Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Metabolisme and Enzyme - Coggle Diagram
Metabolisme and Enzyme
Metabolism
Catabolism
Catabolism Carbohydrates
Catabolism Anaerobic
Dengan tidak adanya oksigen, beberapa sel mampu menghasilkan ATP dengan katabolisme anaerobik glukosa. Ada dua fase katabolisme anaerobik glukosa yang terdiri dari glikolisis dan pembentukan laktat. Dalam glikolisis, glukosa dipecah menjadi dua molekul 3-karbon yang kemudian dioksidasi dan dimanipulasi untuk menghasilkan ATP. jalur katabolik ini menggunakan molekul oksigen. Sedangkan respirasi anaerob didefinisikan sebagai jalur katabolik.
Stage 1 – Stage of Digestion. The large organic molecules about organic chemistry like proteins, lipids, and polysaccharides are digested into their smaller components outside cells.
-
-
Catabolism Aerobic
Katabolisme Aerobik adalah proses kimia di mana oksigen digunakan untuk membuat energi dari karbohidrat (gula). Ini juga bisa disebut sebagai respirasi aerobik, respirasi sel, dan metabolisme oksidatif.
-
-
-
Metabolisme are biochemical reaction of living organisms (energy, repairing, breaking down waste, etc).
Kalau tidak ada enzyme di tubuh, metabolism kita akan sangat lambat dan kita akan mati.
Metabolism nanti dibagi dua menjadi catabolism dan anabolysm.
Enzyme
Enzim adalah protein yang membantu mempercepat metabolisme, atau reaksi kimia dalam tubuh kita. Mereka membangun beberapa zat dan menghancurkan yang lain. Semua organisme hidup memiliki enzim dalam tubuhnya.
Enzim terdiri dari dua komponen, yakni bagian pro (apoenzim) dan bukan bagian dari protein (gugus prostetik). Apoenzim tersusun atas protein dan mudah berubah tergantung faktor lingkungan, misalnya pH dan suhu. Gugus prostetik adalah molekul yang lebih kecil dan gugus prostetik ini itu tahan panas (termostabil), ion-ion logam yang menjadi kofaktor berperan sebagai stabilisator agar enzim tetap aktif. Gugus prostetik ini terdiri dari ion anorganik dan ion organik kompleks.
- Ion anorganik dalam gugus prostetik dikenal sebagai kofaktor. Kofaktor berfungsi sebagai katalis yang mampu meningkatkan kerja enzim, contohnya antara lain ion Klor (Cl) dan Kalsium (Ca) yang bertugas mengoptimalkan kerja enzim ptyalin pada mulut untuk menguraikan molekul gula kompleks.
- Ion organik dalam gugus prostetik disebut juga dengan koenzim. Koenzim ini berfungsi untuk memindahkan zat kimia dari satu enzim ke enzim lain. Contohnya antara lain adalah FADH, NADH, dan Vitamin B.
Sifat-sifat enzim
1) Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi. Jadi, enzim tidak mengubah produk akhir yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya meningkatkan laju suatu reaksi.
2) Enzim bekerja secara spesifik. Maka itu, enzim hanya mempengaruhi substrat tertentu.
3) Enzim merupakan biokatalisator. Semua reaksi metabolisme dikatalis (mempercepat laju reaksi kimia) oleh enzim.
4) Enzim itu bisa digunakan secara ulang. Selama enzimnya nggak rusak, enzim bisa dipakai berulang-ulang karena nggak ikut bereaksi
Faktor yang Mempengaruhi Enzim 1) Suhu
-> Sebagian besar enzim bekerja optimal di suhu tubuh normal. Masing-masing enzim mempunyai suhu optimum yang berbeda-beda. Apabila suhu di lingkungan enzim sedikit menurun, maka efektifitas enzim cenderung akan melambat. Sedangkan jika suhu di lingkungan enzim terlalu tinggi, maka enzim beresiko mengalami denaturasi yaitu perubahan struktur kimia enzim yang mengakibatkan enzim rusak dan tidak dapat menjalankan fungsinya.2) Derajat Keasaman (pH)
-> Seperti halnya suhu, enzim akan bekerja optimum pada kondisi pH tertentu. Pada umumnya pH optimum enzim berkisar antara 6-8. Namun, terdapat beberapa pengecualian.
-> Contohnya : enzim pepsin bekerja optimum pada pH = 2 di lambung untuk memecah protein menjadi pepton.3) Konsentrasi Substrat
-> Laju suatu reaksi enzim akan meningkat seiring dengan penurunan konsentrasi substrat. Ketika konsentrasi substrat semakin banyak kerja enzim akan menurun, sehingga dibutuhkan penambahan enzim untuk mengatasinya.4) Konsentrasi Enzim
-> Konsentrasi enzim dengan laju reaksi enzim berbanding lurus, artinya laju reaksi enzim akan bertambah secara konstan seiring dengan adanya penambahan konsentrasi enzim.5) Aktivator
-> Zat pengaktif seperti bahan kimia tertentu mampu meningkatkan kerja enzim. Contohnya, logam alkali, logam alkali tanah, Co, Mg, Mn, dan Cl.6) Inhibitor
-> Inhibitor adalah senyawa yang mampu menghambat kerja enzim. Inhibitor menyebabkan aktivitas enzim terganggu, sehingga enzim tidak bekerja secara optimal. Terdapat 2 macam inhitor, yaitu :
- Inhibitor kompetitif, merupakan suatu senyawa kimia yang menyerupai struktur substrat dan akan bersaing dengan substrat untuk menempati sisi aktif enzim. Apabila sisi aktif enzim sudah ditempati oleh inhibitor kompetitif dari substrat maka substrat tidak dapat berikatan dengan sisi aktif enzim.
- Inhibitor non kompetitif, adalah suatu senyawa kimia yang menghambat kerja enzim dengan cara melekat pada bagian selain sisi aktif enzim yaitu sisi alosterik. Pengikatan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan sisi aktif enzim, akibatnya substrat tidak dapat berikatan dengan sisi aktif enzim.
Teori Lock and Key = Menurut teori ini, suatu enzim hanya bekerja untuk satu jenis substrat saja yang akan berikatan pada sisi aktif. Enzim diibaratkan sebagai gembok dan substrat diibaratkan sebagai kunci. Enzim bergabung dengan substrat membentuk kompleks enzim-substrat. Jadi maksudnya lock and key itu enzim itu bisa dipakai berulang kali karena, enzim bisa dipakai berulang-ulang karena nggak ikut bereaksi, substrat itu yang dipakai pada saat bereaksi. Jadi enzimnya bisa dipakai berulang kali
Berdasarkan teori induksi pas (induced fit), enzim diibaratkan sanggup melakukan penyesuaian wujud untuk berikatan bersama suatu substrat. Hal ini bertujuan untuk menambah keserasian bersama substrat dan membuat ikatan pada enzim dan substrat menjadi lebih reaktif. Molekul enzim mempunyai segi aktif tempat menempelnya substrat sehingga terbentuklah molekul kompleks enzim substrat. Pengikatan substrat menginduksi penyesuaian terhadap enzim sehingga menambah keserasian pada keduanya dan mendorong molekul kompleks enzim-enzim substrat ada dalam kondisi yang lebih reaktif. Saat substrat masuk ke dalam segi aktif enzim, wujud segi aktif bakal termodifikasi melingkupinya dan membentuk kompleks. Saat product telah lepas berasal dari kompleks, enzim beralih menjadi tidak aktif ulang dan menjadi wujud yang lepas. Substrat lain pun sesudah itu ulang bereaksi bersama enzim tersebut. Begitu seterusnya.