Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Strategi Membaca: Misteri Telaga Warna - Coggle Diagram
Strategi Membaca: Misteri Telaga Warna
Struktur Ekstrinsik
Latar Belakang Masyarakat:
Nama : Eem Suhaemi
Pos-el :
mr_mustakim@yahoo.com
Bidang Keahlian : Kepenulisan
Riwayat Pekerjaan: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta (1988—sekarang)
Riwayat Pendidikan:
S-1 di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung
(1987)
S-1 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas
Indonesia, Jakarta (1993)
Informasi Lain: Lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada tanggal 7 Mei 1963.
Latar Belakang Pengarang:
Cerpen “Telaga Warna” merupakan cerita rakyat Jawa Barat yang diceritakan turun-temurun untuk mengajarkan nilai kehidupan dan moral kepada masyarakat.
Nilai- Nilai yang Terkandung:
Cerpen ini mengandung nilai kebaikan, tanggung jawab, dan keikhlasan, terutama dalam menghadapi akibat dari kesalahan dan keserakahan.
Nilai Agama:
Mengajarkan untuk tidak sombong dan selalu bersyukur atas pemberian Tuhan, karena kesombongan adalah dosa yang dapat membawa malapetaka.
Nilai Sosial:
Menunjukkan pentingnya hubungan yang harmonis antara raja, rakyat, dan keluarga, serta saling menghormati satu sama lain.
Nilai Moral:
Keserakahan dan sifat sombong akan berakhir dengan penyesalan. Kita harus rendah hati dan berbuat baik kepada sesama.
Nilai Budaya:
Mencerminkan budaya kerajaan Nusantara yang kental dengan adat istiadat, penghormatan pada orang tua, dan kepercayaan pada kekuatan alam.
Struktur Instrinsik
Tema:
Kesombongan dan ketamakan dapat membawa kehancuran serta penyesalan.
Tokoh dan Penokohan
Tokoh Tambahan:
Prabu Swarnalaya — ayah yang penyabar dan bijak.
Ratu Purbamanah — ibu yang lembut dan penyayang.
Patih Sonyarangi — penasihat kerajaan yang setia dan bijaksana.
Rakyat kerajaan — menggambarkan masyarakat yang hormat pada raja.
Tokoh utama: Dewi Kuncung Biru. Putri yang cantik tapi sombong, manja, dan serakah.
Latar, Alur dan Plot
Tempat: Kerajaan Kuta Tanggeuhan dan hutan sekitar kerajaan.
Waktu: Zaman kerajaan dahulu kala.
Suasana: Awalnya bahagia dan damai, berubah menjadi tegang dan sedih ketika bencana terjadi.
Alur Maju:
Abstrak:
Cerita ini mengisahkan asal-usul Telaga Warna di Puncak, yang bermula dari kesedihan Raja dan Ratu Kuta Tanggeuhan karena belum memiliki anak.
Orientasi:
Prabu Swarnalaya dan Ratu Purbamanah memimpin Kerajaan Kuta Tanggeuhan dengan makmur, namun merasa hampa karena tidak dikaruniai seorang putra.
Komplikasi:
Sang Prabu merasa gelisah dan sedih hingga memanggil para ahli nujum untuk mencari solusi. Ia mengetahui bahwa kesalahannya berburu di Gunung Mas telah menyebabkan dirinya kehilangan keturunan.
Evaluasi: Prabu Swarnalaya menyesal dan bertekad menebus dosanya dengan melakukan semedi di gua bawah pohon besar di Gunung Mas, sesuai petunjuk ahli nujum.
Resolusi: Dengan penyesalan dan ketulusan hati, Sang Prabu menjalani semedi, dan dari peristiwa itulah muncul legenda tentang Telaga Warna, yang diyakini berasal dari air mata penyesalan dan doa Sang Raja serta Ratu.
Koda: Dari peristiwa itu, orang-orang menyadari bahwa keserakahan dan ketamakan dapat membawa malapetaka. Telaga Warna menjadi pengingat agar manusia selalu rendah hati dan tidak serakah terhadap harta.
Sudut pandang, Gaya bahasa dan Amanat
Sudut pandang: Orang ketiga serba tahu, karena pengarang menceritakan semua peristiwa dari luar tokoh utama.
Amanat: Hindari sifat sombong dan tamak terhadap apa yang dimiliki, karena keserakahan dapat mendatangkan penyesalan dan kehancuran.
Gaya Bahasa:
Personifikasi: Memberi sifat manusia pada benda mati, Di dalam cerita: “Langit seakan ikut bersedih saat putri menangis.”
Simile: Membandingkan dua hal dengan kata seperti atau bagaikan, Di dalam cerita: “Putri itu cantik bagaikan bidadari turun dari kayangan.”
Hiperbola: Ungkapan berlebihan untuk menekankan perasaan, Di dalam cerita: “Tangis sang putri tidak berhenti hingga membentuk telaga.”
Metafora: Perbandingan tidak langsung tanpa kata penghubung, Di dalamc cerita: “Ia adalah bunga istana yang angkuh.”