Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
[2024] AAM Team & Environment Culture 8-9 - Coggle Diagram
[2024] AAM Team & Environment Culture 8-9
Aspek #13
Trust Others
Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done. (Agile Principle #5)
Kemampuan satu tim atau lingkungan dimana antar anggotanya / elemen-elemennya saling mempercayai satu sama lain, misalnya dalam transparansi situasi dan kondisi, transparansi fakta dan data, pengutaraan ide, hingga pengambilan keputusan. Aspek ini juga melibatkan melepaskan kontrol dan memberikan kepercayaan kepada satu sama lain untuk melakukan tugas dan pekerjaan mereka dengan baik.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Sepenuhnya tidak ada kepercayaan satu sama lain. Antar anggota/ elemen tim cenderung saling membicarakan keburukan di belakang
Antar anggota tidak saling membicarakan keburukan di belakang, namun masih enggan memberikan kepercayaan
Kepercayaan diberikan kepada sebagian orang / kelompok saja, misalnya kepada pihak yang disukai, dirasa capable, dsb.
Kepercayaan tersebar merata kepada semua orang / pihak namun tanpa memperhitungkan kadar/kemampuan orang / pihak tersebut
Kepercayaan tersebar merata kepada semua orang / pihak dengan memperhitungkan kadar/kemampuan orang / pihak tersebut
Aspek #14
Supportive
Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done. (Agile Principle #5)
Kemampuan satu tim atau lingkungan dimana antar anggotanya / elemen-elemennya saling memberi dukungan satu sama lain, baik dalam aspek emosional / dukungan psikologis, dukungan fisik, maupun dukungan material, sehingga menciptakan keadaan yang memungkinkan pertumbuhan maksimal antar elemennya serta kerja sama yang efektif.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Kesuksesan satu orang / satu pihak dianggap ancaman bagi pihak yang lain. Antar orang / pihak saling menjatuhkan.
Kesuksesan satu orang / pihak tidak dianggap ancaman bagi pihak yang lain, namun belum ada budaya saling mendukung antar pihak di dalam lingkungan.
Budaya saling mendukung hanya tersebar di sebagian kecil elemen dalam tim/lingkungan.
Tim saling memberikan apresiasi dan dukungan dalam berbagai aspek.
Seluruh anggota tim saling memberikan apresiasi, dukungan, dan backup kepada anggota tim lainnya.
Aspek #15
Safe-to-Fail
Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done. (Agile Principle #5)
Budaya dimana eksperimen atau tindakan tanpa risiko besar atau kerusakan permanen diterima oleh setiap elemen dalam lingkungan. Budaya ini menciptakan lingkungan dimana tim merasa nyaman untuk mencoba hal-hal baru, belajar dari kegagalan, dan beradaptasi untuk mencapai kesuksesan dalam jangka panjang.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Setiap kesalahan non-fundamental dalam tim / lingkungan dianggap kesalahan besar dan tidak termaafkan
Dalam kesalahan non-fundamental, tim mampu menerima beberapa jenis kesalahan, namun masih menolak beberapa jenis kesalahan lainnya
Tim telah terbiasa menerima kesalahan, namun belum mampu membedakan mana kesalahan fundamental dan kesalahan non-fundamental
Tim telah terbiasa menerima kesalahan dan mampu membedakan mana kesalahan fundamental dan kesalahan non-fundamental
Tim mendukung setiap eksperimen anggotanya hingga menemukan hambatan dan kesalahan. Kesalahan dianggap sama berharganya dengan kesuksesan.
Aspek #16
Cross-Functional
Business people and developers must work together daily throughout the project. (Agile Principle #4)
Agile processes promote sustainable development. The sponsors, developers, and users should be able to maintain a constant pace indefinitely. (Agile Principle #8)
Struktur tim / suatu lingkungan dimana para anggotanya / elemen-elemennya berasal dari berbagai latar belakang fungsional dan keahlian yang berbeda. Tim ini memanfaatkan keahlian beragam mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Tidak ada tim, semua dijalankan dengan cara one-man-show.
Tim terdiri atas anggota-anggota yang hanya memiliki satu jenis keahlian yang sama
Tim terdiri atas anggota-anggota yang memiliki berbagai jenis keahlian namun belum cukup untuk mencapai tujuan tim
Tim terdiri atas anggota-anggota yang memiliki berbagai jenis keahlian dan cukup untuk mencapai tujuan tim
Tim terdiri atas anggota-anggota yang memiliki berbagai jenis keahlian dan cukup untuk mencapai tujuan tim bahkan mayoritas anggota mampu dan mau mem-backup peran anggota tim lainnya
Aspek #17
Shared-Knowledge
Budaya dimana pengetahuan, informasi, dan pemahaman dibagikan secara terbuka dan aktif di antara semua anggota tim. Hal ini menciptakan dasar yang kuat untuk komunikasi yang efektif, pengambilan keputusan yang baik, dan kolaborasi yang sukses dalam mencapai tujuan bersama.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Setiap anggota tim memiliki pengetahuan dan pengalaman pribadi yang sama sekali tidak dibagikan kepada tim
Setiap anggota tim memiliki sebagian pengetahuan dan pengalaman pribadi yang dibagikan kepada tim
Tim sudah memiliki budaya saling berbagi pengetahuan dan pengalaman namun masih tidak terstruktur
Tim telah menggunakan framework Knowledge Management dasar untuk mengelola pengetahuan dalam tim
Tim telah mampu mengembangkan Information Radiator sendiri yang mendukung efektivitas transparansi dan sustainability pengetahuan untuk jangka panjang
Aspek #18
Fair Privilege
Budaya dalam tim / lingkungan yang berbasis keadilan dimana fasilitas, pengetahuan, sumber daya, dan berbagai hak lainnya disesuaikan dengan kadar dan ruang lingkup kewajiban masing-masing. Aspek ini memberikan kesadaran individu untuk saling mengerti dan memahami hak dan kewajiban masing-masing serta menghindarkan tim dari pemahaman bahwa adil harus selalu sama rata.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Setiap anggota tim memiliki pemahaman dan bersikukuh bahwa adil berarti harus sama rata
Sebagian anggota tim memiliki pemahaman dan bersikukuh bahwa adil berarti harus sama rata
Sebagian anggota tim mulai menerima konsep keadilan yang tepat
Seluruh anggota tim menerima konsep keadilan yang tepat namun belum mengetahui teknis pembagiannya
Tim mampu secara mandiri dan konsisten membagi fasilitas, pengetahuan, sumber daya, dan berbagai hak lainnya disesuaikan dengan kadar dan ruang lingkup kewajiban masing-masing
Aspek #19
User-Centric
Our highest priority is to satisfy the customer through early and continuous delivery of valuable software. (Agile Principle #1)
Budaya dalam tim / lingkungan yang meletakkan pengguna sebagai prioritas utama dalam menentukan value atau tidaknya aktivitas yang sedang dikerjakan atau produk/feature yang sedang dikembangkan. Dalam dunia pengembangan produk, aspek ini juga termasuk orientasi tim mengacu pada kebutuhan pasar/market, dikarenakan pasar/market merupakan representasi dari pengguna dalam jumlah besar.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Semua anggota tim selalu berorientasi pada preferensi diri sendiri dalam menentukan aktivitas maupun produk/fitur yang dikembangkan
Sebagian anggota tim masih berorientasi pada preferensi diri sendiri dalam menentukan aktivitas maupun produk/fitur yang dikembangkan
Seluruh anggota sudah berorientasi pengguna pada beberapa bagian, namun masih mencampurkan sebagian lainnya dengan preferensi diri sendiri.
Seluruh anggota sudah berorientasi pengguna namun belum mengetahui praktik-praktik yang mendukung User-Centric
Seluruh anggota sudah berorientasi pengguna dan mengetahui praktik-praktik yang mendukung User-Centric, serta menerapkannya secara konsisten.
Aspek #20
Reflective
At regular intervals, the team reflects on how to become more effective, then tunes and adjusts its behavior accordingly. (Agile Principle #12)
Budaya dalam tim / lingkungan yang senantiasa merefleksi segala aktivitas dan pencapaian yang telah dilakukan, baik berbagai aktivitas yang dikategorikan menyenangkan maupun tidak menyenangkan, ataupun dikategorikan berhasil maupun gagal. Aspek ini menghasilkan kemungkinan tim mendapatkan gambaran secara transparan dan luas akan berbagai data dan fakta yang ditemukan di lapangan.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Semua anggota tim enggan melakukan refleksi dan menganggapnya sebagai budaya yang membuat tidak nyaman.
Sebagian anggota tim enggan melakukan refleksi dan menganggapnya sebagai budaya yang membuat tidak nyaman.
Seluruh anggota tim telah menjadikan refleksi sebagai budaya namun masih memilah dan memilih fakta dan data yang akan disampaikan
Seluruh anggota tim menjadikan refleksi sebagai budaya, namun frekuensi refleksi masih sedikit untuk suatu periode yang panjang.
Seluruh anggota tim selalu melakukan refleksi dengan frekuensi yang besar sesuai dengan kebutuhan.
Aspek #21
Adaptive
Welcome changing requirements, even late in development. Agile processes harness change for the customer's competitive advantage. (Agile Principle #2)
At regular intervals, the team reflects on how to become more effective, then tunes and adjusts its behavior accordingly. (Agile Principle #12)
Budaya dalam tim / lingkungan yang fleksibel menyesuaikan diri dengan perubahan situasi atau strategi dengan cepat demi mencapai tujuan bersama, serta kemampuan tim dalam belajar dan berkembang dari pengalaman untuk meningkatkan kinerja secara berkelanjutan. Aspek ini juga meletakkan berbagai perubahan sebagai momentum untuk tumbuh kembang.
Tingkat dari terburuk sampai terbaik
Semua anggota tim memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa setiap perubahan adalah ancaman.
Sebagian anggota tim memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa sebagian atau setiap perubahan adalah ancaman.
Seluruh anggota tim menerima bahwa semua perubahan adalah hal yang baik, namun belum mampu beradaptasi terhadapnya.
Tim mampu beradaptasi terhadap perubahan, namun masih lambat dalam eksekusinya.
Tim mampu beradaptasi secara cepat terhadap perubahan, bahkan mampu memanfaatkan perubahan tersebut untuk keunggulan kompetitif mereka dibandingkan kompetitor.
Candra Putra Pratama
2 D4 IT C
3124600086