Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Masa Awal Kemerdekaan (1945-1950), Memicu aksi cepat pejuang, Kemerdekaan…
Masa Awal Kemerdekaan (1945-1950)
Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Negara Indonesia
Perang Dunia II
Tanggal Penting: 3 Desember 1941 (Jepang menyerang Pearl Harbor)-14 Agustus (Jepang menyerah pada Sekutu)
Latar Belakang: Sekutu mengebom atom kota Hiroshima dan Nagasaki, yang memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu
Dampak Bagi Indonesia: Terjadinya kekosongan kekuasaan (vacuum of power) di Indonesia. Momen langka ini dimanfaatkan oleh Golongan Muda dan Golongan Tua untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tanggal Penting: 16 Agustus (Rengasdengklok)-17 Agustus (Proklamasi)
Latar Belakang: Desakan Golongan Muda kepada Golongan Tua untuk memanfaatkan vacuum of powertanpa menunggu janji Jepang
Dampak Bagi Indonesia: Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945
Konvensi Montevideo
Tanggal: 26 Desember 1933
Latar Belakang: Perjanjian internasional di Uruguay yang merumuskan syarat formal dan kriteria legal agar suatu wilayah diakui berdirinya sebagai negara berdaulat (Rakyat yang tetap, wilayah yang pasti, pemerintahan yang berdaulat, kemampuan menjalin hubungan dengan negara lain
Dampak bagi Indonesia: Menginspirasi para pendiri bangsa untuk segera mengesahkan UUD, memilih Presiden/Wapres, membagi wilayah provinsi, serta membentuk departemen melalui Sidang PPKI (18–22 Agustus 1945) agar memenuhi syarat de facto dan de jure
Piagam Atlantik/Atlantic Charter
Tanggal: 14 Agustus 1941
Latar Belakang: Deklarasi bersama antara Presiden AS (Franklin D. Roosevelt) dan Perdana Menteri Inggris (Winston Churchill) di atas kapal perang USS Augusta. Isi dari deklarasi tersebut adalah mengakui hak setiap bangsa untuk menentukan nasib dan bentuk pemerintahannya sendiri serta menolak perubahan wilayah tanpa persetujuan rakyat setempat
Dampak bagi Indonesia: Menjadi landasan moral dan politis bagi pejuang Indonesia untuk menuntut kemerdekaan dan menolak penjajahan kembali oleh Belanda/NICA
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Tanggal Penting: 26 Juni 1945 (Piagam PBB ditandatangani) dan 24 Oktober1945 (PBB resmi berdiri)
Latar Belakang: Pembentukan badan dunia pasca-Perang Dunia II untuk menggantikan LBB guna menjaga perdamaian dunia, menegakkan hak asasi manusia, dan menghentikan kolonialisme
Dampak Bagi Indonesia: PBB membentuk badan perantara konflik seperti KTN (Komisi Tiga Negara) dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) yang mendesak Belanda menghentikan Agresi Militer dan mengakui kedaulatan Indonesia lewat KMB (1949)
Perang Selama Awal Kemerdekaan
Pertempuran Surabaya
Timeline Penting
19 September 1945: Insiden Hotel Yamato; pemuda Surabaya merobek warna biru bendera Belanda menjadi bendera Merah Putih
25 Oktober 1945: Pasukan Sekutu (AFNEI) di bawah pimpinan Brigjen A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya
27-30 Oktober 1945: Terjadi bentrokan senjata pertama antara pejuang Surabaya melawan pasukan Sekutu
30 Oktober 1945: Brigjen A.W.S. Mallaby tewas dalam insiden ledakan mobil di dekat Jembatan Merah
9 November 1945: Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan Ultimatum yang berisi instruksi agar pemuda Surabaya menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 WIB
10 November 1945: Ultimatum ditolak. Puncak pertempuran berkobar di seluruh kota
Penyebab
Insiden pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato
Kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA
Tewasnya Brigjen Mallaby
penolakan rakyat Surabaya terhadap Ultimatum penyerahan senjata tanpa syarat
Dampak
Diperkirakan sekitar 6.000 – 16.000 pejuang/rakyat Indonesia gugur, serta puluhan ribu warga mengungsi. Dari pihak Sekutu, sekitar 600 – 2.000 tentara tewas/luka (termasuk Brigjen A.W.S. Mallaby)
Kota Surabaya hancur berat akibat pemboman udara, tembakan meriam kapal perang, dan artileri berat Sekutu. Gedung-gedung pemerintahan dan pemukiman warga rusak para
Surabaya diabadikan dan diperingati sebagai Hari Pahlawan
Palangan Ambarawa
Timeline Penting
20 Oktober 1945: Pasukan Sekutu di bawah Brigjen Bethel mendarat di Semarang untuk mengurus tawanan perang
20 November 1945: Pertempuran pecah di Magelang dan Ambarawa
26 November 1945: Letkol Isdiman (Komandan Batalyon Banyumas) gugur dalam pertempuran di Jambu
12 Desember 1945: Kolonel Soedirman mengambil alih komando dan melancarkan serangan serentak
15 Desember 1945: Pasukan Sekutu berhasil didesak mundur sepenuhnya ke Semarang
Penyebab
Kedatangan pasukan Sekutu (di bawah Brigjen R.G. Bethell) dengan dalih misi kemanusiaan untuk membebaskan tawanan perang (RAPWI)
Pelanggaran kesepakatan oleh pihak Belanda/NICA yang membonceng Sekutu dan memenjara/mempersenjatai tawanan
Gugurnya Letkol Isdiman (Komandan Resimen Purwokerto) akibat serangan udara dan tank Sekutu di daerah Jambu pada 26 November 1945
Dampak
Ratusan prajurit TKR dan laskar rakyat gugur (termasuk Letkol Isdiman). Pihak Sekutu memprotes kerugian besar puluhan tentaranya
Diperingati sebagai Hari Infanteri (Hari Kartika Swabuana)
Pasukan Sekutu menderita kekalahan telak dan terdesak mundur total dari benteng Ambarawa menuju Semarang
Pertempuran Makassar
Timeline Penting
September-Desember 1945: NICA mendarat di Makassar dan mengambil alih obyek vital
1946: Terjadi serangkaian perlawanan gerilya oleh pemuda dan laskar pejuang (seperti Lapis Rahasia/Pemberontakan Sulawesi)
Desember 1946-Februari 1947: Belanda menerjunkan pasukan khusus di bawah pimpinan Raymond Westerling untuk menumpas perlawanan (Peristiwa Pembantaian Westerling)
Penyebab
Kedatangan kembali pasukan Belanda (NICA) yang ingin menegakkan kembali kekuasaan kolonial di wilayah Sulawesi pasca-kapitulasi Jepang
Pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) oleh Belanda untuk memecah belah kedaulatan Indonesia
Penolakan dan perlawanan gigih dari para pemuda dan pejuang Republik di Sulawesi Selatan
Dampak
Ribuan rakyat sipil dan pejuang gugur akibat tindakan tentara Belanda (Westerling)
Menunjukkan semangat perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap Belanda yang menolak dominasi NIT
Pertempuran Medan Area
Timeline Penting
25 Agustus-9 Oktober 1945: Pasukan Belanda dan Sekutu mendarat di Medan
13 Oktober 1945: Pertempuran pertama pecah akibat insiden penghinaan lencana Merah Putih
1 Desember 1945: Sekutu memasang papan batas "Fixed Boundaries Medan Area"
10 Desember 1945: Sekutu dan Belanda melancarkan serangan besar ke wilayah Deli Tua dan Trepes
April 1946: Tekanan militer membuat Gubernur Sumatra dan pimpinan TKR memindahkan pusat pemerintahan ke Pematang Siantar
Penyebab
Mendaratnya Sekutu dan NICA di Medan yang melakukan tindakan provokatif dan penyiksaan terhadap warga
Insiden seorang serdadu Belanda memaksa pemuda Indonesia menginjak-injak dan menelan lencana Merah Putih
Pemasangan papan pembatas wilayah secara sepihak oleh Sekutu bertuliskan "Fixed Boundaries Medan Area"
Dampak
Kota Medan terbagi dua; wilayah timur dikuasai Sekutu/NICA dan wilayah barat dikuasai Republik
Medan dijadikan ibu kota Negara Sumatra Timur oleh NICA
Ibu kota provinsi Sumatra sementara dipindahkan ke Pematang Siantar
Bandung Lautan Api
Timeline Penting
12 Oktober 1945: Pasukan Sekutu tiba di Bandung
21-24 November 1945: Pejuang menyerang markas Sekutu; Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama
23 Maret 1946: Perdana Menteri Sutan Syahrir memerintahkan pemenuhan ultimatum demi diplomasi; Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua
23-24 Maret 1946: Pihak militer Indonesia (TRI) dan rakyat membakar fasilitas di Bandung Selatan sebelum mengungsi
Penyebab
Kedatangan Sekutu (Brigade ke-37 dipimpin Kolonel McDonald) pada 12 Oktober 1945 yang menuntut penyerahan senjata
Ultimatum pertama Sekutu pada 24 November 1945 agar Bandung Utara dikosongkan
Ultimatum kedua Sekutu pada 23 Maret 1946 agar Bandung Selatan juga dikosongkan dari tentara dan penduduk
Keputusan taktis TRI (di bawah Kolonel A.H. Nasution) untuk membakar kota daripada menyerahkannya kepada Sekutu
Dampak
Bandung Selatan menjadi "lautan api" sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Sekutu
Mohamad Toha dan Ramdan gugur saat meledakkan gudang amunisi Sekutu di Dayeuhkolot
Memunculkan istilah Bandoeng Laoetan Api (dipopulerkan oleh wartawan Atje Bastaman dalam koran Soeara Merdeka)
Menginspirasi lahirnya lagu perjuangan "Halo-Halo Bandung" dan berbagai karya seni sejarah
Pertempuran 5 Hari di Palembang
Timeline Penting
12 Oktober 1945: Sekutu dan NICA mendarat di Palembang
28-29 Desember 1946: Granat dilemparkan ke truk Belanda dan TRI dan pemuda melancarkan serangan balasan
1 Januari 1947: Pukul 05.00 WIB, Belanda melanggar garis demarkasi dan menyerang markas pejuang di sekitar Masjid Agung Palembang
2-3 Januari 1947: Pertempuran sengit berlanjut di area Masjid Agung dan Belanda mengerahkan pesawat tempur dan kereta lapis baja
6 Januari 1947: Kesepakatan gencatan senjata berlaku
Penyebab
Mendaratnya Sekutu/NICA pada 12 Oktober 1945 dan perluasan wilayah pendudukan secara sepihak oleh Belanda
Penggeledahan rumah warga secara semena-mena oleh serdadu Belanda dengan dalih mencari senjata
Insiden pelemparan granat ke truk militer Belanda pada 28 Desember 1946 yang memicu aksi pembalasan
Dampak
Pasukan militer/laskar Indonesia harus mundur sejauh 20 km dari pusat kota Palembang
Belanda hanya diizinkan mendirikan pos militer hingga radius 14 km
Pemerintahan sipil Indonesia tetap berada di kota Palembang di bawah Gubernur M. Isa
Puputan Margarana
Timeline Penting
2 Maret 1946: Belanda mendaratkan dua batalyon pasukan di Bali
19 November 1946: Batalyon Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai berhasil merampas senjata NICA di Tabanan
20 November 1946 (Pagi): Belanda mengepung Desa Marga dan pertempuran sengit pecah
20 November 1946 (Siang): Terdesak oleh bantuan pesawat dan senjata berat Belanda, I Gusti Ngurah Rai menyerukan Puputan (perang habis-habisan hingga titik darah penghabisan)
Penyebab
Kedatangan NICA di Bali (2 Maret 1946) untuk memasukkan Bali ke dalam Negara Indonesia Timur (NIT)
Penolakan tegas dari I Gusti Ngurah Rai (Panglima TKR Sunda Kecil) terhadap ajakan negosiasi Belanda
Penyerbuannya pasukan Ciung Wanara untuk merebut senjata milik NICA di Tabanan pada 19 November 1946
Dampak
Seluruh pasukan Bali (termasuk I Gusti Ngurah Rai dan 96 prajuritnya) gugur di medan perang
Pihak Belanda juga mengalami kerugian besar dengan tewasnya sekitar 400 serdadu
Didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa di Marga, Tabanan, serta pengangkatan I Gusti Ngurah Rai sebagai Pahlawan Nasional
Diplomasi Yang Terjadi
Linggarjati
Waktu & Tempat
10-15 November 1946 (Perundingan di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat); Ditandatangani resmi pada 25 Maret 1947 di Batavia (Jakarta)
Isi Utama Perjanjian
Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia meliputi Jawa, Madura, dan Sumatra
Pembentukan negara federasi Republik Indonesia Serikat (RIS) paling lambat 1 Januari 1949
Pembentukan Uni Indonesia-Belanda yang dikepalai oleh Ratu Belanda
Kelebihan (Keuntungan Jangka Panjang)
Memberikan pengakuan de facto internasional pertama atas wilayah inti RI (Jawa, Sumatra, Madura) oleh kekuatan kolonial Belanda
Mengukuhkan kedudukan diplomasi RI di mata dunia internasional dan membuka jalan bagi keterlibatan PBB.
Kekurangan (Kerugian Jangka Pendek)
Memangkas wilayah RI (daerah luar Jawa, Madura, dan Sumatra belum diakui de facto)
Menimbulkan pertentangan politik internal yang tajam di dalam negeri (munculnya oposisi terhadap Kabinet Sjahrir)
Belanda melanggar kesepakatan ini melalui Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947
Efektifitas
Moderat. Secara jangka pendek efektif mengulur waktu dan menarik perhatian internasional, namun gagal mencegah konfrontasi militer karena perbedaan interpretasi pasal oleh Belanda
Renville
Waktu & Tempat
8 Desember 1947-17 Januari 1948 di atas kapal perang Amerika Serikat, USS Renville, yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Isi Utama Perjanjian
Penghentian tembak-menembak dan penetapan Garis Demarkasi Van Mook (garis batas wilayah kekuasaan)
TNI harus ditarik mundur (dihijrahkan) dari daerah-daerah kantong gerilya di Jawa Barat dan Jawa Timur menuju wilayah RI di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Belanda tetap memegang kedaulatan atas seluruh Indonesia sampai pembentukan RIS
Kelebihan (Keuntungan Jangka Panjang)
Melibatkan Komisi Tiga Negara (KTN) bentukan PBB (AS, Australia, Belgia), sehingga menginternasionalkan konflik secara resmi di PBB
Konsolidasi pasukan TNI (seperti Divisi Siliwangi yang hijrah) yang kelak menjadi inti kekuatan perang gerilya pasca-Agresi Militer II
Kekurangan (Kerugian Jangka Pendek)
Wilayah RI semakin menyempit dan terisolasi hanya di sebagian Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra
Kerugian ekonomis dan logistik yang sangat besar akibat blokade ekonomi Belanda
Belanda melanggar perundingan melalui Agresi Militer Belanda II (Desember 1948) serta menangkap para pemimpin RI
Efektivitas
Rendah secara praktis, namun Tinggi secara strategis internasional. Kompromi ini secara drastis mempersempit wilayah RI, tetapi pelanggaran Belanda setelah Renville justru memicu kecaman keras dunia internasional terhadap Belanda
Perjanjian Roem Royen
Waktu & Tempat
14 April-7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Batavia (Jakarta)
Isi Utama Perjanjian
Pernyataan Indonesia (Moh. Roem): Mengeluarkan perintah penghentian perang gerilya, bekerja sama dalam mengembalikan perdamaian, dan menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB)
Pernyataan Belanda (J.H. van Royen): Menyetujui pengembalian Pemerintah RI ke Yogyakarta, menghentikan operasi militer dan membebaskan tahanan politik, serta bersedia menyelenggarakan KMB
Kelebihan (Keuntungan Jangka Panjang)
Memulihkan kembali Pusat Pemerintahan RI di Yogyakarta dan membebaskan Sukarno-Hatta dari pengasingan
Mengunci kepastian bahwa Belanda harus menyerahkan kedaulatan tanpa syarat melalui forum KMB
Kekurangan (Kerugian Jangka Pendek)
Pihak militer (seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman) sempat merasa kecewa karena penghentian gerilya dilakukan saat posisi militer RI di lapangan sedang menguat
Efektivitas
Sangat Tinggi. Berhasil menghentikan lingkaran konflik bersenjata dan menjadi jembatan langsung menuju pengakuan kedaulatan penuh di KMB
Konferensi Meja Bundar (KMB)
Waktu & Tempat
23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag, Belanda
Isi Utama Perjanjian
Belanda menyerahkan kedaulatan penuh kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) selambat-lambatnya pada akhir Desember 1949
Masalah Irian Barat ditangguhkan dan akan diselesaikan dalam waktu 1 tahun setelah penyerahan kedaulatan
Pembentukan Uni Indonesia-Belanda
RIS mengambil alih utang luar negeri Hindia Belanda
Kelebihan (Keuntungan Jangka Panjang)
Pengakuan kedaulatan Indonesia secara penuh dan mutlak (de jure) oleh Belanda dan dunia internasional pada 27 Desember 1949
Mengakhiri penjajahan dan perang kolonial secara resmi
Kekurangan (Kerugian Jangka Pendek)
Beban finansial berupa pengambilalihan utang pemerintah Hindia Belanda yang cukup besar
Penundaan penyelesaian status Irian Barat yang menjadi pemicu konflik diplomatik di kemudian hari
Bentuk negara RIS yang tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi 1945 (meskipun RIS akhirnya dibubarkan dan kembali ke NKRI pada Agustus 1950)
Efektivitas
Sangat Tinggi (Krusial). Merupakan puncak keberhasilan perjuangan diplomasi yang menyempurnakan kemenangan militer Indonesia
Diplomasi vs Militer
Diplomasi
Definisi
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui jalur perundingan, meja perundingan politik, penetapan hukum internasional, dan penggalangan dukungan dari negara lain
Kelebihan
Memperoleh pengakuan kedaulatan secara legal-formal (de jure) dari negara lain
Menghindari kerusakan pemusnahan total kekuatan militer Indonesia yang persenjataannya belum seimbang
Mengangkat isu kemerdekaan Indonesia ke panggung internasional dan PBB
Kekurangan
Sering menghasilkan kompromi politik yang merugikan wilayah teritorial RI secara sementara (misal: Perjanjian Renville)
Memicu krisis politik dan perpecahan internal di dalam negeri (antara pihak pro-diplomasi vs pihak kontra-diplomasi). Misalnya Peristiwa Peserta Tan Malaka
Pihak Belanda sering melanggar hasil perjanjian secara sepihak (Agresi Militer I & II)
Bentuk
Perundingan Bilateral (Linggarjati, Renville, Roem-Royen, KMB)
Penggalangan dukungan internasional (PBB)
Mosi & diplomasi di dewan PBB (pembentukan KTN & UNCI)
Efektivitas
Sangat efektif dalam mendapatkan pengakuan kedaulatan legal (de jure) dari dunia internasional dan memaksa Belanda menyerahkan kedaulatan secara resmi pada KMB (27 Des 1949)
Militer
Definisi
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui tindakan fisik, kontak senjata, perang gerilya, dan pertempuran lapangan melawan kekuatan Sekutu dan Belanda
Kelebihan
Membuktikan secara de facto kepada dunia bahwa RI dan tentaranya masih eksis serta menolak dijajah kembal
Memberikan dorongan mental, keberanian, dan dorongan patriotisme rakyat di daerah
Mampu menggagalkan penguasaan wilayah secara mutlak oleh musuh melalui perang gerilya
Kekurangan
Menimbulkan jatuhnya korban jiwa, penderitaan rakyat, dan jumlah pengungsi yang sangat besar
Mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur, bangunan-bangunan, dan perekonomian negara
Memerlukan pasokan logistik, amunisi, dan persenjataan yang sangat terbatas
Bentuk
Pertempuran terbuka/kota (Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa, Medan Area, Palembang)
Strategi perlawanan lokal (Puputan Margarana, Bandung Lautan Api)
Perang Gerilya & Serangan Umum (Serangan Umum 1 Maret 1949)
Efektivitas
Sangat efektif dalam mempertahankan wilayah secara fisik (de facto), mematahkan klaim Belanda bahwa Indonesia sudah hancur, serta memberikan penekanan militer agar pihak lawan dapat mendengar dan menyimak di meja perundingan
Hubungan
Militer Tanpa Diplomasi: Perjuangan senjata yang hebat tanpa jalur diplomasi tidak akan diakui legalitasnya oleh hukum internasional dan PBB, serta berisiko dianggap sekadar pemberontakan lokal semata
Diplomasi Tanpa Militer: Perundingan di meja diplomasi tidak akan didengar atau dihargai oleh Belanda jika tidak ada perlawanan fisik dan perang gerilya nyata dari prajurit TNI/rakyat di lapangan
Kesimpulan Hubungan: Perjuangan bersenjata berfungsi memberikan posisi tawar yang kuat di meja perundingan, sedangkan diplomasi berfungsi mengubah kemenangan di lapangan menjadi pengakuan kedaulatan hukum yang sah di mata dunia
Memicu aksi cepat pejuang
Kemerdekaan Perlu Pengakuan Legal-Formal
Menghadapi Ancaman Belanda/NICA yang ingin kembali
Menghadapi Ancaman Belanda/NICA yang ingin kembali