Diam-diam Aji memasukkan kerisnya ke dalam sarung
tempat kerisnya. Tiba-tiba jantungnya terasa berdebar-debar.
Tubuhnya hangat karena darahnya bergolak. Selanjutnya, pelan-pelan ia bertanya kepada punakawannya. ”Apakah Putri yang kalian ceritakan itu memang tercantik dibandingkan dengan putri-putri cantik yang pernah kalian lihat?” pertanyaan Aji bertubi-tubi. ”Sungguh, Tuan. Menurut penglihatan kami Putri Karang Melenu itu lebih cantik daripada putri-putri Brunei dan Putri Kencana Ungu. Putri itu sama cantiknya dengan Putri Junjung Buih dari Banjar yang pernah patik lihat di dalam mimpi. Entah mengapa gerangan patik bermimpikan Putri Junjung Buih dari Banjar itu. Kedua putri itu sama ayunya, sama manisnya, sama cantiknya, tetapi ada daya pikat pada diri Putri Karang Melenu itu,” lanjutnya berpromosi.