Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
OTITIS MEDIA & FARINGITIS, Erena Alia Maherrani (2406500003) Modul…
OTITIS MEDIA & FARINGITIS
OTITIS MEDIA
merupakan
Peradangan telinga tengah (di belakang gendang telinga) akibat virus atau bakteri
Virus
Respiratory syncytial virus
Parainfluenza
Influenza
Rhinovirus
Adenovirus
Bakteri
Streptococcus pneumoniae
Haemophilus influenzae
Moraxella catarrhalis
Group A β-Hemolytic Streptococcus
faktor risiko
Paparan asap rokok pasif
Susu formula/botol dan menyusui posisi telentang
Kelainan anatomi (langit-langit sumbing, trisomi 21)
Riwayat keluarga
klasifikasi
OMA (Otitis Media Akut)
berupa
nyeri telinga akut, membran timpani menonjol, berlangsung <3 minggu
manifestasi klinis
nyeri telinga, demam, rewel, gangguan dengar; membran timpani bulging, merah, dan keruh
patofisiologi
ISPA virus → gangguan mukosiliar → disfungsi tuba Eustachius → tekanan negatif → bakteri/virus masuk ke telinga tengah → sitokin dan inflamasi → bulging, eritema, otorea
stadium
oklusi tuba → hiperemis → supurasi → perforasi → resolusi
OME (Otitis Media Efusi)
berupa
cairan di telinga tengah tanpa tanda infeksi akut
manifestasi klinis
gangguan dengar, telinga terasa penuh, kadang tinnitus; ada garis batas cairan-udara
OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik)
berupa
perforasi membran timpani dan otorea terus-menerus
manifestasi klinis
otorea kronik, perforasi, tuli konduktif, kadang vertigo
Terapi non-farkol
berupa
Aural toilet (dry mopping, suction, irigasi)
Fitoterapi: Otikon, Mullein Garlic
Osteopati: manuver Galbreath, teknik Muncie
Akupunktur: bukti terbatas, tidak direkomendasikan NICE pada OME
monitoring
Gejala klinis membaik dalam 24–72 jam (otalgia, otorea, efusi)
Otoskopi pneumatik, timpanometri (tipe A normal), reflektometri akustik, timpanosentesis
Skala AOM-SOS (0–14), OS-8, AOM-FS
FARINGITIS
merupakan
Peradangan faring, umumnya akibat virus atau bakteri
virus
Rhinovirus
Influenza
Adenovirus
Coronavirus
Parainfluenza
EBV
HSV
Coxsackievirus
bakteri
Group A β-Hemolytic Streptococcus
fungal
Candida albicans
faktor risiko
Usia muda 3–15 tahun
Paparan asap rokok/polusi
Riwayat alergi
Daya tahan tubuh lemah
kontak dengan penderita (droplet)
klasifikasi
Akut
viral, bakterial, fungal, gonorea
Kronik
hiperplastik (mukosa posterior berubah, tampak cobblestone), atrofi (bersama rinitis atrofi)
Spesifik
tuberkulosis, luetika (sifilis)
patofisiologi
GAS
adhesin (asam lipoteikoat, protein M) → eksotoksin SPE/SSA (superantigen) → sitokin IL-1, IL-6, TNF-α → demam, edema, petekie, KGB membesar, eksudat; streptolisin-O → lisis sel, ruam skarlatiniform
Difteri
toksin AB → ADP-ribosilasi EF-2 → sintesis protein terhenti → selaput abu-abu, bull neck
Gonore
pili tipe IV dan protein Opa → sering asimtomatik
LPR (refluks laringofaring)
pepsin → ROS → ERK1/2 → penurunan E-cadherin → barrier mukosa rusak → inflamasi kronik
manifestasi klinis
Umum
berupa
nyeri tenggorokan mendadak, demam membaik dalam 3–5 hari
Viral
berupa
konjungtivitis, pilek, batuk
GAS
berupa
nyeri menelan, demam, sakit kepala, mual, tonsil eksudat, uvula merah dan bengkak, petekie palatum, KGB anterior membesar dan nyeri
Fungal
berupa
plak putih di orofaring
Kronik hiperplastik
barupa
tenggorokan kering dan gatal, batuk berdahak
Kronik atrofi
barupa
tenggorokan kering, mulut berbau
kompilkasi
berupa
abses peritonsilar/retrofaring, OMA, sinusitis, demam rematik akut, glomerulonefritis akut
Terapi non-farkol
berupa
Cuci tangan, tidak berbagi alat makan/mandi
Etika batuk, berkumur air hangat
Makanan bergizi, hindari yang mengiritasi
Tidak merokok, hindari polusi
Monitoring
Demam dan nyeri turun dalam 1–2 hari; jika tidak membaik setelah 48 jam, kembali ke dokter
Boleh beraktivitas bila bebas demam 12–24 jam setelah antibiotik
Antibiotik harus tuntas 10 hari agar tidak terjadi demam rematik atau kerusakan ginjal
Tidak perlu kultur ulang rutin (IDSA 2012)
Penggolongan Obat
Antibiotik
β-laktam (amoksisilin)
mekanisme
ikat subunit 50S → inhibisi translokasi → sintesis protein terhambat → pertumbuhan bakteri terhenti → bakteriostatik
Fluorokuinolon (siprofloksasin, levofloksasin)
mekanisme
inhibisi DNA gyrase & topoisomerase IV → replikasi DNA terganggu → DNA bakteri rusak → kematian bakteri → bakterisidal
Makrolida (azitromisin)
mekanisme
mengikat subunit 50S → inhibisi peptidil transferase → sintesis protein terhambat → pertumbuhan bakteri terhenti → bakteriostatik
Lincosamida (klindamisin)
mekanisme
inhibisi DHPS + trimetoprim → inhibisi DHFR → sintesis asam folat terhambat → sintesis DNA/protein terganggu → kematian bakteri
Kotrimoksazol (sulfametoksazol + trimetoprim)
mekanisme
mengikat PBP → inhibisi cross-linking peptidoglikan → dinding sel bakteri lemah → lisis bakteri → bakterisidal
Rifampisin
mekanisme
inhibisi RNA polimerase DNA-dependent → transkripsi RNA terhenti → sintesis protein terhenti → kematian bakteri
Analgesik & antipiretik
Ibuprofen
mekanisme
inhibisi COX → ↓ prostaglandin → ↓ nyeri + ↓ inflamasi + ↓ demam
Parasetamol
mekanisme
inhibisi pembentukan prostaglandin di SSP → ↓ PGE₂ → pusat termoregulasi → ↓ demam + ↓ nyeri
Antihistamin
Diphenhydramine
mekanisme
antagonis reseptor H1 → efek histamin terhambat → ↓ gejala alergi → ↓ bersin/rinore
Cetirizine
mekanisme
antagonis reseptor H1 perifer → efek histamin terhambat → ↓ permeabilitas pembuluh darah → ↓ edema & gejala alergi
Kortikosteroid
Dexamethasone
mekanisme
ikat reseptor glukokortikoid → transkripsi gen antiinflamasi ↑ + NF-κB/AP-1 ↓ → ↓ sitokin & COX-2 → ↓ inflamasi → ↓ nyeri & edema
Tatalaksanan Farmakologi
Pedoman nasional (Kemenkes 2022)
OMA
Nyeri/demam
menggunakan
parasetamol atau ibuprofen
Infeksi bakteri/indikasi antibiotik
menggunakan
amoksisilin
Perforasi
menggunakan
cuci telinga H2O2 3%, asam asetat 2%, atau ofloxacin tetes
Pencegahan
menggunakan
imunisasi Hib dan PCV
Faringitis
Umum
berupa
istirahat, cairan yg cukup, kumur, parasetamol/ibuprofen
Bakteri GAS
lini 1
amoksisilin, amoksisilin-klavulanat, penisilin VK, atau Benzathine PenG (pilihan bila tidak patuh oral)
lini 2
eritromisin, azitromisin 5 hari, klaritromisin, sefalosporin gen 1/2
Persisten
gunakan
klindamisin
Virus
gunakan
Isoprinosine
Jamur
gunakan
nistatin
Gonorea
gunakan
seftriakson 2 g IM
Kronik hiperplastik
gunakan
kaustik AgNO3 25%
Pedoman internasional
OM (Pharmacotherapy/DiPiro)
berupa
Lini 1: amoksisilin dosis tinggi atau amoksisilin-klavulanat
Alergi non-berat: sefdinir, sefuroksim, sefpodoksim
Gagal terapi: seftriakson
Durasi 10 hari (<2 tahun), 5–7 hari (≥6 tahun)
OM (NICE NG91)
berupa
Amoksisilin 5–7 hari
Alergi penisilin: klaritromisin
Tetes fenazon-lidokain
OM (CHOP)
Antibiotik segera bila usia <6 bulan, gejala berat, atau otorea
Observasi 48–72 jam + SNAP (resep cadangan) bila tidak berat
Faringitis
berupa
Centor/McIsaac → RADT → (+) penicillin/amoxicillin → (−) simptomatik
Kondisi Khusus
Pediatri
OMA
analgesik prioritas (ibuprofen lebih dipilih); keputusan antibiotik berdasarkan usia dan keparahan; pencegahan rAOM (hentikan dot, hindari asap rokok, PCV, influenza, xylitol); OME: watchful waiting 3 bulan, tanpa antibiotik/steroid
Faringitis
amoksisilin 50 mg/kg 10 hari; alergi tipe I: azitromisin atau klindamisin
Geriatri
Faringitis
bakteri jarang pada usia >45 tahun; penisilin VK 500 mg 2×/hari
OM
jarang tetapi komplikasi lebih tinggi; antibiotik minimal 10–14 hari
Ibu hamil/menyusui
OM
amoksisilin (kategori B); hindari eritromisin dan klaritromisin; parasetamol aman, hindari NSAID; dekongestan oral dihindari
Faringitis
cephalexin, penisilin, amoksisilin; hindari aspirin dan levofloxacin
Umum
hindari aspirin pada anak (risiko sindrom Reye)
Gangguan organ (CKD)
sesuaikan dosis berdasarkan GFR (cefalexin, amoksisilin, cefadroxil, klaritromisin)
Erena Alia Maherrani (2406500003) Modul Gangguan Pernapasan A