Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
TEATER - Coggle Diagram
TEATER
Perkembangan Teater di Indonesia
Sastra Drama Zaman Jepang (1941-1945)
Mulai berkembangnya rombongan sandiwara profesional. Penjajahan Jepang yang mengakibatkan lenyapnya semua hiburan yang berbau Belanda.
Munculnya rombongan sandiwara amatir (sandiwara penggemar) "Maya" yang dibawa Usmar Ismail dan D. Djajakusuma
Sastra Drama Sesudah Kemerdekaan (1945-1970)
Dasawarsa 1950-an
Penulis drama yang muncul pada awal tahun 1950-an adalah Achdiat Kartamihardja, Sri Murtono,Rustandi Kartakusumah, Sitor Situmorang, dan Slamet Muljana.
Tokoh yang sangat menonjol dalam kualitas drama dan produktivitasnya adalah Utuy Tatang Sontani yang telah menulis sejak masa revolusi
Dasawarsa 1960-an
Penulis yang awalnya menulis pada tahun 50-an mulai mengundurkan diri kecuali Utuy Tatang Sontani. Namun muncul beberapa penulis misalnya Motinggo Busje.
Tiga kota di Jawa yang terkenal oleh kegiatan dramanya pada tahun ini adalah Jakarta (ATNI), Yogyakarta (ASDRAFI, Teater Muslim, Teater Kristen, Studigrup Drama Yogya), dan Bandung (STB)
Sastra Drama Poedjangga Baroe (1926-1939)
Roestam Effendi yang menulis "Bebasari" pada tahun 1926 dalam Bahasa Indonesia standar. Naskah ini ditulis dalam bentuk sajak.
Tokoh yang menulis sastra drama pada zaman ini adalah Roestam Effendi, Mohamad Yamin, Sanusi Pane, dan Arminj Pane.
Sastra Drama Mutakhir
Mulai dari berdirinya Dewan Kesenian Jakarta dengan Taman Ismail Marzuki. Dewan tersebut didahului oleh pembentukan Akademi Jakarta pada tahun 1968 yang merupakan sebuah pusat kesenian dengan sponsor utama pemerintah DKI Jaya.
Tokoh yang sangat menonjol dan menunjukkan ciri sastra drama mutakhir adalah Putu Wijaya
Sastra Drama Melayu-Rendah (1891-1940)
Berdirinya Komedie Stamboel di Surabaya tahun 1891 oleh August Mahieu dan Yap Goan Tay yang mencari bentuk budaya baru dalam hiburan Indonesia.
Sampai tahun 1901 Komedie Stamboel belum melahirkan sastra drama. Pementasan masih berdasarkan cerita yang dituturkan oleh sutradara dan setiap pemian harus menciptakan dialognya sendiri.
Tahun 1901 pengarang F. Wiggers menulis sastra drama yang berjudul "Lelakon Raden Beij Soerio Retno dalam bentuk satu babak.
Tokoh, Kelompok, dan Komunitas Pengembang Teater di Indonesia
Grup Pengembang Teater Legendaris Indonesia
Teater Koma
Grup teater ini disebut sebagai grup yang paling produktif di Indonesia. Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno menjadi salah satu seniman teater, sutradara, aktor serta penulis naskah yang dihormati di Indonesia.
Teater Kecil
Arifin C. Noer mendirikan grup teater bernama Teater Kecil dan kerap menggelar pementasan yang mendapatkan penilaian positif dari para kritikus.
Teater Mandiri
Putu Wijaya yang awalnya mantan anggota Bengkel Teater Rendra yang mendirikan serta memimpin Teater Mandiri.
Teater Populer
Teguh Karya mendirikan grup Teater Populer dengan anggota antara lain Nano Riantiarno, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, El Malik, Hengki Sulaiman dan beberapa nama beken lainnya.
Bengkel Teater Rendra
Sempat dua kali berdiri, di Yogyakarta pada tahun 1961 dan Depok 1986. WS Rendra menjadi barometer pertunjukan teater modern di Indonesia
Sumber
Nuryanto, Tato. 2017. Apresiasi Drama. Depok: Rajawali Pers
https://kemenparekraf.go.id/hasil-pencarian/mengenal-grup-grup-teater-legendaris-indonesia