Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
ANSIETAS, Nama : Maya Zahra Nur Azizah (2406500054) Modul Saraf A - Coggle…
ANSIETAS
Definisi
Ansietas: Keadaan emosional berupa antisipasi terhadap ancaman masa depan, disertai kewaspadaan tinggi, ketegangan otot, dan perilaku hati-hati atau penghindaran.
Anxiety Disorders (GAD & Panic Disorder): Ditandai kecemasan dan perilaku menghindar yang tidak rasional hingga mengganggu fungsi harian.
PTSD: Riwayat paparan kejadian traumatis diikuti gejala intrusif, penghindaran, dan hiperarousal.
Perbedaan Ansietas Klinis vs Kecemasan Normal
Intensitas
Kecemasan Normal: Proporsional dengan situasi
Ansietas: Berlebihan/tidak sebanding dengan ancaman
Durasi
Kecemasan Normal: Sementara, hilang setelah pemicu berlalu
Ansietas: Menetap (umumnya ≥ 6 bulan)
Respon Fisiologis
Kecemasan Normal: Ringan, tidak menetap
Ansietas: Lebih kuat (tegang, gelisah, hiperarousal)
Dampak Fungsi
Kecemasan Normal: Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ansietas: Secara signifikan mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, maupun aktivitas harian lainnya.
Penanganan
Kecemasan Normal: Tidak perlu terapi khusus
Ansietas: Memerlukan evaluasi klinis & terapi
Persepsi Bahaya
Ansietas: Melebih-lebihkan ancaman
Kecemasan Normal: Realistis
Etiologi
Penyakit Medis: Kardiovaskular (Angina, hipertensi), Endokrin (Diabetes, hipertiroid), Gastrointestinal (IBS, Crohn’s), Neurologis (Migrain, kejang), dan Respirasi (Asma, PPOK).
Obat-obatan/Zat: Antikejang (Fenitoin), Antidepresan (SSRI/SNRI awal terapi), Stimulan (Kafein, amfetamin), Kortikosteroid, dan zat terlarang (Ganja, ekstasi).
Komorbiditas Psikiatri: Sering muncul bersama depresi, skizofrenia, atau kondisi putus zat (withdrawal).
Faktor Risiko
Lingkungan: Stres kehidupan besar (kematian orang terdekat, perceraian), transisi hidup, serta pola asuh overprotektif.
Genetik & Fisiologis: Herediter (73% pada kembar), lebih sering pada perempuan, dan sensitivitas tinggi terhadap CO2.
Klasifikasi dan Tingkatan
Klasifikasi Utama
GAD: Kekhawatiran berlebihan setiap hari minimal 6 bulan.
Panic Disorder: Serangan panik mendadak, berulang, memuncak dalam 10 menit.
Social Anxiety Disorder: Takut diawasi/dihakimi dalam situasi sosial (menetap > 6 bulan).
Agoraphobia: Takut di tempat publik karena sulit melarikan diri/mencari bantuan.
Specific Phobia: Ketakutan objek/situasi spesifik (ketinggian, darah, hewan).
PTSD: Dampak trauma; gejala intrusif dan penghindaran > 1 bulan.
OCD: Pikiran obsesif yang mendorong perilaku kompulsi repetitif.
Lainnya: Separation Anxiety Disorder dan Selective Mutism.
Tingkatan Ansietas
Ringan: Kewaspadaan meningkat, persepsi luas, mampu fokus menyelesaikan masalah.
Sedang: Fokus pada hal penting, perhatian selektif, mulai ada kenaikan nadi/napas.
Berat: Persepsi sangat sempit, tidak mampu menyelesaikan masalah, merasa terancam.
Panik: Kehilangan kendali diri, disorganisasi kepribadian, tidak bisa berpikir logis.
Patofisiologi dan Target Terapi
Area Otak Terlibat
Amigdala: Pusat deteksi ancaman dan respons rasa takut.
Locus Ceruleus (LC): Pusat Norepinefrin (pusat alarm).
Hipokampus: Mengingat memori traumatis.
Prefrontal Cortex (PFC): Kontrol rasional (menghambat amigdala).
Model Neurotransmiter
Model Noradrenergik: Hipersensitivitas sistem saraf otonom; pelepasan Norepinefrin (NE) berlebih -> target: obat yang mengurangi aktivitas LC (Benzodiazepin, Antidepresan).
Model Reseptor GABA: Kurangnya hambatan sentral karena penurunan fungsi GABA -> target: Benzodiazepin (meningkatkan afinitas GABA agar kanal Cl- terbuka).
Model Serotonin (5-HT): Disregulasi serotonin; 5-HT rendah memicu kegagalan kontrol cemas -> target: SSRI/SNRI (meningkatkan kadar 5-HT di celah sinaps).
Farmakologi Obat Ansietas
Penggolongan Obat (Mekanisme Skematik)
SSRI (Contoh: Fluoxetine, Escitalopram): Memblok transporter SERT -> 5-HT berikatan lebih lama dengan reseptor postsinaptik -> regulasi emosi membaiK
SNRI (Contoh: Venlafaxine, Duloxetine): Memblok transporter SERT & NET -> kadar 5-HT & NE meningkat -> stabilisasi mood & arousal.
Benzodiazepin (Contoh: Alprazolam, Clonazepam): Berikatan di sisi alosterik reseptor GABA-A -> kanal Cl- terbuka lebih sering -> hiperpolarisasi neuron -> sedasi & ansiolitik cepat.
Antikonvulsan (Contoh: Pregabalin, Gabapentin): Berikatan pada subunit alpha dan beta kanal kalsium -> mengurangi pelepasan glutamat & NE eksitatori.
Buspirone: Agonis parsial reseptor 5-HT1A -> menstabilkan sistem serotonin tanpa efek sedasi.
Parameter Farmakokinetik
Alprazolam
Absorbsi: Berlangsung cepat dengan konsentrasi puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam.
Metabolisme: Diproses di organ hati oleh enzim CYP3A4.
Eliminasi: Dikeluarkan melalui urin dengan waktu paruh (t1/2) sekitar 11 jam.
Pregabalin
Absorbsi: Memiliki bioavailabilitas yang sangat tinggi, yaitu di atas 90%.
Metabolisme: Metabolisme di hati sangat minimal sehingga sering kali diabaikan.
Eliminasi: Dikeluarkan melalui urin dengan waktu paruh (t1/2) sekitar 6 jam.
Escitalopram
Absorbsi: Memiliki tingkat bioavailabilitas sekitar 80%.
Metabolisme: Diproses di hati oleh enzim CYP2C19 dan CYP2D6.
Eliminasi: Dikeluarkan melalui urin dengan waktu paruh (t1/2) yang cukup panjang, antara 27 hingga 32 jam.
Venlafaxine
Absorbsi: Mengalami first pass effect (efek lintas pertama) yang besar saat diserap.
Metabolisme: Diproses di hati oleh enzim CYP2D6 menjadi bentuk metabolit aktif.
Eliminasi: Dikeluarkan melalui urin dengan waktu paruh (t1/2)sekitar 5 hingga 11 jam.
Tatalaksana Klinis
Tatalaksana Umum & Khusus
Lini Pertama: SSRI atau SNRI (evaluasi 4-6 minggu). Psikoterapi (CBT) efektif untuk gejala ringan-sedang.
Lini Kedua: Benzodiazepin (penggunaan jangka pendek), Buspirone, Imipramine (TCA), atau Pregabalin.
Kondisi Khusus:
Lansia: Perlu perhatian pada risiko jatuh (Benzodiazepin).
Gangguan Tidur: Dapat ditambahkan hipnotik non-BZD atau mirtazapine.
Monitoring Terapi
Gejala Klinis: Penurunan skor keparahan cemas, perbaikan fungsi sosial/pekerjaan.
Laboratorium: Monitoring enzim hati (untuk MAOI/TCA tertentu) atau fungsi ginjal (untuk Pregabalin/Gabapentin).
Keamanan Obat (Efek Samping & Interaksi)
Benzodiazepin: Sedasi, pusing, risiko ketergantungan. Interaksi: Fatal jika bersama Opioid (depresi pernapasan).
SSRI/SNRI: Mual, insomnia, disfungsi seksual. Interaksi: Sindrom Serotonin jika bersama MAOI atau Tramadol.
MAOI: Risiko krisis hipertensi jika dikonsumsi bersama makanan tinggi tiramin atau kafein berlebih.
Terapi Non-Farmakologi
Psikoterapi: Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sebagai pendekatan utama.
Edukasi & Gaya Hidup: Pengurangan kafein, perbaikan pola tidur (sleep hygiene), dan dukungan sosial.
Nama : Maya Zahra Nur Azizah (2406500054) Modul Saraf A