Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Komponen Ekosistem dan Intraksinya - Coggle Diagram
Komponen Ekosistem dan Intraksinya
Keseimbangan dan Perubahan Lingkungan Hidup
Pengertian Lingkungan Hidup (UU No. 23 Tahun 1997)
Kesatuan ruang
Benda
Daya
Keadaan
Makhluk hidup (termasuk manusia dan perilakunya)
Keseimbangan Lingkungan
Kemampuan lingkungan atasi tekanan alam & manusia
Bersifat Dinamis
berubah tapi tetap menjaga kestabilan komponen
Ciri-ciri Lingkungan Seimbang (Equilibrium)
Pola interaksi proporsiona
Arus energi
daur materi
rantai atau jaring makanan
piramida ekologi
daur biogeokimia
produktivitas
Homeostasis
tahan terhadap gangguan alam dan buatan
Pertumbuhan alami
tidak ada spesies dominan
Daya dukung lingkungan
mendukung kehidupan manusia dan makhluk lain
Gangguan Keseimbangan Lingkungan
Pengurangan fungsi atau hilangnya komponen ekosistem
Memicu putusnya mata rantai dalam ekosistem
Faktor Penyebab Perubahan Lingkungan
Faktor Alam
Gempa bumi
Gunung meletus
tsunami
longsor
banjir
angin topan
kemarau panjang
Faktor Manusia
Pembakaran/penebangan hutan
Pembangunan industri/permukiman
Penambangan liar
Pertanian monokultur
Pencemaran (pestisida, pupuk kimia berlebihan)
Pencemaran Lingkungan Hidup
Pengertian
Limbah
sisa kegiatan manusia (PP No. 18 Tahun 1999)
Pencemaran
masuknya zat/makhluk hidup/energi ke lingkungan yang menurunkan kualitasnya (UU No. 23 Tahun 1997)
Polutan
zat penyebab pencemaran
Jenis-jenis Pencemaran
Pencemaran Udara
Penyebab
Aktivitas manusia
industri
kendaraan bermotor
Peristiwa alam
gunung meletus
kebakaran hutan
Polutan utama
CO (Karbon monoksida
Beracun
dari pembakaran tidak sempurna
NOx (Nitrogen oksida)
Iritasi
Hujan asam
CFC & Halon
Merusak ozon
pemicu kanker kulit
O₃ (Ozon
Bermanfaat di stratosfer
berbahaya di troposfer
Gas rumah kaca (CO₂, CH₄, NO₂, O₃, H₂O)
Efek rumah kaca
pemanasan global
SOx (Belerang oksida
Menyebabkan hujan asam
gangguan pernapasan
Pencemaran Air
Parameter
Fisik
bau
warna
suhu
pH
Kimia
BOD
COD
DO
Logam berat
Biologi
mikroorganisme patogen (E. coli, Salmonella)
Sumber
Domestik
limbah rumah tangga
tinja
detergen
Industri
logam berat (Hg, Pb, Cr)
Pertanian
pupuk
pestisida (menyebabkan eutrofikasi & blooming)
Pertambangan
merkuri
minyak (membunuh organisme laut)
Pencemaran Tanah
Penyebab langsung
pestisida
pupuk kimia
DDT
Penyebab tidak langsung
limbah industr
udara tercemar
Dampak
merusak kesuburan tanah dan membunuh organisme tanah
Pencemaran Suara
Jenis
Impulsif
ledakan dan tembakan
Impulsif kontinu
palu dan mesin pukul
Semikontinu
lalu lintas dan pesawat
Kontinu
mesin pabrik
Dampak
Kerusakan pendengaran (di atas 85 dB)
Gangguan psikologis dan fisiologis (stres, sakit kepala)
Penanganan Limbah
Klasifikasi Limbah
Berdasarkan wujud
Limbah Cair
Limbah Gas
Limbah Padat
Nilai Ekonomi
ampas tahu untuk oncom
kayu bekas untuk mainan
sisa makanan untuk pupuk kompos
Pendekatan
Non-teknis: peraturan, sosialisasi, penyuluhan
Teknis: sarana/prasarana, monitoring, evaluasi
Sistem Penanganan Limbah Cair Domestik
Penggunaan kembali limbah cair tidak berbahaya (misalnya, air cucian untuk menyiram tanaman)
Penanganan limbah berbahaya (tinja manusia):
Cubluk: lubang dengan dinding tidak kedap air, diposisikan jauh dari sumur
Tangki Septik Konvensional: bak kedap air dengan ventilasi, menampung dan mengendapkan partikel
Tangki Septik Biofilter (Up-flow Filter): kombinasi bak pengendap, media filter dengan mikroorganisme, dan ruang resapan
Instalasi Pengolahan Limbah Cair Domestik (IPLCD): proses berjenjang
Pengolahan pendahuluan (penyaringan & equalization)
Pengolahan pertama (pengendapan)
Pengolahan kedua (biologis, pengendapan lanjutan, disinfeksi)
Pengolahan lumpur (pemekatan, stabilisasi, pengeringan)
Sistem Penanganan Limbah Cair Industri
Sistem setempat: industri mengolah limbah sendiri (biaya tinggi)
Sistem terpusat: pra-pengolahan masing-masing industri sebelum bergabung ke IPAL
Penanganan Limbah Padat
Definisi
Sampah dari kegiatan manusia, dapat organik (dapat terurai) atau anorganik (tidak terurai)
Sumber
Domestik: perumahan, kantor, rumah sakit, dll.
Non-domestik: pertanian, konstruksi, industri umum
Meminimalkan Limbah Padat (9R)
9 more items...
Metode Pengelolaan Limbah Padat
3 more items...
Akumulasi Bahan Pencemar dalam Rantai Makanan
Akumulasi Bahan Pencemar
Bahan pencemar sulit/tidak dapat terurai
Masuk ke tubuh organisme melalui rantai/jaring makanan
Contoh: DDT
Digunakan sebagai insektisida oleh petani
Sulit terurai; residu tetap berada di air atau tanah
Diserap oleh ganggang dan tumbuhan
Tidak terurai dalam tubuh makhluk hidup
Rantai Makanan & Biomagnifikasi
Ganggang/tumbuhan yang mengandung DDT termakan oleh herbivor
Herbivor kemudian termakan oleh karnivor, dan seterusnya
Setiap tingkat trofik terjadi peningkatan akumulasi DDT
Akumulasi tertinggi terjadi pada konsumen di tingkat trofik paling tinggi
Proses peningkatan akumulasi disebut biomagnifikasi
Dampak pada Organisme
Gangguan fisiologi tubuh
Mutasi genetik (gen atau kromosom)
Konsentrasi Bahan Pencemar
Diukur dalam satuan ppm (part per million)
Contoh: 2 ppm DDT berarti 2 mg DDT per kg massa tubuh ikan besar
Komunitas & Dinamika
Kumpulan populasi yang saling berinteraksi di dalam suatu ekosistem
Bersifat dinamis → Interaksi menghasilkan perubahan
Jenis Perubahan Komunitas
Sikli
Terjadi pada periode tertentu (contoh: musim kemarau dan musim penghujan)
Kondisi kembali hampir sama seperti sebelumnya
Contoh: Jumlah serangga dan katak meningkat pada musim penghujan
nonsiklis
Perubahan drastis dan cenderung permanen
Terlihat setelah beberapa tahun hingga lebih dari satu abad
Berkaitan dengan evolusi, migrasi, dan kepunahan spesies
Suksesi
Proses perubahan komunitas secara lambat dan teratur menuju komunitas yang lebih kompleks
Berakhir saat mencapai komunitas stabil (komunitas klimaks)
Contoh studi: Suksesi di Pulau Krakatau pasca letusan 1883
Flora dan fauna musnah
Spesies tumbuhan invasif muncul dari Jawa dan Sumatra
Hewan seperti arthropoda, gastropoda, reptilia, aves, kelelawar, dan tikus mulai hidup kembali
Suksesi di perairan disebut hydrarch
Tipe Suksesi
Suksesi Primer
3 more items...
Suksesi Sekunder
Terjadi di lahan yang awalnya bervegetasi sempurna, kemudian mengalami kerusakan (tanpa menghilangkan komunitas asal secara total)
Vegetasi berasal dari sisa habitat asli dan juga dari luar.
Adaptasi dan Mitigasi terhadap Perubahan Lingkungan
Definisi
Adaptasi: Penyesuaian diri terhadap perubahan kondisi lingkungan
Mitigasi: Upaya untuk mengurangi dampak dan memulihkan kondisi lingkungan
Adaptasi terhadap Perubahan Lingkungan
Kekeringan (Kemarau Panjang)
Menghemat air bersih
Menggunakan air bekas (tanpa detergen) untuk menyiram tanaman
Memperdalam sumur untuk mendapatkan air
Kenaikan Permukaan Air Laut
Merelokasi permukiman jauh dari pantai
Membangun sistem pemecah ombak
Memelihara hutan bakau
banjir
Membuat dan memelihara saluran drainase, rumah pompa, biopori
Melakukan pengerukan saluran air
Kebakaran Hutan
Melakukan pemadaman api
Mencegah penjalaran api ke area lain
Menggunakan masker penutup hidung
Longsor
Merelokasi permukiman
Membuat terasering pada lahan miring
Memelihara dan merehabilitasi hutan di daerah hulu
Mitigasi di Berbagai Sektor
Pertanian
Mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia
Menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk
Menanam varietas unggul
Transportasi
Mengurangi penggunaan mobil pribadi (di bawah kapasitas angkut)
Memilih berjalan kaki atau naik sepeda untuk jarak dekat
kehutanan
Melakukan reboisasi di kawasan penyangga
Mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan
Energi
Memanfaatkan sumber energi terbarukan: panas bumi, mikrohidro, angin, surya, biomassa
Pengolahan sampah
Mengurangi jumlah sampah dan pemakaian kantong plastik
Melakukan pemilahan sampah untuk didaur ulang
tata kota
Melakukan penghijauan
Memperluas area resapan air
Membuat dan memperbaiki saluran air
Pendidikan
Memberikan penyuluhan dan pelatihan pelestarian lingkungan
Mengadakan kampanye dan gerakan peduli lingkungan