Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Posisi Perempuan dan Laki-Laki Masyarakat Jawa - Coggle Diagram
Posisi Perempuan dan Laki-Laki Masyarakat Jawa
Latar Sosial/Budaya
Agama dan Pengaruh Barat
Islam Menguatkan
– Perempuan belajar Islam, lawan adat yang merugikan, lahir feminisme Islam, dorong
kesetaraan.
Islam Melemahkan
– Pernikahan anak, poligami, hak cerai timpang, tafsir patriarki dominan.
Pengaruh Barat
– Pendidikan & kontak Eropa memicu gerakan perempuan, tapi kolonialisme & kebijakan Suharto tetap patriarkal.
!image
Struktur Ekonomi
1930-an
– PDB rendah, sedikit perempuan kerja kecuali di tekstil.
1960–1970-an
– Pabrik rekrut perempuan tapi perkuat patriarki.
1980–1990-an
– Perempuan aktif di ekonomi informal & pabrik, tapi negara patriarkal batasi peran.
Abad 21
– Ekonomi tumbuh, upah rendah, kesetaraan lambat.
Lingkungan Kelembagaan
Hak Waris
– 1930-an janda & anak perempuan dapat bagian kecil, hukum adat kadang setara, 2000-an desa adat lebih adil.
Institusi Pernikahan
– Hukum adat campur keuntungan & kerugian perempuan, UU 1974 sedikit setara tapi patriarkal, 2000-an nikah dini & poligami tetap tinggi.
Patriaki dan matriaki
di budaya jawa
Perbedaan dalam keseteraan perempuan dan laki laki di budaya jawa telah membuat satu pihak yang merasa dan dianggap lebih tinggi, lebig berkuasa dari pihak yang lainnya. di pada budaya jawa,
Patriaki
dalam budaya jawa: dominasi laki laki
matriak
i dalam budaya jawa: dominasi perempuan
Dalam sebuah sistem
patriaki
perempuan biasanya diposisikan sebagai istri yang harus bertugas
mendampingi, melengkapi, dan menghibur dan melayani suaminya
, sebaliknyua dengan sang anak yang diposisikan sebagai generasi penerus dan penghibur papanya
Di masyarakat jawa, seorang
ayah dan suami
mempunyai
kekuasaan
yang tidak terbatas dalam keluarga dan
laki laki
juga lebih
diutamakan dan dipentikan
dalam keluarga. di dalam masyarakat jawa anak laki laki memiliki tempat lebih khusus dibandingkan anak prempuan
Contoh di dalam masyarakat jawa:
Istilah istri sebagai
kanca wingking
yang berarti: teman belakang
Dalam rangka, istri ditugaskan untuk mengelola urusan rumah tangga, khususnya urusan anak, memasak, mencuci, dan lain-lain.
Hal ini menunjukan bahwa di masyarakat jawa,
perempuan tidak akan sejajar dengan laki laki.
Gaya Bahasa Dalam Naskah Drama Rumah Boneka
RINGKASAN
Perempuan dalam posisi publik dan domestik
Tuti menyatakan bahwa menjadi perempuan itu anugerah: sebagai istri, ibu, dan nenek, peran perempuan sangat penting dalam keluarga dan bangsa (10:51 – 12:43).
Ia menekankan perempuan tidak boleh lemah, harus membuktikan mampu maju setara dengan laki-laki.
Kesetaraan gender dalam masyarakat modern
Ia menyebut dulu perempuan dianggap hanya di “sumur, dapur, kasur” (29:08 – 30:02), tetapi sekarang sudah setara: bisa sekolah, berkarir, bahkan Indonesia punya presiden perempuan, menteri perempuan, dan pimpinan politik perempuan (30:00 – 30:54).
Perempuan sebagai penerus budaya keluarga
Tuti memaksa anak dan cucunya (perempuan maupun laki-laki) untuk ikut menari, main musik, dan terlibat dalam kesenian (3:44 – 4:40).
Menunjukkan peran perempuan Jawa sebagai penjaga dan penerus tradisi budaya keluarga.
Perempuan sebagai pejuang bangsa
Dalam perjuangan Hari Kebaya Nasional, perempuan Jawa (dan Indonesia) memperjuangkan identitas budaya sebagai simbol kelembutan, keanggunan, sekaligus kesetaraan dengan laki-laki (12:39 – 14:24).
Bung Karno juga menyatakan bahwa Revolusi Indonesia tidak akan terjadi tanpa perempuan (15:19 – 16:12).
Perempuan di keluarga Jawa dididik dalam budaya sejak kecil
Dari kecil Tuti Nusandari Roosdiono diwajibkan oleh ayahnya belajar gamelan, menari, dan bermain piano (2:53 – 3:45).*
Ini menunjukkan laki-laki (ayah) punya otoritas besar dalam mendidik anak-anak, tetapi juga memberi ruang bagi perempuan untuk menguasai seni dan budaya*.
https://www.youtube.com/watch?v=D4po2BcmdBw
Gaya Bahasa Dalam "Sri Sumarah"
Simbolisme
Terdapat simbolisme pada nama “Sri Sumarah” yang berarti “pasrah” atau “menyerah,” melambangkan watak tokoh utama yang tunduk pada keadaan hidup.
Perumpamaan
Ada juga perumpamaan ketika Sri melihat kota J yang dulu terasa jauh “seakan-akan mesti ditempuh lewat hutan belukar, menerobos onak dan duri, serta naik-turun jurang,” yang menggambarkan kesulitan perjalanan dengan bahasa kiasan.
Personifikasi
Personifikasi tampak pada cara pengarang memberi nyawa pada waktu, misalnya “sang waktu menyindirnya dengan perkawinan Tun,” seolah waktu bisa menyindir manusia.
Metafora
Selain itu, ada metafora ketika Mas Marto digambarkan sebagai “laki-laki segala laki-laki bagi Sri,” yang mengangkatnya menjadi simbol kejantanan dan kesempurnaan di mata istrinya.
Hiperbola
Hiperbola juga muncul dalam deskripsi rasa bangga Sri terhadap perkembangan anaknya yang digambarkan dengan ungkapan penuh kekaguman dan kebanggaan berlebih.
Eufemisme
Pengarang juga menggunakan eufemisme dengan istilah “kecelakaan” untuk menyebut kehamilan Tun di luar nikah, sehingga terdengar lebih halus.
Apostrof
Doa Sri yang berbunyi “Gustiii, paringana kuat” merupakan bentuk apostrof, yaitu seruan langsung kepada Tuhan untuk memohon kekuatan.
Alegori wayang
Cerpen ini pun dihiasi alegori wayang, ketika sifat tokoh Sembadra dipakai nenek Sri sebagai teladan perempuan Jawa ideal, yang sebenarnya menyimpan kritik halus terhadap konstruksi sosial tentang perempuan.
Gaya Bahasa Dalam Cerpen "Bawuk"
Repetisi/Anafora
Kutipan: "Alangkah aneh surat begitu datang dari Bawuk, pikir Nyonya Suryo. Aneh? Bukan, bukan aneh. Lebih tepat, asing. Alangkah asing surat begitu datang dari Bawuk, pikir Nyonya Suryo. Asing sekali."
Penjelasan: Pengulangan kata "aneh" dan "asing" menekankan kebingungan serta rasa keterasingan yang mendalam pada diri Ny. Suryo terhadap surat singkat dari Bawuk. Repetisi ini menunjukkan adanya perubahan besar dan mengusik dalam cara Bawuk berkomunikasi, yang berbeda jauh dari sifatnya yang biasanya ceria dan cerewet.
Konteks: Pilihan gaya ini segera memberi sinyal kepada pembaca bahwa ada sesuatu yang mendasar telah berubah dalam hidup Bawuk, menciptakan nuansa mengkhawatirkan tentang keadaannya.
Metafora/Ungkapan Idiomatik
Kutipan: "bumbu-bumbu omong kosong itulah yang membuat surat-surat Bawuk menarik dan banyak membuat kangen saudara dan kawan-kawannya."
Penjelasan: "Bumbu-bumbu omong kosong" adalah metafora sekaligus idiom penuh kasih. Ini menunjukkan bahwa obrolan ringan Bawuk yang tampak sepele sebenarnya memberi warna, rasa, dan kepribadian pada surat-suratnya, sehingga membuatnya dirindukan keluarga dan sahabat.
Konteks: Bagian ini menegaskan karisma dan kehangatan pribadi Bawuk sebelum mengalami masa sulit, serta memperkuat rasa kehilangan yang dirasakan keluarganya.
Similie (Perbandingan)
Kutipan: "melimpah ruah seperti air mengalir, mbanyu-mili, kata orang Jawa."
Penjelasan: Perbandingan "seperti air mengalir, mbanyu-mili" menggambarkan kelimpahan makanan dan minuman dalam pesta. Ia menunjukkan suasana meriah dan kemurahan hati. Penggunaan istilah Jawa "mbanyu-mili" juga menegaskan latar budaya.
Konteks: Deskripsi ini menonjolkan suasana kaya tradisi khas priyayi, yang sangat kontras dengan nasib Bawuk kemudian sebagai seorang buronan.
Similie
Kutipan: "Gerakannya luwes, tangan-tangannya yang melengkung seperti gendewa itu melentur-lentur dengan indahnya."
Penjelasan: Perbandingan "seperti gendewa" menggambarkan keanggunan gerakan tangan penari yang melengkung indah dan penuh kendali.
Konteks: Detail ini menambah gambaran hidup tentang pertunjukan tayuban sebagai hiburan tradisional khas masyarakat Jawa.
Citraan/Indera
Kutipan: "Kepalanya terasa pening, dadanya sesak, dan bantalnya basah."
Penjelasan: Detail indrawi ini melukiskan penderitaan fisik dan emosional Ny. Suryo. "Bantal basah" menegaskan bahwa ia menangis.
Konteks: Momen internal ini menunjukkan beban emosional tersembunyi akibat perilaku suaminya, berlawanan dengan citra luar sebagai istri priyayi yang harus tenang.
PERSAMAAN GAYA BAHASA ANTARA
RUMAH BONEKA
,
"BAWUK"
, DAN
"SRI SUMARAH
"
Simbolisme
Bawuk
: pesta mbanyu mili → simbol kemewahan masa lalu vs penderitaan masa kini.
Rumah Boneka
: boneka/panggilan sayang → simbol perempuan yang terkurung dalam peran sosial.
Sri Sumarah
: nama tokoh & alegori wayang → simbol kepasrahan perempuan Jawa.
👉 Ketiganya memanfaatkan simbol untuk merepresentasikan
kondisi sosial dan psikologis tokoh
.
Repetisi/Penekanan
Bawuk
: “Alangkah aneh... Alangkah asing...” → menekankan perubahan Bawuk.
Rumah Boneka
: pengulangan istilah “boneka” → memperkuat identitas Nora sebagai sosok yang tak berdaya.
Sri Sumarah
: penggunaan doa berulang seperti “Gusti, paringana kuat” → penegasan kepasrahan tokoh.
👉 Ketiganya memakai repetisi untuk
menegaskan suasana batin tokoh utama.
Metafora
Bawuk
: “bumbu-bumbu omong kosong” → menggambarkan obrolan sepele tapi hangat.
Rumah Boneka
: “boneka” → melambangkan peran Nora yang pasif dan terkungkung.
Sri Sumarah
: nama “Sri Sumarah” sendiri bermakna pasrah, metafora dari watak tokoh utama.
👉 Sama-sama menggunakan metafora untuk
menyampaikan kondisi batin tokoh secara simbolis.