Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Faringitis & Otitis Media - Coggle Diagram
Faringitis & Otitis Media
Otitis Media
Definisi
Peradangan atau infeksi yang terjadi pada rongga telinga tengah
Klasifikasi
Otitis Media dengan Efusi (OME): Keberadaan cairan/efusi di rongga telinga tengah tanpa tanda-tanda infeksi atau inflamasi akut (dapat memicu gangguan pendengaran konduktif dan aural fullness)
Otitis Media Akut (OMA): Infeksi telinga tengah dengan onset cepat (<3 minggu), ditandai nyeri telinga akut (otalgia) dan penonjolan membran timpani (bulging)
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK): Peradangan kronis telinga tengah yang berlangsung >6 minggu, ditandai perforasi membran timpani dan keluarnya cairan nanah (otorrhea)
Subtipe Lain: Recurrent AOM (Otitis Media Akut berulang)
Patofisiologi
Pemicu Awal: Diikuti atau dipicu oleh Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat virus (seperti RSV, Influenza, Coronavirus)
Disfungsi Tuba Eustachius: ISPA menyebabkan edema (pembengkakan) mukosa nasofaring dan tuba Eustachius, sehingga menyumbat saluran tuba
Tekanan Negatif & Stasis: Penyumbatan mengganggu ventilasi telinga tengah, menciptakan tekanan negatif, dan memicu stasis (penumpukan) sekret mukosa
Vaskularisasi & Infiltrasi: Terjadi dilatasi kapiler darah, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, edema lamina propria, serta infiltrasi leukosit
Kolonisasi Bakteri: Penumpukan sekret menjadi media tumbuh bakteri patogen (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis)
Tekanan Membran Timpani: Penumpukan cairan purulen menekan membran timpani dari dalam hingga menonjol (bulging), berwarna kemerahan (erythematous), dan mobilitasnya menurun
Perforasi & Komplikasi: Jika tekanan sangat tinggi, dapat terjadi perforasi/robekan membran timpani disertai keluarnya nanah (otorrhea), atau meluas menjadi otomastoiditis hingga OMSK
Algoritma Terapi Umum
Otitis Media Akut (OMA)
Manajemen Nyeri (Analgesik): Pemberian Parasetamol atau NSAID (Ibuprofen) sejak awal
. Tetes anestetik lokal dapat diberikan untuk mengurangi nyeri
Observasi (Watchful Waiting): Pada pasien berisiko rendah atau gejala ringan, observasi 48–72 jam dapat dilakukan sebelum memulai antibiotik
Terapi Antibiotik Sistemik (Lini Pertama)
Amoksisilin Dosis Tinggi: Dewasa 3 x 500 mg/hari selama 10–14 hari; Anak 80–90 mg/kgBB/hari
Amoksisilin–Klavulanat: Diberikan jika membutuhkan perlindungan β-laktamase, terdapat otitis-konjungtivitis, atau telah minum amoksisilin dalam 30 hari terakhir
Alternatif (Alergi Penisilin): Sefdinir, Sefuroksim, Sefpodoksim, atau Seftriakson
Terapi Berdasarkan Stadium OMA
Stadium Oklusi Tuba: Tetes topikal/dekongestan untuk membuka tuba eustachius
Stadium Perforasi: Cuci telinga dengan H2O2 3% atau Asam Asetat 2%, dilanjutkan antibiotik topikal Ofloxacin (2 x 5–10 tetes)
Otitis Media dengan Efusi (OME)
Observasi: Umumnya sembuh spontan dalam ≤3 bulan (75%–95% kasus)
Antibiotik: Tidak diberikan secara rutin
Intervensi Bedah: Pemasangan Tympanostomy tube (grommet tube) jika efusi bertahan ≥3 bulan disertai penurunan pendengaran ≥30 dB; adenoidektomi dapat dipertimbangkan pada anak ≥4 tahun
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Pembersihan Telinga (Aural Toilet): Mengeringkan dan membersihkan liang telinga
Antibiotik Topikal: Tetes Ofloxacin (2 x 4 tetes/hari) sebagai terapi utama
Antibiotik Oral
Dewasa: Lini 1 (Amoksisilin 3x500 mg, Amoksisilin-Klavulanat 3x500 mg, atau Siprofloksasin 2x500 mg selama 7 hari); Lini 2 (Levofloksasin atau Sefadroksil)
Anak: Amoksisilin-Klavulanat atau Sefadroksil selama 7 hari
Tatalaksana Bedah: Mastoidektomi, Timpanoplasti, atau Meatoplasti jika OMSK berulang, terdapat kolesteatoma, atau komplikasi
Algoritma Terapi Populasi Khusus
Pediatri (Anak-Anak)
Bayi ≤8 minggu (0–2 bulan): Neonatus <2 minggu dengan demam wajib tes sepsis penuh; bayi >2 minggu dengan ISPA/OMA dapat diberikan amoksisilin empiris
Anak 6–23 bulan
Gejala Berat / Otore / OMA Bilateral: Berikan antibiotik oral selama 10 hari
OMA Unilateral Gejala Ringan: Observasi (watchful waiting) atau antibiotik 10 hari
Anak ≥2 tahun (hingga 12 tahun)
Gejala Berat / Otore: Berikan antibiotik oral
Gejala Ringan (Unilateral/Bilateral): Utamakan observasi (watchful waiting) selama 48–72 jam; berikan resep cadangan (safety-net prescription) jika gejala tidak membaik
Pemilihan Analgesik: Ibuprofen lebih dianjurkan dibanding Asetaminofen (durasi kerja lebih lama, risiko toksisitas overdosis lebih rendah)
. Aspirin dilarang karena risiko Sindrom Reye
Ibu Hamil & Menyusui
Kondisi Khusus: Kehamilan memicu edema mukosa yang mengganggu fungsi tuba Eustachius
Terapi Lini Pertama: Golongan Beta-laktam Kategori B (Amoksisilin atau Penicillin VK)
Alergi Penisilin: Sefalosporin (Sefaleksin, Sefuroksim) atau Azitromisin (Kategori B)
Obat Dihindari: Eritromisin & Klaritromisin (risiko kelainan janin), Ibuprofen (terutama setelah gestasi 20 minggu), dan Klindamisin (kontraindikasi trimester 1)
Geriatri & Gangguan Ginjal (eGFR <30 mL/min)
Penyesuaian Dosis Amoksisilin: eGFR 10–30 max 500 mg / 12 jam; eGFR <10 max 500 mg / 24 jam
Penyesuaian Dosis Sefaleksin: eGFR 10–40 max 1,5 g/hari; eGFR <10 max 750 mg/hari
Azitromisin: Gunakan dengan hati-hati karena paparan sistemik meningkat sekitar 33%
Penicillin V: Tidak memerlukan penyesuaian dosis
Monitoring Terapi
Evaluasi Klinis Respons Terapi
Parameter keberhasilan: Perubahan signifikan pada nyeri telinga, penurunan demam, serta berkurangnya kemerahan/penonjolan membran timpani
Evaluasi wajib dilakukan dalam 48–72 jam setelah terapi dimulai
Jika gejala tidak membaik dalam 48–72 jam: Lakukan evaluasi ulang diagnosis atau ganti ke antibiotik lini kedua akibat potensi resistensi
Pemeriksaan Fisik & Penunjang
Otoskopi / Otomikroskopi: Menilai kondisi membran timpani (stadium oklusi, hiperemis, supurasi/bulging, perforasi, atau resolusi)
Tes Penala: Menilai tuli konduktif via Tes Rinne (negatif/BC>AC), Tes Weber (lateralisasi ke telinga sakit), dan Tes Schwabach
Pemeriksaan Lanjutan OMSK: HRCT Temporal (pemetaan pra-bedah kolesteatoma), Audiometri Nada Murni, serta Kultur Sekret Telinga
Terapi Non-Farmakologi
Kebersihan Telinga: Bersihkan dan keringkan liang telinga menggunakan kapas/cotton bud atau tissue spears
Perlindungan dari Air: Menjaga agar telinga tidak kemasukkan air (terutama saat mandi atau berenang)
Pencegahan Trauma: Dilarang mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam
Prosedur Aural Toilet: Melakukan pembersihan liang telinga via penyedotan (suction), swab kapas, atau irigasi steril (NaCl 0,9%, Asam Asetat 2%, atau H2O2 3%)
Pengendalian Faktor Lingkungan: Hindari paparan asap rokok pasif dan hindari kontak dengan air terkontaminasi
Faringitis
Definisi
Infeksi atau peradangan pada daerah faring (tenggorokan)
Anatomi Faring: Saluran yang menghubungkan hidung dan mulut menuju paru-paru
Klasifikasi
Faringitis Akut
Viral (50–80% kasus): Rhinovirus, Influenza, Adenovirus, Coronavirus, EBV, Coxsackievirus
Bakterial: Penyebab utama Streptococcus Beta-Hemolitikus Grup A / GAS (15–30% anak, 10% dewasa), serta grup B/C, M. pneumoniae, C. pneumoniae, N. gonorrhoeae
Fungal: Terutama disebabkan oleh Candida albicans
Urogenital: Kontak urogenital (Neisseria gonorrhoeae)
Faringitis Kronis
Hiperplastik: Perubahan mukosa dinding posterior faring, ditandai hiperplasia kelenjar limfa dan permukaan bergranula
Atrofi: Sering menyertai rinitis atrofi; udara masuk tanpa pengaturan suhu/kelembapan optimal sehingga mengiritasi faring
Patofisiologi
Kolonisasi & Adhesi: Bakteri GAS masuk dan menempel pada sel epitel mukosa faring via M protein
Invasi & Penghindaran Imun: Kapsul asam hialuronat serta faktor virulensi (SLO, SLS, NADase, SpeB) membantu bakteri menghindari fagositosis dan merusak jaringan epitel
Respon Inflamasi: Kerusakan sel epitel mengaktifkan pelepasan mediator inflamasi (IL-6, IL-8, IL-37)
Manifestasi Vaskular & Sensori: Terjadi vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, edema mukosa, serta pelepasan peptida CGRP pada neuron sensorik yang memicu sensasi nyeri tenggorokan
Algoritma Terapi Umun
Penilaian Skor Klinis (FeverPAIN / Centor)
Skor Sedang (FeverPAIN 2–3): Pertimbangkan back-up prescription (resep ditunda, hanya diminum jika gejala tidak membaik dalam 3–5 hari)
Skor Rendah (FeverPAIN 0–1 / Centor 0–2): Tanpa antibiotik; berikan edukasi dan self-care
Skor Tinggi (FeverPAIN 4–5 / Centor 3–4): Pertimbangkan antibiotik segera atau konfirmasi tes Rapid Antigen (RADT)/kultur
Terapi Simptomatik
Analgetik-Antipiretik: Parasetamol atau Ibuprofen untuk meredakan nyeri dan demam
Kortikosteroid: Deksametason (dewasa 0,5 mg 3x/hari; anak 0,01 mg/kgBB/hari selama 3 hari) untuk menekan inflamasi berat
Terapi Antibiotik (Etiologi GAS)
Lini Pertama: Penicillin VK oral (2–3 x 250–500 mg selama 10 hari) atau Penicillin G Benzathine (1x 1,2 juta U i.m. dosis tunggal)
Lini Kedua / Alergi Penisilin: Eritromisin (4 x 250–500 mg selama 10 hari), Azitromisin (1 x 500 mg selama 5 hari), Klaritromisin, atau Sefalosporin generasi 1/2
Terapi Etiologi Lain
Faringitis Fungal: Nistatin 100.000–400.000 IU, 2x/hari
Faringitis Kronik Hiperplastik: Terapi lokal kaustik faring menggunakan larutan Nitras Argentin 25%
Algoritma Terapi Populasi Khusus
Pediatri (Anak-Anak)
Usia <3 tahun: Tidak direkomendasikan pemeriksaan/antibiotik rutin kecuali ada kontak erat terkonfirmasi GAS
Analgesik: Ibuprofen/Asetaminofen (Ibuprofen lebih dipilih karena durasi kerja lebih lama); Aspirin dilarang karena risiko Sindrom Reye
Dosis Antibiotik Utama: Amoksisilin 50 mg/kgBB/hari PO selama 10 hari
Catatan: Permen hisap (lozenges) berisiko menyebabkan tersedak pada anak kecil
Ibu Hamil & Menyusui
Lini Pertama: Penicillin VK atau Amoxicillin (Asetaminofen aman untuk analgesik)
Alergi Penisilin: Cephalexin atau Cefuroxime. Jika alergi berat penisilin + sefalosporin: Azithromycin (Kategori B)
Dihindari/Kontraindikasi: Ibuprofen (dihindari setelah usia kehamilan 20 minggu), Clindamycin (kontraindikasi trimester 1), Eritromisin & Klaritromisin (risiko gangguan janin)
Geriatri & Gangguan Ginjal (eGFR <30 mL/min)
Penyesuaian Dosis Amoksisilin: eGFR 10–30 maks 500 mg/12 jam; eGFR <10 maks 500 mg/24 jam. Penicillin VK tidak perlu penyesuaian dosis
Perhatian Interaksi Obat: Makrolida (Azithromycin/Clarithromycin) dapat meningkatkan efek Warfarin (risiko perdarahan) dan perpanjangan interval QT
Monitoring Terapi
Parameter Keberhasilan (Efikasi)
Evaluasi perbaikan klinis (nyeri menelan, demam, eritema/pembengkakan faring) dalam 24–48 jam setelah antibiotik dimulai
Evaluasi ulang wajib dilakukan jika gejala tidak membaik dalam 48–72 jam
Parameter Keamanan (Efek Samping Obat / ESO)
Amoksisilin / Penisilin: Pantau timbulnya ruam kulit, diare, atau reaksi alergi
NSAID (Ibuprofen): Pantau tanda iritasi atau perdarahan lambung/GI
Parasetamol: Pantau dosis harian untuk mencegah hepatotoksisitas
Deksametason: Pantau iritasi lambung, perubahan suasana hati, dan gangguan tidur
Terapi Non-Farmakologis
Istirahat cukup untuk memfasilitasi pemulihan tubuh
Asupan cairan cukup: Minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kelembapan tenggorokan
Kumur air hangat / antiseptik: Berkumur dengan air hangat garam atau obat kumur antiseptik (povidone iodine / klorheksidin)
Modifikasi Makanan: Hindari makanan pedas, asam, atau terlalu dingin; berikan makanan lunak/hangat (seperti bubur atau sup)
Edukasi Higiene: Berhenti merokok / hindari paparan asap rokok dan polusi, serta jaga kebersihan tangan dan mulut
Penggolongan Obat
Antibiotik
Beta-Laktam: Penisilin
Mekanisme Kerja: Berikatan dengan Penicillin-Binding Proteins (PBP/transpeptidase) -> Menghambat pembentukan cross-link peptidoglikan dinding sel bakteri -> Dinding sel melemah, tidak mampu menahan tekanan osmotik, dan sel bakteri lisis (Bakterisida)
Contoh Obat & Dosis
Amoksisilin (Amoxicillin): Dewasa: 500 mg tiap 8 jam atau 750–1.000 mg tiap 12 jam (oral); Anak: 25–50 mg/kgBB/hari terbagi 3 dosis atau dosis tinggi 80–90 mg/kgBB/hari
Amoksisilin–Asam Klavulanat (Co-Amoxiclav): Kombinasi Amoksisilin 250–875 mg + Klavulanat 125 mg (Dewasa 3 x 500 mg/hari; Anak 25–50 mg/kgBB/hari atau 90 mg/kgBB/hari Amox + 6,4 mg/kgBB/hari Klavulanat)
Penicillin VK (Phenoxymethylpenicillin): Dewasa 2–3 x 500 mg/hari selama 10 hari; Anak 2–3 x 250 mg/hari selama 10 hari
Penicillin G Benzathine: Dewasa/Anak ≥27 kg: 1 x 1,2 juta U i.m. dosis tunggal; Anak <27 kg: 600.000 U i.m. dosis tunggal
Ampisilin (Ampicillin)
Efek Samping: Ruam kemerahan, diare, mual, muntah, reaksi anafilaksis, kolitis, kejang, serta risiko infeksi jamur/bakteri sekunder pada penggunaan jangka panjang
Beta-Laktam: Sefalosporin
Mekanisme Kerja: Sama seperti penisilin, yaitu berikatan dengan PBP dan merusak sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri hingga lisis
Contoh Obat & Dosis
Generasi 1: Cefadroxil (Dewasa 2 x 500–1.000 mg/hari; Anak 25–50 mg/kgBB/hari); Cephalexin (Anak 20 mg/kgBB/dosis 2x/hari)
Generasi 2: Cefuroxime Axetil (Oral 500 mg 2x/hari selama 5–10 hari); Cefprozil
Generasi 3: Cefixime (Oral 200–400 mg/hari terbagi 1–2 dosis selama 7–14 hari); Ceftriaxone (50 mg/kgBB/hari IM/IV selama 1–3 hari; atau 2 g IV/IM dosis tunggal untuk faringitis gonorea); Cefdinir (14 mg/kgBB/hari); Cefpodoxime (10 mg/kgBB/hari)
Efek Samping: Mual, muntah, diare, dispepsia, nyeri perut, ruam kulit, reaksi anafilaksis, SJS/TEN, ensefalopati, kejang, serta presipitasi kandung empedu (khusus Ceftriaxone)
Golongan Makrolida
Mekanisme Kerja: Berikatan secara reversibel pada subunit ribosomal 50S bakteri (23S rRNA di area peptide exit tunnel) -> Mengganggu elongasi rantai peptida -> Menghambat sintesis protein bakteri (Bakteriostatik)
Contoh Obat & Dosis
Azitromisin (Azithromycin): Dewasa: 1 x 500 mg/hari selama 3–5 hari; Anak: 7,5–12 mg/kgBB/hari (maks 500 mg/hari)
Eritromisin (Erythromycin): Dewasa: 4 x 250–500 mg/hari selama 10 hari; Anak: 25–50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis
Klaritromisin (Clarithromycin): Anak/Dewasa: 7,5 mg/kgBB/dosis 2x/hari (maks 250 mg/dosis) selama 10 hari
Efek Samping: Diare, mual, muntah, kram/nyeri perut, disgeusia (gangguan rasa), pemanjangan interval QT dan aritmia (torsades de pointes), hepatotoksisitas (hepatitis kolestatik), serta ototoksisitas
Analgesik-Antipiretik
NSAID
Mekanisme Kerja: Menghambat enzim cyclooxygenase (COX-1 dan COX-2) -> Menurunkan pembentukan prostaglandin (terutama PGE2) -> Perifer: Mengurangi sensitisasi reseptor nyeri; Sentral: Menurunkan set point suhu tubuh di hipotalamus
Ibuprofen: Dewasa: 200–400 mg 3–4x/hari oral (maks 1.200 mg/hari untuk analgesik); Anak: 10 mg/kgBB/dosis.
Efek Samping: Mual, muntah, dispepsia, nyeri ulu hati (heartburn), kembung, diare, perdarahan/ulserasi saluran cerna, pusing, dan hiperkalemia
Non-NSAID
Mekanisme Kerja: Menghambat aktivitas jalur COX terutama di Sistem Saraf Pusat (SSP) -> Menurunkan kadar PGE2 di SSP (persepsi nyeri berkurang) dan di hipotalamus (set point suhu tubuh turun)
Parasetamol (Paracetamol): Dewasa: 500–1.000 mg tiap 4–6 jam bila perlu (maks 4.000 mg/hari); Anak: 10–15 mg/kgBB/dosis.
Efek Samping: Mual, muntah, diare, pruritus. Pada penggunaan dosis tinggi atau jangka panjang: Hepatotoksisitas / kerusakan hati berat
Kortikosteroid
Mekanisme Kerja: Berikatan dengan Reseptor Glukokortikoid (GR) intraseluler -> Menghambat aktivasi jalur transmisi NF-κB -> Menurunkan ekspresi sitokin proinflamasi & molekul adhesi -> Meningkatkan stabilitas mast cell (menurunkan pelepasan histamin, prostaglandin, leukotrien) -> Mengurangi edema mukosa faring/telinga
Contoh Obat & Dosis
Deksametason (Dexamethasone): Dewasa: 0,5 mg 3x/hari selama 3 hari; Anak: 0,01 mg/kgBB/hari terbagi 3 dosis selama 3 hari
Prednison (Prednisone)
Efek Samping: Hiperglikemia, hipertensi, gangguan tidur/insomnia, perubahan suasana hati (mood), iritasi lambung, retensi cairan/edema, hipokalemia, serta moon face / Cushing's syndrome pada penggunaan dosis tinggi/panjang
Antihistamin
Mekanisme Kerja: Mengantagonis reseptor H1 histamin secara selektif -> Menghambat efek histamin yang dilepaskan sel mast -> Mengurangi edema mukosa, gatal, dan sekret hidung/tenggorokan berlebih
Setirizin (Cetirizine HCl): Dewasa & Anak ≥12 tahun: 10 mg 1x/hari secara oral
Efek Samping: Sedasi / mengantuk, sakit kepala, pusing, kelelahan, mulut kering (xerostomia), serta mual
Antivirus
Mekanisme Kerja: Bekerja sebagai imunomodulator yang merangsang dan memulihkan respons imun seluler tubuh untuk melawan infeksi virus
Isoprinosine (Inosine Pranobex): Dewasa: 60–100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4–6 dosis; Anak <5 tahun: 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4–6 dosis
Efek Samping: Peningkatan kadar asam urat darah & urin (paling umum), mual, muntah, nyeri perut, vertigo, sakit kepala, pruritus, serta nyeri sendi
Antifunggal
Mekanisme Kerja: Berikatan dengan ergosterol pada membran sel jamur -> Membentuk pori/kanal mikro -> Gangguan permeabilitas & kebocoran komponen intraseluler (K+, Na+, Ca2+) -> Kematian sel jamur
Nistatin (Nystatin): Suspensi oral 100.000–400.000 IU, 2–4 kali sehari
Efek Samping: Mual, muntah, diare, iritasi mulut, serta reaksi hipersensitivitas
Antiseptik Tropikal
Asam Asetat 2% Otic
Mekanisme Kerja: Menurunkan pH saluran telinga luar/tengah -> Membentuk suasana asam yang menghentikan pertumbuhan bakteri/mikroorganisme
Dosis: Tetes telinga 3x/hari, 4 tetes pada telinga sakit
Hidrogen Peroksida (H2O2) 3%
Dosis: 3x/hari, 4 tetes didiamkan 2–5 menit lalu dikeringkan
Mekanisme Kerja: Agen pengoksidasi efervesen yang melunakkan, melepaskan, dan memfasilitasi pembersihan sekret purulen/nanah di liang telinga
Obat Kumur Antiseptik (Minosep / Chlorhexidine / Povidone Iodine)
Mekanisme Kerja: Antiseptik spektrum luas yang merusak dinding sel mikroorganisme rongga mulut/faring -> Mengurangi beban bakteri dan peradangan lokal
Dosis: Kumur 10 mL selama 30 detik (bila perlu / prn)
Mukolitik
Mekanisme Kerja: Mengencerkan dan memecah ikatan dahak/mukus pada saluran pernapasan sehingga memfasilitasi pengeluaran dahak saat batuk
Ambroksol (Ambroxol): Dewasa: 30 mg 3x/hari; Anak: 1 mg/kgBB/kali pemakaian 3x/hari
Efek Samping: Mual, muntah, diare, dispepsia, nyeri perut, dan reaksi hipersensitivitas