Orientasi: Mereka dinasihati oleh seorang nenek tua sakti untuk menyembunyikan dan mengasingkan anak-anak mereka selama 17 tahun tanpa kontak apa pun demi memberkati mereka dengan seorang cucu. Merasa wajib, mereka pun melakukan hal itu dan mengirim anak-anak mereka pergi selama 17 tahun ke depan. Anak-anak mereka yang diasingkan tumbuh dewasa dan memiliki seorang anak, salah satunya diberi nama Kodok karena ia lahir dengan wajah katak. Seiring bertambahnya usia, janji 17 tahun telah terpenuhi sehingga Kodok dan orang tuanya kembali ke kerajaan untuk bertemu kakek-neneknya.
Di sana, Kodok menghadapi begitu banyak perundungan dan ejekan dari penduduk desa karena bentuk kepalanya, beberapa mengatakan mereka lebih suka tidak memiliki anak daripada memiliki anak berkepala katak. Akhirnya, ia tumbuh dewasa dan menikahi seorang wanita baik hati yang tidak peduli jika ia berkepala katak, meskipun semua saudara perempuan wanita itu merasa jijik padanya. Mereka kemudian menyadari bahwa apa pun yang disentuhnya berubah menjadi barang mewah dan perhiasan, dan mereka menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka.
Komplikasi: Istrinya tiba-tiba hilang, dan dia tidak dapat menemukannya, ke mana pun dia mencari, sampai suatu hari dia memutuskan untuk bermain catur dengan seseorang dan kalah.
Evaluasi: Ternyata sang istri telah dilempar ke jurang oleh saudara-saudara perempuannya saat ia masih hamil sehingga melahirkan seorang anak laki-laki bernama Bakal. Mereka kemudian pindah untuk tinggal di sebuah pondok di dekatnya dan seiring bertambahnya usia Bakal, ia meninggalkan pondok untuk berjudi dengan bermain catur. Di sana, ia menang melawan ayahnya sendiri tanpa disadari dan ketika ia membawa ayahnya pulang, istri Kodok mengenalinya dan saling berpelukan. Mereka kemudian kembali ke kerajaan mereka untuk melaporkan apa yang terjadi pada istri Kodok kepada orang tuanya.
Setelah mereka melaporkan kesalahan kakak-kakak istri Kodok, para kakak perempuan itu dihukum dengan memaksa mereka berdiri menghadap air mancur di pinggir jalan. Hal ini membuat mereka menangis dan kelelahan karena kepanasan, sementara Kodok dan keluarganya menjalani sisa hidup mereka dengan bahagia—terutama setelah ayah mertua Kodok meninggal dunia sehingga ia dinobatkan sebagai penghulu Kampung Gunggung.