Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
HIPERTENSI - Coggle Diagram
HIPERTENSI
-
KOMPLIKASI
- Penyakit Jantung Koroner
Penyempitan arteri jantung akibat penumpukan plak, yang dapat menyebabkan serangan jantung.
Gejala: Nyeri dada, sesak napas, dan kelelahan.
- StrokeHipertensi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak atau penyumbatan aliran darah, yang mengakibatkan stroke.
Gejala: Kelemahan mendadak, kesulitan berbicara, dan kehilangan keseimbangan.
- Gagal JantungJantung menjadi lemah dan tidak mampu memompa darah dengan efisien akibat tekanan yang tinggi.
Gejala: Sesak napas, pembengkakan pada kaki, dan kelelahan.
- Penyakit Ginjal
Kerusakan pada pembuluh darah ginjal yang dapat mengganggu fungsi ginjal.
Gejala: Pembengkakan, perubahan dalam urin, dan kelelahan.
- Retinopati HipertensifKerusakan pada pembuluh darah di retina mata, yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan.
Gejala: Penglihatan kabur, kehilangan penglihatan, atau melihat bintik-bintik.
- Aneurisma
Pembesaran abnormal pada dinding arteri yang dapat pecah dan menyebabkan pendarahan serius.
Gejala: Nyeri mendadak, tergantung pada lokasi aneurisma.
- Sindrom Metabolik
Kombinasi dari beberapa kondisi, termasuk obesitas, diabetes, dan dislipidemia, yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Gejala: Tidak selalu ada gejala yang jelas, tetapi dapat terdeteksi melalui pemeriksaan kesehatan.
- Demensia VaskularKerusakan pada pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif.
Gejala: Kesulitan berpikir, berbicara, dan mengingat.
-
-
ETIOLOGI
-
- Pola makan yang tidak sehat (tinggi garam, lemak jenuh).
- Kurangnya aktivitas fisik.
-
-
- Konsumsi alkohol dan merokok.
KLASIFIKASI
- Normal Tekanan Darah: SBP < 120 mmHg dan DBP < 80 mmHg.
- Prehipertensi Tekanan Darah: SBP 120-129 mmHg dan DBP < 80 mmHg.
- Hipertensi Tahap 1 Tekanan Darah: SBP 130-139 mmHg atau DBP 80-89 mmHg.
- Hipertensi Tahap 2 Tekanan Darah: SBP ≥ 140 mmHg atau DBP ≥ 90 mmHg.
- Krisis Hipertensi Tekanan Darah: SBP > 180 mmHg dan/atau DBP > 120 mmHg.
- Hipertensi Sekunder Hipertensi yang disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti penyakit ginjal, gangguan hormonal, atau penggunaan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pengukuran Tekanan Darah
a. Metode: Menggunakan sphygmomanometer (alat pengukur tekanan darah) untuk mengukur tekanan darah sistolik dan diastolik.
b. Frekuensi: Disarankan untuk dilakukan secara rutin, terutama bagi individu dengan risiko hipertensi.
-
Elektrokardiogram (EKG):Untuk mendeteksi adanya perubahan pada jantung akibat hipertensi, seperti pembesaran jantung atau aritmia.
4.Ekokardiografi
a. Metode: Pemeriksaan ultrasonografi jantung untuk menilai struktur dan fungsi jantung.
b. Indikasi Digunakan jika ada kecurigaan adanya komplikasi jantung akibat hipertensi.
5.Pemantauan Tekanan Darah 24 Jam (ABPM): : Mengukur tekanan darah secara terus-menerus selama 24 jam untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang pola tekanan darah pasien.
Pemeriksaan Lainnyaa. Rontgen Dada: Untuk menilai ukuran jantung dan kondisi paru-paru.
b. CT Scan atau MRI: Jika ada kecurigaan adanya kelainan struktural yang berkontribusi terhadap hipertensi.
PATOFISIOLOGI
a. Renin yang diproduksi oleh ginjal mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I, yang kemudian diubah menjadi angiotensin II oleh enzim ACE.
-
c. Aldosteron, yang meningkatkan retensi natrium dan air, sehingga meningkatkan volume darah
- Faktor Genetik Predisposisi genetik dapat mempengaruhi respons tubuh terhadap faktor lingkungan dan mempengaruhi regulasi tekanan darah.
-
-
PENATALAKSANAAN
Non-Farmakologi
-
-
-
- Hindari alkohol & merokok
- Teknik relaksasi (misalnya slow breathing, PMR, konsumsi mentimun)
Farmakologis
Obat antihipertensi: diuretik, beta-bloker, antagonis kalsium, ACE inhibitors/ARBs
MANIFESTASI KLINIS
Umum
Sering asimptomatik (tanpa gejala), sehingga sering disebut “silent killer”.
-
-
PENGERTIAN
Hipertensi adalah masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian dan pengelolaan yang tepat untuk mencegah komplikasi serius. Hipertensi merupakan kondisi medis dimana tekanan darah dalam arteri meningkat secara abnormal. Hipertensi didefinisikan sebagai kondisi dimana tekanan darah sistolik (angka atas) mencapai 140 mmHg atau lebih, dan/atau tekanan darah diastolik (angka bawah) mencapai 90 mmHg atau lebih. (Pan et al., 2024).