Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
ACC3_STRATEGI MEMBACA 2 (Tuing tuing dan pancing Emas) - Coggle Diagram
ACC3_STRATEGI MEMBACA 2
(Tuing tuing dan pancing Emas)
ekstrinsik
Latar belakang penulis
:
Beliau Lahir di Bandung pada tanggal 21 Juli 1957. Sepuluh tahun terakhir Rini telah menyunting modul untuk Lemhanas dan lampiran pidato presiden di Bappenas. Ia juga menyunting naskah dinas pilkada di Mahkamah Konstitusi, di samping aktif menyunting seri penyuluhan dan cerita rakyat di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
latar belakang masyarakat
:cerita rakyat populer yang berasal dari Sulawesi Barat, pada kalangan masyarakat Mandar. Latar belakang masyarakat terkait cerita ini sangat terkait dengan nilai-nilai moral
Nilai
nilai moral: tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan dan selalu memohon pertolongan kepada Tuhan:
Interistik
Latar
Tempat: Kerajaan Arung Paria
Suasana: Suasana di Kerajaan Arung Paria sangat tegang saat putra Raja Arung mengaku bahwa ia yang mengambil pancingan emas.
Tokoh penokohan
Protagonis
: Tokoh utama adalah Putra Raja dikarena Ia yang menyebabkan konflik(mengambil dan menghilangkan pancing emas itu)
Antagonis
:
Raja Arung
: raja arung sangat tegas pada peraturan yang di buatnya, ia tetap adil walaupun harus menghukum putranya.
Putra Raja Arung
: Putra raja Arung menjalankan hukuman yang diberi padanya. Dia merasa bertanggung jawab atas hal yang dia lakukan.
Putri Raja Arung
: Putri Raja Arung sangat setia kepada sang kakak, Ia rela ikut dengan sang kakak walau harus tidur di gubuk
Tokoh tambahan
: Dayang dayang adalah adalah tokoh tambahan karena tidak mengakibatkan interaksi
Majas
Hiperbola: "Putri itu berambut panjang yang hampir menyentuh tanah." karena ini menunjukkan betapa panjang rambut putri.
Sudut pandang
Sudut pandang pada cerita ini adalah sudut pandang ketiga karena penulis mengunakan nama nama tokoh bukan "saya" atau Kamu".Penulis hanya mengunakan "Saya" dan "Kamu" saat dialogue.
Amanat: Penting nya untuk bertanggung jawab atas hal yang dilakukann.
Tema: Tanggung jawab atas kesalahan dan sikap adil dalam kepemimpinan
Alur
alur maju
Abstrak
Orientasi
Komplikasi
Evaluasi
Putra Raja Arung merasa bingung dan terkejut setelah menemukan bahwa pancing emas yang dicari cari berada di tenggorokan putri raja naugsasi.
resolusi
Koda
1 more item...
Mengetahui bahwa pancing emas yang hilang ternyata menjadi penyebab sakitnya Putri Raja Naungsasi, putra Raja Arung Paria menyadari betapa besar akibat dari kecerobohannya. Ia merasa sangat menyesal karena kesalahannya bukan hanya membuat ayahnya marah, tetapi juga membahayakan nyawa seseorang peristiwa ini membuat ia belajar lebih bertanggung jawab dan tidak mengambil barang tanpa izin.
Suatu hari Putra raja mengambil pusaka pancing emas itu dan menghilangkan nya. Dayang dan perkerja lain merasa kebingungan dan takut untuk melaporkan bahwa Pacing emas itu hilang. Saat Raja bertanyaan apakah ada masalah mereka terdiam sampai akhirnya sang Raja bertanya lagi. Seorang hulubalang mengaku bahwa pancing emas itu hilang. Sang Raja meninggalkan tempat tersebut. Ia berkata bahwa diri nya akan menghukum yang mengambil pusaka itu. Beberapa hari kemudian sang Raja merasa sangat sedih atas kehilangan pusakanya. Putra Raja mengaku bahwa Ia yang mengambil Pusaka itu. Sang Raja sangat terkejut dan menghukum Putra Raja. Putri Raja merasa sedih dan ingin mengikuti saudara nya. Sang Raja dengan berat hati memberi izin untuk mereka pergi. Putra Raja dan Putri Raja menuju Pantai Mandar. Putra Raja membuat sebuah gubuk untuk Adiknya. Dia mencari cari pancing itu di pinggiran pantai, tetapi dia merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat dibawa pohon. Ia tertidur dan bermimpi tentang perempuan yang cantik tetapi belum sempat ia berbicara dia terbangun dari tidurnya. Putra Raja itu melanjutkan perjalanannya walaupun hari telah larut malam. Ia tidak sengaja melihat sesuatu bersinar di laut. Dia berpikir bahwa itu pancing emas yang dihilangkan nya. tetapi saat didekati ia melihat istana, Putra Raja bertanya pada seorang penjaga istana untuk mengetahui nama kerajaan di dasar laut itu. Nama istana itu adalah Naugsasi. Ia tidak sengaja mendengar suara tangisan dan memutuskan bertanya pada penjaga istana. Penjaga istana menjelaskan tentang penyakit yang di alami oleh Putri Naugsasi. Putra Raja meminta izin untuk membantu Putri Naugsasi. Raja Naugsasi memberi izin kepada Putra Raja. Saat Ia memeriksa tenggorokan sang putri Ia melihat cahaya yang terang dan mengambil benda itu, yang ternyata pusaka yang dicari carinya.
Di sebuah kerajaan yang bernama Arung Paria di daerah Sulawesi Barat, hiduplah seorang raja yang memiliki pusaka kerajaan berupa pancing emas. Pancing emas tersebut sangat berharga bagi kerajaan karena merupakan peninggalan turun-temurun. Raja Arung Paria memiliki anak yang di panggil putra, dan putri raja dikarenakan memanggil nama dalam peraturan adat sangat tabu menyapa nama orang yang sangat dihormati.
Cerita ini mengisahkan hilangnya pusaka pancing emas milik Kerajaan Arung Paria. Pusaka itu ternyata tersangkut di tenggorokan Putri Naungsasi, membuatnya sakit. Putra Raja Arung Paria bertanggung jawab mencari pusaka itu dan akhirnya berhasil menyembuhkan sang putri serta menemukan kembali pancing emas. Sebagai penghargaan, Raja Naungsasi memberi hadiah burung yang akhirnya menjadi ikan tuing-tuing (ikan terbang).