Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Masa Awal Kemerdekaan - Coggle Diagram
Masa Awal Kemerdekaan
Perang Awal Kemerdekaan
Pertempuran Medan Area
Waktu: 27 Oktober - 20 November 1945
Penyebab: Insiden Hotel Yamato serta tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby. Sekutu kemudian mengeluarkan senjata tanpa syarat sebelum 10 Nov 1945, yang ditolak oleh pimpinan dan pejuang lokal.
Dampak: Ribuan warga dan pejuang gugur, kota Surabaya hancur, menjadi simbol perlawanan nasional dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Bandung Lautan Api
Waktu: 23-24 Maret 1946
Penyebab: Sekutu mengeluarkan ultimatum agar bagian selatan kota Bandung dikosongkan dari militer dan pejuang Indonesia
Dampak: Pengosongan kota Bandung, rumah dan bangunan dibakar, mencegah Sekutu dan NICA memanfaatkan fasilitas kota sebagai markas militer strategis
Palagan Ambarawa
Waktu: 20 Oktober- 15 Desember 1945
Penyebab: Pasukan Sekutu mendarat di Semarang untuk membebaskan tawanan Eropa. Namun Sekutu membocorkan kepercayaan dengan mempersenjatai para tawanan tersebut di Ambarawa dan Magelang
Dampak: Pasukan TKR memukul mundur Sekutu menuju Semarang menggunakan taktik Supit Urang (pengepungan ganda)
Perang Surabaya
Waktu: 27-30 Oktober 1945
Penyebab: Insiden bendera di hotel Yamato, pelanggaran kesepakatan oleh Sekutu, tewasnya Brigjen A.W.S Mallaby, ultimatum sekutu yang ditolak oleh pejuang dan pemerintah Jawa Timur
Dampak: korban jiwa sekitar 6.000-16.000, pengakuan eksistensi republik, pengaruh terhadap perjuangan nasional dan peringatan nasional
Puputan Margarana
Waktu: 20 November 1946
Penyebab: pembentukan negara Indonesia timur, penolakan bujukan Belanda kepada Letkol I Gusti Ngurah Rai untuk bekerja sama mendirikan negara, dan penyerangan tangsi militer Tabanan
Dampak: gugurnya seluruh pasukan, pihak Belanda kehilangan sekitar 400 prajurit, penghormatan I Gusti Ngurah Rai sebagaj pahlawan nasional Indonesia (menjadi nama bandara internasional di Bali)
Perang 5 Hari Palembang
Waktu: 1-5 Januari 1947
Penyebab: pelanggaran batas wilayah oleh Belanda, ultimatum dari Belanda agar TRI mengosongkan kota Palembang sejauh 20km, ultimatum tersebut ditolak oleh pejuang Palembang
Dampak: pasukan Indonesia mundur dari pusat kota sejauh 20km, pusat perjuangan berpindag ke luar kota
Perang Makassar
Waktu: Oktober 1946- Februari 1947
Penyebab: penolakan rakyat dan pejuang Sulawesi terhadap upaya Belanda mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) serta kembalinya kekuasaan kolonial
Dampak: Belanda menerjunkan pasukan khusus pimpinan Raymond Westerling yang melakukab penumpasan brutal (Pembantaian ribuan rakyat Sulawesi Selatan) demi memadamkan perlawanan.
-
Diplomasi vs Militer
Diplomasi
Diplomasi adalah metode komunikasi dan perundingan antarnegara atau pihak yang bersengketa untuk mencapai kesepakatan tanpa menggunakan kekerasan militer.
Kelebihan:
-Mencegah korban jiwa dan kerusakan (penyelesaian dilakukan melalui perundingan tanpa adanya pertumpahan darah, jatuhnya korban bahkan ekonomi)
-Memberikan kepastian hukum (hasil kesepakatan tertulis diakui secara internasional dan mengikat para pihak secara hukum)
-Meningkatkan pengakuan internasional (melalui diplomasi, suatu negara dapat mendapat pengakuan dari negara-negara lain)
Kekurangan:
-Proses lambat dan membutuhkan waktu lama (perundingan sering kali memakan waktu lama yaitu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun)
-Rentan kompromi yang merugikan (suatu pihak tetap harus mengorbankan tuntutan, wilayah atau kepentingannya)
-Risiko pelanggaran kesepakatan (perjanjian hasil diplomasi dapat dilanggar secara sepihak oleh salah satu pihak yang tidak jujur)
Militer
Militer adalah metode penggubaan atau ancaman kekuatan fisik/senjata yang berfokus untuk menundukkan lawan, merebut/mempertahankan wilayah secara fisik dan lebih cepat mengubah situasi di lapangan.
Kelebihan:
-Efektif menghadapi ancaman langsung (menghentikan serangan musuh secara instan)
-Meningkatkan posisi tawar (keberhasilan militer di lapangan memberi kekuatan tekan yang lebih besar)
-Meningkatkan semangat berjuang (menjadi simbol perlawanan yang nyata)
Kekurangan:
-Menimbulkan jatuhnya korban jiwa dan trauma kemanusiaan
-Menghabiskan anggaran dan sumber daya negara dalam jumlah yang sangat besar
-Menghabiskan anggaran dan sumber daya negara dalam jumlah yang besar
-Risiko terjadinya konflik yang makin meluas dan tak terkendali