Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
RAKYAT RIAU ANGKAT SENJATA 33216ee6077c8bf20c03b90329f3dab4 - Coggle…
RAKYAT RIAU ANGKAT SENJATA
Rakyat Riau Angkat Senjata adalah salah satu gerakan perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Riau terhadap tindakan sewenang-wenang VOC.
Pada abad ke-17, VOC berhasil menguasai Malaka, sebuah pusat perdagangan yang strategis di Nusantara. Dengan demikian, VOC dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya dari berbagai daerah di Nusantara. Salah satu daerah yang menjadi sasaran VOC adalah Kepulauan Riau, yang terletak di Selat Malaka dan memiliki banyak sumber daya alam.
VOC tidak hanya ingin menguasai perdagangan di Kepulauan Riau, tetapi juga ingin mengintervensi urusan politik dan pemerintahan di sana. VOC melakukan politik devide et impera, yaitu memecah belah kerajaan-kerajaan di Kepulauan Riau menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling bersaing dan bergantung pada VOC. Beberapa kerajaan yang terpecah belah oleh VOC antara lain adalah Siak, Indragiri, Rokan, dan Kampar.
Tindakan sewenang-wenang VOC ini menimbulkan rasa tidak puas dan kesadaran untuk melawan di kalangan rakyat Riau. Mereka merasa bahwa VOC telah merampas hak-hak mereka sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Oleh karena itu, mereka melakukan gerakan perlawanan yang dikenal dengan nama Rakyat Riau Angkat Senjata.
Perlawanan ini terjadi dalam beberapa tahap
1.mulai dari merebut Johor
2.membangun benteng di Pulau Bintan
3.menyerang Malaka
4.hingga menyergap VOC di Loji.
Tahap pertama adalah pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Pada tahun 1725, ia berhasil merebut Johor dari tangan VOC. Kemudian ia membangun benteng pertahanan di Pulau Bintan untuk melindungi wilayahnya dari serangan VOC. Dari benteng ini, ia mengirim pasukan di bawah komando Raja Lela Muda untuk menyerang Malaka, basis VOC di Nusantara.
Tahap kedua adalah pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah. Pada tahun 1751, perlawanan berkobar lagi setelah kematian ayahnya. VOC mencoba memutus jalur perdagangan menuju Siak dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan di sepanjang sungai Indragiri, Kampar, sampai Pulau Guntung yang berada di muara sungai Siak. Pertempuran puncak terjadi di Pulau Guntung pada tahun 1752-1753. Di sini, VOC membawa kapal perang Harimau Buas yang dilengkapi dengan meriam.
Pertempuran berlangsung sengit selama satu bulan. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Kerajaan Siak kesusahan menembus benteng pertahanan VOC. Akhirnya, Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah memutuskan untuk berpura-pura menyerah pada VOC. Ia mengajak VOC untuk melakukan perundingan damai di Loji, Pulau Guntung. Pada perundingan ini, sultan dipaksa untuk tunduk pada VOC.
Namun, sultan ternyata memiliki siasat rahasia yang dikenal dengan siasat hadiah sultan. Ia memberi kode kepada anak buahnya untuk menyergap VOC di Loji. Loji dibakar dan sultan kembali ke Siak membawa kemenangan. Siasat perang ini tidak lepas dari jasa Raja Indra Pahlawan, yang berhasil mengelabui VOC dengan berpura-pura menjadi utusan sultan.
Tokoh-Tokoh Perlawanan
Gerakan perlawanan Rakyat Riau Angkat Senjata dipelopori oleh Kerajaan Siak Sri Indrapura, salah satu kerajaan besar di Kepulauan Riau. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723-1744)
yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah (1746-1760).
Dampak Perlawanan
Perlawanan Rakyat Riau Angkat Senjata memberikan dampak yang signifikan bagi sejarah Indonesia, yaitu dampak positif dan negatif:
-
-