Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Otitis Media dan Faringitis - Coggle Diagram
Otitis Media dan Faringitis
Pengertian Otitis Media
kondisi yang terjadi ketika virus atau bakteri menyebabkan area di belakang gendang telinga meradang atau dikenal juga dengan radang telinga tengah.
Pengertian Faringitis
Faringitis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada bagian tenggorokan (faring) yang biasa disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri.
Farmakologi
Faringitis
Patofisiologis
GABHS menempel pada sel epitel tenggorokan menggunakan kapsul asam hialuronat dan protein M.
Bakteri mengeluarkan toksin berupa SpeB, SLO/SLS.
Toksin tersebut merusak cell junction serta sel epitel
Penetrasi ke jaringan sub-epitel yang lebih dalam
sel Melepaskan sitokin proinflamasi IL-37, IL-8, C5a sehingga terjadi inflamasi lokal
menyebabkan nyeri, bengkak, dan demam
Toksin SLS mengaktifkan neuron sensorik Trpv1+
1 more item...
Otitis Media
Patofisiologi
Infeksi virus pada saluran pernapasan atas
(epitel nasofaring, tuba Eustachius)
mengganggu mekanisme mukosiliar
disfungsi tuba Eustachius di telinga tengah
tekanan negatif di telinga tengah
tekanan memfasilitasi masuknya bakteri
dan/atau virus ke telinga tengah
infeksi menginduksi aktivitas sitokin
dan mediator inflamasi
1 more item...
Penggolongan dan Mekanisme obat
Antibiotik
Beta laktam
Masuk dan menembus dinding sel dan berikatan dengan Penicillin-Binding Proteins (PBPs
Menghambat enzim transpeptidase
Cross-linking tidak terjadi
Dinding bakteri menjadi lemah, tidak mampu menahan osmotic pressure
Bakteri lisis
Contoh
Penisilin
Amoksisilin
Benzathine Penicillin G
Cephalosporin
Cefadroxil
Cefuroxim
Cefixime
Florokuinolon
berikatan secara spesifik dengan
Bakteri gram negatif
DNA gyrase (Topoisomerase II)
Membentuk supercoiled negatif DNA
(tegangan berkurang)
Replikasi & transkripsi DNA terhenti dan sintesis asam nukleat bakteri mengalami kegagalan total.
Bakteri gram positif
Topoisomerase IV
Pemisahan DNA yang baru direplikasi terganggu
Contoh
Ciprofloxacin
Levofloxacin
Makrolida
Berikatan reversibel pada subunit 50s ribosom bakteri
Menghambat proses translocation (Perpindahan peptidyl-RNA dari acceptor (A) site ke peptidyl (P) donor site)
Sintesis protein terhenti
Hambat pertumbuhan bakteri
Contoh
Azitromycin
Eritromycin
Lincosamide
Berikatan pada subunit 50s ribosom bakteri
Menghambat transpeptidasi (proses pembentukan ikatan peptida antara asam-asam amino)
Sintesis protein terhenti
Hambat pertumbuhan bakteri
Contoh
Clindamycin
Sulfonamida
Asam folat disintesis dari p-aminobenzoic acid (PABA) dan pteridine melalui bantuan enzim dihydropteroate synthase (DHPS)
Sulfonamide memiliki struktur yang mirip dengan PABA, sehingga dapat berkompetisi dengan PABA untuk berikatan pada sisi aktif enzim DHPS
PABA tidak dapat digunakan secara optimal dan pembentukan Dihydropteroic acid terhambat
sintesis asam folat terhambat
Bakteri kekurangan folat, pembentukan DNA/RNA dan pembelahan bakteri terhambat
Trimethoprim
secara selektif menghambat enzim dihydrofolate reductase (DHFR) bakteri.
DHFR yang terhambat menyebabkan asam dihidrofolik tidak dapat diubah menjadi tetrahidrofolat (THF).
Kekurangan THF menghambat sintesis purin dan timidilat, sehingga pembentukan DNA terganggu.
Pertumbuhan dan replikasi bakteri terhambat.
Contoh obat kombinasi
Kortimoksazol
Rifampisin
berikatan langsung dengan enzim DNA-dependent RNA polymerase (RNAP) bakteri, khususnya pada subunit β.
menghambat perpanjangan (elongation) rantai RNA melalui dua cara:
Menghalangi jalur perpanjangan RNA secara sterik di ujung 5'
sintesis protein bakteri terhenti.
1 more item...
Mengurangi afinitas RNAP terhadap transkrip RNA pendek.
sintesis RNA terhenti
Antivirus & immunomodulator
Isoprinosine
memodulasi respons imun dengan meningkatkan proliferasi dan aktivasi sel T serta aktivitas sel NK
meningkatkan produksi sitokin seperti IL-2, IFN-γ, dan TNF-α serta menurunkan IL-10
Respons imun seluler terhadap infeksi menjadi lebih efektif
Membantu mengenali dan mengeliminasi sel yang terinfeksi
Mendukung pengendalian infeksi virus pada saluran pernapasan
Antihistamin
generasi 1
Menghambat reseptor histamin H₁ di perifer dan sistem saraf pusat
menyebabkan
↓ Pelepasan mediator
↑ Stabilitas mast cell
↓ Presentasi antigen
↓ Ekspresi sitokin pro-inflamatory, molekul
adhesi sel, dan faktor kemotaktik
Contoh
CTM (Klorfeniramin)
Difenhidramin.
Prometazin
generasi 2
Menghambat reseptor histamin H₁ terutama di perifer
Contoh
Cetirizine
Desloratadine
Kortikosteroid
berdifusi masuk ke sel dan berikatan dengan reseptor glukokortikoid (GR) di sitoplasma.
Kompleks kortikosteroid–GR mengalami perubahan konformasi dan bertranslokasi ke nukleus.
Berikatan dengan glucocorticoid response elements (GRE) pada daerah promotor gen
meningkatkan sintesis Annexin A1 (Lipocortin-1)
menghambat enzim fosfolipase A2
pelepasan asam arakidonat berkurang
1 more item...
Berinteraksi dengan faktor transkripsi/koaktivator tertentu
menekan transkripsi gen proinflamasi (NF-κB dan AP-1)
menurunkan produksi sitokin inflamasi (IL-1β, IL-6, TNF-α) dan COX-2
Contoh
Dexametason
Analgetik - antipiretik
NSAID
Menghambat COX
Menurunkan PGE₂
nyeri berkurang
menurunkan PGE₂ di hipotalamus
set point normal
demam turun
Acetaminophen
Menghambat pembentukan prostaglandin terutama di sistem saraf pusat
nyeri berkurang
menurunkan PGE₂ di hipotalamus
set point normal
demam turun
Antiseptik
Merusak membran/protein sel mikroba
Menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganism
Mengurangi jumlah mikroorganisme
Farmasi Klinis
algoritma terapi pada populasi umum
Otitis Media
Otitis Media Akut
Tujuannya untuk mengurangi nyeri, eradikasi infeksi, dan mencegah komplikasi.
Evaluasi klinis dilakukan dalam kurun waktu 48 hingga 72 jam
Lini pertama
Medikamentosa - Topikal
Stadium Oklusi Tuba
Obat tetes hidung (dekongestan topikal)
mengurangi edema mukosa di sekitar muara tuba eustachius, sehingga tuba dapat terbuka kembali.
Analgetik/antipiretik
bila pasien mengalami nyeri atau demam.
Antibiotik
bila terdapat tanda infeksi bakteri yang jelas atau pada pasien dengan risiko tinggi.
Stadium Perforasi
Obat cuci telinga
H2O2 3%
Asam asetat 2%
Ofloxacin
Lini kedua
Oral sistemik
Antibiotik
amoksisilin
Antihistamin (bila terdapat tanda alergi)
Dekongestan
Analgetik/antipiretik
Otitis Media Supuratif Kronik
eradikasi infeksi, pembersihan jaringan patologis, dan pemulihan fungsi pendengaran
Lini pertama
Non-Medikamentosa
Diberikan obat cuci telinga:
NaCl 0,9%,
Asam Asetat 2%
Hidrogen Peroksida 3%.
Lini kedua
Medikamentosa
Antibiotik oral
Amoxicillin
3 x 500 mg per hari selama 7 hari
Amoxicillin-Asam Klavulanat
3 x 500 mg per hari selama 7 hari
Ciprofloxacin
2 x 500 mg per hari selama 7 hari
Antibiotik topikal
Golongan Ofloxacin
2 x 4 tetes per hari di telinga yang sakit
Tatalaksana Bedah
pasien OMSK dengan kollesteatoma, adanya komplikasi, serta pada pasien dengan infeksi yang tidak tertangani hanya dengan tatalaksana medikamentosa
Mastoidektomi
Timpanoplasti
Osikuplasti
Obliterasi Mastoid & Meatoplasti
Faringitis
Karena bakteri (Streptococcus Grup A)
Terapi antibiotik oral rata-rata diberikan selama 10 hari, kecuali Azitromisin yang diberikan selama 5 hari
Lini pertama
Anak
Amoksisilin
50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis selama 10 hari.
Dewasa
Amoksisilin-Klavulanat
3 x 500 mg/hari selama 10 hari.
Penisilin VK
2-3 x 500 mg/hari selama 10 hari.
Injeksi
Penisilin G Benzatin
1 x 1,2 juta IU I.M. dosis tunggal (pilihan utama jika pasien
diperkirakan tidak dapat menyelesaikan terapi oral 10 hari)
Lini kedua
Eritromisin
Dewasa 4 x 500 mg/hari selama 10 hari
Azitromisin
1 x 500 mg pada hari ke-1
Klaritromisin
2 x 250 mg/hari selama 10 hari.
Sefalosporin Generasi 1 atau 2
Dosis bervariasi sesuai agen selama 10 hari.
Levofloksasin
dihindari untuk anak-anak dan wanita hamil
Virus
Antivirus
Isoprinosine
dewasa
60-100 mg/kgBb/hari terbagi dalam 4–6 dosis
anak
50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4–6 dosis
Faringitis Fungal
Nistatin 100.000-400.000 IU, 2 x hari.
Faringitis Gonorea
Seftriakson 2 gram IV/IM dosis tunggal
Faringitis Kronik Hiperplastik
Kaustik faring menggunakan larutan AgNO3 25% 1 x /hari selama 3-5 hari
algoritma terapi pada populasi khusus
Otitis Media
Pediatri
Analgesik Oral
Ibuprofen
Asetaminofen
Analgesik Topikal
benzokain
Lini pertama
Amoksisilin Dosis Tinggi
dosis 80-90 mg/kgBB/hari (dibagi dalam 2 dosis)
Amoksisilin-Klavulanat
dosis 90 mg/kgBB/hari amoksisilin + 6,4 mg/kgBB/hari clavulanate, rasio 14:1 (dibagi dalam 2 dosis)
jika pasien pernah dapat amoksisilin dalam 30 hari terakhir
atau ada komplikasi otitis-conjunctivitis syndrome
Jika alergi penisilin
Sefalosporin Oral
Sefdinir (14 mg/kgBB/hari)
Sefuroksim (30 mg/kgBB/hari)
Sefpodoksim (10 mg/kgBB/hari)
Sefalosporin Parenteral
Seftriakson (50 mg/kgBB IM/IV per hari selama 1 atau 3 hari).
Lini kedua
Amoksisilin-Klavulanat Dosis Tinggi
dosis 90 mg/kgBB/hari komponen amoksisilin dan 6,4 mg/kgBB/hari klavulanat (rasio 14:1).
Seftriakson Intramuskular/Intravena
dosis 50 mg/kgBB/hari selama 3 hari berturut-turut.
Klindamisin
Dosis 30-40 mg/kgBB/hari
Timpanosentesis
Geriatri
Antibiotik
Amoksisilin dosis tinggi atau amoksisilin-klavulanat
Sefalosporin (seperti sefuroksim atau sefdinir)
Golongan penisilin, beta-laktam lain, atau fluoroquinolon
Wajib diberikan minimal 10–14 har
Ibu hamil
Antibiotik
Lini pertama
Beta-laktam
Amoksisilin atau Amoksisilin-Klavulanat (dosis dapat disesuaikan).
Alergi Penisilin
Golongan Makrolida
Roksitromisin
Hindari eritromisin dan klaritomisin
Penanganan nyeri
Parasetamol
sebaiknya hindari NSAID
Terapi suportif
Irigasi salin
Kortikosteroid Nasal
Dekongestan
Topikal
Hindari oral pseudoefedrin
Antihistamin
Cetirizine, Loratadine, atau Klorfeniramin jika ada komorbid alergi.
Faringitis
Pediatri
Lini pertama
Penicilin G
1 x 1,2 juta U melalui IM (untuk pasien yang tidak dapat menyelesaikan terapi oral selama 10 hari)
Penicilin VK
2-3 x 250 mg
Amoksisilin-klavulanat
2-3 x 250 mg
Lini kedua
Eritromisin
4 x 250mg (jika alergi penicillin)
Azitromisin
1 x 500 mg pada hari pertama dan 1 x 250 mg pada 4 hari berikutnya.
Klaritromisin
15 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis selama 5 hari.
Cefalosporin
Dosis bervariasi sesuai agen (Gen 1 atau 2)
Pilihan Antibiotik pada Terapi Faringitis yang Gagal
Klindamisin (oral)
Amoksisilin clavulanat acid
Hindari levoflokasasi untuk anak dan wanita hamil
Hindari penggunaan aspirin karena risiko sindrom reye
Ibu hamil/menyusui
Antibiotik yang disarankan
Cephalexin
Penisilin
Penisilin masuk ke dalam ASI dalam jumlah kecil.
Tidak ada efek samping negatif yang dilaporkan terkait dengan penggunaan penisilin saat menyusui
Amoksisilin
Terapi Suportif
Analgesik (pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam)
paracetamol
Hindari mengonsumsi aspirin
Geriatri
Terapi Antibiotik (Jika Terindikasi Infeksi Bakteri)
Pilihan utama
Penisilin VK 500 mg dua kali sehari selama 10 hari
Benzatin penisilin 1.200.000 U IM
Pasien dengan alergi penisilin
eritromisin.
Pasien gangguan organ
Pasien CKD
berfokus pada penyesuaian dosis antibiotik berdasarkan nilai
Laju Filtrasi Glomerulus (GFR) untuk mencegah akumulasi obat dan efek toksik
Cefalexin
Jika GFR < 60 mL/min
Penicillin V
Jika GFR > 15 mL/min
Amoxicillin
Jika GFR < 30 mL/min
Cefadroxil
Jika GFR < 40 mL/min
Clarithromycin
Jika GFR < 30 mL/min
monitoring terapi
Otitis Media
Gejala klinis
Reduksi/Hilangnya Nyeri Telinga (Otalgia)
Penghentian Sekret Telinga (Otorrhea)
Pengurangan Efusi Telinga
Pemeriksaan Otologi
Otoskopi pneumatik
melihat bulging, warna, transparansi, dan mobilitas
membran timpani, serta mendeteksi efusi telinga tengah.
Timpanometri
menilai mobilitas membran timpani dan keberadaan efusi telinga tengah.
Reflektometri Akustik
Tingkat pantulan gelombang suara rendah, yang
mengindikasikan ketiadaan cairan di belakang membran timpani.
Pemeriksaan Laboratorium
Timpanosentesis
mengambil cairan telinga tengah untuk pemeriksaan mikrobiologi,
terutama pada kasus berat, rekuren, atau gagal terapi
Skala Evaluasi
Skor AOM-SOS ( Acute Otitis Media Severity of Symptoms )
mengukur tingkat keparahan 7 gejala yang dilaporkan orang tua
(seperti nyeri telinga, rewel, demam, gangguan tidur, dan penurunan nafsu makan).
Skala OS-8 ( Otoscopy Score )
menilai keparahan inflamasi membran timpani pada OMA.
Acute Otitis Media Faces Scale (AOM-FS)
menilai persepsi tingkat keparahan masalah/gejala
AOM pada anak berdasarkan pilihan ekspresi wajah.
Orang tua/pengasuh memilih wajah yang paling menggambarkan kondisi anak.
Faringitis
Respons klinis
Demam turun dan nyeri telan berkurang
Memperpendek durasi gejala, menurunkan penularan ke kontak dekat, dan mengurangi komplikasi
Waktu penilaian ulang
dievaluasi setidaknya tiap 3 hari, dan bila tidak
membaik, ketepatan diagnosis dan terapi dievaluasi ulang
Kelengkapan terapi
Menghentikan antibiotik lebih awal berisiko kambuh
dan komplikasi seperti demam reumatik atau peradangan ginjal.
Komplikasi supuratif
limafedenitis servikal, mastoiditis, abses peritonsil, dan abses retrofaring.
Kompilasi non-supuratif
demam reumatik akut dan glomerulonefritis pasca-streptokokus
Identitas
Nama
Galena Athifa Mumtazah
NPM
2406413836
Kelas
Modul Gangguan Pernapasan A