Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
NYERI (Felicia Theodora/2406358415) - Coggle Diagram
NYERI (Felicia Theodora/2406358415)
DEFINISI
Pengalaman sensoris & emosional tidak menyenangkan
memicu kerusakan jaringan
melibatkan persepsi subjektif
terbagi menjadi beberapa jenis
Nosiseptif
Aktivasi nosiseptor perifer
Neuropatik
trauma/disfungsi SSP/SST
Mixed Pain
Melibatkan nosiseptif dan neuropatik
Akut
setelah adanya kerusakan
ciri-ciri
warning akan kondisi penyakit dan situasi yang berpotensi membahayakan.
kurang dari 30 hari
umumnya nociceptive, tapi kadang neuropatik
nosiseptif = nyeri akibat kerusakan jaringan tubuh.
terdiri atas
Somatik
1 more item...
Visceral
1 more item...
neuropatik = cedera pada sel saraf di sistem saraf tepi atau pusat
berdenyut, rasa tajam menusuk seperti terbakar,kesemutan, lemas, mati rasa, intensitasnya tidak stabil.
Kronik
berlangsung 3-6 bulan; penyakit neoplastik/kronik
ciri-ciri
berlangsung lama (bulanan/tahunan)
nosiseptif, neuropatik, ataupun keduanya
sulit disembuhkan
memiliki subtipe
yaitu
nyeri menetap melampaui waktu penyembuhan normal
akibat
1 more item...
nyeri yang berhubungan dengan penyakit kronis
nyeri tanpa penyebab organik yang dapat diidentifikasi
nyeri yang berhubungan dengan kanker
Nyeri Kanker
1 more item...
Bisa tidak terlihat kesakitan, bisa seperti nyeri akut, rasa sakit dan lokasi yang bervariasi
Kanker
pasien neoplastik/keganasan
Idiopatik
Nyeri kronis; tidak dapat diidentifikasi penyebabnya
PATOFISIOLOGI
Mekanisme Nyeri
Peripheral transmission of pain signals
Ascending pain transduction tracts
Pain Perception & modulation in the Brain
Pain perception
dibantu oleh beberapa komponen
Cerebrum
Koordinasi komunikasi antara akson aferen, interneuron, dan neuron proyeksi dalam proses persepsi nyeri
Pain Matrix
terdiri atas thalamus, hipotalamus, amigdala, korteks somatosensori, dan korteks prefrontal
Korteks Somatosensori
pusat utama penerima sinyal nyeri dari thalamus
Thalamus
proyeksi nosiseptif dari sumsum tulang belakang & mengatur intensitas nyeri
Amigdala
bagian pengatur emosi → mengatur respons fisiologis dan perilaku terhadap rangsangan nyeri
nyeri = conscious experience -> terjadi di higher corticol structures otak
Modulation
menggunakan Endogenous Opiate System/Sistem Opiat Endogen
Terdiri dari
reseptor
µ, δ, dan κ
Neurotransmitter
Enkephalins,
Dynorphins,
β-endorphins
Descending Pain Modulation Pathway
Jalur menurun dari otak depan (forebrain) dan batang otak (brainstem) ke sumsum tulang belakang dan kompleks sensorik trigeminal untuk memodifikasi informasi somatosensorik yang masuk
mengubah persepsi rangsangan nyeri menjadi
LESS/MORE PAIN
2 more items...
Bagian otak yang terlibat
periaqueductal gray (PAG)
rostral ventromedial medulla (RVM)
locus coeruleus
nukleus retikularis lateral
nukleus raphes magnus
nukleus retikularis paragiagantocellularis
dimediasi oleh
(descending monoaminergic pathways)
yang menggunakan serotonin (5-HT), norepinefrin, atau dopamin.
sinyal dari spinal cord
Ditransmisikan ke Otak Melalui Ascending pathway
The spinothalamic tract
→ bagian lateral mentransmisikan nyeri dari torso dan limb
The trigeminothalamic tract,
→ mentransmisikan nyeri dari kepala dan wajah.
Nociceptor
Terdapat di Kulit, Mukosa, Otot, Organ dalam, Vasculature
3 tipe
Thermo-sensitive
Mechanical-sensitive
Injury Signal-sensitive
memiliki kanal ion
Voltage-Gated Ion Channels
mengubah potential reseptor menjadi rangkaian potensial aksi
Ligand-gated Ion channels
merespons Stimulus fisik dan kimia
Reseptor lain
N-methyl-D-aspartate receptors (NMDARs)
Mechanical stimulation
G protein-coupled receptors (GPCRs)
Toxic & Inflammatory Stimulation
opioids, glutamate, bradykinin, gamma-aminobutyric acid (GABA), cannabinoids, 5-HT, prostaglandins and histamine
Pain related ligands
Nerve Afferent Fibers
mentransmisikan potensial aksi dari nociceptors ke spinal cord melalui nerve afferent fibers (β, Aδ, C)
Inflamasi menyebabkan nerve fiber sensitization
mengurangi threshold potensial aksi
induksi rasa sakit lebih lama
PENGGOLONGAN OBAT
Opioid
Reseptor
κ
δ
μ
berdasarkan aktivitas
kuat
morfin
Gol. C
Dosis
Dewasa: 5-20 mg/4 jam
6-12 thn: 10 mg/4 jam
1-5 thn: 5 mg/4 jam
Dosis maks: 60 mg/hari
Efek samping
konstipasi mual-muntah
pusing/sakit kepala
miosis
fentanil
Gol. C
Dosis
IV: 50-200 mcg diikuti oleh 50 mcg
Efek samping
diare mual-muntah
Pruritus
oksikodon
hidromorphone
petidin
lemah
kodein
ciri-ciri
prodrug
diubah di hati oleh enzim CYP2D6 ->
morphine
afinitas tinggi ke reseptor mu
afinitas rendah ke reseptor μ-opioid
antitussive melalui reseptor berbeda
gol. A
dosis
D = 15-60mg setiap 4-6 jam, maks 240mg/hari. Maksimal terapi 3 hari
Anak >12 tahun : 30-60 mg / 0,5-1mg/kg tiap 6 jam. Max 240mg/hari
efek samping
konstipasi
kengantukan
hipotensi
tramadol
ciri-ciri
SSP
agonis lemah reseptor μ-opioid
Inhibitor reuptake serotonin dan norepinefrin
Metabolit aktif: O-desmethyl tramadol (M1)
Dosis
D : (tab/kap) 50-100mg per 4-6 jam. Max 400mg/hari
Anak > 12 tahun = sama dengan dosis dewasa
Efek samping
sleep-related hypoaxemia
konvulsi & hipotensi
Gol. X
parsial agonis
buprenorphine
Dosis
Dewasa: 200-400 mcg diulang setiap 6-8 jam sesuai kebutuhan
Anak: 6-12 tahun 16-25 kg: 100 mcg; >25-37,5 kg: 100-200 mcg; >37,5-50 kg: 200-300 mcg. Dosis diberikan setiap 6-8 jam
Efek samping
nyeri perut, mual muntah
sakit kepala vertigo
miosis
butorphanol
nalbuphine
Mekanisme Umum
Opioid berikatan dengan reseptor
Aktivasi reseptor terkait dengan protein G
Subunit α dari protein G menghambat adenylate cyclase (AC)
menurunkan kadar cAMP
mengurangi aktivitas kanal kalsium
menghambat pelepasan glutamat dan neurotransmitter lain
1 more item...
Subunit βγ juga menghambat kanal kalsium,
memperkuat
Non-Opioid
Analgetik
Paracetamol
Dosis
Adult Single dose → 325-1000mg setiap 4-6 jam. Max dose → 4000mg/24 jam
Pediatric (2-12thn) → IV :12,5mg/KgBB setiap 4 jam atau 15mg/KgBB setiap 6 jam. max dose → 75mg/KgBB per 24 jam.
Efek samping
hipersensitivitas
ruam kulit
kelainan darah
hipotensi
Analgesik adjuvant
antidepresan
TCA
dosis
10-25 mg setiap hari, sebaiknya di malam hari. Dapat ditingkatkan secara bertahap dengan kenaikan 10-25 mg setiap 3-7 hari sesuai toleransi.
Efek samping
mulut kering
sedasi
pandangan kabur
SSRI
dosis
Dewasa: 20mg/hari
efek samping
hipersensitivitas
mulut kering
gugup cemas
SNRI
antikonvulsan
Gabapentin
dosis
Dosis efektif minimal: 600 mg 3 kali sehari.
efek samping
nyeri
demam
anestasi lokal
Lidokain
steroid
Deksametason
efek samping
sakit perut
sakit kepala
dyspepsia
dosis
Dewasa: 0,5 - 10 mg/hari; Anak 10 - 100 mcg/kg bb/hari
muscle relaxant
Eperisone HCl
NMDA Antagonist
Ketamin
NSAIDs
COX-2 inh
contoh
Celecoxib
dosis
Initial dose → 400mg p.o
Maintenance dose → 200mg p.o 2x/hari
efek samping
insomnia
sinusitis
faringitis
Fenamat
efek samping
anemia aplastika
hipoplasia sumsum tulang
dosis
Initial dose → 500 mg p.o, dilanjut 250 mg p.o setiap 6 jam
Salisilat
contoh
Asam asetilasetat (asetosal)
dosis
300-900mg p.o/ 4-6 jam, max dose → 4g/hari
efek samping
iritasi saluran cerna
pendarahan ringan
bronkospasme
hipersensitivitas
Asam enolat
dosis
20mg p.o 1x/hari
efek samping
stomatitis
anoreksia
epigastrik distress
Asam pyrolin
contoh
ketorolac
dosis
Adult Single dose (BB >50kg) → IM : 60 mg, IV : 30 mg, p.o : 20 mg setiap 4-6 jam
Adult Multiple dose (BB >50kg) → IM/IV : 30 mg setiap 6 jam, max dose → 120 mg/hari. (BB >50kg) → IM/IV : 15 mg setiap 6 jam, max dose → 60 mg/hari
efek samping
konstipasi
diare
dispepsia
Mekanisme Umum
menghambat
COX-1
yang terlibat dalam
Proteksi mukosa lambung (PGE2, PGI2)
Regulasi aliran darah ginjal
Agregasi trombosit (via tromboksan A2)
COX-2
yang terlibat dalam
menghasilkan prostaglandin
Nyeri dan inflamasi (PGE2)
Vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah
TATALAKSANA
UMUM
Ladder Pain Management
parameter yang diperhatikan (by the...)
mouth
rute oral
paling tidak invasif
clock
sesuai jadwal
ladder
MILD PAIN
MODERATE PAIN
SEVERE & PERSISTENT PAIN
strong opioid
morfin
Non-farmakologis
mild opioid
codein
non-opioid
NSAID
acetaminofen
dua metode
stepup
untuk nyeri kronis
dari level rendah
dosis & jenis obat ditingkatkan sesuai intensitas nyeri
mencari dosis efektif + efek minimal
stepdown
nyeri akut parah/kronis
dari level tiga tangga
setelah nyeri terkontrol, dosis diturunkan
Nyeri akut
Ringan
PCT/NSAID lain
jika nyeri
mereda
monitor pasien
meningkat
masuk nyeri sedang
Sedang
kombinas opioid + PCT/NSAID lain
jika nyeri
mereda
monitoring pasien
meningkat
masuk nyeri parah
Cancer pain
tidak toleran opioid
Oral = 5–15 mg oral morphine (asesmen ulang dalam 60 menit)
IV = 2—5 mg IV morphine (asesmen ulang dalam 15 menit penggunaan)
toleran opioid
Oral = 10–20% dari dosis opioid oral 24 jam sebelumnya (ases ulang dalam 60 menit)
IV = 10–20% dari dosis IV opioid yang 24
jam sebelumnya (ases ulang dalam 15’)
terbagi menjadi
nyeri ringan
Parasetamol → dosis 650 mg setiap 4 jam
Ibuprofen → 400 - 600 mg setiap 6 jam
Ketoprofen → 25 - 60 mg setiap 6 - 8 jam
Asam Mefenamat → 250 - 500 mg setiap 6 - 8 jam
nyeri moderat
Tramadol → 50 - 100 mg setiap 8 - 12 jam dengan dosis maksimal 400 mg/hari
Kodein → 120 - 360 mg setiap 3 - 4 jam
nyeri berat
mmediate release morphine → 10 - 20 mg setiap 3 - 4 jam dengan dosis maksimal 400 mg/hari
Sustained release morphine setiap 8 - 12 jam
adjuvant
Antikejang → gabapentin 300 mg
Antidepresant → amitriptilin 12,550 mg
kortikosteroid
KHUSUS
Pediatri
Prinsip
analgesik
per oral
teratur
semakin meningkat secara bertahap
analgesik ringan -> keras
jenis obat
bius lokal
nyeri pada lesi kulit/mukosa
contoh
lidokain
oles pada kain kasa ke luka
TAC
analgesik
nyeri ringan dan sedang (sakit kepala/kejang)
contoh
paracetamol
aspirin
NSAID
ibuprofen
analgesik poten
nyeri sedang & sangat hebat
contoh
morfin
oral/IV setiap 4-6 jam
infus kontinu
petidin
per/oral setiap 4-6 jam
kodein
per oral setiap 6-12 jam
kombinasi dengan non-opioid
obat lain
rasa nyeri spesifik
diazepam
spasme otot
karbamazepin
nyeri saraf
kortikosteroid
pembengkakan akibat radang
METODE QUESTT
Q (question
U (use pain rating scale)
E (Evaluate behaviour & physiological change)
S (Secure parent involvement)
T (Take the cause of pain into account)
T (Take action and evaluate result)
Geriatri
modifikasi step ladder
LV 1 (mild-moderate pain)
acetaminophen
opioid
hydrocodone
oxycodone
LV 2 (moderate-severe pain)
acetaminophen
aspirin
non-spesifik NSAID
COX-2 specific NSAID
LV 3 (severe pain)
strong opioids-morphine
hydromorphone
fentanyl
oxycodone
with/without adjuvant
antidepresan
2 more items...
antikonvulsan
1 more item...
analgetik topikal
3 more items...
Ibu Hamil
lebih diutamakan
non-farmakologis
terapi musik
guided imagery
relaksasi
golongan obat
A
multivitamin
B
acetaminofen
caffeine
metoprol
prednisolone
C
aspirin
butorphanol
kodein
fentanyl
D
diazepam
sumatriptan
amitrptyline
X
valproic acid
ergotamine
PARAMETER MONITORING
pemeriksaan tanda vital
suhu
normal range
pulse rate
60-100/min
respiration rate
12-20/min
blood pressure
120/80 mmHg
pain assessment
numerical
1-3 = mild
0 = none
4-6 = moderate
7-10 = severe
descriptive
visual
visual analog scale
face rating scale
4P+6A
4P
pain
pathologies
performance
physchological
6A
Adverse effect
Aberrance behaviours
Adequate documentation
Affect
Analgesia
Activities