Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Makna Work-Life Balance Pada Keryawan Muslim Yang Bekerja Part Time Di Dua…
Makna Work-Life Balance Pada Keryawan Muslim Yang Bekerja Part Time Di Dua Tempat Kerja
BAB 1
Rumusan Masalah
Bagaimana makna work-life balance bagi karyawan Muslim yang bekerja part time di dua tempat kerja?
Tujuan dan Manfaat penelitian
Tujuan
Menggali dan memahami makna work-life balance pada karyawan Muslim yang bekerja part time di dua tempat kerja.
Manfaat
Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan kajian psikologi positif dan psikologi kerja, khususnya dalam memahami work-life balance dalam konteks keberagamaan dan multipekerjaan.
Praktis
Penelitian ini dapat memberikan pemahaman kepada keryawan Muslim, manajer SDM, serta perusahaan atau tempat kerja mengenai pentingnya mendukung keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan.
Latar Belakang Masalah
Isinya
Bagian tengah
Secara realitas (das sein), kondisi karyawan Muslim yang bekerja partime di dua tempat kerja cenderung menghadapi ketidakseimbangan antara tanggung jawab kerja, kehidupan pribadi dan kewajiban religious. Hal ini menunjukkan adanya konflik peran yang berdampak pada kualitas hidup dan kesejahteraan psikologisnya (Greenhaus & Allen, 2011).
Kondisi idela (das sollen) yang diharapkan adalah tercapainya work-life balance, yaitu keadaan ketika seseorang mampu mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan personal secara harmonis tanpa terjadi konflik yang merugikan salah satu aspek (Clark, 2000).
Bagian akhir
Urgensi dan pentingnya penelitian
Adanya gap antara teori konvensional dan pengalaman subjektif karyawan Muslim
Minimnya riset eksploratif tentang makna kerja dan hidup pada pekerja multipekerjaan Muslim
Perlunya pengembangan pendekatan keseimbangan hidup yang berbasis nilai dan konteks budaya lokal
Kesimpulan keterkaitan penelitian pada tema ini
Penelitian ini mengkaji makna work-life balance pada karyawan Muslim yang bekerja part time di dua tempat kerja, dengan menggabungkan konsep psikologis keseimbangan hidup (Greenhaus & Allen) dan nilai-nilai Islam (QS. Al-Qashash: 77 dan prinsip tawazun). Pendekatan fenomenologis digunakan untuk menggali pengalaman subjektif partisipan dalam menyeimbangkan tuntutan kerja, kehidupan pribadi, dan spiritualitas. Hasil penelitian ini diharapkan memperluas pemahaman tentang keseimbangan hidup berbasis nilai, terutama bagi pekerja Muslim di era kerja modern.
Bagian awal
Konsep-Variabel
Work-life balance
Pengertian
Greenhaus & Allen (2011) mendefinisikan work-life balance sebagai sejauh mana individu terlibat secara setara dan puas dalam peran pekerjaan dan kehidupan personal.
Work-life balance, yaitu keadaan ketika seseorang mampu mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan personal secara harmonis tanpa terjadi konflik yang merugikan salah satu aspek (Clark, 2000).
QS. Al-Qashash:77, pentingnya menjalani kehidupan yang seimbang antara urutan dunia dan akhirat.
Penelitian terdahulu
Khairunnisa & Dewi (2022) terhadap guru honorer di dua sekolah menunjukkan bahwa meskipun memiliki beban kerja ganda, individu mampu merasakan harmoni hidup bila memiliki landasan spiritual yang kuat dan dukungan sosial dari lingkungan kerja dan keluarga.
Novianti & Ardi (2021) yang meneliti pekerja part time generasi Z menyimpulkan bahwa peran nilai pribadi dan keyakinan keagamaan memengaruhi cara individu mengatur waktu dan prioritas.
Hasanah & Salim (2020), dalam penelitiannya terhadap perempuan Muslim bekerja, menemukan bahwa keseimbangan kerja dan kehidupan tidak hanya dipahami sebagai distribusi waktu, tetapi juga sebagai upaya memenuhi peran-peran kehidupan secara ikhlas, professional dan bernilai ibadah.
Pahami Fenomena
Perubahan sosial dan ekonomi di era modern telah memunculkan berbagai dinamika dalam dunia kerja, termasuk meningkatnya jumlah individu yang memilih bekerja secara part time di dua tempat kerja. Fenomena pekerja paruh waktu (part time) yang bekerja di lebih dari satu tempat kini semakin umum di Indonesia, khususnya di kalangan generasi produktif usia 20-35 tahun
BAB 3
Informan penelitian
Purposive sampling
Bekerja part time di dua tempat minimal 3 bulan, berdomisili di Solo, bersedia menjadi partisipan, berusia 20-40 tahun.
Informan primer
Alat pengumpulan data
Wawancara
Semi-terstruktur
Proses wawancara dilakukan secara santai agar partisipan merasa aman dan nyaman dalam berbagai pengalaman personalnya.
Observasi
Partisiapan
Proses observasi dilakukan saat informan menjalani peran kerja dan non-kerja.
Dokumentasi
Lokasi dan waktu penelitian
Dirumah dan ditempat kerja informan, waktunya sesuai jam kerja informan.
Kreadibilitas data
Triangulasi
Memberi check
Audit trial
Sumber
Pendekatan dan jenis pendekatan
Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis
Analisis data
Fenomenologi
BAB 2
Penelitian terdahulu
Khairunnisa & Dewi (2022) terhadap guru honorer di dua sekolah menunjukkan bahwa meskipun memiliki beban kerja ganda, individu mampu merasakan harmoni hidup bila memiliki landasan spiritual yang kuat dan dukungan sosial dari lingkungan kerja dan keluarga.
Novianti & Ardi (2021) yang meneliti pekerja part time generasi Z menyimpulkan bahwa peran nilai pribadi dan keyakinan keagamaan memengaruhi cara individu mengatur waktu dan prioritas.
Hasanah & Salim (2020), dalam penelitiannya terhadap perempuan Muslim bekerja, menemukan bahwa keseimbangan kerja dan kehidupan tidak hanya dipahami sebagai distribusi waktu, tetapi juga sebagai upaya memenuhi peran-peran kehidupan secara ikhlas, professional dan bernilai ibadah.
Kerangka berpikir
Landasan Teori
Greenhaus & Allen (2011) mendefinisikan work-life balance sebagai sejauh mana individu terlibat secara setara dan puas dalam peran pekerjaan dan kehidupan personal.
Involvement balance, yaitu keterlibatan psikologis yang seimbang
Satisfaction balance, yaitu kepuasan terhadap kedua peran tersebut
Time balance, yaitu pembagian waktu yang setara antara kerja dan kehidupan pribadi
Pertanyaan Penelitian
Dinamika psikologis
Kognisi
Menyadari pentingnya mengatur skala prioritas antara kerja, ibadah, dan waktu pribadi.
Membangun keyakinan bahwa keseimbangan hidup dapat dicapai dengan niat yang benar.
Memaknai pekerjaan sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab moral.
Berpikir strategis dalam mengelola waktu dan tenaga agar tetap produktif dan spiritual.
Behavior
Menghindari aktivitas yang dapat mengganggu keseimbangan spiritual (misalnya lembur yang melewati waktu salat).
Menggunakan waktu luang untuk pemulihan diri atau kegiatan ibadah tambahan.
Menyusun jadwal harian yang mencakup waktu kerja, istirahat, dan ibadah.
Melibatkan diri secara aktif di lingkungan kerja dan tetap menjaga hubungan sosial.
Afektif
Merasakan kelelahan fisik dan emosional akibat beban kerja ganda.
Terkadang muncul perasaan bersalah karena kurang waktu untuk keluarga atau ibadah.
Merasa bangga dan bersyukur karena dapat memenuhi kebutuhan secara mandiri.
Emosi positif diperoleh saat berhasil menyeimbangkan tanggung jawab kerja dan spiritual.