Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Bukti-Bukti Pengaruh Masa Kerajaan Islam yang Masih Ada Hingga Kini, image…
Bukti-Bukti Pengaruh Masa Kerajaan Islam yang Masih Ada Hingga Kini
1.) AKSARA
Kerajaan Hindu-Buddha mewariskan berbagai bentuk aksara kuno seperti Pallawa, Kawi, dan Sanskerta. Aksara ini banyak ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno
Aksara Kawi digunakan luas di Jawa Timur (kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit), contohnya dalam Kakawin Nagarakretagama.
Prasasti Yupa (Kutai) = beraksara Pallawa
Prasasti Ciaruteun (Tarumanegara) = menampilkan puisi beraksara Pallawa dan bahasa Sansekerta
Kerajaan Islam mengenalkan aksara Arab Jawi, yaitu huruf Arab yang disesuaikan dengan bahasa Melayu atau lokal.
Naskah-naskah kuno di pesantren dan keraton (misalnya, di Aceh dan Minangkabau).
Batu nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh yang bertuliskan Arab, mencerminkan awal masuknya Islam ke Nusantara.
2.) SOSIAL
Dalam kerajaan Hindu-Buddha, struktur sosial masyarakat dipengaruhi oleh sistem varna atau kasta dari India.
Brahmana (pendeta),
Ksatria (bangsawan/raja),
Waisya (pedagang),
Sudra (rakyat biasa).
Dalam kerajaan Islam, sistem sosial lebih terbuka. Masyarakat tidak dibedakan berdasarkan kasta, tetapi berdasarkan keilmuan dan ketakwaan.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan terbuka.
Peran ulama dan wali yang dihormati di masyarakat tanpa pandang kasta.
Kesetaraan di antara umat Islam menjadi dasar pembauran budaya lokal dan agama baru
3.) PEMERINTAHAN
Kerajaan Hindu-Buddha menerapkan konsep raja sebagai titisan dewa (dewa-raja), yang berkuasa absolut.
Raja Airlangga dianggap sebagai titisan Wisnu.
Hayam Wuruk dari Majapahit dihormati sebagai raja besar yang memiliki kekuasaan spiritual dan duniawi. Pemerintahan bersifat hierarkis dan terpusat.
Dalam kerajaan Islam, bentuk pemerintahan berubah menjadi kesultanan. Pemimpin bergelar sultan, syah, atau amir, yang melaksanakan hukum berdasarkan syariat Islam.
Kesultanan Demak, menerapkan hukum Islam dan memperluas kekuasaan lewat dakwah.
Kesultanan Aceh, memadukan hukum adat dengan hukum Islam dalam sistem pemerintahannya.
4.) SENI DAN BANGUNAN
Peninggalan Hindu-Buddha yang paling menonjol adalah candi dan stupa, yang menjadi tempat ibadah dan penyimpanan relik suci.
Candi Borobudur (Buddha) di Magelang, simbol pencapaian spiritual.
Candi Prambanan (Hindu) yang megah dengan arsitektur tiga candi utama: Siwa, Wisnu, dan Brahma.
Candi Penataran, Candi Sukuh, Candi Dieng, dll.
Dalam budaya Islam, seni bangunan yang berkembang adalah masjid, menara, dan makam.
Masjid Agung Demak, masjid tertua yang dibangun oleh Wali Songo, dengan arsitektur joglo khas Jawa.
Masjid Menara Kudus, memadukan menara mirip candi Hindu dengan fungsi sebagai tempat azan.
Kompleks makam raja-raja dan ulama yang dihias kaligrafi Arab.
5.) SENI RUPA
Dalam kerajaan Hindu-Buddha, seni rupa ditampilkan dalam bentuk arca, relief, dan lukisan dinding, yang menggambarkan dewa-dewa
Relief Ramayana dan Mahabharata di Candi Prambanan dan Borobudur.
Arca Ganesha, Durga, Agastya, ditemukan di berbagai candi sebagai simbol pelindung. Karya ini menunjukkan teknik pahat yang tinggi dan filosofi religius.
Dalam kerajaan Islam, seni rupa berkembang dalam bentuk kaligrafi Arab, ornamen geometris, dan ukiran flora (tidak menggambarkan manusia atau hewan, sesuai ajaran Islam)
Hiasan dinding masjid dan mimbar yang diukir indah.
Kaligrafi ayat Al-Qur’an di makam dan masjid.
6.) KESUSASTRAAN
Sastra Hindu-Buddha melahirkan banyak karya dalam bahasa Kawi dan Sanskerta, berbentuk kakawin dan kitab sejarah..
Negarakertagama oleh Mpu Prapanca (pujian untuk Majapahit).
Sutasoma oleh Mpu Tantular (mengandung semboyan "Bhinneka Tunggal Ika").
Arjunawiwaha, cerita epik yang menggambarkan kisah pahlawan Hindu.
Sastra Islam menggunakan bahasa Melayu, Arab, dan aksara Jawi
Hikayat (kisah fiksi atau sejarah, seperti Hikayat Hang Tuah).
Syair (puisi bersajak, seperti Syair Perang Mengkasar).
Babad (sejarah dan silsilah, misalnya Babad Tanah Jawi).
7.) SENI PERTUNJUKAN
Hindu-Budha
Wayang kulit dan wayang golek yang menceritakan kisah Ramayana-Mahabharata.
Tari-tarian sakral seperti Tari Legong dan Tari Gambuh di Bali.
Pertunjukan ini digunakan dalam upacara keagamaan dan hiburan istana.
Dalam tradisi Islam, seni pertunjukan digunakan sebagai media dakwah
Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan Islam dengan memasukkan nilai-nilai tauhid.
Seni musik Islam seperti Qasidah, Gambus, dan Hadrah menjadi bagian dari budaya masyarakat pesantren.
8.) UPACARA
Islam
Maulid Nabi, Nisfu Sya'ban, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Sekaten, perayaan tradisi keraton Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan Islam.
Kerajaan Hindu-Buddha meninggalkan berbagai ritual adat dan keagamaan, yang sebagian masih dilestarikan, khususnya di Bali.
Ngaben (pembakaran jenazah untuk membebaskan roh).
Nyepi (hari raya menyepi total, mencerminkan filsafat keseimbangan).
Galungan dan Kuningan sebagai hari kemenangan dharma.
9.) SISTEM KALENDER
Hindu-Buddha menggunakan Kalender Saka, yang mengatur penanggalan berdasarkan peredaran bulan dan matahari. Sampai sekarang, kalender ini dipakai untuk menentukan hari besar di Bali dan Jawa.
Tahun Baru Saka dirayakan dalam perayaan Nyepi di Bali.
Kalender ini juga dipakai dalam perhitungan hari baik (weton) dalam budaya Jawa.
Islam memperkenalkan Kalender Hijriah, sistem lunar (berdasarkan bulan)
Puasa Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.