Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
IKTERUS - Coggle Diagram
IKTERUS
Leptospirosis
Karakteristik
Leptospirosis Ringan
Demam mendadak, menggigil
Nyeri otot hebat (betis, punggung bawah)
Mata merah (konjungtival suffusion)
Mual, muntah
Mungkin sembuh sendiri
Leptospirosis Berat (Weil's Disease)
Ikterus
Gagal ginjal (oliguria)
Perdarahan (gusi, epistaksis, hemoptisis)
Hepatosplenomegali
Sesak, distress napas
Definisi : Infeksi zoonosis akut oleh bakteri Leptospira interrogans yang ditularkan melalui kontak dengan air/tanah yang terkontaminasi urine hewan (terutama tikus), ditandai dengan demam, nyeri otot, dan pada kasus berat: ikterus, gagal ginjal, dan perdarahan.
Penegakan Diagnosa
Anamnesis : riwayat bekerja/beraktivitas di lingkungan lembap, banjir, sawah, selokan; demam akut + nyeri betis
PF : demam tinggi, konjungtiva merah tanpa sekret, hepatomegali, ikterus, tanda dehidrasi
Lab
Leukositosis, trombositopenia
Kreatinin ↑, bilirubin ↑
SGOT/SGPT ↑ ringan
Pemeriksaan spesifik
Uji serologi MAT (Microscopic Agglutination Test)
PCR Leptospira (awal penyakit)
Kultur darah/urin (fase awal)
Tatalaksana
Kasus ringan:
Doksisiklin / Amoksisilin / Eritromisin
Kasus berat (Weil’s Disease):
Penisilin G IV 1,5 juta IU/6 jam
Alternatif: Ceftriaxone / Cefotaxime IV
Koreksi cairan, dialisis bila gagal ginjal
Transfusi bila perdarahan berat
Edukasi dan Pencegahan
Hindari kontak langsung dengan air kotor/banjir
Gunakan pelindung (sepatu boots, sarung tangan) saat bekerja di area lembap
Kendalikan populasi tikus
Profilaksis doksisiklin mingguan untuk pekerja risiko tinggi
Edukasi tanda bahaya: ikterus, sesak, perdarahan, oliguria
Prognosis :
Leptospirosis ringan: ad bonam
Weil’s disease: dubia ad malam, mortalitas tinggi bila gagal ginjal dan perdarahan paru tidak ditangani segera
Patogenesis
Demam tinggi
Infeksi Leptospira → masuk ke darah (leptospiremia) → sistem imun teraktivasi.
Pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, TNF, IFN) → hipotalamus menaikkan suhu tubuh → muncul demam tinggi mendadak.
Konjungtiva merah
Leptospira → menyerang kapiler konjungtiva → vasodilatasi dan kebocoran plasma ringan.
Tidak ada infeksi sekunder → tidak ada nanah atau sekret, hanya tampak kemerahan.
Hepatomegali
nfeksi sistemik → hati terpapar leptospira → inflamasi hepatosit ringan → hati membesar.
Ikterus
Hepatoseluler rusak akibat infeksi → bilirubin konjugasi dan unconjugated meningkat → kulit dan sklera kuning.
Lebih sering terjadi pada bentuk Weil’s disease (severe leptospirosis).
Tifoid
Karakteristik
Demam bertahap (step ladder)
Sakit kepala, malaise
Nyeri perut, konstipasi atau diare ringan
Lidah tifoid (kotor tengah, tepi merah)
Definisi : Infeksi sistemik oleh Salmonella typhi melalui makanan/minuman terkontaminasi, menyebabkan demam berkepanjangan, gangguan pencernaan, dan komplikasi usus.
Penegakkan Diagnosis
Anamnesis: demam >7 hari, nyeri perut, riwayat makanan tidak higienis
Pemeriksaan Fisik: lidah tifoid, hepatosplenomegali, rose spots
Lab: Leukopenia / leukositosis ringan, Trombositopenia bisa ada, Kultur darah (gold standard), Uji Widal (sensitivitas terbatas)
Red Flag: perforasi usus, perdarahan GI, syok sepsis
Tatalaksana
Antibiotik
Kloramfenikol (jarang dipakai, resistensi tinggi) -
Fluoroquinolon (cipro/ofloxacin)
Ceftriaxone, cefotaxime, azithromycin
Simptomatik: antipiretik, rehidrasi
Komplikasi: pembedahan bila perforasi, transfusi bila perdarahan
Edukasi dan pencegahan
Jaga kebersihan makanan & minuman
Cuci tangan sebelum makan
Hindari jajan sembarangan
Vaksin tifoid (oral/IM)
Edukasi tanda bahaya: perut sangat nyeri, BAB hitam, melena, muntah darah
Prognosis
ad bonam dengan terapi adekuat
Patogenesis
Demam lama
Infeksi Salmonella Typhi → masuk ke usus → lamina propria → sistem limfatik → masuk darah (bakteremia).
Aktivasi sistem imun → pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, TNF, IFN) → demam menetap tinggi selama 1–2 minggu.
Nyeri perut : Salmonella Typhi → menginvasi Peyer’s patches (usus ileum) → inflamasi lokal → nyeri perut, kadang kram, mual, dan diare/konstipasi ringan.
Hepatosplenomegali : Bakteremia → sistem retikuloendotelial di hati dan limpa menangkap bakteri → inflamasi dan proliferasi sel imun → pembesaran hati (hepatomegali) dan limpa (splenomegali).
Rose spots
Bakteremia → bakteri menyebar ke kapiler dermis → inflamasi ringan → muncul ruam makulopapular merah muda di dada & abdomen.
Biasanya muncul pada minggu ke-2 demam, sedikit gatal, dan bersifat transient.
Lidah tifoid : Infeksi sistemik → dehidrasi + inflamasi mukosa oral → papilla lidah menonjol, permukaan merah terang → tampilan “lidah tifoid”.
HEPATITIS
Definisi : Peradangan hati akibat infeksi virus hepatitis (A, B, C, D, E), toksin, atau autoimun, yang menimbulkan kerusakan hepatosit → hiperbilirubinemia → ikterus.
Penegakan Diagnosis
Anamnesis : riwayat transfusi, penggunaan obat, perilaku berisiko, konsumsi alkohol
PF : ikterus sclera, hepatomegali, nyeri tekan hati
Lab :
SGOT/SGPT ↑ (>10x normal pada hepatitis akut)
Bilirubin total & direct ↑
Serologi (HBsAg, anti-HCV, IgM anti-HAV, dsb.)
Tatalaksana
Simptomatik & suportif: istirahat cukup, cairan cukup
Farmakologis:
Antivirus sesuai etiologi (misal Tenofovir untuk HBV, DAAs untuk HCV)
Hepatoprotektor (adjuvan)
Komplikasi: manajemen ensefalopati (laktulosa, rifaksimin), ascites (diuretik, paracentesis)
Edukasi & Pencegahan
Hindari alkohol & hepatotoksik
Vaksinasi (HAV, HBV)
Perilaku hidup bersih, tidak berbagi jarum/alat tajam
Edukasi kontak erat tentang risiko penularan
Nutrisi tinggi karbohidrat, rendah lemak, cukup protein
Prognosis
Hepatitis A & E: ad bonam (self limiting)
Hepatitis B & C: dubia ad bonam, risiko kronis/sirosis/karsinoma hepatoseluler
Hepatitis fulminan: ad malam bila tidak ditangani segera
Karakteristik : ikterus mendadak, demam, mual, muntah, nyeri perut kanan atas, hepar membesar, nyeri tekan
Patogenesis
Sklera ikterik
Hepatitis → peradangan dan kerusakan hepatosit → bilirubin tidak dimetabolisme dengan baik.
Bilirubin menumpuk di darah → disimpan di jaringan dengan kolagen tinggi, termasuk sklera mata → tampak kuning.
Hepatomegali
Inflamasi hepatosit → edema dan infiltrasi sel imun → pembesaran hati.
Hepatoseluler yang rusak + regenerasi → menambah ukuran hati → hepatomegali ringan sampai sedang.
Nyeri tekan hati
Hepatomegali → kapsula Glisson meregang → stimulasi reseptor nyeri kapsula.
Inflamasi lokal → menimbulkan nyeri tekan di kuadran kanan atas (RUQ)
Jaundice
Mekanisme:
Hepatosel rusak → bilirubin konjugasi tidak dikeluarkan ke empedu → bilirubin meningkat di plasma.
Akumulasi bilirubin → terlihat pada kulit, mukosa, dan sklera.
DENGUE
Karakteristik
Demam Dengue
Demam tinggi mendadak, bifasik
Nyeri kepala, retroorbital
Mialgia, artralgia
Ruam kulit (flush/eritroderma)
Demam Berdarah Dengue
Trombositopenia
Hemokonsentrasi (Ht ↑)
Perdarahan: petekie, epistaksis, gusi
Hepatomegali
Fase kritis: hari ke-4–6 → kebocoran plasma
Dengue Shock Syndrome
Tanda syok : nadi cepat lemah, hipotensi
Ekstremitas dingin, CRT >2 detik
Penurunan kesadaran (hipoperfusi otak)
Definisi : Infeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti/albopictus yang dapat menimbulkan spektrum klinis dari demam ringan, demam berdarah, hingga syok.
Penegakan Dx
Anamnesis: demam tinggi akut, riwayat daerah endemis
Pemeriksaan Fisik: uji tourniquet positif, ruam, hepatomegali, tanda syok
Lab: Trombosit <100.000/µL, Hematokrit ↑ ≥20%, Leukopenia, Serologi NS1 antigen/IgM/IgG dengue
Red Flag: syok, perdarahan masif, asites/efusi pleura, ensefalopati
Tatalaksana
DD/DHF tanpa syok: terapi suportif, cairan oral, antipiretik (parasetamol), hindari NSAID
DHF dengan syok (DSS): cairan intravena cepat (kristaloid/kolloid bila perlu)
Monitor ketat: TTV, output urin, hematokrit, trombosit
Transfusi bila perdarahan masif
Edukasi dan pencegahan
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN: 3M)
Hindari gigitan nyamuk (kelambu, repelan)
Vaksinasi dengue (syarat: sudah pernah terinfeksi sebelumnya)
Edukasi tanda bahaya: muntah terus-menerus, perdarahan, penurunan kesadaran, sesak
Prognosis
DD: ad bonam (self limiting)
DHF: dubia ad bonam, tergantung deteksi dini & tata laksana cairan
DSS: ad malam bila syok tidak ditangani cepat
Patogenesis
Demam tinggi
Virus dengue masuk → diambil oleh sel dendritik & monosit → pelepasan sitokin proinflamasi (IL-1, TNF, IFN).
Sitokin → hipotalamus → menaikkan suhu tubuh → muncul demam tinggi mendadak (39–40°C).
Demam bifasik
Fase awal demam tinggi → sedikit menurun → fase kedua muncul lagi karena replikasi virus dan respon imun lanjutan → demam dua puncak.
Nyeri kepala
Sitokin proinflamasi + vasodilatasi → meningkatkan tekanan pada pembuluh darah dan meninges → muncul sakit kepala frontal atau retroorbital.
Myalgia & artralgia
Sitokin dan mediator inflamasi → merangsang reseptor nyeri pada otot & sendi → rasa pegal, nyeri hebat.
Inilah sebabnya dengue disebut juga “breakbone fever”.
Ruam kulit
Reaksi imun terhadap virus → vasodilatasi & kebocoran kapiler ringan → muncul ruam makulopapular, kadang petekial.
Biasanya muncul pada hari 3–5 demam.
Trombositopenia
Virus dengue → menyerang megakariosit & sumsum tulang → produksi trombosit menurun.
Trombosit juga dihancurkan di limpa → terjadi trombositopenia.
Hemokonsentrasi
Virus dengue → merusak sel endotel kapiler → kebocoran plasma → volume plasma berkurang → hematokrit meningkat.
Perdarahan
Trombositopenia + disfungsi platelet + kebocoran kapiler → mudah memar, mimisan, perdarahan gusi, hematemesis → manifestasi perdarahan dengue.
Syok
Kebocoran plasma masif → volume intravaskular turun drastis → hipotensi & syok kardiogenik/hipovolemik.
Tanda: tekanan darah turun, nadi cepat, kulit dingin & lembap.
Malaria
Karakteristik
Malaria non komplikasi
Demam periodik (tertiana: setiap 48 jam / kuartana: setiap 72 jam)
Menggigil → demam tinggi → berkeringat
Sakit kepala, mialgia
Splenomegali, hepatomegali ringan
Anemia
Malaria komplikasi / malaria berat
Cerebral malaria: penurunan kesadaran, kejang
Severe anemia: Hb <5 g/dL
Gagal ginjal akut: oliguria, kreatinin ↑
Distress pernapasan: edema paru
Hipoglikemia
Syok / ikterus
Tatalaksana
Malaria tanpa komplikasi:
Plasmodium falciparum: ACT (Artemisinin Combination Therapy) → Artemeter-Lumefantrin / Artesunat-Amodiaquine
Plasmodium vivax/ovale: ACT + primakuin (eradikasi hipnozoit)
Malaria berat:
Artesunat IV / IM (gold standard) → dilanjutkan ACT oral setelah stabil
Cairan, transfusi bila anemia berat, koreksi hipoglikemia
Edukasi dan Pencegahan
Menghindari gigitan nyamuk (kelambu, repelan, pakaian panjang)
Fogging & eliminasi sarang nyamuk (genangan air)
Profilaksis malaria (untuk pelancong ke daerah endemis: misalnya doksisiklin, atovakuon-proguanil)
Edukasi kepatuhan minum obat sampai tuntas
Prognosis
Malaria non-komplikasi: ad bonam bila terapi adekuat
Malaria falciparum berat: dubia ad malam, mortalitas tinggi bila tidak segera ditangani
Patogenesis
Demam
Plasmodium masuk ke eritrosit dan berkembang biak.
Saat eritrosit pecah → merozoit dilepas ke darah.
Pecahan sel dan antigen Plasmodium → merangsang sistem imun → pelepasan sitokin (IL-1, TNF).
Sitokin → memicu hipotalamus menaikkan suhu tubuh → muncul demam dan menggigil.
Pucat
Lisis eritrosit → hilangnya hemoglobin → anemia hemolitik.
Limpa menangkap dan menghancurkan eritrosit yang terinfeksi → memperparah anemia.
Penurunan hemoglobin → kulit dan mukosa tampak pucat.
Ikterus
Eritrosit yang hancur melepaskan hemoglobin → diubah menjadi bilirubin.
Bilirubin menumpuk di darah → kulit dan sklera kuning.
Infeksi berat atau kerusakan hati ringan akibat Plasmodium → menambah kadar bilirubin.
Hepatomegali
Hati adalah tempat reproduksi awal Plasmodium → sel hati bekerja keras → hepatomegali ringan.
Inflamasi lokal di hepatosit → membesarkan hati sedikit.
Definisi : Penyakit infeksi oleh parasit Plasmodium (falciparum, vivax, malariae, ovale, knowlesi) melalui gigitan nyamuk Anopheles betina, ditandai dengan demam periodik, anemia, dan splenomegali, dapat berkembang menjadi malaria berat.
Penegakan Diagnosa
Anamnesis: riwayat bepergian/tinggal di daerah endemis, gejala demam periodik
Pemeriksaan Fisik: pucat, ikterus, splenomegali, hepatomegali
Lab: Apusan darah tepi / sediaan darah tebal (gold standard) - RDT malaria (antigen HRP2/pLDH) - Hb, trombositopenia, fungsi ginjal & hati
Red Flag: penurunan kesadaran, ikterus, gagal ginjal, distress napas, syok