Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
otitis media dan faringitis, Almaira Khasanah Fitri (2406439841) - Coggle…
otitis media dan faringitis
farmakologi
patofisiologi
OTITIS MEDIA
infeksi viral saluran pernapasan atas
disfungsi tuba eustachius
tekanan negatif telinga tengah
migrasi bakteri ke telinga tengah
inflamasi dan aktivitas sitokin
FARINGITIS
faringitis bakterial (GAS)
adhesi dinding sel (protein M)
pelepasan eksotoksin (SPE A/B/C)
aktivasi superantigen dan pelepasan sitokin
faringitis kronis (iritasi dan refluks)
penggolongan obat dan mekanisme
penisilin (amoksisilin, amoksisilin-klavulanat)
Mengikat & menginaktivasi Penicillin-Binding Proteins (PBP/D,D-transpeptidase) --> Menghambat tahap akhir sintesis ikatan silang (cross-linking) peptidoglikan dinding sel $\rightarrow$ Lisis bakteri (Bakterisidal).
sefalosporin (cefadroxil)
Mengikat PBP pada dinding sel bakteri --> Mencegah pembentukan rantai peptidoglikan --> Kematian sel bakteri
kuinolon (ciprofloxacin, levofloxacin)
Menghambat enzim DNA Gyrase (Topoisomerase II) dan Topoisomerase IV --> Menghalangi relaksasi & replikasi DNA bakteri (Bakterisidal)
Linkosamida
Mengikat subunit 50S ribosom pada lokasi yang sama dengan makrolida --> Menghambat pemanjangan rantai peptidil transferase & sintesis protein
obat cuci telinga (NaCl, asam asetat, H2O2)
Menghasilkan radikal bebas hidroksil yang merusak membran lipid & molekul bakteri + pelepasan gelembung oksigen mekanis untuk membersihkan debris
Inhibitor Beta-Laktamase + Penisilin
Asam klavulanat secara ireversibel mengikat & menginaktivasi enzim beta-laktamase --> Mencegah pemecahan cincin beta-laktam amoksisilin oleh bakteri resisten
Makrolida
Mengikat secara reversibel pada subunit 50S ribosom bakteri $Menghambat reaksi transpeptidasi/translokasi sintesis protein (Bakteriostatik)
farmasi klinis
tatalaksana
OTITIS MEDIA
umum
LINI PERTAMA:
anak —> amoksisilin oral 80-90 mg/kgBB/hari terbagi 2 dosis; dewasa —> 750-1000 mg tiap 8-12 jam.
konjungtivitis purulen concurrent atau riwayat penggunaan amoksisilin 30 hari:
amoksisilin 90 mg/kgBB/hari+ asam klavulanat 6,4 mg/kgBB/hari terbagi 2 dosis
alergi penisilin
alergi ringan
sefdinir 14 mg/kg/hari
sefuroksim (30 mg/kg/hari)
sefpodoksim
alergi berat
azitromisin (10 mg/kg hari-1, dilanjutkan 5 mg/kg di hari ke-2 hingga ke-5
klaritromisin
klindamisin (30-40 mg/kg/hari)
gagal terapi oral setelah 48-72 jam:
seftriakson IM/IV 50 mg/kgBB/hari selama 1-3 hari berturut-turut.
stadium perforasi (OMSK/OMA perforasi):
H202 3% (cuci telinga 3-5 hari) → obat tetes telinga ofloxacin 0,3% (5-10 tetes, 2x/hari) + antibiotik sistemik.
khusus
geriatri
amoksisilin dosis tinggi, amoksisilin-klavulanat (2x875 mg), sefalosporin (sefuroksim atau sefdinir), golongan penisilin, atau fluorokuinolon
pediatri
penanganan nyeri: tetes telinga analgesik Fenazon 40 mg/g + lidokain 10 mg/g
lini pertama: amoksisilin oral. alergi penisilin: klaritromisin, cefdinir, cefuroxime, cefpodoxime, ceftriaxone
lini kedua: amoksisilin-klavulanat (ko-amoksiklav)
ibu hamil dan menyusui
antibiotik lini pertama (kategori B): beta-laktam seperti amoksisilin atau kmoksisilin-Klavulanat
alergi penisilin: roksitromisin
FARINGITIS
umum
skrining klinis (skor centor/mclsaac ≥ 3) Konfirmasi RADT/swab faring
lini pertama (tanpa alergi penisilin)
amoksisilin oral 50 mg/kgBB 1x/hari (maks. 1000 mg) selama 10 hari
penisilin V oral: 250 mg 2–3x/hari (anak); 500 mg 2x/hari (dewasa) selama 10 hari
benzathine penicillin G IM:
Injeksi dosis tunggal (600.000 IU untuk BB <27 kg; 1.200.000 IU untuk BB ≥27 kg
alergi penisilin
alergi ringan: sefadroksil/sefaleksin (30 mg/kgBB/hari) selama 10 hari
alergi berat (tipe |/ anafilaksis): azitromisin (12 mg/kgBB 1x/hari selama 5 hari) atau klindamisin (20 mg/kgBB/hari selama 10 hari).
khusus
geriatri
penisilin VK 500 mg 2 kali/hari selama 10 hari atau benzatin penisilin 1.200.000 U IM
alergi penisilin: Eritromisin
pediatri
amoksisilin: diberikan dosis 50 mg/kgBB/hari terbagi 3 dosis selama 10 hari.
alergi penisilin: azitromisin
ibu hamil dan menyusui
cephalexin (Kategori B, jika benar-benar diperlukan)
penisilin (kategori B, masuk ke ASI dalam jumlah kecil dan tidak ada efek samping negatif pada bayi menyusui)
amoksisilin (kategori B, jika manfaat > risiko)
pasien gangguan organ
faringitis dan OMA pada pasien CKD memerlukan penyesuaian dosis antibiotik berdasarkan laju filtrasi glomerulus (GFR)
Panduan Penyesuaian Dosis Berdasarkan GFR (gangguan ginjal)
cephalexin (cefalexin): perlu penyesuaian dosis jika GFR < 60 mL/min
Cefadroxil: Perlu penyesuaian dosis jika GFR < 40 mL/min
amoxicillin: perlu penyesuaian dosis jika GFR < 30 mL/min
clarithromycin: perlu penyesuaian dosis jika GFR < 30 mL/min
cefuroxime: perlu penyesuaian dosis jika GFR < 30 mL/min.
penisilin V: diberikan penyesuaian jika GFR > 15 mL/min
clindamycin: tidak memerlukan penyesuaian dosis pada pasien gangguan ginjal
ceftriaxone: mengalami pemanjangan waktu paruh signifikan jika GFR < 30 mL/min, sehingga memerlukan pemantauan terhadap efek toksisitas neurologis pada dosis tinggi.
pasien gangguan hati
azitromisin memerlukan pemantauan ketat karena memiliki efek samping gangguan fungsi hati dan pemanjangan interval QT
monitoring terapi
monitoring keberhasilan terapi
respons klinis awal
otitis media
evaluasi penurunan demam, berkurangnya nyeri telinga (otalgia), serta hilangnya rewel pada anak.
faringitis
evaluasi hilangnya demam dan perbaikan odinofagia (nyeri menelan) dalam 24–48 jam pasca diawali antibiotik.
evaluasi resolusi jangka panjang
pemeriksaan otoskopi ulang dalam 2–4 minggu untuk memastikan cairan efusi telinga tengah telah terabsorpsi sempurna.
pemeriksaan mikrobiologi
evaluasi kultur & uji sensitivitas ulang jika tidak terjadi perbaikan gejala setelah 72 jam pemberian antibiotik lini pertama.
monitoring keamanan obat
antibiotik beta-laktam & sefalosporin
monitoring adanya reaksi hipersensitivitas (ruam kulit, gatal, hingga anafilaksis) serta gangguan gastrointestinal (diare).
Klindamisin
pemantauan frekuensi BAB untuk mendeteksi risiko clostridioides difficile-associated diarrhea/kolitis Pseudomembran.
Kotrimoksazol
monitoring kadar kalium darah (risiko hiperkalemia) dan lesi mukokutan (gejala awal Sindrom Stevens-Johnson/SJS).
NSAID (Ibuprofen)
pemantauan nyeri ulu hati/dispepsia, tanda pendarahan saluran cerna, dan pemantauan serum kreatinin/fungsi ginjal
Parasetamol
pemantauan fungsi hati (SGOT/SGPT) pada penggunaan dosis tinggi/jangka panjang.
Almaira Khasanah Fitri (2406439841)