Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
SUPRAVENTRICULAR TACHYCARDIA (SVT), DIAGNOSA KEPERAWATAN, Rizki Nanda Al…
SUPRAVENTRICULAR
TACHYCARDIA (SVT)
Definisi
Supraventricular tachycardia (SVT) adalah gangguan irama jantung yang berasal dari atas ventrikel, yaitu bagian jantung yang berada di atas ventrikel, dan ditandai oleh detak jantung yang sangat cepat. Kecepatan denyut jantung melebihi 150 denyut per menit (bpm), yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan fungsi jantung jika tidak diobati.
Penyebab
Re-entry sirkuit, seperti AVNRT dan AVRT, adalah mekanisme utama di balik SVT, di mana impuls listrik berputar dalam lingkaran di jalur jantung abnormal.
Peningkatan tonus simpatis yang menyebabkan stimulasi berlebih pada sistem saraf simpatis, mempercepat konduksi impuls listrik jantung.
Konsumsi kafein dan alkohol dapat memicu terjadinya SVT karena efek stimulan dan perubahan elektrolit yang diakibatkannya.
Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti digitalis, dapat meningkatkan risiko SVT dengan mempengaruhi jalur konduksi listrik jantung.
Hipertiroidisme menyebabkan metabolisme yang meningkat dan dapat memicu gangguan irama jantung, termasuk SVT.
Gangguan elektrolit, seperti hipokalemia dan hipokalemia, mengganggu kestabilan membran sel dan memicu irama tidak teratur.
Jenis SVT
AVNRT (Atrioventricular Nodal Reentrant Tachycardia) adalah tipe SVT yang paling umum, terjadi karena jalur re-entry di nodus AV.
AVRT (Atrioventricular Reentrant Tachycardia), termasuk WPW Syndrome, melibatkan jalur re-entry yang melewati jalur aksesori di luar jalur konduksi normal.
Atrial Tachycardia merupakan gangguan irama dari atrium yang tidak melibatkan jalur re-entry, biasanya berasal dari fokus abnormal di atrium.
Multifocal Atrial Tachycardia adalah irama cepat dari beberapa fokus atrium yang berbeda, biasanya terkait dengan gangguan paru kronis.
Gejala
Palpitasi, yaitu sensasi jantung berdebar cepat dan tidak teratur.
Pusing atau sinkop akibat penurunan curah jantung dan aliran darah ke otak.
Sesak napas yang muncul akibat peningkatan beban jantung dan gangguan fungsi paru.
Nyeri dada yang muncul karena ketegangan otot jantung atau kekurangan oksigen.
Kelelahan mendadak yang terjadi karena tubuh tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup.
Gelisah, sebagai respons terhadap ketidaknyamanan dan kecemasan.
Pemeriksaan
Diagnostik
EKG menunjukkan irama yang reguler, QRS sempit, dan HR lebih dari 150 bpm, khas untuk SVT.
Holter Monitor digunakan untuk merekam irama jantung selama 24-48 jam untuk mendeteksi episode SVT yang tidak terdeteksi dalam pemeriksaan singkat.
Elektrofisiologi adalah prosedur invasif untuk memet akan jalur konduksi jantung dan mengidentifikasi jalur abnormal.
Tes laboratorium seperti pemeriksaan elektrolit dan fungsi tiroid penting untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya.
Penatalaksanaan
Manuver Vagal, seperti Valsava atau refleks karotis, digunakan untuk menghentikan serangan SVT secara non-invasif.
Obat-obatan
Adenosin adalah obat pilihan pertama untuk menghentikan SVT melalui blokade sementara di nodus AV.
Beta blocker membantu menurunkan kecepatan jantung dan mencegah serangan berulang.
Calcium channel blocker, seperti verapamil, juga digunakan untuk mengendalikan irama.
Kardioversi dilakukan jika pasien tidak stabil secara klinis, sebagai tindakan darurat.
Ablasi kateter adalah prosedur invasif untuk menghilangkan jalur re-entry abnormal dan digunakan pada kasus berulang atau refrakter
Komplikasi
Penurunan curah jantung yang menyebabkan gagal sirkulasi.
Gagal jantung akibat irama yang tidak efektif.
Trombosis, karena adanya stasis darah selama serangan.
Penurunan kesadaran atau sinkop akibat aliran darah yang terganggu.
Pengkajian Fokus
Riwayat kesehatan
Riwayat serangan SVT sebelumnya, kondisi kesehatan lainnya, dan obat-obatan yang sedang digunakan.
Gejala
Frekuensi, durasi, dan karakteristik gejala seperti denyut jantung cepat, palpitasi, pusing, atau sesak napas.
Pemicu
Faktor-faktor yang memicu serangan SVT, seperti stres, kafein, atau aktivitas fisik.
Kondisi jantung
Fungsi jantung dan adanya kondisi jantung lainnya yang mungkin terkait dengan SVT.
Pengobatan
: Efektivitas pengobatan yang telah digunakan sebelumnya dan kemungkinan efek sampingannya.
Rencana
Keperawatan
Tujuan umum
Menstabilkan irama jantung dan kondisi hemodinamik pasien
Intervensi
Monitor tanda vital dan irama jantung secara kontinu
Posisikan semi-Fowler untuk mengurangi beban jantung
Lakukan manuver vagal (Valsava jika indikasi)
Pemberian oksigen sesuai indikasi
Kolaborasi pemberian antiaritmia (misalnya adenosin)
Berikan edukasi tentang teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
Daftar
Pustaka
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2022). Textbook of Medical-Surgical Nursing (15th ed.). Wolters Kluwer Health.
Ignatavicius, D. D., & Workman, M. L. (2021). Medical-Surgical Nursing: Concepts for Interprofessional Collaborative Care (10th ed.). Elsevier Health Sciences.
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (12th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Reeder, S. J., Martin, L. L., & Gonzalez, M. (2021). Nursing Interventions & Clinical Skills (7th ed.). Elsevier.
AHA (American Heart Association). (2020). Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) Provider Manual. American Heart Association.
Kusumawati, D. E. (2020). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. EGC.
NANDA International. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021–2023. Thieme.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan sensasi jantung berdebar
Penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan irama jantung (takikardia supraventrikular)
Risiko cedera berhubungan dengan hipotensi sekunder akibat SVT
Rizki Nanda Al Kausar
16092450169