Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Terapi Gangguan Pencernaan: Ulkus Peptikum dan Gerd, pasien khusus, Nadya…
Terapi Gangguan Pencernaan:
Ulkus Peptikum dan Gerd
ULKUS PEPTIKUM
berdasarkan
Patofisiologi
terjadi karena
infeksi H. pylori
mekanisme
H. pylori menempel ke epitel lambung. Kemudian, H. pylori menghasilkan urease yang menghidrolisis urea menjadi amonia dan membuat pH lambung menjadi netral sehingga bakteri dapat terlindungi dari asam lambung.
penggunaan NSAID
mekanisme
NSAID bersifat iritan yang dapat menurunkan kemampuan lapisan gel mukus di mukosa lambung dalam menahan air untuk melindungi lambung dari asam
NSAID menghambat COX-1 dalam mensintesis prostaglandin yang berfungsi melindungi mukosa lambung dari asam lambung
Stres
mekanisme
Hormon katekolamin (epinefrin dan norepinefrin) dilepaskan dan mengikat reseptor adrenergik yang tersebar di saluran gastrointestinal
menyebabkan
vasokonstriksi pada pembuluh darah gastrointestinal sehingga terjadi hipoperfusi splankink (aliran darah ke organ splankink berkurang)
1 more item...
tatalaksana terapi
pasien umum
terdiri dari
Jika pasien memiliki riwayat menggunakan NSAID, stop penggunaan obat tersebut atau bila pasien memiliki penyakit lain yang mengharuskan penggunaan NSAID, kurangi dosisnya
Jika pasien mengalami gejala yang berbahaya dan didiagnosa terinfeksi H. pylori, eradikasi bakteri dengan penggunaan regimen obat untuk eradikasi H. pylori
selanjutnya
Jika pasien terinfeksi H. pylori dan dalam penggunaan NSAID, terapi dapat mengombinasikan NSAID dengan obat-obatan untuk eradikasi H. pylori
misalnya
misalnya NSAID selektif COX 2 + PPI atau NSAID nonselektif + PPI
monitoring terapi
terdiri dari
Parameter Subjektif
yakni
Resolusi nyeri gastrium, pola nyeri khas ulkus, gejala lain (kembung, mual, muntah)
Parameter Objektif
yakni
Status anemia, pemantauan nutrisi, dan pemantauan efek PPI jangka panjang
Parameter Spesifik
yakni
Tes konfirmasi H. pylori, gastrin serum, dan endoskopi konfirmasi penyembuhan
Penilaian Fisik
yakni
Penilaian berat badan, tanda-tanda vital, dan pemeriksaan abdomen
GERD
berdasarkan
Patofisiologi
terjadi karena
LES (Lower Esophageal Sphincter) melemah yang menyebabkan katupnya tidak tertutup rapat sehingga asam lambung naik ke esofagus
dengan gejala utama
heartburn, nyeri dada nonkardiak, regurgitasi
monitoring terapi
terdiri dari
Parameter Objektif
yakni
Status anemia, pemantauan nutrisi, dan pemantauan efek PPI jangka panjang
Parameter Spesifik
yakni
Endoskopi saluran cerna atas dan pemantauan refluks ambulatori
Parameter Subjektif
yakni
Resolusi gejala utama, gejala esofageal, dan tidak ada gejala berbahaya
Penilaian Fisik
yakni
Penilaian berat badan, tanda-tanda vital, dan pemeriksaan abdomen
tatalaksana terapi
pasien khusus
terdiri dari
Pediatri
dilakukan dengan
Terapi First-line menggunakan PPI
jika tidak berhasil
Terapi Last-line dengan pembedahan jika sudah mengalami komplikasi GERD yang mengancam jiwa
Ibu Hamil
terapi yang dilakukan
nonfarmakologi
yakni
mengubah pola hidup
farmakologi
yakni
Step 1 : Antasida atau alginat (bikarbonat dan magnesium trisilikat sebaiknya dihindari dalam penggunaan jangka panjang).
Step 2 : Sukralfat memiliki penyerapan minimal, sehingga sukralfat dianggap aman untuk digunakan pada kehamilan.
Step 3 : Cimetidine, famotidine, dan nizatidine dikategorikan oleh FDA AS sebagai obat kategori B untuk kehamilan.
Step 4 : lansoprazole dan pantoprazole dianggap sebagai yang paling aman
pasien umum
dilakukan dengan
pengisian Gerd-Questionnaire untuk menentukan apakah pasien menderita penyakit tersebut
kemudian
Jika pasien tidak mengalami gejala berbahaya, dilakukan PPI test dengan memberikan dosis tunggal selama 2-4 minggu
apabila masih ditemukan gejala GERD
Lanjut pemberian PPI dosis ganda selama 4-8 minggu
penggolongan obat yang digunakan untuk Ulkus Peptikum dan Gerd
Proton Pump Inhibitor
(PPI)
mekanisme kerja
PPI yang diubah oleh proton menjadi bentuk aktif berupa sulfenamida tetrasiklin akan terperangkap dan berikatan kovalen irreversible dengan residu sistein pada pompa proton
menyebabkan
Pompa proton dinonaktifkan sehingga sekresi asam lambung menurun
terdiri dari
Omeprazole
Lansoprazole
Pantoprazole
H2-Receptor Antagonist (H2RA)
mekanisme kerja
Menghalangi ikatan histamin pada reseptor H2 dan menonaktifkan jalur adenilat siklase sehingga tidak terjadi pembentukan cAMP
menyebabkan
Pompa H⁺/K⁺-ATPase tidak terstimulasi sehingga menghambat produksi asam
terdiri dari
Ranitidine
Cimetidine
Famotidine
Prostaglandin Analogue
mekanisme kerja
Misoprostol berikatan dengan reseptor EP3 dan mengaktivasi jalur Gi
menyebabkan
Kadar cAMP intraseluler menurun dan mengurangi aktivitas pompa H⁺/K⁺-ATPase
terjadi
Menurunnya sekresi asam lambung
contoh obat
Misoprostol
Cytoprotective Agent
mekanisme kerja
Sukralfat mengalami polimerisasi di pH lambung yang asam menjadi gel atau pasta kental sehingga dapat menempel pada permukaan epitel dan dasar ulkus
terbentuk
Lapisan pelindung yang menutupi lesi, melindungi mukosa dari paparan asam lambung, pepsin, dan garam empedu
contoh obat
Sukralfat
Antibiotik
contoh obat
Metronidazole
mekanisme
Metronidazole direduksi menjadi senyawa aktif di dalam sel anaerob yang kemudian merusak DNA dengan menyebabkan pemutusan rantai
Bismuth Subsalisilat
mekanisme
Bismuth subsalisilat akan berinteraksi dengan H. pylori dan mukosa di lambung yang menyebabkan terganggunya dinding sel bakteri dan mengurangi adhesi H. pylori ke mukosa sehingga proteksi mukosa meningkat
Klaritromisin
mekanisme
Mengikat subunit ribosom 50S bakteri dan menghambat translokasi peptidil-tRNA sehingga sintesis protein bakteri terganggu
Antasida
mekanisme kerja
Antasida yang terionisasi menjadi gugus basa akan menangkap ion H+ dari asam lambung yang menyebabkan terbentuknya air dan garam sehingga dapat menetralisasi asam lambung dengan cepat
contoh obat
Mylanta
Promag
pasien khusus
terdiri dari
Ibu Hamil
terapi yang dilakukan
farmakologis
menggunakan
Lini pertamanya Antasida atau Sukralfat. Kalau masih persisten, beri H2RA. Jika masih persisten, beri PPI. Kemudian lakukan EGD jika masih persisten. Apabila positif H. pylori maka menggunakan terapi antibiotik
nonfarmakologis
dilakukan
Perubahan gaya hidup seperti tidak mengonsumsi makanan pedas dan berlemak, NSAID, kafein, alkohol, minuman asam, merokok, makan sebelum tidur, serta stress
Pediatri
jika disebabkan oleh
H. pylori
dapat menggunakan
Terapi sekuensial: PPI (1-2 mg/kg/hari), AMPC (50 mg/kg/hari) selama 5 hari, kemudian PPI (1-2 mg/kg/hari), CAM (20 mg/kg/hari), dan MNZ (20 mg/kg/hari) selama 5 hari
Terapi quadruple berbasis bismut: PPI (1-2 mg/kg/hari), bismuth subsalicylate (8 mg/kg/hari), AMPC (50 mg/kg/hari), dan MNZ (20 mg/kg/hari)
Terapi triple standar: PPI (1-2 mg/kg/hari), AMPC (50 mg/kg/hari), CAM (20mg/kg/hari), atau MNZ (20 mg/kg/hari)
NSAID
dapat dilakukan
penghentian penggunaan NSAID dan mulai mengonsumsi PPI
Nadya Aryanti Beni 2406397201 Mind Map Modul Cerna UTS
Ulkus Peptikum & Gerd