Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
OTITIS MEDIA - FARINGITIS, Yasyfa Ailsa Rafila (240640289) Modul Terapi…
OTITIS MEDIA - FARINGITIS
Patofisiologi
otitis media
infeksi saluran napas atas oleh virus
inflamasi meluas dari nasofaring ke mukosa tuba eustachius
gangguan pembersihan mukosiliar
perubahan mukus
mukosa membengkak
tuba eustachius tersumbat
terbentuk tekanan negatif di ruang telinga tengah
2 more items...
infeksi saluran napas atas oleh bakteri
faringitis
faringitis bakteri
disebabkan oleh sptreptococcus / GAS / S. pyogenes
bakteri menempel pada epitel faring
eksotoksin SpeB & SLS merusak tight junctions antar-sel epitel
toksin SLO & NADase merusak organel sel
kamuflase imun
pelepasan CGRP dari saraf
menekan rekrutmen neutrofil
degradasi peptida antimikroba dan pemotongan IL8
toksin mengaktifkan neuron TRPV1+
nyeri tenggorokan
inflamasi
pelepasan sitokin IL1, IL6, TNF-α
peningkatan permeabilitas pembuluh darah
1 more item...
SPE bertindak sebagai superantigen
faringitis virus
virus non-invasif langsung
menginfeksi epitel rongga hidung
edema & hiperemia mukosa
pelepasan bradikinin
stimulasi saraf nyeri
pilek, hidung tersumbat, batuk, iritasi
pembengkakan mukosa hidung, tuba eustachius, faring
rhinovirus, coronavirus
virus invasif ekspres/ sitopatik
replikasi langsung di sel epitel mukosa faring
efek sitopatik & nekrosis jaringan epitel
respons inflamasi lokal
Eritema orofaring, edema, hipertrofi tonsil, cobblestoning pada faring belakang
pada adenovirus dapat menyebabkan konjungtivitis
adenovirus, influenza
Penggolongan Obat Berdasarkan Mekanismenya
antibiotik
beta laktam
mekanisme kerja
cincin beta-laktam pada antibiotik berikatan secara IRREVERSIBEL dengan Penicillin-Binding Protein pada membran sel bakteri
menghambat enzim transpeptidase
peptidoglikan tidak dapat berikatan silang dengan optimal
dinding sel bakteri lemah dan rusak
bakteri lisis
1 more item...
golongan dan contoh obatnya
penisilin
penisilin G, penisilin V, amoxicillin, ampicilin
sefalosporin
gen 1
cefazolin, sefaleksin, sefadroksil
gen 2
sefuroksim, sefaklor, sefprozil
aktivitas terhadap gram positif lebih rendah daripada gen 1
gen 3
seftriakson, sefotaksim, sefiksim
gen 4
sefepim
gen 5
seftarolin, seftob
karbapenem
imipenem, meropenem
monobaktam
aztreonam
makrolida
mekanisme kerja
berikatan secara REVERSIBEL pada
ribosom subunit 50S
bakteri
menghambat translokasi
pemanjangan rantai polipeptida terganggu
sintesis protein terhambat
bakteri tidak tumbuh dan berkembang biak
1 more item...
contoh obat
eritromisin, azitromisin, klaritomisin
lincosamid
mekanisme kerja
berikatan secara REVERSIBEL pada
ribosom subunit 50S
bakteri
menghambat peptidyl transferase
pelepasan dini molekul peptidyl-tRNA
translasi mRNA terhenti
bakteriostatik
1 more item...
contoh obat
klindamisin, linkomisin
florokuinolon
mekanisme kerja
berikatan secara
REVERSIBEL dengan DNA gyrase/ topoisomerase IV
mengambat proses ligasi
DNA tetap terpotong
replikasi dan transkripsi DNA terganggu
bakteri tidak tumbuh dan berkembang biak
1 more item...
kompleks DNA-enzim terperangkap
contoh obat
ciprofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin
sulfonamida
mekanisme kerja
penghambat kompetitif asam para-aminobenzoat (PABA)
terjadi kompetisi PABA untuk menginhibisi Dihidropteroate synthase (DHS)
pembentukan asam folat terhambat
THF berkurang
pembentukan DNA dan RNA terganggu
1 more item...
contoh obat
kotrimoksazol,
kortikosteroid
mekanisme kerja
berikatan dengan reseptor glukokortikoid di sitoplasma sel bakteri
kompleks kortikosteroid-GR pindah ke nukleus
menghambat aktivitas HAT
kromatin lebih tertutup,
transkripsi gen inflamasi ditekan
produksi senyawa pro inflamasi menurun
inflamasi berkurang
kompleks kortikosteroid-GR merekrut HDAC1
deasetilasi histon
contoh obat
dexamethasone, prednison, metilprednisolon
isoprinosine (antivirus)
mekanisme kerja
merangsang respon imun sel Th1
meningkatkan IL-2 dan IFN-γ
merangsang aktivasi sel T
meningkatkan IFN-γ, menekan IL-10
respon imun tubuh menjadi lebih kuat
aktivitas dan jumlah sel NK meningkat
sel fagosit menjadi lebih aktif
sintesis RNA pada sel tubuh meningkat
replikasi virus terhambat
sintesis RNA sel virus ditekan
contoh obat
inosine prabonex
antihistamin
mekanisme kerja
berikatan dengan reseptor H1
menghambat aktifitas NF-κB
menonaktifkan kanal ion kalsium
menurunkan vasodilatasi dan permeabilitas kapiler
menurunkan aktivitas pro-inflamasi
menurunkan inflamasi
1 more item...
contoh obat
gen 1
chlorpheniraminemaleate, promethazine
gen 2
cetirizin, loratadin
antijamur nystain
mekanisme kerja
berikatan dengan ergosterol, membentuk kompleks nystatin-ergosterol
terbentuk kanal transmembran
permeabilitas, fluiditas, dan integritas membran terganggu
terjadi kebocoran Ca, K, Na, dan peptida, gradien elektrokimia terganggu
transport membran dan metabolisme sel terganggu
kematian sel jamur
contoh obat
nystatin
paracetamol
mekanisme kerja
menghambat peroksidase
menghambat pembentukan PGH
produksi PGE menurun
menghambat produksi prostanoids
ambang nyeri naik
set point suhu menurun
NSAID
contoh obat
non selektif
ibuprofen, asam mefenamat
selektif
celecoxib
mekanisme kerja
menghambat siklooksigenase (COX)
menghambat sintesis prostaglandin
ambang nyeri naik
set point suhu menurun
dekongestan
mekanisme kerja
berikatan dengan reseptor α₁
adrenergik pada mukosa hidung
menstimulasi phospolipase C (PLC) pada membran sel
PLC memecah Ptdlns(4,5)P2 menjadi IP3 dan DAG
IP3 meningkatkan pelepasan Ca intraseluler
otot polos pembuluh darah mukosa hidung vasokonstriksi
kongesti berkurang, mukus berkurang
contoh obat
pseudoefedrin, fenilefrin
antiseptik
mekanisme kerja
iodium (I2) menembus membran sel mikroba
terjadi oksidasi gugus tiol dan gugus fungsi esensial
denaturasi protein dan enzim seluler
membran sel mikroba rusak
kematian mikroorganisme
iodium (I2) mengoksidasi asam nukleat dan asam amino
replikasi dan transkripsi terganggu
contoh obat
povidone iodine
obat pencuci telinga (H2O2)
mekanisme kerja
berinteraksi dengan enzim katalase pada serumen teinga
melepaskan gelembung O2
serumen pecah
pelunakan kotoran telinga
telinga menjadi bersih
contoh obat
H2O2 3%
Monitoring Keberhasilan Terapi
otitis media
pasien otitis media akut (OMA) wajib dievaluasi kembali dalam waktu
48 hingga 72 jam
setelah terapi dimulai
gejala klinis
penurunan atau hilangnya demam
meredanya otalgia
penurunan kegelisahan, tidak sering memegang telinga, pulihnya pola tidur dan nafsu makan pada anak
Hilangnya rasa penuh atau tekanan di dalam telinga serta meredanya tinnitus
pemeriksaan fisik
OMA
berkurang atau hilangnya penonjolan (
bulging
) membran timpani
kemerahan mereda
muncul kembali refleks cahaya
cairan di liang telinga luar menghilang
OMSK
berkurang/ hilangnya tanda inflamasi mukosa telinga tengah
hilangnya jaringan granulasi
keberhasilan penutupan perforasi membran timpani
Penilaian skor otologi menunjukkan kategori
Sembuh (skor <3)
atau
Membaik (skor 3–5)
pemeriksaan fungsi pendengaran & laboratorium
ambang pendengaran membaik menuju normal
penurunan jumlah leukosit
hasil kultur ulang negatif
faringitis
gejala klinis
penurunan suhu tubuh hingga normal kembali
hilangnya nyeri tenggorokan dan nyeri meneal
meredanya batuk, berkurangnya ingus, meredanya sakit kepala, membaiknya nafsu makan
pemeriksaan fisik
berkurangnya eritema dan pembengkakan pada mukosa faring, tonsil, serta uvula
pembersihan bercak eksudat purulen pada permukaan tonsil/faring
hilangnya plak putih pada orofaring dan pangkal lidah pada faringitis jamur
Pengecilan ukuran kelenjar limfa servikal anterior serta hilangnya nyeri tekan
pemeriksaan penunjang
kadar leukosit normal
tidak ditemukannya lagi sel kuman patogen dengan pewarnaan Gram
tidak ditemukannya hifa/sel ragi pada pewarnaan KOH untuk jamur pada hasil swab mukosa faring
Algoritma Terapi Umum
faringitis
skoring
skor 0-1
(risiko rendah <10% GAS)
kemungkinan faringitis viral
skor 2-3
(risiko sedang 11-40% GAS)
lakukan tes RADT
+
antibiotik GAS
-
terapi simptomatik
skor ≥4
(risiko tinggi 50-65% GAS)
kemungkinan GAS
kultur/ langsung mulai antibiotik
faringitis bakteri/ GAS
1st line
penisilin V
amoksisilin
benzathine penicillin G (Injeksi Single Dose)
jika alergi penisilin
alergi berat (anafilaksis, IgE mediated)
klindamisin/ azitromisin/ klaritomisin
alergi non berat (non-IgE)
sefaleksin/ sefadroksil
faringitis non bakteri
faringitis virus
terapi simptomatik
antivirus isoprinosine
deksametason oral apabila terdapat odiofagia berat
faringitis jamur
ringan
Nistatin
suspensi oral 100.000–400.000 IU 2–4x/hari selama 2 minggu
sedang-berat
Flukonazol
oral 200 mg dosis tunggal, dilanjutkan 100 mg 1x/hari selama 1–2 minggu
terapi suportif
parasetamol/ ibuprofen
kumur larutan garam hangat
lozenges
otitis media
terapi simptomatik
nyeri dan demam
(selalu) berikan parasetamol atau ibuprofen oral
dekongestan tetes hidung
efedrin HCl
0,5% untuk anak <12 tahun
1% untuk dewasa dan anak > 12 tahun
oksimetazolin
langsung berikan antibiotik jika
usia <6 bulan
gejala berat
OMA bilateral pada anak usia 6-23 bulan
terjadi otorea/ cairan keluar dari telinga
terapi antibiotik inisial
tanpa riwayat amox 30 hari terakhir/ tanpa konjungtivitis purulen
amox 3 x 500 mg/hari selama 7-10/ 10-14 hari
amox klavulanat 875 mg / 125 mg 2x/hari 5–7 hari
ada riwayat amox 30 hari terakhir/ dengan konjungtivitis purulen/ gejala berat
amox klavulanat extended release 2000mg/ 125 mg 2x/ hari 10 hari
jika resisten/ gagal
ganti menjadi Amoksisilin-Klavulanat jika awalnya hanya amox
ganti menjadi seftriakson atau klindamisin
jika tetap tidak ada respon
rujuk ke THT
OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis) & OME (Efusi)
OSMK
pembersihan sekret + antibiotik topikal kuinolon
2-3x sehari
antibiotik sistemik bukan terapi rutin
OME
antibiotik/dekongestan
tidak direkomendasikan
secara rutin karena tidak mempercepat hilangnya efusi
pemasangan tympanostomy tube dipertimbangkan bila efusi persisten ≥3 bulan
Alrgoritma Terapi Khusus
otitis media
pediatri
terapi simptomatik
dekongestan tetes hidung
efedrin HCl 0,5% (<12 tahun), 1% (>12 tahun), oksimetazolin
nyeri dan demam
parasetamol, ibuprofen
KONTRAINDIKASI aspirin
terapi antibiotik inisial
jika resisten/ gagal
jika tetap tidak ada respon
rujuk ke THT
ganti menjadi seftriakson atau klindamisin
ganti menjadi Amoksisilin-Klavulanat jika awalnya hanya amox
ada riwayat amox 30 hari terakhir/ dengan konjungtivitis purulen/ gejala berat
Amoksisilin-Klavulanat dosis tinggi (90 mg/kgBB/hari amoksisilin + 6,4 mg/kgBB/hari klavulanat) terbagi dalam 2 dosis
tanpa riwayat amox 30 hari terakhir/ tanpa konjungtivitis purulen
Amoksisilin Dosis Tinggi 80–90 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2 dosis
pasien alergi penisilin
alergi non berat (non-IgE)
anak
sefdinir/ sefuroksim/ sefpodoksim/ seftriakson
dewasa
sefdinir/ sefuroksim/ sefpodoksim/ doksisiklin
dapat menoleransi sefalosporin
alergi berat (anafilaksis, IgE mediated)
anak
azitromisin/ klaritomisin
dewasa
doksisilkin/ levofloksasin/ moksifloksasin
ibu hamil dan menyusui
antibiotik yang aman
Amoksisilin, Penisilin, Sefalosporin, Eritromisin, Azitromisin, Klindamisin
kategori B
KONTRAINDIKASI
Fluoroquinolon, Doksisiklin/Tetrasiklin (Kategori D)
NSAID non selektif pada trimester III
analgesik
parasetamol
hindari ibuprofen dan aspirin pada trimester III
geriatri
amoksisilin dosis tinggi atau amoksisilin-klavulanat dengan durasi
minimal 10-14 hari
faringitis
ibu hamil dan menyusui
Penisilin V/ Amoksisilin/ Benzathine Penicillin G IM
jika alergi
berikan
eritromisin
analgesik
parasetamol
KONTRAINDIKASI
NSAID non selektif pada trimesster ke III
HINDARI
dekongestan pseudoefedrin pada trimester I
carrier GAS/ infeksi menetap
indikasi
wabah demam rematik, riwayat demam rematik pribadi/keluarga, atau wabah komunitas
regimen
klindamisin/ amoksisilin-klavulanat/ penisilin V + rifampisin/ benzathine penicillin G + rifampisin
geriatri
penicillin V
Yasyfa Ailsa Rafila (240640289) Modul Terapi Gangguan Pernapasan C