Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Perlawanan terhadap Jepang - Coggle Diagram
Perlawanan terhadap Jepang
Wilayah Sumatra (Palembang)
Di bawah Angkatan Darat ke-25 (pusat di Bukittinggi)
Fokus utama Jepang: eksploitasi minyak bumi
Jabatan tinggi pemerintahan diisi orang Jepang, pribumi terbatas sampai tingkat gun-coo (wedana)
Banyak penggunaan romusha dan kuli BPP untuk sektor minyak
Kondisi tenaga kerja sangat buruk (kelaparan, kekurangan pakaian)
Jawa dan Madura
Di bawah Angkatan Darat ke-16 (pusat di Jakarta)
Pembagian wilayah administratif lengkap: syu, shi, ken, gun, son, ku
Orang Indonesia mulai diberi jabatan tinggi (misalnya residen)
Penerapan tonarigumi (rukun tetangga) sejak 1944
Padi diwajibkan diserahkan untuk kebutuhan perang Jepang
Kekurangan gizi → rakyat dipaksa makan makanan alternatif
Wilayah Indonesia Timur (Enrekang – Sulawesi Selatan)
Awalnya Jepang melakukan propaganda kuat (Nippon–Indonesia sama-sama)
Tidak banyak perubahan sistem pemerintahan, hanya penggantian istilah dan pejabat
Pejabat lokal tetap digunakan (misalnya suco/kepala distrik)
Awalnya ada toleransi simbol nasional (Merah Putih & Indonesia Raya)
Tahun 1943 mulai kerja paksa, bunker pertahanan, penanaman kapas
Kekejaman Tokkeitai menimbulkan ketakutan dan hilangnya simpati rakyat
Persamaan
Awalnya Jepang disambut baik sebagai pembebas dari Belanda
Sistem pemerintahan Belanda tidak dihapus, hanya diganti istilah Jepang
Jabatan orang Eropa digantikan oleh orang Jepang dan sebagian pribumi
Terjadi pengerahan tenaga kerja paksa (romusha)
Rakyat mengalami kelaparan dan kekurangan pakaian
Kebijakan Jepang akhirnya menimbulkan penderitaan dan perlawanan rakyat