Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, Brahmana: Pendeta - Coggle Diagram
Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Masuknya Agama dan Kebudayaan
Teori Waisya
Golongan terbesar yang datang ke Indonesia adalah pedagang India (kasta waisya).
Jika para pedagang yang perperan terhadap penyebaran kebudayaan, pusat-pusat kebudayaan mestinya hanya terdapat di wilayah perdagangan, seperti di pelabuhan atau di pusat kota yang ada di dekatnya. Kenyataanya, pengaruh kebudayaan Hindu banyak terdapat di wilayah pedalaman, dibuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu di pedalaman Pulau Jawa.
Teori Kesatria
Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang lantas meninggalkan India.
Tidak adal bukti tertulis bahwa pernah terjadi kolonisasi oleh para kesatria India.
Teori Brahmana
Para brahmana datang dari India ke Indonesia atas undangan pemimpin suku dalam rangka melegitimasi kekuasaan mereka sehingga setaraf dengan raja-raja di India. DI India bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa hanya digunakan dalam kitab suci Weda dan upacara keagamaan, dan hanya golongan brahmana yang mengerti dan menguasainya.
Kendati benar hanya para brahmana yang dapat membaca dan menguasai Weda, para pendeta Hindu itu pantang menyebrangi lautan.
Teori Arus Balik
Bangsa Indonesia mempunyai kepentingan untuk datang dan berkunjung ke India, seperti memperlajari agama Hindu dan Buddha. Sekembalinya dari India, mereka membawa pengetahuan tentang agama dan kebudayaan di India.
Banyak orang lebih meyakini, tetapi masih memerlukan banyak bukti lagi untuk memperkuat kebenarannya.
Kerajaan Kutai
Lokasi dan Sumber Sejarah
Kutai (Kutai Martadipura) merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia.
Bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah temuan prasasti yang ditulis di atas tujuh buah Yupa (tugu batu). Parasti tersebut ditemukan di daerah hulu Sungai Mahakam. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa (huruf yang banyak digunakan di wiliayah India selatan) dan berbahasa Sanskerta.
Keadaan Masyarakat dan Kehidupan Sosial-Budaya
Kudungga
Aswawarman
Mulawarman (terkenal)
Dharma Setia
Melakukan upacara pengurbanan dan memberikan hadiah atau sedekah kepada para brahmana sejumlah 20.000 ekor sapi.
Kerajaan Tarumanagara
Lokasi dan Sumber Sejarah
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia.
Letalk wilayah di Jawa Barat, dibuktikan dengan adanya sejumlah prasasti di daerah sekitar.
Bogor
Kebon Kopi
Jambu
Pasir Awi
Prasasti Muara Cianten
Prasasti Ciaruteun
Jakarta Utara
Prasasti Tugu di Cilicing
Banten
Prasasti Cidanghiang di Desa Lebak
Kondisi Sosial-Politik Kerajaan
Prasasti Ciaruteun/Prasasti Ciampea
Cap telapak kaki yang melambang kekuasaan atau penaklukan raja atas daerah tempat ditemukannta prasasti tersebut.
Prasasti Kebon Kopi
Gambar tapak kaki gajah, yang disamakan dengan gajah Airawata, atau gajah kendaraan Dewa Wisnu.
Prasasti Tugu
Prasasti terpanjang dan terpenting Raja Purnawarman (terkenal).
Memerintah selama 22 tahun dan diselesaikan hanya dalam waktu 21 hari.
Tulisan yang ada di atas batu dapat dibaca secara melingkar, yang isinya antara lain menyebutkan tentang pembangunan saluran air yang panjangnnya 6.112 tombak (setara dengan 11 km) yang diberi nama Gomati.
Prasasti ini menyebutkan tentang Sungai Candrabagha, yang menurut para ahli sama dengan Sungai Bekasi sekarang.
Bekasi: baghasasi
Candra: bulan atau sasi
Sangat dimungkinkan penggalian sungai ini adalah untuk mengatasi masalah banjir, serta untuk mengairi sawah pada musim kemarau..
Pecah menjadi dua;
Kerajaan Sunda
Tarusbawa
Kerajaan Galuh
Wretikandayun
Kerajaan Sriwijaya
Lokasi dan Sumber Sejarah
Kerajaan Swriwijaya merupakan kerajaan Buddha pertama di Indonesia.
Prasasti
Kota Kapur
Prasasti tertua
Kata "Swriwijaya" pertama kali diperkenal. Di dalamnya disebutkan "bumi Jawa tidak mau tunduk pada Swriwijaya" (yang dimaksud "bumi Jawa" adalah Kerajaan Tarumanegara
Kedukan Bukit
Talang Tuo
Telaga Batu
Karang Berahi
Ligor
Kondisi Sosial-Politik Kerajaan
Memiliki letak strategis, yaitu berada di jalur perdagangan anatara India dan Tiongkok. Hal ini menjadi salah satu faktor Swriwijaya berkembang menjadi kerajaan maritim yang penting di Sumatra, bahkan menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok.
Mencapai zaman keemasan di bawah Raja Balaputradewa (terkenal).
Faktor kemajuan:
Letaknya strategis, yaitu berada di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok.
Menguasai jalur-jalur perdagangan, seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Semenanjung Melayu, dan Tanah Genting Kra.
Hasil-hasil buminya, seperti emas, perak, dan rempah-rempah, menjadi komoditas perdagangan yang berharga.
Armada lautnya kuar karena menjalin kerja sama dengan armada laut kerajaan-kerajaan di India dan Tiongkok.
Pendapatan melimpah dari upeti raja-raja yang ditaklukkan, cukai terhadap kapal-kapal asing dan barang dagangan, serta hasil buminya sendiri.
Faktor kemunduran:
Serangan Kerajaan Medang Kamulan, Jawa Timur, di bawah Raja Dharmawangsa
Brahmana: Pendeta
Ksatria: Raja, bangsawan
Waisya: Pedagang besar, pekerja layak
Sudra: Petani
Paria: Budak