Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Otitis Media & Faringitis (Felicia Theodora/2406358415), Monitoring,…
Otitis Media & Faringitis (Felicia Theodora/2406358415)
OTITIS MEDIA
Patofisiologi
infeksi virus pada saluran pernapasan atas
mengganggu mekanisme mukosiliar
disfungsi tuba Eustachius
tekanan negatif
masuknya bakteri dan/atau virus
induksi
sitokin
kolonisasi bakteri
1 more item...
mediator proinflamasi
Tatalaksana
umum
tujuan terapi
mengurangi nyeri
eradikasi infeksi
mencegah komplikasi
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Penegakan Diagnostik
yang perlu diperhatikan
Diagnostik Klinis
Diagnostik Banding
dilakukan dengan
otoskopi
tes penala
auditori nada murni
terdiri atas beberapa stadium, yaitu
Stadium oklusi tuba
Telinga terasa penuh atau nyeri
pendengaran dapat berkurang
Lini Pertama
Obat tetes hidung (dekongestan topikal
Analgetik/antipiretik
Antibiotik jika risiko tinggi
Stadium hiperemis
Nyeri telinga makin intens
demam, rewel, gelisah (anak)
muntah, nafsu makan hilang
sama seperti
Stadium supurasi
Stadium perforasi
Keluar sekret dari liang telinga
Lini Pertama (topikal)
berikan obat cuci telinga terlebih dahulu
H2O2 3%
1 more item...
Asam asetat 2%
1 more item...
Ofloxacin
1 more item...
Lini Kedua (oral sistemik)
Antibiotik
Antihistamin (bila terdapat tanda alergi)
Dekongestan
Analgetik/antipiretik
Stadium resolusi
Setelah sekret keluar, intensitas keluhan berkurang
Bila perforasi permanen
pendengaran dapat tetap berkurang
khusus
Pediatri
Evaluasi awal
Keputusan terapi
Evaluasi Gejala Persisten (48–72 Jam)
Antibiotik Langsung:
Usia <6 bulan.
Gejala berat (otore, nyeri hebat, atau demam ≥39°C) → Berikan antibiotik 10 hari
Usia 6–23 bulan dengan AOM bilateral → Berikan antibiotik 10 hari
durasi pengobatan
10 hari
1 more item...
5-7 hari
1 more item...
Manajemen simptomatik
Analgesik oral
2 more items...
analgesik topikal
1 more item...
Terapi Lini Kedua
3 more items...
Indikasi pemberian antibiotik segera
Bayi usia di bawah 6 bulan. (Catatan: Bayi demam usia <2–8 minggu memerlukan evaluasi sepsis penuh).
Anak usia 6 bulan atau lebih dengan gejala berat (nyeri telinga sedang/berat, nyeri berlangsung ≥48 jam, atau suhu tubuh ≥39°C).
Anak usia 6 hingga 23 bulan dengan AOM bilateral.
Anak yang mengalami otore.
Geriatri
dua pilar utama
identifikasi & eliminasi faktor risiko
terapi antibiotik yang adekuat
terapi
Amoksisilin dosis tinggi atau amoksisilin-klavulanat
Sefalosporin (seperti sefuroksim atau sefdinir)
Golongan penisilin, beta-laktam lain, atau fluoroquinolon
Wajib diberikan minimal
10–14 hari
Ibu Hamil
Terapi antibiotik
Lini pertama
Beta-laktam: Amoksisilin atau Amoksisilin-Klavulanat (dosis dapat disesuaikan).
Jika alergi penisilin
pertimbangkan
1 more item...
hindari
1 more item...
Penanganan nyeri
Parasetamol (aman di semua trimester)
Hindari NSAID
Terapi Suportif Hidung & Tuba Eustachius
Irigasi Salin
kortikosteroid nasal --> budesonide (B)
dekongestan
Topikal (Nasal): Maksimal <7 hari
Oral (Pseudoefedrin): Dihindari (Kategori C)
Antihistamin (Kategori B)
Cetirizine, Loratadine, atau Klorfeniramin jika ada komorbid alergi.
FARINGITIS
diklasifikasikan berdasarkan penyebab, menjadi
Bakterial Faringitis
Streptococci Pharyngitis
Group A Streptococcus (GAS) melekat pada epitel faring dengan adhesin
GAS melepas
Jalur Streptolisin-O
Masuk sirkulasi sistemik
berikatan kolesterol membran sel
membentuk agregat toksik
1 more item...
Jalur SPE A/B/C
superantigen
yang memicu
2 more items...
SSA
less common
Corynebacterium diphtheriae
mensekresikan toksin AB
B
mengikat reseptor di permukaan sel epitel
endositosis toksin
1 more item...
ditandai dengan
Nyeri tenggorokan
demam ringan
muncul selaput abu-abu di tonsil/tenggorokan
bull neck
jika racun menyebar
rusak jantung & saraf
Neisseria gonorrhoeae
melekat ke epitel faring lewat pili tipe IV
protein Opa memperkuat perlekatan
memfasilitasi invasi bakteri ke dalam sel host
memicu peningkatan kalsium intraseluler
aktivasi jalur NF-κB/AP-1
inflamasi lokal
Laryngopharyngeal Pharyngitis
Pepsin memicu pembentukan ROS
kerusakan jaringan
mengaktifkan jalur sinyal ERK1/2
cJUN
MMP-7
penurunan E-cadherin
melemahkan integritas barrier mukosa faring
Tatalaksana
Umum
Anamnesis & Pemeriksaan
dilihat dari
Keluhan
Demam
Sekret dari hidung
Dapat disertai atau tanpa batuk
Nyeri kepala
Mual
Muntah
Rasa lemah pada seluruh tubuh
Nafsu makan berkurang
Nyeri tenggorokan, terutama saat menelan
Gejala
dan diklasifikasikasikan menjadi
Viral
Diawali dengan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian timbul faringitis.
Gejala lain demam disertai rinorea dan mual.
Bakterial
Nyeri kepala hebat, muntah, kadang demam dengan suhu yang tinggi, jarang disertai batuk, dan seringkali terdapat pembesaran KGB leher.
Fungal
Nyeri tenggorok dan nyeri menelan.
Kronik Hiperplastik
Mula-mula tenggorok kering, gatal dan akhirnya batuk yang berdahak.
Kronik Atrofi
Umumnya tenggorokan kering dan tebal serta mulut berbau.
Penegakan Diagnostik
Tindakan utama
istirahat yang cukup
menjaga asupan cairan/air putih yang cukup
berkumur dengan air hangat atau obat kumur antiseptik
Simptomatik
Analgesik / Antipiretik: Parasetamol atau Ibuprofen
Antitusif: Dekstrometorfan
Ekspektoran: Guaifenesin
Tablet Hisap (Lozenges): Untuk meredakan nyeri tenggorokan
Kortikosteroid
Deksametason 3 x 0,5 mg/hari selama 3 hari.
berdasarkan etiologi & indikasi
Faringitis Bakteri (Streptococcus Grup A)
Lini pertama
5 more items...
Faringitis Virus
Antivirus (Isoprinosine):
1 more item...
Kondisi khusus
3 more items...
Penunjang
Pemeriksaan darah lengkap
Pewarnaan Gram
pemeriksaan mikroskopik swab mukosa faring dengan pewarnaan KOH
Khusus
Pediatri
first line
penicilin
Kalau tidak alergi
Amoxicillin 50 mg/kg/hari PO selama 10 hari
Intramuskular (pertimbangkan pada pasien dengan kemungkinan kepatuhan pengobatan yang rendah) ⟶ Penisilin G
<27kg ⟶ 600.000 U sekali (375 mg)
>27kg ⟶ 1.200.000 U sekali (750 mg)
Jika alergi
Alergi penisilin tipe I / immediate hypersensitivity
Azithromycin 12 mg/kg/dosis, maksimal 500 mg/dosis, selama 5 hari
Clindamycin 7 mg/kg/dosis, maksimal 300 mg/dosis, tiga kali sehari selama 10 hari.
Riwayat alergi penisilin ringan/non-tipe I
Cephalexin 20 mg/kg/dosis BID selama 10 hari, maksimal 500 mg/dosis.
nasional
penicilin G
1 x 1,2 juta U melalui IM
Penicilin VK
2-3 x 250 mg selama 10 hari
Amoksisilin-klavulanat
2-3 x 250 mg (10 hari)
second line
Eritromisin
4 x 250mg (jika alergi penicillin)
Azitromisin
1 x 500 mg pada hari pertama dan 1 x 250 mg pada 4 hari berikutnya.
Klaritromisin
15 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis selama 5 hari.
Cefalosporin
Dosis bervariasi sesuai agen (Gen 1 atau 2)
jika masih gagal
Klindamisin (oral)
Amoksisilin clavulanat acid
hindari
1 more item...
Ibu hamil
Antibiotik yang disarankan
Cephalexin
penisilin
amoksisilin
terapi suportif
Analgesik (pereda nyeri)
antipiretik (penurun demam)
Hindari mengonsumsi aspirin
Geriatri
terapi antibiotik
pilihan utama
Penisilin VK 500 mg dua kali sehari selama 10 hari
Benzatin penisilin 1.200.000 U IM
jika alergi
berbasis eritromisin
Gangguan organ
Pasien CKD
penyesuaian dosis antibiotik berdasarkan nilai Laju Filtrasi Glomerulus (GFR)
terapi yang digunakan
Cefalexin
Jika GFR < 60 mL/min
Penicillin V
Jika GFR > 15 mL/min
Amoxicillin
Jika GFR < 30 mL/min
Cefadroxil
Jika GFR < 40 mL/min
Clarithromycin
Jika GFR < 30 mL/min
Monitoring
Indikator gejala dan tanda klinis
Demam dan Gejala Tenggorokan
umumnya self limited
Faring & Tonsil
pemeriksaan lab
Rapid Antigen Detection Test (RADT)
Kultur swab tenggorok
NAAT/PCR
Pemeriksaan darah (CBC/CRP)
PENGGOLONGAN OBAT
Antibiotik
BETA LAKTAM
(penisilin & cephalosporin)
Mekanisme
Berikatan dengan PBP
Menghambat enzim transpeptidase
Cross-linking tidak terjadi
Dinding bakteri menjadi lemah
Bakteri lisis
tidak mampu menahan osmotic pressure
contoh
Amoksisilin
efek samping
ringan
Ruam kulit
mual dan muntah
infeksi jamur
berat/serius
Gangguan kardiovaskular (shock)
sindrom Stevens-Johnson
diare berat
monitoring
Pemeriksaan darah lengkap (CBC)
Tes kultur bakteri
Evaluasi perbaikan gejala klinis akibat infeksi bakteri
Pemantauan fungsi ginjal pada pasien lansia (geriatri)
Cefixime
efek samping
ringan
diare, perut kembung (flatulence)
Nyeri perut
berat/serius
kolitis akibat Clostridium difficile
sindrom Stevens-Johnson
Erythema multiforme
monitoring
Evaluasi fungsi hati dan ginjal
Pemantauan waktu protrombin
Fluoroquinolone
Mekanisme
Gram positif
Menghambat Topoisomerase IV
Pemisahan DNA yang baru direplikasi terganggu
Gram negatif
Menghambat DNA Gyrase (Topoisomerase II)
Membentuk supercoiled negatif DNA
Replikasi & transkripsi DNA terhenti
contoh
Ciprofloxacin
Ofloxacin
Sensasi terbakar, gatal pada telinga,
kemerahan, iritasi lokal, dan pusing
Makrolida
Mekanisme
Berikatan reversibel pada subunit 50s ribosom bakteri
Menghambat proses translocation
Sintesis protein terhenti
Hambat pertumbuhan bakteri
contoh
Azitromycin
efek samping
mual, nyeri ulu hati
penurunan nafsu makan
Interaksi
meningkatkan efek, seperti amiodaron, atorvastatin, rivaroksaban
Kadar azitromisin
meningkat jika dikonsumsi bersama ivabradin
agen pemanjang interval QTc (QTc-prolonging agent)
Eritromycin
Lincosamide
Mekanisme
Berikatan pada subunit 50s ribosom bakteri
Menghambat transpeptidasi
Sintesis protein terhenti
Hambat pertumbuhan bakteri
contoh
Clindamycin
efek samping
gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare
Interaksi Obat
Mayor
vaksin BCG, vaksin kolera, dan vaksin tifoid
Moderate
metformin dan probenesid
Sulfonamida
Mekanisme
Sulfonamide memiliki struktur yang mirip dengan PABA
berkompetisi dengan PABA
PABA tidak dapat digunakan secara optimal
pembentukan Dihydropteroic acid terhambat
sintesis asam folat terhambat
1 more item...
trimethoprim
mekanisme
menghambat DHFR
Perubahan DHF menjadi THF berkurang
jumlah THF untuk sintesis DNA bakteri menurun
rifampicin
mekanisme
DNA-dependent RNA polymerase (RNAP) bakteri
menghambat elongasi rantai RNA
Transkripsi terhambat
kematian bakteri
antivirus & immunomodulator
isoprinosine
mekanisme
memodulasi respons imun
meningkatkan proliferasi
aktivasi sel T
aktivitas sel NK
meningkatkan produksi sitokin
IL-2
IFN-γ
TNF-α
menurunkan IL-10
membantu mengenali dan mengeliminasi sel yang terinfeksi
Antihistamin
berikatan dengan reseptor H1
↓ Pelepasan mediator
↑ Stabilitas mast cell
↓ Presentasi antigen
↓ Ekspresi sitokin pro-inflamatory, molekul
adhesi sel & faktor kemotaktik
Generasi
Pertama
Mudah menembus sawar darah otak
Efek samping
Mengantuk
Mulut kering
Konstipasi
Contoh
Difenhidramin
Kedua
sulit menembus sawar darah otak
Efek samping
Sakit kepala
mulut kering ringan
contoh
Cetirizine
efek samping
mulut kering
mengantuk, rasa lelah
monitoring
tingkat sedasi & kewaspadaan pasien
Famotidine
Analgetik-antipiretik
NSAID
Menghambat COX
↓ PGE₂
nyeri berkurang
efek samping
gatal-gatal
mual-muntah
agitasi
monitoring
kadar serum obat & uji fungsi hati
Acetaminophen
Menghambat pembentukan prostaglandin terutama di sistem saraf pusat
Kortikosteroid
terbagi menjadi 2 pathway
genomic pathway
Menembus membran sel
Berikatan dengan reseptor kemudian membentuk kompleks CS-CR
Berikatan dengan DNA
↑ Protein antiinflamasi
↓ Mediator proinflamasi
nongenomic pathway
Berikatan dengan reseptor membran (MR)
Mengaktifkan sinyal intraseluler (cAMP dan kanal ion K⁺/Ca²⁺)
Perubahan fungsi sel
Antitusif
Sentral
opioid
Berikatan dengan reseptor μ-opioid
pada pusat batuk di medula
Aktivasi protein G
↓ Aktivitas adenilat siklase
↓ cAMP → ↓ aktivitas PKA
Pembukaan kanal K⁺
1 more item...
non-opioid
Antagonisme reseptor NMDA
↓ Aktivasi kanal glutamat
↓ Influks Ca²⁺
↓ Eksitabilitas neuron
↓ Transmisi impuls
pada pusat batuk
1 more item...
Perifer
Menghambat kanal Na⁺
pada saraf sensorik
↓ Influks Na⁺
↓ Depolarisasi
↓ Impuls sensorik melalui
saraf aferen vagus
↓ Stimulasi pusat batuk di medula
Refleks batuk berkurang
Antiseptik
Merusak membran/protein sel mikroba
Menghambat pertumbuhan/membunuh mikroorganisme
Mengurangi jumlah mikroorganisme
Tetes Telinga
Melunakkan/melarutkan serumen
Serumen lebih mudah
terdispersi dan dikeluarkan
Saluran telinga lebih bersih
contoh
Asam asetat 2%
efek samping
Rasa perih atau nyeri pada saluran telinga serta reaksi hipersensitivitas
monitoring
tanda-tanda hipersensitivitas
H2O2 3%
efek samping
Rasa perih atau nyeri pada saluran telinga serta reaksi hipersensitivitas.
monitoring
tanda-tanda hipersensitivitas
Monitoring
Pemeriksaan Laboratorium
Otoskopi pneumatik
Menilai adanya efusi telinga tengah dan mobilitas membran timpani.
Timpanometri
Pemeriksaan penunjang untuk mengonfirmasi adanya efusi telinga tengah.
Kultur cairan telinga tengah
dipertimbangkan jika ifneksi berat
Indikator gejala & tanda klinis
otorea
dipantau pada kurun waktu 1–2 minggu pertama dan 2–4 minggu pasca terapi
Membran Timpani & Mukosa
Terlihatnya proses epitelisasi/penutupan perforasi membran timpani
Nyeri & gejala lokal
Meredanya otalgia (nyeri telinga), rasa penuh di telinga, serta demam
menyebabkan
memfasilitasi
meningkatkan
dilanjutkan dengan
jika tetap terjadi komplikasi
atau untuk mengatasi gangguan tidur, dapat digunakan
Jika gejala menetap, maka lakukan