Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Masa Awal Kemerdekaan (1945-1950) - Coggle Diagram
Masa Awal Kemerdekaan (1945-1950)
Diplomasi yang Terjadi
Diplomasi vs Militer
Diplomasi
Keuntungan
Tidak perlu ada pertumpahan darah
Masalah Indonesia bisa diselesaikan secara Internasional
Kedaulatan Indonesia dapat diakui secara De Jure oleh negara lain. hal ini merupakan salah satu syarat negara merdeka, yaitu pengakuan dari negara lain
Menyelesaikan masalah secara damai
Definisi
Diplomasi adalah praktik komunikasi, dialog, dan negosiasi secara damai yang dilakukan oleh suatu negara untuk memengaruhi kebijakan atau perilaku pihak lain demi mencapai kepentingan nasional.
Kekuarangan:
Hasil perundingan kadang kala lebih menguntungkan pihak sekutu
Banyak hasil perundingan yang dilanggar
Tidak bisa menguasai daerah secara total
Militer
Definisi
Militer didefinisikan sebagai badan terorganisir yang terdiri dari personel bersenjata yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan perang, dengan budaya inti yang mencakup kepercayaan, nilai, dan norma bersama yang membedakannya dari organisasi lain. Tugas utamanya adalah mencegah ancaman terhadap kedaulatan nasional dan melancarkan perang bila diperlukan.
Kekurangan:
Beban Anggaran Tinggi: Kebutuhan biaya operasional, perawatan alat utama sistem persenjataan (alutsista), dan gaji personel sangat besar.
Risiko Keselamatan: Menghadapi risiko fisik yang tinggi, tekanan mental ekstrem, serta potensi trauma akibat pertempuran.
Ketergantungan Teknologi/Impor: Sebagian negara masih bergantung pada pasokan atau bahan baku pertahanan dari luar negeri sehingga mengurangi kemandirian.
Kelebihan:
Pertahanan Negara: Menjaga keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa dari agresi atau ancaman bersenjata.
Bantuan Kemanusiaan: Membantu penanggulangan bencana alam, pencarian dan penyelamatan (SAR), serta misi perdamaian dunia.
Disiplin dan Loyalitas: Membentuk personel yang memiliki tingkat kedisiplinan, ketahanan fisik, serta jiwa patriotisme yang tinggi
Peristiwa Surabaya
Waktu: 27 Oktober – 20 November 1945 (Puncak: 10 November 1945).
Penyebab: Insiden pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato (19 September 1945), tewasnya pimpinan Sekutu Brigjen A.W.S. Mallaby di Jembatan Merah (30 Oktober 1945), serta ultimatum Mayor Jenderal Robert Mansergh agar rakyat Surabaya menyerahkan seluruh senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00.
Dampak: Ribuan pejuang dan warga sipil gugur, Kota Surabaya hancur parah, semangat perlawanan membakar seluruh Indonesia, serta tanggal 10 November ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Peristiwa Medan Area
Waktu: 13 Oktober 1945 – April 1946.
Penyebab: Aksi serdadu Sekutu yang menginjak lencana Merah Putih di sebuah hotel di Jalan Bali pada 13 Oktober 1945, diperparah pemasangan patok batas wilayah secara sepihak bertuliskan "Fixed Boundaries Medan Area" oleh Sekutu pada 1 Desember 1945.
Dampak: Dibentuknya Komando TKR Medan Area di bawah pimpinan Achmad Tahir untuk mengkoordinasikan perlawanan, serta memicu perang gerilya berkepanjangan di seluruh wilayah Sumatra Utara.
Perang Ambarawa
Waktu: 20 Oktober – 15 Desember 1945 (Puncak: 12 – 15 Desember 1945).
Penyebab: Pasukan Sekutu di bawah Brigjen Bethel melanggar kesepakatan diplomasi dengan memperkuat pasukan, melucuti TKR, serta membebaskan dan mempersenjatai mantan tawanan perang Belanda secara sepihak di Magelang dan Ambarawa.
Dampak: Pasukan TKR di bawah pimpinan Kolonel Soedirman berhasil memukul mundur Sekutu ke Semarang dengan taktik Supit Urang, menegaskan ketangguhan militer Indonesia, dan diabadikan sebagai Hari TNI Angkatan Darat / Hari Infanteri.
Bandung Lautan Api
Waktu: Oktober 1945 – 23 Maret 1946.
Penyebab: Ultimatum berulang dari Sekutu yang menginstruksikan agar seluruh pasukan bersenjata (TRI) dan rakyat mengosongkan serta meninggalkan Kota Bandung bagian selatan demi kepentingan markas militer Sekutu.
Dampak: Sekitar 200.000 penduduk bersama pejuang membumihanguskan rumah dan fasilitas kota sebelum mengungsi ke selatan agar infrastruktur tidak dimanfaatkan Sekutu, serta mengilhami lahirnya lagu perjuangan Halo-Halo Bandung.
Perang di Makassar
Waktu: Desember 1946 – Februari 1947 (Puncak operasi: 11 Desember 1946 – Februari 1947).
Penyebab: Perlawanan sengit rakyat dan Laskar LAPRIS pimpinan Ranggong Daeng Romo serta Wolter Mongisidi yang menolak pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) oleh Belanda.
Dampak: Batalyon pasukan khusus Belanda (Depot Speciale Troepen) pimpinan Raymond Westerling melakukan aksi pembantaian massal yang menewaskan ribuan warga sipil dan pejuang, yang kemudian memicu kecaman internasional atas kejahatan perang tersebut.
Faktor yang memengaruhi pembentukan
negara Indonesia
Perserikatan Bangsa-Bangsa / PBB (Dibentuk 24 Oktober 1945)
Peran: Organisasi internasional pencipta perdamaian yang menengahi konflik Indonesia-Belanda saat Agresi Militer.
Pengaruh ke Indonesia:
1 Agustus 1947: Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi gencatan senjata pertama.
25 Agustus 1947: PBB membentuk KTN (Komisi Tiga Negara) untuk menengahi konflik.
28 Januari 1949: PBB memperkuat KTN menjadi UNCI (United Nations Commission for Indonesia) yang menekan Belanda agar menghentikan agresi dan menyerahkan kedaulatan.
23 Agustus – 2 November 1949: Konferensi Meja Bundar (KMB) digelar di bawah pengawasan PBB, berujung penyerahan kedaulatan resmi pada 27 Desember 1949.
28 September 1950: Indonesia resmi diterima sebagai anggota PBB ke-60.
Perang Dunia II (1 September 1939 – 2 September 1945)
Peran: Konflik global yang mengubah peta kekuasaan di Asia Tenggara.
Pengaruh ke Indonesia:
8 Maret 1942: Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, mengakhiri penjajahan Hindia Belanda.
14 Agustus 1945: Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Momen Kemerdekaan: Penyerahan Jepang menciptakan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) yang dimanfaatkan Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Piagam Atlantik / Atlantic Charter
14 Agustus 1941
Peran: Deklarasi bersama AS (F.D. Roosevelt) dan Inggris (W. Churchill) mengenai prinsip-prinsip dunia pasca-Perang Dunia II.
Pengaruh ke Indonesia: Memuat prinsip right to self-determination (hak setiap bangsa menentukan nasibnya sendiri). Dokumen ini membakar semangat para tokoh pergerakan nasional untuk menuntut hak merdeka dan menolak kembalinya penjajahan Barat.
Konvensi Montevideo
26 Desember 1933
Peran: Landasan hukum internasional tentang syarat sah berdirinya suatu negara.
Pengaruh ke Indonesia: Menjadi acuan formal saat merumuskan kelengkapan negara pasca-proklamasi. Indonesia memenuhi unsur konstitutif (memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintah berdaulat pada 18 Agustus 1945) serta unsur deklaratif (pengakuan dari negara lain seperti Mesir, India, dan Australia).
Puputan Margarana/Bali
Waktu: 20 November 1946.
Penyebab: Penolakan tegas Letkol I Gusti Ngurah Rai terhadap tawaran kerja sama Belanda untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT), yang disusul aksi perampasan senjata di markas Belanda di Tabanan oleh pasukan Ciung Wanara.
Dampak: Seluruh pasukan Ciung Wanara sebanyak 96 orang gugur di medan perang (termasuk I Gusti Ngurah Rai) setelah melakukan aksi perang habis-habisan (Puputan), namun peristiwa ini menegaskan penolakan rakyat Bali terhadap rekayasa politik NIT milik Belanda.
Pertempuran Palembang
Waktu: 1 – 5 Januari 1947.
Penyebab: Tuntutan sepihak Belanda agar pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) menyerahkan senjata dan mengosongkan Kota Palembang sejauh radius 20 km dari pusat kota, yang ditolak keras oleh pejuang setempat.
Dampak: Pusat kota Palembang hancur dan terbakar parah, disepakati gencatan senjata yang memaksa TRI mundur dari pusat kota, namun Belanda tetap gagal total dalam menguasai area ladang minyak strategis di luar Palembang.