Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Perokok yang Mengalami Sesak napas, Athallah Noufal Mubarak (2206046986) -…
Perokok yang Mengalami Sesak napas
Anatomi saluran napas atas
Nasi
Nasi externus
Ala nasi
Nares
Os nasalis, proc frontalis maksila, proc nasalis os frontal, spina nasalis, septum nasi
Septum nasi → vomer, kartilago septum, lamina perpendikularis os ethmoidalis
Cavum nasi
⅔ bawah pernapasan, ⅓ atas penciuman
Konka (3), meatus (3)
Meatus inferior → juga merupakan keluar lacrimal sac
Sinus frontalis
Berbentuk segitiga, di bawah regio frontalis
Bermuara ke infundibulum ethmoidalis melalui duktus frontonasal
Sinus maksilaris
Sinus terbesar, mengisi penuh corpus maksila
Berbentuk piramidal (apex → lateral ; basis → profunda dari dinding lateral cavitas nasi)
Bermuara pada dinding lateral meatus media
Sinus ethmoidalis
Ant → muara ke meatus media
Media → membuka langsung ke meatus media
Post → membuka langsung ke meatus superior
Sinus sphenoid
Terkadang menyatu dengan sinus ethmoidalis, berbatasan dengan kiasma optikum dan n. optikus
Faring
Nasofaring
Prokismal → dasar tengkorak hingga garis horizontal imajiner velum
Batas ke hidung → koana ; batas ke telinga tengah → ostium tuba eustachius
Batas superior → sinus sphenoid dan atap faring
Torus tubarius → medial ostium tuba eustachius, kartilago tuba menonjol membentuk bibir
Orofaring
Isthmus faucial → penghubung cavitas oral dan orofaring
Batas anterior → dasar lidah dan tonsil lidah
Batas lateral → pilar faucial yang mengapit tonsila palatina
Laringofaring
Segmen distal, membentang dari batas superior epiglotis hingga batas inferior akrtilago cricoid
Posterior → vertebrae C3-6
Dinding anterior → membentuk sinus piriformis yang bergabung dengan esofagus
Laring
Kartilago tiroid
Kartilago terbesar yang berbentuk pelindung dan melindungi pita suara di dalamnya
Anteriornya terdapat prominensi → adam’s apple
Kartilago krikoid
Membentuk cincin saluran pernapasan yang membentuk dinding laring dan trakea
Lebar di post dan menyempit di ant
Tulang rawan hialin
Kartilago epiglotis
Terletak di atas laring, berfungsi untuk menurup saluran napas saat menelan
Anatomi saluran napas bawah
Trakea
Batang tenggorokan
Tabung udara, panjang 10 - 13 cm, diameter 2,5 cm
Anterior esofagus, memanjang dari laring (cartilago cricoidea) hingga batas superior T5 → bifurkasi trakea
Trakea pars cervicalis
Trakea pars thoracica
16 - 20 cincin tulang rawan hialin yang berbentuk seperti huruf C, bagian yang terbuka menghadap posterior (esofagus)
Bronkus
Bifurkasi trakea bercabang menjadi dua bronchus primer kanan dan kiri
Carina → tonjolan pada bagian dalam percabangan trakea menjadi bronchus
Bronkus primer kanan lebih vertikal, pendek, dan lebar dibandingkan sisi kiri
Struktur bronchus primer masih menyerupai trakea, yaitu tersusun atas cincin kartilago yang tidak utuh.
Bronkiolus
Bronchus segmental kemudian akan terbagi menjadi bronchiolus.
Bronchiolus akan terus bercabang berulang kali hingga bronchiolus terkecil, yaitu bronchiolus terminal.
Bronchiolus terminal mewakili ujung zona konduksi sistem pernapasan.
Percabangan luas dari trakea melalui bronkiolus terminal menyerupai pohon terbalik dan biasa disebut pohon bronkial.
Paru
Paru terletak di atas diafragma → superior clavicula, mengisi rongga antara sisi anterior dan posterior tulang rusuk
Facies (permukaan paru)
facies costalis: berhadapan dengan tulang costae
facies mediastinalis: sisi medial yang berhubungan dengan mediastinum
facies diaphragmatica: bertumpu pada kubah cembung diafragma
Margo (perbatasan paru)
margo anterior (memisahkan facies costalis dan mediastinalis)
margo inferior (memisahkan facies costalis dan mediastinalis dari bagian basis/facies diaphragmatica)
margo posterior (permukaan halus, lebar, dan mencembung)
Pleura
Pleura
Parietalis
Visceralis
Kavitas pleura → lubrikasi
Inflamasi → pleuritis → efusi pleura
Berdasarkan lokasinya, pleura parietalis dibagi menjadi pleura kostal, pleura mediastinal, pleura diafragmatik, dan pleura servikal
Alveolus
Segmen bronkopulmoner
Lobulus
Pembuluh limfatik, arteriol, venula, bronkiolus terminal
Bronkiolus respiratori → ductus alveolar → alveolar sacs → alveoli
Alveoli
Sel tipe I → pertukaran gas
Sel tipe II → surfaktan
Jaringan kapiler, arteriol, venula mengelilingi → difusi
Histologi saluran napas atas
Cavitas nasi
Vestibulum Nasi
Kelenjar keringat
Kelenjar sebasea
Rambut hidung → Menyaring komponen-komponen yang dihirup bersamaan dengan udara
Epitel → Epitel pipih berlapis non keratin → transisi ke epitel respiratorius
Fossa Nasalis
Fossa nasalis
Septum nasalis
Konka nasalis
Epitel respiratorius → epitel bertingkat silindris bersilia dan bersel goblet
Epitel olfaktorius
Mukosa olfaktorius
Epitel respiratoriua
Epitel bertingkat silindris bersilia dan bersel goblet
Berada pada membran basal yang tebal → struktur bervariasi → tergantung letak
Tipe kolumnar, basal, atau seluruhnya berada pada membran basal
Silia-silia yang apikalnya menonjol ke permukaan luminal
Sel goblet → sekresi mukus
Pembuluh darah → lamina propria
Epitel olfaktorius
Epitel bertingkat silindris bersilia dan tidak bersel goblet
Atap nasal → membran mukosa menutupi konka superior
3 tipe sel:
Neuron olfaktorius → neuron bipolar
Sel penunjang → struktur kolumnar → menjaga kelangsungan hidup sel sel olfaktorius
Sel basal → sel punca
Kelenjar olfaktorius (Bowman) → fasilitasi zatzat ke reseptor olfaktorius
Sinus paranasales
Sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, dan sinus sphenoidalis
Epitel respiratorius yang lebih tipis dan sel goblet yang lebih sedikit
Lamina propria → sedikit kelenjar dan berhubungan langsung dengan periosteum
Menghasilkan mukus → menjaga kebersihan dan fungsi saluran napas
Faring
Nasofaring dan Orofaring
Orofaring → Menghadap ke rongga mulut → epitel gepeng berlapis
Nasofaring → menghadap ke saluran napas → epitel respiratorius
Lamina propria nasofaring → jaringan ikat longgar hingga padat yang ireguler
Adanya limfoid yang banyak → membentuk cincin Waldeyer → proteksi pintu masuk sistem napas dan pencernaan
Laring
Kartilago hialin → (tiroid, krikoid, dan inferior dari kartilago aritenoid)
Kartilago elastin kecil → (epiglotis, cuneiform, kornikulata, dan superior dari kartilago aritenoid)
Kartilago disambungkan ligamen
Epiglotis → lingual, laryngeal, dan kartolago elastis
Lingual → epitel gepeng berlapis tanpa keratin
Laringeal → epitel respiratorius
Lamina propria → jar. ikat jarang dan kelenjar campur mukosa dan serosa
Histologi saluran napas bawah
Trakea
● Lapisan mukosa
○ Epitel → Epitel Respiratorius
○ Lamina Propria → Kelenjar seromukosa, elemen limfoid, jaringan ikat fibroelastin
● Lapisan submukosa
○ Kelenjar seromukosa, elemen limfoid, pembuluh darah
Bronkus
Mukosa
● Lipatan mukosa → dapat diamati pada potongan histologis
● Di lapisan mukosa, terdiri atas:
○ Epitel respiratorius
○ Lamina propria → di bawah epitel, dapat ditemukan adanya kelenjar campur (seromukosa), elemen limfoid, & jaringan ikat fibroelastin
Submukosa
● Mencakup kelenjar campur dan elemen limfoid
Lempengan kartilago hialin → berbentuk melingkar / terpisah (kalau intrapulmonal)
Adventisia → jaringan ikat fibroelastin
Otot polos → tersusun seperti spiral.
Bronkiolus
● Diameter 5 mm atau kurang
● Lapis mukosa: Epitel selapis silindris bersilia bersel goblet (jika masih dekat dengan bronkus) hingga epitel selapis silindris/kuboid bersilia tanpa sel goblet.
Sel goblet disini akan digantikan dengan sel clara yang berfungsi menghasilkan surfaktan agar tidak kolaps
● Lamina propria: Diselubungi jaringan ikat fibroelastin tanpa ada kelenjar
● Tidak ada tulang rawan
● Adventisia: Masih tersusun oleh serat elastin
● Otot polos melingkar
Sel clara
Pada bronkiolus terminalis dan bronkiolus respiratorius tidak ada sel goblet dan ada sel clara
Sel Clara/Club Cell = Bentuknya kubah/dome shaped, umumnya gak bersillia
FUNGSI
● Mensekresi surfaktan supaya bronkiolus gak collapse
● Mendegradasi toksin udara pake enzim CYP450
● Sel-sel progenitor bisa membelah jadi sel-sel bronkiolus
Alveolus
Dinding alveolus = terdiri dari septum interalveolar = memisahkan alveolus satu dengan lainnya, yang mengandung kapiler kontinu dengan membran basal, penting untuk pembentukan sawar darah-udara.
Mekanisme pernapasan
Ventilasi paru
Ventilasi paru atau pernapasan didefinisikan sebagai aliran udara masuk dan keluar paru-paru
Udara mengalir antara atmosfer dan alveolus paru-paru akibat gradien tekanan yang berubah-ubah yang diciptakan oleh kontraksi dan relaksasi otot-otot pernapasan
Udara mengalir dari tempat dengan tekanan yang lebih tinggi ke tempat yang memiliki tekanan lebih rendah
Difusi paru
Proses pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida) yang terjadi antara alveolus (kantung udara di paru-paru) dan kapiler darah. Proses ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial (gradien konsentrasi) antara kedua lingkungan tersebut.
proses aliran darah melalui pembuluh darah kapiler di paru-paru yang terjadi untuk memungkinkan pertukaran gas antara darah dan alveolus. Dalam proses ini, oksigen dari udara yang dihirup masuk ke dalam darah, sementara karbon dioksida dari darah dikeluarkan melalui pernapasan.
Efek dari faktor kimia, neural, dan latihan fisik terhadap kontrol napas
Neural
Ritme pernapasan
Pembentukan ritme pernapasan → kompleks pre-botzinger → di ujung atas VRG.
Kompleks pre-botzinger → memiliki aktivitas pacemaker → menghasilkan potensial aksi → mengendalikan kecepatan impuls neuron inspirasi DRG secara ritmis
Kimia
Penurunan po2
Penurunan PO2 → dipantau kemoreseptor perifer di badan karotid dan badan aorta
Kemoreseptor perifer tidak sensitif terhadap perubahan PO2 arteri
Bila penurunan dibawah 60 mmHg atau >40% → kemoreseptor perifer baru merespon → kirim impuls aferen ke neuron inspirasi medula → meningkatkan ventilasi
Karena margin keamanan saturasi Hb → Hb masih jenuh 90% pada PO2 arteri 60 mmHg
Penurunan pco2
Penurunan PCO2 → lebih berperan dalam kondisi ventilasi istirahat
Tidak ada reseptor yang dapat memantau PCO2 secara langsung
Kemoreseptor perifer → memberikan respon minimal
Perlu kemoreseptor sentral di medula dekat pusat pernapasan
Kemoreseptor sentral → lewat peningkatan konsentrasi H+ di ECF otak
Penurunan pH
H+ tidak bisa melewati kemoreseptor sentral → karena ada BBB
Masih bisa lewat kemoreseptor perifer
Dipengaruhi juga oleh kadar PCO2 → untuk bisa memengaruhi kemoreseptor central
Kemoreseptor perifer → kontrol H+ tanpa diikuti perubahan CO2
Contoh : kondisi diabetes → produksi asam keto berlebih → peningkatan konsentrasi H+ → rangsangan kemoreseptor perifer.
Latihan fisik
Ventilasi meningkat 20x lipat → memenuhi kebutuhan oksigen dan pembuangan karbon dioksida
Bisa lewat 3 faktor kimia utama
Refleks dari gerakan tubuh
Refleks pada sendi dan otot
Peningkatan suhu tubuh
Pelepasan epinefrin
Epinefrin di medula adrenal → merangsang ventilasi → kadar epinefrin meningkat selama olahraga → respon aktivasi simpatik
Aspek biokimia pada pertukaran gas
Transpor o2 dan co2
Oksigen
Ditranspor→ berikatan dengan hemoglobin
Terlarut
Karbon dioksida
diangkut dalam bentuk bikarbonat
sebagian ditranspor dengan hemoglobin→ berikatan pada valin→ karbamat hemoglobin
Hemoglobin
Hemoglobin
Mengangkut O2 ke jaringan dan membawa CO2 dan H+ kembali ke paru-paru
terdiri atas 4 rantai polipeptida yang terdiri atas 2 subunit α (α1 & α2) dan 2 subunit β (β1 & β2) → berikatan dengan heme
Heme→ cincin porfirin hidrofobik yang mengikat ion Fe2+ (Ferro) → pengikat O2
Aspek Biokimia Keseimbangan Asam Basa Pada Sistem Pernapasan
Buffer Bikarbonat (HCO₃⁻)
Fungsi Utama: Menahan perubahan pH di cairan ekstraseluler.
Komponen:
HCO₃⁻ (basa lemah).
H₂CO₃ (asam lemah).
Proses:
Penurunan pH: H⁺ berikatan dengan HCO₃⁻ → membentuk H₂CO₃ (asam lemah).
Peningkatan pH: H₂CO₃ terdisosiasi menjadi H⁺ dan HCO₃⁻ untuk menstabilkan pH.
Peran Organ: Paru-paru mengeliminasi CO₂, ginjal mengatur ekskresi H⁺ dan reabsorpsi HCO₃⁻.
Buffer Protein
Fungsi: Bekerja di cairan intraseluler dan ekstraseluler.
Komponen Utama: Gugus karboksil (–COOH) dan gugus amino (–NH₂).
Proses:
Peningkatan pH: Gugus karboksil (–COOH) melepaskan H⁺ → bertindak sebagai asam lemah.
Penurunan pH: Gugus amino (–NH₂) menangkap H⁺ → bertindak sebagai basa lemah.
Pembuangan co2
Fungsi Utama: Sistem respirasi menjaga keseimbangan pH tubuh dengan mengatur pertukaran gas, terutama CO₂.
Pengaruh CO₂ terhadap pH:
Peningkatan CO₂ → Peningkatan H⁺ → Penurunan pH (lebih asam).
Pengeluaran CO₂ melalui ekspirasi → Pengurangan H₂CO₃ (asam volatil) → Keseimbangan pH terjaga.
Mekanisme Kompensasi:
Laju Pernapasan: Diatur untuk menyeimbangkan pH melalui umpan balik negatif.
Peran Kemoreseptor:
Sentral (medulla oblongata): Mendeteksi perubahan H⁺ dan CO₂.
Perifer (badan aorta & karotid): Merespons kadar pH dan CO₂.
Kelompok Respiratorik Dorsal: Mengatur otot pernapasan untuk meningkatkan ventilasi jika CO₂ tinggi.
Patofisiologi Mekanisme Pernapasan yang dipengaruhi Oleh Rokok
Reprogram Epitel dan Epigenetik
: Rokok memicu perubahan epigenetik, seperti metilasi DNA dan modifikasi histon, yang mengganggu fungsi epitel saluran napas, melemahkan mekanisme pertahanan mukosilier.
Remodeling Saluran Napas dan Kerusakan Matriks
: Rokok meningkatkan aktivitas enzim proteolitik (seperti MMP), merusak matriks ekstraseluler, dan memicu fibrosis serta penebalan dinding saluran napas.
Respons Seluler Bawaan
: Rokok merangsang inflamasi kronis melalui aktivasi makrofag dan neutrofil, menghasilkan stres oksidatif dan kerusakan jaringan lebih lanjut.
Perubahan Mikrovaskular
: Rokok mengurangi fungsi endotel dan meningkatkan angiogenesis abnormal, memperburuk sirkulasi lokal dan oksigenasi jaringan.
Athallah Noufal Mubarak (2206046986)