Komplikasi: Kesaktian seorang syekh kesultanan dapat meminta tolong unutk membangun masjid di Banten. Syekh madhum setuju dengan hal tersebut karena dia dengan pekerja lainya bersama membangun masjid di Banten. Saat mereka membangun terdapat berbagai masalah yang dilewati yaitu mustaka masjid tidak dapat dicapai karena jurangnya dan tinnginya mustaka tersebut itu berbeda. Kesultanan Banten mengatakan bahwa siapapun yang dapat melakukanya akan diberi hadiah jadi syekh medun menunjukan kesaktianya dengan terbang ke atas untuk meletakan mustaka setelah itu dia turun dengan payung. Oleh karena itu aksi Syekh merdun diberikan hadiah mustaka dari kesultanan Banten. Tetapi oleh karena iri seorang pekerja bernama Jaelani mencurinya tetapi berakhir dengan sSekh melawan kembali dan memaafkanya. Setelah kejadian pencurian mustaka itu, Syekh Medun tidak menyimpan dendam. Diat justru memilih memaafkan Jaelani dan mengajarinya arti keikhlasan. Ketulusan Syekh Medun akhirnya membuat para pekerja dan masyarakat semakin menghormatinya. Sebagai wujud rasa syukur dan kerendahan hatinya, Syekh Medun kembali ke Desa Tampeuyan dan bertapa di tengah hutan. Di sana, ia bertemu Ki Boyot yang sedang mencari sumber air bagi warga desa. Melihat perjuangan dan ketulusan itu, Syekh Medun membantu dengan menancapkan tongkatnya ke tanah. Seketika, air jernih memancar keluar dan menjadi sumur keramat yang hingga kini dikenal sebagai Sumur Jati Herang. Kejadian ini membuktikan bahwa kesaktian sejati bukan untuk kesombongan, melainkan untuk menolong sesama.