Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Masa Awal Kemerdekaan 1945-1950 (Vina Hutubessy/12 IPA) - Coggle Diagram
Masa Awal Kemerdekaan 1945-1950
(Vina Hutubessy/12 IPA)
Diplomasi VS Militer
Evaluasi
Keuntungan
Militer
Menunjukkan Keberadaan Nyata: Membuktikan secara langsung kepada Belanda dan dunia bahwa negara Indonesia masih berdiri tegak.
Memperkuat Nasionalisme: Membakar semangat persatuan dan rasa cinta tanah air di seluruh masyarakat untuk melawan penjajah.
Diplomasi
Mencegah Kerusakan & Korban Lebih Besar: Mengurangi potensi pertumpahan darah dan krisis kemanusiaan di wilayah pertempuran.
Pengakuan Hukum Internasional: Mengubah hasil perlawanan fisik menjadi dokumen sah yang diakui oleh PBB dan negara-negara luar.
Kerugian
Militer
Jatuhnya Korban Jiwa: Memakan ribuan nyawa dari pihak prajurit maupun rakyat sipil.
Kerusakan Kerugian Material: Hancurnya infrastruktur vital, pemukiman, dan perekonomian warga.
Diplomasi
Memicu Perpecahan Internal: Hasil perjanjian yang terkesan menguntungkan Belanda sering ditolak oleh kelompok pejuang, sehingga memicu konflik politik di dalam negeri.
Bergantung pada Kepatuhan Musuh: Hasil diplomasi kerap kali dilanggar secara sepihak oleh Belanda.
Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Negara Indonesia
Kekosongan Kekuasaan
Kekalaham Jepang dari Sekutu pada 15 Agustus 1945, dimanfaatkan oleh pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan.
Tekanan Golongan Muda
Diwujudkan melalui Rengasdengklok memastikan proklamasi dilakukan tanpa campur tangan Jepang.
Kesadaran Nasionalisme
Perjuangan pergerakan nasional dari Jepang mempercepat konsolidasi BPUPKI dan PPKI.
Perang Selama Awal Kemerdekaan
Surabaya
Waktu: 27 Oktober-20 November 1945
Penyebab: Penolakan pemuda terhadap Sekutu untuk menyerahkan senjata pasca tewasnya Brigdir Jenderal Mallaby.
Dampak: Membakar semangat perlawanan daerah lain dan diabadikan sebagai hari pahlawan.
Medan Area
Waktu: 13 Oktober 1945 sampai April 1946
Penyebab: Lencana merah putih diinjak oleh tentara Sekutu.
Dampak: Terbentuk komando markas Medan Area untuk mengoordinasikan perlawanan rakyat dan pemuda di Sumatera Utara.
Bandung Lautan Api
Waktu: 23-24 Maret 1946
Penyebab: Perintah dari Sekutu agar kota Bandung dikosongkan oleh TRI.
Dampak: Pasukan Sekutu gagal memanfaatkan fasilitas, gedung pemerintahan, dan markas militer di Bandung Selatan karena telah hangus terbakar.
Ambarawa
Waktu: 20 Oktober-15 Desember 1945
Penyebab: Sekutu dan NICA menyalahgunakan misi kemanusiaan dengan membebaskan serta mempersejati kembali para tawanan perang Belanda secara sepihak.
Dampak: Pasukan Sekutu berhasil dipukul mundur ke Semarang.
Margarana
Waktu: 20 November 1946
Penyebab: Penolakan I Gusti Ngurah Rai terhadap ajakan Belanda untuk membentuk Negara Indonesia Timur.
Dampak: Pasukan Ciung Wanara gugur hingga titik darah penghabisan serta memperkuat konsolidasi perlawanan rakyat Bali.
Palembang
Waktu: 1-5 Januari 1947
Penyebab: Pasukan NICA melanggar batas wilayah kekuasaan dan menuntut agar seluruh pasukan TNI serta pejuang Indonesia melucuti senjata dan mengosongkan kota Palembang.
Dampak: Kota Palembang mengalami kerusakan berat, jatuhnya ratusan korban jiwa dari kedua belah pihak, dan dicapainya kesepakatan gencatan senjata yang memaksa pasukan Indonesia mundur sejauh 20 kilometer dari pusat kota.
Makasar
Waktu: 11 Desember 1946 hingga Februari 1947
Penyebab: Belanda ingin menumpas perlawanan pejuang kemerdekaan serta menegakkan kembali kekuasaan penuh untuk membentuk Negara Indonesia Timur.
Dampak: Ribuan rakyat sipil dan pejuang gugur dalam aksi pembantaian massal, serta meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Diplomasi yang Terjadi
Konferensi Meja Bundar
Belanda menyerahkan dan mengakui kedaulatan penuh kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) tanpa syarat pada 27 Desember 1949, serta penyelesaian status Irian Barat yang ditangguhkan selama 1 tahun.
Linggarjati
Belanda mengakui wilayah Indonesia hanya meliputi Jawa, Sumatra, dan Madura. Dibentuk pula negara federasi Republik Indonesia Serikat (RIS) yang bergabung dalam Uni Indonesia-Belanda.
Renville
Indonesia terpaksa menyepakati batas wilayah baru yang disebut Garis Demarkasi Van Mook, serta menyetujui evakuasi seluruh pasukan gerilya TNI dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda.
Roem-Royen
Penghentian seluruh kegiatan perang gerilya oleh TNI, pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta, serta kesediaan Belanda untuk membebaskan para pemimpin nasional yang ditawan dan segera menggelar Konferensi Meja Bundar.
RIS ke NKRI
Proses peralihan dari RIS ke NKRI dilakukan melalui diplomasi internal antara pemerintah RIS, Negara Bagian RI, NIT, dan NST yang menyepakati pembubaran sistem federasi buatan Belanda. Melalui penyusunan UUDS 1950, seluruh negara bagian sepakat melebur hingga Presiden Soekarno secara resmi memproklamasikan kembalinya NKRI pada 17 Agustus 1950.