Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Cerita: Misteri Telaga Warna - Coggle Diagram
Cerita: Misteri Telaga Warna
Struktur Intrinsik
Tema: Keserakahan dan akibat dari sifat sombong serta tidak tahu bersyukur.
Tokoh & Penokohan:
Dewi Kuncung Biru: putri cantik, manja, sombong, egois.
Prabu Swarnalaya: ayah bijaksana tapi lembut hati.
Ratu Purbamanah: ibu sabar, penuh kasih.
Para prajurit & rakyat: setia dan hormat kepada raja.
Alur Maju (progresif)
Abstrak: Menceritakan tentang sebuah kerajaan di Jawa Barat yang makmur dan dipimpin oleh Prabu Swarnalaya bersama Ratu Purbamanah. Mereka sangat bahagia tapi belum punya anak.
Orientasi: Setelah lama menunggu, ratu akhirnya melahirkan seorang putri cantik bernama Dewi Kuncung Biru. Kerajaan bersuka cita. Namun, sejak kecil sang putri dimanjakan sehingga tumbuh menjadi sombong dan egois.
Komplikasi: Ketika dewasa, Dewi Kuncung Biru ingin merayakan ulang tahun besar-besaran dan meminta permintaan aneh: setiap helai rambutnya harus dihiasi permata. Permintaan ini membuat semua orang kebingungan dan khawatir.
Evaluasi: Saat pesta dimulai, permata yang dibuat tidak sesuai keinginannya. Dewi Kuncung Biru marah besar, melempar kotak perhiasan, dan menangis histeris. Langit mendung, petir menyambar, dan bumi bergetar.
Resolusi: Tiba-tiba istana dan seluruh kerajaan tenggelam ke dalam tanah, berubah menjadi sebuah telaga yang indah berwarna-warni. Telaga itu kemudian dikenal sebagai Telaga Warna.
Koda: Cerita ini mengingatkan bahwa keserakahan dan kesombongan akan membawa bencana. Kita harus bersyukur dan tidak berlebihan dalam keinginan.
Latar (Setting):
Tempat: Istana Kuta Tanggeuhan, hutan, Telaga Warna.
Waktu: Zaman kerajaan dulu.
Suasana: awalnya bahagia dan megah, berubah jadi mencekam dan tragis.
Struktur Ekstrinsik
Nilai Moral:Mengajarkan agar manusia tidak tamak, selalu bersyukur, dan menghargai orang tua.
Nilai Sosial: Menggambarkan hubungan antara rakyat dan raja yang saling menghormati.
Nilai Budaya: Mengandung unsur budaya kerajaan Indonesia (pesta, adat, penghormatan pada orang tua).
Nilai Religius/Agama: Mengingatkan bahwa alam dan Tuhan bisa murka pada kesombongan manusia.
Latar sosial masyarakat: Masyarakat kerajaan yang makmur dan taat pada pemimpinnya.
Tentang Penulis
Nama : Eem Suhaemi
Bidang Keahlian : Kepenulisan
Riwayat Pekerjaan: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta (1988—sekarang)
Riwayat Pendidikan
:
S-1 di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung (1987).
S-1 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas
Indonesia, Jakarta (1993)
Lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada tanggal 7 Mei 1963.