Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
HIPERTENSI - Coggle Diagram
HIPERTENSI
Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg secara menetap, yang diakibatkan oleh peningkatan resistensi vaskuler perifer dan/atau peningkatan curah jantung.
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena sering tidak menimbulkan gejala tetapi dapat menimbulkan kerusakan organ target seperti jantung (gagal jantung), otak (stroke), ginjal (gagal ginjal), dan pembuluh darah perifer.
Gejala
Gejala Umum
Sakit kepala (terutama di belakang kepala, pagi hari)
Pusing atau berkunang-kunang
Mudah lelah, lemas
Jantung berdebar (palpitasi)
Mimisan (epistaksis)
Gangguan tidur
Gejala Lanjutan (bila sudah ada dampak organ target)
Sesak napas (jika ada gagal jantung)
Nyeri dada (angina, infark miokard)
Penglihatan kabur / buram (retinopati hipertensif)
Kesemutan atau kelemahan anggota gerak (stroke)
Bengkak pada tungkai (edema akibat gangguan ginjal atau jantung)
Penatalaksanaan
Non-Farmakologis (Perubahan Gaya Hidup)
Mengatur diet (DASH diet): rendah garam (<5 g/hari), rendah lemak jenuh, tinggi serat.
Mengurangi berat badan bila obesitas.
Berhenti merokok & alkohol.
Olahraga teratur (30 menit, 3–5x/minggu).
Mengurangi stres dengan relaksasi.
Membatasi konsumsi kafein.
Farmakologis (Obat Antihipertensi)
Diuretik (hidroklorotiazid, furosemid).
ACE Inhibitor / ARB (captopril, lisinopril, candesartan).
Calcium Channel Blocker (amlodipin, nicardipin).
Beta Blocker (propranolol, atenolol).
Vasodilator bila diperlukan (hidralazin).
Monitoring & Pencegahan Komplikasi
Memantau tekanan darah rutin.
Memantau tanda vital dan fungsi organ target (jantung, ginjal, serebral).
Mengontrol faktor risiko (diabetes, dislipidemia).
Edukasi pasien & keluarga mengenai kepatuhan minum obat dan perubahan gaya hidup.
Komplikasi
Otak (Neurologis)
Stroke iskemik
Stroke hemoragik (perdarahan otak)
Transient Ischemic Attack (TIA)
Ensefalopati hipertensif
Jantung (Kardiovaskular)
Gagal jantung
Infark miokard (serangan jantung)
Aritmia
Kardiomegali (pembesaran jantung)
Penyakit jantung koroner
Ginjal
Gagal ginjal kronis
Nefrosklerosis
Proteinuria
Mata
Retinopati hipertensif
Perdarahan retina
Ablasio retina (jarang)
Gangguan penglihatan bahkan kebutaan
Pembuluh Darah Perifer
Aneurisma aorta
Diseksi aorta
Penyakit arteri perifer (klaudikasio, gangrene)
Pencegahan
Pencegahan Primer (Sebelum Terjadi Hipertensi)
Mengatur pola makan sehat (rendah garam, rendah lemak, tinggi serat).
Menjaga berat badan ideal.
Olahraga teratur (30 menit, 3–5x/minggu).
Menghindari rokok, alkohol, dan kafein berlebihan.
Mengelola stres dengan relaksasi atau meditasi.
Istirahat cukup dan teratur.
Pencegahan Sekunder (Bagi Penderita Hipertensi)
Memeriksa tekanan darah secara rutin.
Mengikuti program pengobatan sesuai anjuran dokter.
Membatasi konsumsi garam dan makanan olahan.
Mengontrol penyakit penyerta (diabetes, dislipidemia).
Edukasi pasien & keluarga tentang tanda bahaya hipertensi (pusing hebat, mimisan, nyeri dada).
Pencegahan Tersier (Menghindari Komplikasi)
Deteksi dini kerusakan organ target (jantung, ginjal, otak, retina).
Rehabilitasi dan kontrol ketat bagi pasien dengan komplikasi hipertensi.
Mematuhi diet dan gaya hidup sehat jangka panjang.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: tampak lemah, sakit kepala, pusing, kadang epistaksis
Tanda vital: TD ↑ ≥140/90 mmHg (contoh kasus bisa sampai krisis), N ↑, RR ↑ bila ada sesak, suhu normal
Jantung: ictus cordis bergeser, kardiomegali, bunyi jantung tambahan
Paru: ronki bila ada edema paru
Abdomen: asites bila komplikasi ginjal/jantung
Ekstremitas: akral pucat, dingin, edema perifer
Mata: retinopati hipertensif (perdarahan, eksudat, papil edema)
Neurologis: kelemahan anggota gerak, penurunan kesadaran bila komplikasi serebrovaskular
Faktor Risiko
Tidak Dapat Diubah (Non-Modifiable)
Usia lanjut (≥ 40 tahun, risiko meningkat seiring usia)
Jenis kelamin (pria lebih berisiko pada usia muda, wanita meningkat setelah menopause)
Genetik / Riwayat keluarga hipertensi
Ras/etnis tertentu (misalnya Afrika-Amerika lebih berisiko)
Dapat Diubah (Modifiable)
Obesitas / kelebihan berat badan
Kurang aktivitas fisik (sedentary lifestyle)
Pola makan tinggi garam, lemak jenuh, rendah serat
Konsumsi alkohol berlebihan
Merokok
Kebiasaan minum kopi/kafein berlebihan
Stres psikologis
Kurang tidur
Kondisi Medis Terkait
Diabetes mellitus
Dislipidemia (kolesterol tinggi)
Penyakit ginjal kronis
Sleep apnea
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Darah rutin: Hb, hematokrit, leukosit, trombosit.
Kimia darah: ureum, kreatinin, elektrolit (Na, K, Cl), glukosa darah, profil lipid.
Urinalisis: proteinuria, hematuria → menilai fungsi ginjal.
Pemeriksaan Jantung
EKG (Elektrokardiografi): mendeteksi hipertrofi ventrikel kiri, aritmia, iskemia.
Ekokardiografi: menilai fungsi jantung, kardiomegali, gagal jantung.
Pemeriksaan Pencitraan
Foto Thorax (Rontgen dada): melihat kardiomegali, elongasio aorta, edema paru.
USG Ginjal: menilai ukuran, struktur, dan adanya penyakit ginjal.
CT Scan / MRI Otak: bila ada gejala neurologis (stroke, TIA, perdarahan otak).
Diagnosa Keperawatan
Risiko Perdarahan b.d Aneurisma
Tingkat perdarahan
Intervensi
Monitor perdarahan → observasi tanda & gejala perdarahan, nilai Hb/Ht, TTV, serta status koagulasi.
Batasi aktivitas & tindakan invasif → anjurkan bed rest, hindari pemeriksaan rektal.
Edukasi pasien & keluarga → kenali tanda perdarahan, hindari aspirin/antikoagulan, tingkatkan asupan cairan & vitamin K.
Kolaborasi terapi → pemberian obat pengontrol perdarahan, transfusi darah, atau pelunak tinja sesuai indikasi.
Lapor segera → anjurkan pasien segera melaporkan bila ada perdarahan berulang.
Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif b.d Hipertensi
Perfusi serebral
Intervensi
Identifikasi penyebab → kaji faktor pencetus peningkatan TIK.
Monitor tanda vital & neurologis → TDS, TDD, tekanan nadi, nadi, pola napas, dan tingkat kesadaran.
Posisikan kepala & leher netral untuk mendukung aliran vena serebral.
Atur & dokumentasikan pemantauan sesuai kondisi pasien secara teratur.
Edukasi pasien & keluarga mengenai tujuan, prosedur, dan hasil pemantauan.
Perfusi Perifer Tidak Efektif b.d Peningkatan tekanan darah
Perfusi Perifer
Intervensi
Monitor sirkulasi perifer → nilai nadi perifer, pengisian kapiler, warna, suhu, edema, serta faktor risiko (DM, usia, hipertensi, hiperkolesterolemia).
Observasi tanda gangguan sirkulasi → panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas.
Hindari tindakan yang memperburuk perfusi → tidak memasang infus/pengambilan darah di area dengan keterbatasan sirkulasi.
Lakukan perawatan kaki & kulit → perawatan kuku, menjaga kelembaban kulit untuk mencegah luka/infeksi.
Edukasi pasien → minum obat antihipertensi/antikoagulan/penurun kolesterol sesuai anjuran, hindari beta blocker, dan pentingnya kepatuhan terapi.
Referensi
Ismoyowati, T. W., Iskandar, A. C., Kafiar, R. E., Sharfina, N. A., Pailungan, F. Y., Sudrajat, A., Oper, N. K. N., Lesmana, H., Agustien, R., & Baharuddin, R. (2025). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Lenggogeni, D. P. (2023). Edukasi dan self manajemen pasien hemodialisis. CV. Mitra Edukasi Negeri.
Mailani, N. F., & Kep, M. (2022). Pengetahuan, Self-Management dan Self-Efficacy Pasien Penyakit Ginjal Kronik. Penerbit Adab.
Malisa, N., Agustina, F., Kep, M., Kep, N. S., Wahyurianto, Y., Oktavianti, N. D. S., & Kep, M. (2022). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah DIII Keperawatan Jilid I. Mahakarya Citra Utama Group.