Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Communication Accomodation Theory, 01041240009, PRISKILA WAWORUNTU -…
Communication Accomodation Theory
Introduction
Accommodation → penyesuaian gaya komunikasi untuk mengurangi jarak sosial antara seseorang dan lawan bicaranya.
Non accommodation → perilaku komunikasi yang mempertahankan atau meningkatkan jarak sosial.
Communication accommodation theory (Giles) → merupakan cara manusia beradaptasi dengan melakukan perubahan perilaku komunikasi yang bertujuan untuk mengurangi jarak sosial antara kedua pihak yang berkomunikasi.
Contoh :
Seorang mahasiswa dari Chicago menyesuaikan cara berbicaranya saat berada di wilayah Selatan AS
Awalnya fokus pada komunikasi antar etnis, tapi jadi meluas pada komunikasi antar generasi
Studi meneliti bagaimana dua kelompok usia ini menyesuaikan komunikasi saat berinteraksi.
Membantu komunikasi antar kelompok berbeda agar lebih efektif dan kompeten.
How We Accommodate (or how we don’t)
Social distance → tingkat persamaan atau perbedaan diri kita dengan orang lain
Ketika kt lihat accommodation dan non accommodation, kita lihat bahwa keduanya berhubungan dengan social distance
Tujuan komunikasi (dalam CAT) → strategi bahasa atau komunikasi untuk mengatur social distance
Strategi akomodasi (mengurangi jarak sosial) :
Convergence : seeking accommodation
Strategi dimana kita menyesuaikan gaya komunikasi menjadi lebih mirip dengan orang lain
Contoh : menyesuaikan gaya bicara seperti intonasi, kecepatan bicara, nada suara agar sesuai dengan lawan bicara
Tujuan → memudahkan pemahaman, menghargai keragaman (generasi, etnis), menciptakan kedekatan
Bisa meliputi → bicara lebih keras ketika berbicara dengan yang sulit mendengar, discourse management (memilih topik pembicaraan dengan sensitif sesuai dengan preferensi lawan bicara)
Strategi Non Akomodasi (meningkatkan jarak sosial)
Divergence
Strategi komunikasi yang menekankan perbedaan antara diri kita dengan lawan bicara
Contoh : berbicara dengan aksen yang lebih tebal, menggunakan pilihan bahasa/ kata yang asing, nada suara yang berbeda
Untuk menunjukan identitas diri atau bentuk penolakan
Seorang remaja berbicara dengan neneknya yang menggunakan bahasa formal dan lambat. Remaja tersebut tetap menggunakan slang seperti "gila sih, itu epic banget!" dan berbicara cepat dengan intonasi ekspresif. Ia tidak berusaha menyesuaikan diri.
Counter accommodation
Strategi yang langsung, disengajakan, dan bernada negatif untuk memaksimalkan jarak sosial
Contoh : sengaja berbicara dengan gaya menyulitkan, menyindir, melakukan penolakan
Self handicapping
Strategi untuk membela diri (biasa dilakukan oleh orang tua) dan menjadikan usia sebagai alasan
Contoh : saya sudah tua, wajar kalau lupa, kamu tahu saya gaptek dan gak paham sama teknologi zaman sekarang
Maintenance
Tetap pada gaya komunikasi sendiri tanpa menyesuaikan dengan lawan bicara.
Contoh: Bicara terus tanpa mendengarkan, tidak peduli dengan respons orang lain.
Overaccomodation
Penyesuaian berlebihan yang terkesan merendahkan.
Contoh: Bicara terlalu keras/pelan secara tidak perlu,Mengulang terlalu banyak
OBJECTIVE VS SUBJECTIVE ACOMMODATION
Giles membedakan antara akomodasi objektif(perubahan komunikasi yang bisa diamati, seperti kecepatan bicara, intonasi, jeda, dll.) dan akomodasi subjektif (penilaian pribadi dari lawan bicara terhadap perubahan tersebut).
Masalah muncul ketika pembicara merasa telah menyesuaikan gaya bicaranya, tetapi lawan bicara justru menilai sebaliknya—bahwa ia menyimpang atau bahkan tidak menghargai norma komunikasi mereka.
Sebagai contoh, seseorang mungkin menggunakan ungkapan kekinian seperti
“right on” atau “that’s square” untuk mendekati lawan bicaranya yang lebih muda, tapi justru dinilai aneh atau tidak otentik.
Artinya, penilaian subjektif dari pendengar menjadi penentu utama terhadap keberhasilan strategi komunikasi ini.
Konteks Sosial dan Ketimpangan Status
Dalam banyak situasi sosial, CAT menjelaskan bahwa individu yang memiliki status lebih rendah secara sosial (seperti siswa, pasien, atau imigran) dianggap “seharusnya” menyesuaikan diri terhadap gaya komunikasi pihak yang lebih tinggi statusnya (seperti dosen, dokter, atau warga negara mayoritas).
Namun, akomodasi ke atas ini sering kali tidak mendapat pengakuan yang setara, bahkan ketika dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, ketika individu berstatus rendah menolak untuk menyesuaikan diri (divergensi), reaksi sosialnya jauh lebih negatif.
Sebagai contoh, sebagian besar warga Anglo-Amerika menilai negatif imigran Latino yang memilih tidak berbicara bahasa Inggris—walaupun hal ini berkaitan dengan pemertahanan identitas sosial mereka.
Konvergensi vs. Divergensi
Konvergensi dinilai positif karena membantu membangun hubungan, meningkatkan pemahaman, dan memperlancar komunikasi.
Namun, ada risiko kehilangan keaslian atau bahkan dicurigai oleh kelompok sendiri (in-group) karena dianggap terlalu meniru kelompok lain (out-group).
Di sisi lain, divergensi mungkin menciptakan ketegangan, tetapi strategi ini juga membantu mempertahankan identitas sosial dan solidaritas kelompok sendiri. Dalam hal ini, divergensi tidak semata mata sebagai penolakan komunikasi, melainkan sebagai cara untuk menegaskan batas kelompok dan nilai yang di pegang
different motivations for convergence & divergence
KONVERGENSI
menyesuaikan gaya bicara agar mirip dengan lawan bicara demi mendapatkan persetujuan sosial (menyesuaikan diri)
Motivasi utama: ingin disukai
Contoh: ketika bertemu dengan orang baru, kita ingin mereka menyukai, menghormati atau tertarik pada kita.
Berdasarkan teori UNCERTAINTY REDUCTION, semakin mirip kita dengan orang lain, semakin tertarik pada kita.
Maka pola komunikasi ini bisa dipahami sebagai hubungan sebab-akibat dua langkah, yaitu: Keinginan untuk diterima (identitas pribadi) → Konvergensi → Respon positif
TEORI IDENTITAS SOSIAL
Bagian dari diri kita yang terbentuk dari keanggotaan dalam kelompok (etnis, agama, profesi, gender)
KONTAK ANTAR-KELOMPOK --> Saat kita menyadari perbedaan kelompok dalam interaksi sosial.
contoh --> Ketika jadi satu-satunya orang dari kelompok tertentu, kita mungkin ingin menunjukkan bahwa kelompok kita bernilai dan unik. Maka komunikasi kita akan cenderung berbeda (divergensi) untuk menegaskan identitas kelompok.
DIVERGENSI
Tujuan: menunjukan identitas diri atau kelompok.
Contoh: Seorang penutur asli bahasa Jawa tetap menggunakan dialek Jawa halus ketika berbicara dengan orang dari luar daerah, meskipun tahu bahwa lawan bicaranya tidak mengerti.
komunikasi menunjukan perbedaan gaya bicara, bahasa, atau perilaku komunikasi mereka dari lawan bicara, dengan tujuan untuk menonjolkan identitas sosial atau kelompok mereka.
Urutannya menjadi: kebutuhan untuk berbeda (identitas sosial) → divergensi → respons negatif
INITIAL
ORIENTATION
kecendrungan seseorang untuk fokus pada identitas pribadi atau identitas kelompok saat berkomunikasi.
mengacu pada siapa yang biasanya memulai interaksi atau komunikasi dalam suatu budaya, terutama dalam konteks resolusi konflik atau pengambilan keputusan. Ini berkaitan dengan tingkat proaktivitas dalam berkomunikasi.
memengaruhi apakah seseorang akan berbicara sebagai individu atau sebagai wakil kelompok sosial.
FAKTOR
Budaya Kolektivistik vs Individualistik
Kolektivistik (we - centered): fokus pada kebersamaan dan kesamaan, cenderung melihat diri sebagai bagian dari kelompok.
Individualistik (I - centered): fokus pada diri sendiri dan kebebasan individu, cenderung lebih personal.
Pengalaman Interaksi yang Buruk
Jika pengalaman sebelumnya negatif, kita cenderung menyalahkan identitas kelompok lain
Jika pengalaman positif, lebih sering dianggap sebagai sifat pribadi lawan bicara.
Stereotipe Antar-Kelompok
Stereotipe negatif membuat orang lebih melihat lawan bicaranya sebagai bagian dari kelompok bukan individu.
Norma
Norma adalah harapan sosial tentang bagaimana seseorang seharusnya atau tidak seharusnya bersikap dalam situasi tertentu.
Solidaritas dan Ketergantungan Kelompok
Attribution theory
Giles mengadopsi Attribution Theory untuk menjelaskan bagaimana individu memberikan penilaian terhadap perilaku komunikasi orang lain—apakah itu dianggap sebagai bentuk penghargaan, ketidaksopanan, atau ketidakmampuan.
tiga faktor utama yang memengaruhi atribusi kita terhadap perilaku orang lain: ability, external constraints, effort
Sebagai contoh, ketika kita berbicara dengan orang tua yang terus-menerus meminta pengulangan ucapan kita, kita mungkin akan kesal jika berpikir ia tidak memperhatikan (low effort), tapi akan lebih maklum jika tahu ia mengalami gangguan pendengaran (low ability) atau berada di tempat yang bising (external constraint).
Bahkan ketika ia menggunakan alat bantu dengar namun tetap sulit mendengar, kita akan menghargai usahanya (high effort), meskipun komunikasinya tetap menantang. Artinya, penilaian terhadap komunikasi bukan hanya soal hasil, tetapi juga konteks dan intensi yang dipersepsikan.
01041240009
PRISKILA WAWORUNTU