Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
ASMA Felicia Theodora/2406358415 - Coggle Diagram
ASMA
Felicia Theodora/2406358415
Definisi & Etiologi
Gangguan inflamatorik & hiperreaktivitas bronkus
Melibatkan sel inflamatorik
Sesak
Rasa nyeri
Batuk
Dipengaruhi oleh
Genetik
IRF-2
IL-3
IL-4
IL-5
IL-13
dll.
Kromosom
CD28
IGPB5
CCR4
CD22
Inflamasi & imunologi
Lingkungan
Alergen
Paparan asap rokok
Klasifikasi
Asma saat tanpa serangan
Intermiten
persisten ringan
persisten sedang
persisten berat
Asma saat serangan
Serangan ringan
serangan sedang
serangan berat
ancaman henti nafas
Asma setelah pengobatan
terkontrol penuh
terkontrol sebagian
tidak terkontrol
Patofisiologi
Inflamasi Akut
Fase Sensitisasi
Paparan pertama alergen
Sistem imun mengenali sebagai antigen
Antigen dipresentasikan oleh sel dendritik --> sel T CD4+
Diferensiasi menjadi sel TH2
Sitokin (IL-4, IL-5, IL-13) dihasilkan
IL-4 merangsang sel B
1 more item...
Inflamasi Kronis
ketidakseimbangan limfosit T helper
dominansi respon Th2
menghasilkan
IL-4
merangsang sel B
produksi IgE
IL-5
produksi & aktivasi eosinofil
IL-13
meningkatkan produksi mukus
remodelling
respon alergik berlebih
Sel Th1
IL-2
imunitas seluler
Interferon gamma
Sel epitel
mediator sel mast & inflamasi merusak tight junction
epithelial shedding
barrier lebih permeabel
penebalan membran basal retikuler
akibatnya
paparan rangsangan ringan memicu bronkokontriksi
sensitivitas meningkat
1 more item...
eosinofil
melepaskan
leukotrien
protein granula
merusak epitel
hipersensitivitas
semakin tinggi tingkat bronchial hyperresponsiveness
Sel mast
degranulasi
histamin
efeknya
bronkokonstriksi
peningkatan permeabilitas vaskular
edema
sekresi mukus
leukotrien
prostaglandin
Makrofag alveolar
mediator inflamasi tambahan
melepaskan
platelet-activating factor
eosinophil chemotactic factor
Mediator inflamasi
histamin
kontraksi otot polos
bronkospasme
edema
Prostaglandin F2α
memperkuat bronkospasme
Tromboksan A2
Molecul adhesive
integrin
immunoglobulin supergene family
Airway remodelling
Inisiator
Pemicu lingkungan
dikenali PRR
epitel melepaskan alarmins
sinyal mengaktifkan sel dendritik di sekitar epitel
terbentuk sinyal awal
Amplifier
1 more item...
Sel epitel
Lima pilar perubahan struktural
Epithelial Damage
hilangnya barier pelindung fisik
membran basal denudasi
peningkatan sensitivitas alergen
Hiperresponsivitas Bronkus (BHR)
Subepithelial Fibrosis
pelepasan TGF-β persisten
aktivasi fibroblas
diferensiasi menjadi Myofibroblas
meningkatkan sintesis ECM
Ketidakseimbangan remodeling matriks
1 more item...
Hiperplasia Sel Goblet & Kelenjar Mukosa
peningkatan sitokin IL-13 dan IL-9
stimulasi ekspresi TGF-β2
Aktivasi jalur transkripsi
peningkatan sintesis dan translasi musin
IL-6 berdifusi menuju epitel
1 more item...
Peningkatan Massa Otot Polos
Inflamasi kronis + faktor pertumbuhan (terutama TGF-β)
stimulasi sel otot polos saluran napas ASMC
Hipertrofi + Hiperplasia
Migrasi sel otot ke area subepitel
TGF-β
2 more items...
Angiogenesis
Inflamasi kronis
peningkatan TGF-β
aktivasi jalur Smad3
upregulasi faktor pro-angiogenik
Peningkatan produksi VEGF
3 more items...
Penggolongan Obat
Bronkodilator
β₂ Adrenergic Agonist
Golongan
short acting
menghilangkan gejala asma
kerja cepat
pilihan utama untuk ASMA AKUT
rute inhalasi
contoh
salbutamol
levalbuterol
terbutaline
long acting
profilaksis
kerja lambat (>12 jam)
menghambat bronkokontriksi
disarankan
kombinasi dengan ICS
contoh
formoterol
agonis penuh
salbuterol
agonis parsial
Efek samping
tremor
takikardia
hipokalemia
hiposemia
Mekanisme
Berikatan dengan reseptor β2 (β2AR)
Mengaktifkan adenilil siklase (AC) melalui protein G stimulasi (Gs)
Meningkatkan konsentrasi intraseluler cAMP dan aktivasi protein kinase A (PKA)
Relaksasi otot polos bronkiolus, bronkodilatasi, dan peningkatan aliran udara bronkial.
Antikolinergik
Mekanisme
saraf vagus melepaskan ACh dalam jumlah tinggi
ACh berikatan dengan reseptor muskarinik M3 di otot polos
Ikatan tersebut memicu kontraksi otot polos (penyempitan jalan napas)
Obat antikolinergik masuk ke saluran napas
menempati reseptor M3
1 more item...
contoh
Ipratropium Bromide
Short-Acting Muscarinic Antagonist (SAMA)
pembalikan bronkokonstriksi akut dimediasi saraf vagal
Tiotropium Bromide
Long-Acting Muscarinic Antagonist (LAMA)
stabilisasi saluran napas harian dan pencegahan remodelling
Metilxantin
Mekanisme
menempel pada reseptor β₂ di membran sel
terhubung dengan protein Gs
mengaktifkan enzim adenilat siklase (AC)
Adenilat siklase mengubah ATP menjadi cAMP
Kadar cAMP yang meningkat akan mengaktifkan PKA (protein kinase A)
1 more item...
menghambat PDE
cAMP tidak cepat hancur
relaksasi bronkus bertahan lama
contoh
teofilin
menghambat PDE
memblok reseptor adenosin
Antiinflamasi
Anti-IgE Receptor
mekanisme
Alergen dikenali oleh sistem imun
mengaktifkan sel T helper tipe 2 (Th2)
sel Th2 kemudian melepaskan sitokin
IL-4 dan IL-13 memberi sinyal ke limfosit B
class switching & produksi IgE
1 more item...
contoh
omalizumab
ntibodi monoklonal untuk mengikat IgE
kortikosteroid
mekanisme
stimulus inflamasi mengaktifkan enzim IKKB
KKB mengaktivasi IKB
melepaskan faktor transkripsi (NF-kB)
NF-kB masuk ke dalam nukleus
mengikat situs kB pada DNA
1 more item...
golongan
inhaled
FIRST LINE therapy -> asma persisten
2x sehari
pengontrol inflamasi
contoh
budenoside
sistemik
bronkodilator
asma akut dengan fungsi paru < 30%
contoh
metilprednisolon
Antileukotrien
mekanisme
Alergenmemicu metabolisme asam arakhidonat di dalam sel imun.
Enzim 5-lipoksigenase (5-LO) mengubah asam arakhidonat menjadi leukotrien.
Leukotrien keluar dari sel dan mencari reseptor CysLT1 di dinding saluran napas.
Obat LTRA menempati reseptor CysLT1 secara kompetitif
Sinyal untuk menyempit terhenti
Relaksasi otot polos (bronkodilatasi minimal) dan pengurangan inflamasi/edema.
contoh
Montelukast & Zafirlukast
Antagonis Reseptor Leukotrien (LTRA)
selektif dan kompetitif mengikat reseptor CysLT1 pada otot polos saluran napas
Zileuton
Inhibitor Sintesis Leukotrien (5-LO Inhibitor)
Tatalaksana
UMUM
Rumah
Lini pertama
Inhalasi agonis beta-2 kerja singkat (SABA)
setiap 20 menit, 3x dalam 1 jam
Pemeriksaan Analisis Gas Darah Arteri (AGDA)
dilakukan saat
Serangan asma akut berat
Membutuhkan perawatan rumah sakit
Tidak respon dengan pengobatan
Komplikasi
Jika tidak memungkinkan
TIDAK PERLU DILAKUKAN
Analisis gas darah mutlak
Mengancam jiwa
Tidak respon pada pengobatan
Gagal nafas
Sianosis, kesadaran menurun
Rumah sakit
Pelayanan kesehatan primer
Ringan-sedang
SABA + SCS atau
SABA+ICS dosis tinggi
Terapi alternatif kortikosteroid sistemik
3x1 mg dalam 1 jam
Berat
ICS dosis tinggi
alternatif: SCS (3x1 mg dalam 1 jam, kombinasi dengan SABA)
rawat inap
ICS dosis tinggi (1-2 mg 2x per hari)
Unit Gawat Darurat
Eksaserbasi Asma
Ringan sedang
Agonis beta 2 kerja singkat
Pertimbangan ipratropium bromid
pemberian oksigen
kortikosteroid oral
Berat
agonis beta 2 kerja singkat
ipratropium bromid
pemberian oksigen
kortikosteroid oral/intravena
pertimbangkan
ICS dosis tinggi
Magnesium IV
berdasarkan stasus kontrol
ringan (tahap 1&2)
ICS dosis rendah setiap kali menggunakan SABA
ICS-formoterol
sedang (tahap 3)
ICS dosis rendah/LABA
berat (4/5)
ICS dosis tinggi/LABA
Tahap pengobatan
TAHAP 1
gejala asma <2x sebulan, tidak terbangun karena asma, tidak ada risiko eksaserbasi.
Kombinasi ICS dosis rendah-formoterol bila perlu
ICS dosis rendah setiap pemakaian SABA.
SABA tunggal tidak direkomendasikan.
TAHAP 2
gejala jarang muncul, ada risiko eksaserbasi (fungsi paru rendah, riwayat eksaserbasi, rawat inap)
Gejala asma atau penggunaan SABA 2x seminggu - 2x sebulan, terbangun karena asma 1/2x sebulan
Gejala asma atau penggunaan SABA 2x seminggu.
3 more items...
TAHAP 3
Gejala hampir setiap hari, terbangun saat malam >1 dalam seminggu, dengan faktor risiko.
ICS dosis rendah-LABA + SABA bila perlu atau ICS dosis rendah-formoterol.
ICS dosis sedang atau ICS dosis rendah ditambah LTRA.
TAHAP 4
Asma berat tidak terkontrol, eksaserbasi akut, menggunakan kortikosteroid oral jangka pendek.
2 more items...
TAHAP 5
1 more item...
berdasarkan derajat berat asma
intermiten
lazim
agonis beta 2 short acting sprn
sebelum exercise (pada exercise induced asthma)
alternatif
kromolin atau leukotriene modifiers
serangan
Agonis beta-2 kerja singkat inhalasi
alternatif
agonis beta-2 short acting oral, kombinasi teofilin kerja singkat
agonis beta-2 kerja singkat oral atau antikolinergik inhalasi.
Jika dibutuhkan bronkodilator lebih dari sekali seminggu selama 3 bulan,
Persisten Ringan
Terapi utama
glukokortikosteroid inhalasi (200-400 ug BD/ hari atau 100-250 ug FP/hari atau ekivalennya) diberikan sekaligus atau terbagi 2 kali sehari.
alternatif
agonis beta-2 kerja singkat inhalasi jika dibutuhkan sebagai pelega, sebaiknya tidak lebih dari 3-4 kali sehari.
Bila penderita butuh bronkodilator lebih dari 4x/hari
Persisten Berat
Terapi utama
1 more item...
kadang kontrol lebih tercapai jika
1 more item...
alternatif
1 more item...
KHUSUS
Pediatri
Awal
Nebulasi β2 agonis 1-2x, selang 20 menit
Nebulasi kedua + antikolinergik (jika serangan sedang/berat)
Nebulasi langsung dengan β2 agonis + antikolinergik
serangan ringan
(nebulisasi 1x, respons baik)
Observasi 1-2 jam
Jika efek bertahan -> pulang
Jika gejala timbul kembali -> tatalaksana serangan sedang
serangan sedang
(nebulisasi 2x , respons sedang)
Oksigen
Nilai kembali derajat serangan
(jika sedang -> observasi di ruang observasi)
steroid oral
Pasang jalur parenteral (IV)
serangan berat
(nebulisasi 3x, respons buruk)
oksigen saat/di luar nebulasi
Pasang IV
Observasi kembali (berat -> rawat inap)
Foto rontgen toraks
Dipulangkan
β2 agonis (inhaler/oral)
obat pengendali -> teruskan
Jika pencetusnya infeksi virus
steroid (oral)
24-48 jam
kontrol ke fasilitas kesehatan
Rawat inap
Lanjutkan oksigen
Atasi dehidrasi & asidosis (jika ada)
Steroid tiap 6-8 jam (IV)
Nebulisasi tiap 1-2 jam
Aminovilin (IV) awal, lanjutkan rumatan
Jika membaik dalam 4-6x Nebulisasi
interval jadi 4-6 jam
24 jam stabil
pulang
Steroid + aminofilin tidak membaik/ risiko berhenti napas
Geriatri
tidak memiliki perbedaan dengan dewasa
efek samping
β 2 agonis
kardiotoksisitas
Kortikosteroid
mudah memar, osteoporosis, katarak.
kesulitan
penggunaan inhaler
Kepatuhan konsumsi obat
Ibu Hamil
Prinsip
dianjurkan obat inhalasi
obat-obat asma yang pernah dipakai pada kehamilan
Obat
SABA
C
salbutamol/albuterol
kortikosteroid
inhalasi
C
aman dosis rendah-sedang
kombinasi ICS + LABA
C
Leukrotrien
B
Kortikosteroid (oral)
C
risiko
kelahiran prematur
BBLR
preeklamsia
persalinan
Hidrokortison IV (stress-dose steroid) 100 mg setiap 8 jam selama persalinan dan 24 jam setelah persalinan
Parameter Monitoring
Spirometri
kapasitas dan fungsi paru
hasil
Nilai VEP/KVP normal: ≥75%
Nilai VEP/KVP Asma: < 75%
+pemberian bonkodilator: Meningkat ≥12%
Arus Puncak Ekspirasi
kecepatan maksimum udara setelah inspirasi penuh
hasil
Zona Hijau (80-100%) → Fungsi paru normal.
Zona Kuning (50-80%) → Terdapat penyempitan jalur napas
Zona Merah (<50%) → Berbahaya
Dengan pemberian bronkodilator: Meningkat ≥20%
Saturasi Oksigen
seberapa baik paru-paru memasok oksigen ke dalam darah dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh
hasil
Normal 95-100%
Hipoksemia: <90%