Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Pendekatan dalam pembangunan wilayah kota - Coggle Diagram
Pendekatan dalam pembangunan wilayah kota
Konsep kota
Secara akademis, definisi kota bersifat
multidimensi dan tidak tunggal.
Perspektif sosiologis dan demografis
Louis Wirth: Kota adalah permukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, dihuni oleh individu-individu yang heterogen secara sosial.
Bintarto: Kota adalah kesatuan jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan materialistis.
Max Weber: Menekankan aspek pasar sebagai benteng perekonomian dan adanya sistem hukum tersendiri serta sifat kosmopolitan.
Perspektif ekonomi dan fungsional
Adisasmita: Kota diartikan sebagai konsentrasi penduduk dan kegiatan ekonomi non-pertanian (sektor sekunder dan tersier) di atas lahan yang relatif terbatas.
Northam: Wilayah disebut kota jika kepadatan penduduknya lebih tinggi dari rata-rata sekitarnya, dan mayoritas penduduk tidak bergantung pada sektor pertanian.
NUDS & Bhudy Tjahyati: Kota berfungsi sebagai pusat pelayanan produksi, distribusi, dan jasa, serta simpul transportasi bagi wilayah sekitarnya.
Kriteria administratif
Kriteria fungsional
Kriteria fisik
Urgensi dan konteks pembangunan perkotaan
Peran strategis kota
Barometer pembangunan
Akselerator transformasi
Pusat inovasi
Gerbang interaksi
Klasifikasi kota berdasarkan tahapan perkembangan
Tahap eopolis
Tahap polis
Tahap metropolis
Tahap megalopolis
Tahap tyranopolis
Tahap nekropolis
Klasifikasi kota berdasarkan fungsi dan sejarah di indonesia
Kota menurut fungsinya
Pusat produksi (industri/pertambangan)
Pusat perdagangan
Pusat pemerintahan
Pusat kebudayaan
Pusat kesehatan/jasa khusus
Kota di indonesia menurut sejarah terjadinya
Kota pertambangan
Kota perkebunan
Kota perdagangan
Kota kebudayaan/kerajaan
Pendekatan statistik: klasifikasi perkotaan BPS
Berdasarkan skor total dari tiga indikator utama
Kepadatan penduduk
Persentase rumah tangga
Akses fasilitas perkotaan
Tantangan utama pengelolaan perkotaan
Regulasi sektoral belum terpadu
Urban sprawl (perembetan kota)
Ego kewilayahan dan sektoral
Kapasitas fiskal dan kelembagaan
Ketimpangan sosial
Model dan pendekatan studi kota (schools of thought)
Pendekatan modernis
Asumsi dasar:
Struktur monosentris:
Determinisme individu:
Keteraturan:
Pendekatan postmodernis
Asumsi dasar:
Struktur polisentris:
Keno capitalism:
Fragmentasi sosial:
Pergeseran dari government ke governance
Urban government:
Urban governance:
State
Private sector
Masyarakat
Bentuk dan struktur governansi kota
Pendekatan fragmentasi (public choice theory)
Pendekatan konsolidasi (metropolitan reform tradition)
Parameter dan indikator good urbangovernance
Partisipasi
Rule of law
Transparansi
Responsiveness
Berorientasi konsensus
Keadilan
Efektivitas dan efisiensi
Akuntabilitas