Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Gingival recession (penurunan gusi) - Coggle Diagram
Gingival recession (penurunan gusi)
Causes
(
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4944726/#sec3
)
2) Chronic inflammatory periodontal disease.
1) Low-level and long-lasting trauma.
3) Occlusal trauma.
Causes sampingan
(
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4944726/#sec3
)
1) Decreased alveolar bone crest thickness,
2) Dehiscence.
Why is it matters?
The "Root Caries" Time Bomb (Bom Waktu Karies Akar)
Logikanya: Gigi bagian atas (mahkota) dilindungi Enamel (zat terkeras di tubuh). Gigi bagian bawah (akar) cuma dilindungi Sementum (lunak, berpori).
Masalahnya: Begitu gusi turun, akar terekspos. Akar itu 7x lebih cepat busuk dibanding mahkota gigi kalau kena bakteri/asam.
Why it matters: Kalau remaja di desa gusinya turun dan dibiarkan, di usia 25-30 tahun, gigi mereka bukan cuma "panjang", tapi busuk di akar.
Fatalnya: Karies akar itu susah ditambal. Seringkali ujungnya CABUT GIGI.
The "Domino Effect" of Bone Loss (Efek Domino Tulang Hilang)
Logikanya: Gusi itu kayak "jaket" buat tulang alveolar.
Masalahnya: Kalau gusinya hilang (turun), tulangnya ikut menyusut (resorpsi) karena kehilangan suplai darah dan perlindungan.
Why it matters: Penurunan gusi adalah tanda awal kerusakan struktur penyangga gigi. Kalau dicegah sekarang (pas remaja), tulangnya aman. Kalau nunggu nanti? Tulangnya udah tipis. Gigi jadi goyang. Copot sendiri.
The "Social Inequality" Gap (Kesenjangan Sosial)
Faktanya: Di kota besar, orang kaya bisa operasi Gum Graft (cangkok gusi) seharga 5-10 juta per gigi.
Realitanya: Remaja di pedesaan? Gak punya duit, gak ada dokter spesialis. Mereka dipaksa menerima nasib giginya rusak.
Why it matters: Masalah ini DISKRIMINATIF. Hanya orang kaya yang bisa sembuh.
Inovasimu (Patch Kolagen Limbah Ikan) mendemokratisasi kesehatan. Kamu bikin solusi murah meriah yang bikin orang desa punya kesempatan yang sama buat punya gigi sehat kayak orang kota.
Gingival Recession sering disebut sebagai 'The Forgotten Disease
kurangnya opsi terapi non-invasif.
Inovasi