Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Sumur Keramat
Jati Herang - Coggle Diagram
Sumur Keramat
Jati Herang
Ekstrinsik
Latar Belakang Masyarakat: Sumur Jati Herang menjadi pengetahuan bagi warga - warga sekitar kampung tersebut yang mengenalnya dari mulut ke mulut.
Latar Belakang Pengarang: Widowati Sumardi adalah penulis buku Sumur Keramat Jati Herang, Widowati Sumardi telah bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk menerbit buku-buku seperti Sumur Keramat Jati Herang yang diterbit pada tahun 2016
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Cerpen: Nilai Budaya karena menunjukan tradisi dan budaya yang kampung tersebit memiliki dengan sumur Jati Herang pada bulan terang.
Intrinsik
-
Tokoh
Tokoh utama
Syekh Mahdum, Nyai (Istrinya), Maryani, Ki Boyot Santri, Kasim
Tokoh Tambahan
Kodiman, Sultan Banten, Tukang Kuli
-
Latar
Kampung tempeuyan, Sumur jati herang. banten
-
-
Alur
Abstrak: Suatu saat di Kampung Tampeuyan dengan cuaca yang cerah setelah berhari - hari hujan. Anak - anak telah menunggu untuk main - main dengan cuaca yang cerah dan menunggu sampai waktu magrib untuk berhenti dan pulang untuk sholat.
Orientasi: Sore - sore syekh Mahdum bertanya kepada istrinya Nyai jika kopi yang dinginkan sudah siap atau blm. Syek Mahdum baru selesai dari sholat ashar di Musala kecil. Syekh Mahdum adalah seorang yang percaya dalam spiritual terutama Jati Herang, Syekh Mahdum sudah berkunjung dan melaksanakan tradisinya sejak kecil, Jati Herang dapat membantu untuk mengabul doa - doa orang.
Komplikasi: Suatu saat Syekh Mahdum diperintah untuk membangun masjid, Kesultanan Banten ingin meminta tolong untuk Syekh Mahdum dan teman - temannya untuk membangun masjid lalu mereka melaksanakannya dan bekerja bareng. Namun mereka menemukan tantangan dalam pembangunan masjid yaitu mustaka masjid tidak dapat dicapai dengan tangga, karena itu kesultanan banten menantang siapapun yang nyampai keatas untuk memasangnya dapat hadiah. Syekh Mahdum menunjukan kesaktiannya dengan terbang dan melayang ke atas masjid. Karena itu Syekh Mahdum diberikan hadiah dari kesultanan banten yaitu mustaka, Namun karena itu teman kerjanya yaitu Jaelani menjadi iri dan menuju ke kampung dan saat itu Mustaka Syekh dicuri oleh Jaelani dan mereka mengatasinya dengan berkelahi dan Syekh menang dan akhirnya saling memaafkan.
Evaluasi: Setalah insiden tersebut Syekh Mahdum kembali ke kampung Tempeuyan dan menaruh Mustakanya, Di Kampung Tempeuyan anak Syekh Mahdum (Kosim) ingin melaksanakan sunat dan mengadakan acara. Setelah Kosim selasai di sunat sayangnya gong diatas kosim jatuh dan kosim meninggal karena itu.
Resolusi: Syekh Mahdum menjadi lebih bijaksana dan berasa bersalah dan sedih lalu ia melarangkan warga kampungnya untuk di membunyikan gong agar tidak membuat tragedi lagi, warga - warga mengikuti perintahnya.
Koda: Kampung Tempeuyan sudah melanggar untuk membunyikan alat gong tersebut dan mitos ini turun temurun ke cucu menjadi sebuah mitos yang dipertahankan dalam desa tersebut.
-
Amanat: Kisah ini mengajarkan untuk selalu memaafkan dan menerima musibah - musibah dan menyelesaikannya dengan damai.
-