Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
AAM Team & Environment Culture 4-7 - Coggle Diagram
AAM Team & Environment Culture 4-7
Aspek #13
Trust Others
Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done. (Agile Principle #5)
Kemampuan satu tim atau lingkungan dimana antar anggotanya / elemen-elemennya saling mempercayai satu sama lain, misalnya dalam transparansi situasi dan kondisi, transparansi fakta dan data, pengutaraan ide, hingga pengambilan keputusan. Aspek ini juga melibatkan melepaskan kontrol dan memberikan kepercayaan kepada satu sama lain untuk melakukan tugas dan pekerjaan mereka dengan baik.
Sepenuhnya tidak ada kepercayaan satu sama lain. Antar anggota/ elemen tim cenderung saling membicarakan keburukan di belakang
Antar anggota tidak saling membicarakan keburukan di belakang, namun masih enggan memberikan kepercayaan
Kepercayaan diberikan kepada sebagian orang / kelompok saja, misalnya kepada pihak yang disukai, dirasa capable, dsb.
Kepercayaan tersebar merata kepada semua orang / pihak namun tanpa memperhitungkan kadar/kemampuan orang / pihak tersebut
Kepercayaan tersebar merata kepada semua orang / pihak dengan memperhitungkan kadar/kemampuan orang / pihak tersebut
Aspek #14
Supportive
Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done. (Agile Principle #5)
Kemampuan satu tim atau lingkungan dimana antar anggotanya / elemen-elemennya saling memberi dukungan satu sama lain, baik dalam aspek emosional / dukungan psikologis, dukungan fisik, maupun dukungan material, sehingga menciptakan keadaan yang memungkinkan pertumbuhan maksimal antar elemennya serta kerja sama yang efektif.
Kesuksesan satu orang / satu pihak dianggap ancaman bagi pihak yang lain. Antar orang / pihak saling menjatuhkan.
Kesuksesan satu orang / pihak tidak dianggap ancaman bagi pihak yang lain, namun belum ada budaya saling mendukung antar pihak di dalam lingkungan.
Budaya saling mendukung hanya tersebar di sebagian kecil elemen dalam tim/lingkungan.
Tim saling memberikan apresiasi dan dukungan dalam berbagai aspek
Seluruh anggota tim saling memberikan apresiasi, dukungan dan backup kepada anggota tim lainnya
Aspek #15
Safe-to-Fail
Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done. (Agile Principle #5)
Budaya dimana eksperimen atau tindakan tanpa risiko besar atau kerusakan permanen diterima oleh setiap elemen dalam lingkungan.
Budaya ini menciptakan lingkungan dimana tim merasa nyaman untuk mencoba hal-hal baru, belajar dari kegagalan, dan beradaptasi untuk mencapai kesuksesan dalam jangka panjang.
Setiap kesalahan non-fundamental dalam tim / lingkungan dianggap kesalahan beberapa jenis besar dan tidak termaafkan
Dalam kesalahan non-fundamental, tim mampu menerima beberapa jenis kesalahan, namun masih menolak beberapa jenis kesalahan lainnya
Tim telah terbiasa menerima kesalahan, namun belum mampu membedakan mana kesalahan fundamental dan kesalahan non-fundamental
Tim telah terbiasa menerima kesalahan dan mampu membedakan mana kesalahan fundamental dan kesalahan non-fundamental
Tim mendukung setiap eksperimen anggotanya hingga menemukan hambatan dan kesalahan. Kesalahan dianggap sama berharganya dengan kesuksesan
aspek #16
Cross-Functional
Business people and developers must work together daily throughout the project. (Agile Principle #4)
Agile processes promote sustainable development. The sponsors, developers, and users should be able to maintain a constant pace indefinitely. (Agile Principle #8)
Struktur tim / suatu lingkungan dimana para anggotanya / elemen-elemennya berasal dari berbagai latar belakang fungsional dan keahlian yang berbeda.
Tim ini memanfaatkan keahlian beragam mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Tidak ada tim, semua dijalankan dengan cara one-man-show.
Tim terdiri atas anggota-anggota yang hanya memiliki satu jenis keahlian yang sama
Tim terdiri atas anggota-anggota yang memiliki berbagai jenis keahlian namun belum cukup untuk mencapai tujuan tim
Tim terdiri atas anggota-anggota yang memiliki berbagai jenis keahlian dan cukup untuk mencapai tujuan tim
Tim terdiri atas anggota-anggota yang memiliki berbagai jenis keahlian dan cukup untuk mencapai tujuan tim bahkan mayoritas anggota mampu dan mau mem-backup peran anggota tim lainnya
Aspek #17
Shared-Knowledge
Budaya dimana pengetahuan, informasi, dan pemahaman dibagikan secara terbuka dan aktif di antara semua anggota tim.
Hal ini menciptakan dasar yang kuat untuk komunikasi yang efektif, pengambilan keputusan yang baik, dan kolaborasi yang sukses dalam mencapai tujuan bersama.
Setiap anggota tim memiliki pengetahuan dan pengalaman pribadi yang sama sekali tidak dibagikan kepada tim
Setiap anggota tim memiliki sebagian pengetahuan dan pengalaman pribadi yang dibagikan kepada tim
Tim sudah memiliki budaya saling berbagi pengetahuan dan pengalaman namun masih tidak terstruktur
Tim telah menggunakan framework Knowledge Management dasar untuk mengelola pengetahuan dalam tim
Tim telah mampu mengembangkan Information Radiator sendiri yang mendukung efektivitas transparansi dan sustainability pengetahuan untuk jangka panjang
Boiling Frog Syndrome (1)
Kultur kerja yang membiasakan serba menganggap remeh di awal, namun menghasilkan keadaan serba chaos pada akhirnya.
Keyword: Awalnya serba santai, akhirnya kacau semua
Penyebab:
Ignorance
Mental 'kuadran 4'
Dysfunction:
Rendahnya performa dan produktivitas tim
Membuat beberapa anggota tim memilih pergi. khususnya mereka yang mengejar Self Actualization
Saat kondisi chaos terjadi, tim akan cenderung pecah.
Kiosk City (1)
Kondisi dimana informasi, pengetahuan atau pengalaman di dalam tim atau perusahaan tidak disebarkan secara merata melainkan hanya di beberapa individu, seperti kios-kios.
Keyword: Company with Bad Knowledge Management (KM)
Penyebab:
Tidak adanya KM dalam perusahaan
Adanya Egocentric dalam tim
Mushroom management
Dysfunction:
Persebaran informasi dalam tim ataupun antar tim tidak merata.
Banyak masalah yang terjadi dalam tahap integrasi modul
Antar tim memiliki asumsi yang berbeda-beda dalam satu proyek yang sama
Aspek #18
Fair Privilege
Budaya dalam tim / lingkungan yang berbasis keadilan dimana fasilitas, pengetahuan, sumber daya, dan berbagai hak lainnya disesuaikan dengan kadar dan ruang lingkup kewajiban masing-masing.
Aspek ini memberikan kesadaran individu untuk saling mengerti dan memahami hak dan kewajiban masing-masing serta menghindarkan tim dari pemahaman bahwa adil harus selalu sama rata.
Setiap anggota tim memiliki pemahaman dan bersikukuh bahwa adil berarti harus sama rata
Sebagian anggota tim memiliki pemahaman dan bersikukuh bahwa adil berarti harus sama rata
Sebagian anggota tim mulai menerima konsep keadilan yang tepat
Seluruh anggota tim menerima konsep keadilan yang tepat namun belum mengetahui teknis pembagiannya
Tim mampu secara mandiri dan konsisten membagi fasilitas, pengetahuan, sumber daya, dan berbagai hak lainnya disesuaikan dengan kadar dan ruang lingkup kewajiban masing-masing
Aspek #19
User-Centric
Our highest priority is to satisfy the customer through early and continuous delivery of valuable software. (Agile Principle #1)
Budaya dalam tim / lingkungan yang meletakkan pengguna sebagai prioritas utama dalam menentukan value atau tidaknya aktivitas yang sedang dikerjakan atau produk/feature yang sedang dikembangkan.
Dalam dunia pengembangan produk, aspek ini juga termasuk orientasi tim mengacu pada kebutuhan pasar/market, dikarenakan pasar/market merupakan representasi dari pengguna dalam jumlah besar.
Semua anggota tim selalu berorientasi pada preferensi diri sendiri dalam menentukan aktivitas maupun produk/fitur yang dikembangkan
Sebagian anggota tim masih berorientasi pada preferensi diri sendiri dalam menentukan aktivitas maupun produk/fitur yang dikembangkan
Seluruh anggota sudah berorientasi pengguna pada beberapa bagian, namun masih mencampurkan sebagian lainnya dengan preferensi diri sendiri.
Seluruh anggota sudah berorientasi pengguna namun belum mengetahui praktik-praktik yang mendukung User-Centric
Seluruh anggota sudah berorientasi pengguna dan mengetahui praktik-praktik yang mendukung User-Centric, serta menerapkannya secara konsisten.
Candra Putra Pratama
3124600086
2 D4 IT C