasi / ulkus / pendarahan
menurunkan inflamasi
Selektif COX-2
Inhibisi COX-2
Menurunkan prostaglandin
menurunkan nyeri dan infamasi
Non-Selektif
Enzim siklooksigenase (COX)
COX 1 (konstitutif); COX 2 (di induksi saat inflamasi)
NSAID menghambat COX-1/COX-2
menurunkan sintesis eikosanoid
prostaglandin
tromboksan
prostasiklin
Antihistamin
Contoh
Cetirizine
Mekanisme
Histamin berikatan dengan reseptor H₁
Antihistamin H₁ berperan sebagai inverse agonist sehingga menghambat efek histamin.
Aktivasi jalur pensinyalan intraseluler oleh reseptor H₁ berkurang
Respons alergi dan gejala inflamasi berkurang
Dekongestan
Contoh
Pseudoepedhrine
Mekanisme
berikatan dan mengaktivasi reseptor α₁-adrenergik
Subunit αq aktif menstimulasi phospholipase C (PLC)
PLC memecah PtdIns(4,5)P₂ menjadi second messenger IP₃ dan DAG
IP₃ meningkatkan pelepasan Ca²⁺ intraseluler dan meningkatkan respons kontraktil
Otot polos pembuluh darah mukosa hidung berkontraksi sehingga terjadi vasokonstriksi lokal
Kongesti vaskular mukosa hidung berkurang sehingga menghasilkan efek dekongestan
Kortikosteroid
Contoh
Methylprednisolone
Mekanisme
Berikatan dengan glucocorticoid receptor (GR)
Kompleks kortikosteroid–GR menghambat aktivitas HAT
Kompleks juga merekrut HDAC2
Kromatin menjadi lebih tertutup dan transkripsi gen inflamasi ditekan
Produksi berbagai protein inflamasi menurun
Inflamasi pada saluran napas berkurang
Antiseptik
Disosiasi PVP-I melepaskan I2 yang menembus membran sel mikroba.
Oksidasi gugus tiol (-SH) dan gugus fungsi esensial memicu denaturasi protein serta enzim seluler.
membran sel mikroba mengalami kerusakan
Oksidasi I2 terhadap asam nukleat dan asam amino mengganggu replikasi serta transkripsi genetik.
Inaktivasi total berujung pada kematian mikroorganisme.
Obat Cuci Telinga
Interaksi dengan enzim katalase pada serumen telinga.
Pelepasan gelembung gas oksigen (O2)
Ekstraksi, pengangkatan, dan pemecahan struktur serumen.
Pelunakan massa kotoran telinga.
Efisiensi pembersihan saat irigasi atau tindakan ekstraksi.
Antijamur: Nystatin
Nystatin berikatan dengan ergosterol dan terbentuk kompleks Nystatin–ergosterol
Terbentuk pori/kanal transmembran
Permeabilitas dan fluiditas membran berubah dan Integritas membran terganggu
Terjadi kebocoran Ca²⁺, K⁺, Na⁺, dan peptida kecil sehingga gradien elektrokimia terganggu
Transport membran dan metabolisme sel jamur terganggu
Terjadi homeostasis sel dan kematian sel jamur
SAVITRI OKTAVIA R.
240642115