Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
post partum hemorrhage, fadhilla ika herliana 2008260003 - Coggle Diagram
post partum hemorrhage
definisi
kehilangan darah disertai gejala atau tanda hipovolemia dalam 24 jam setelah persalinan, apapun jenin persalinannya
-
-
-
-
tanda dan gejala
-
trauma jalan lahir
darah berwarna merah segar, inspeksi jalan lahir terlihat sumber perdarahan
-
atonia uteri
uterus teraba lembek, fundus teraba setinggi atau lebih tinggi dari pusat
-
-
tatalaksana awal
-
periksa jalan lahir dan area perineum untuk melihat perdarahan dan laserasi (jika ada, misal: robekan serviks atau robekan vagina)
periksa kondisi abdomen: kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka, dan TFU
Pasang kateter Folley untuk memantau volume urin dibandingkan dengan jumlah cairan yang masuk. (Catatan: produksi urin normal 0.5-1 ml/kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam)
lakukan pengawasan tekanan darah, nadi, dan pernapasan ibu
Jika fasilitas tersedia, ambil sampel darah dan lakukan pemeriksaan: kadar hemoglobin (pemeriksaan hematologi rutin) dan penggolongan ABO, serta masa perdarahan dan pembekuan.
Pasang infus intravena dengan kanul berukuran besar (16 atau 18) dan mulai pemberian cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat atau Ringer Asetat) sesuai dengan kondisi ibu.
-
-
Tentukan penyebab dari perdarahan post partum tersebut dan akukan tatalaksana spesifik sesuai penyebabnya.
tatalaksana lanjutan
sisa plasenta
berikan agen uterotonik, lakukan eksplorasi dengan jari atau instrumen, berikan antibiotik profilaksis IV, jika terjadi perdarahan hebat segera rujuk
trauma jalan lahir
eksplorasi sumber perdarahan, jahit laserasi yang menjadi sumber perdarahan, jika perdarahan belum berhenti berikan asam traneksamat 1 g IV dan rujuk
retensio plasenta
berikan agen uterotonik, lakukan tarikan tali pusat terkendali, jika plasenta belum keluar lakukan manual plasenta dengan hati-hati. berikan antibiotik profilaksis IV (ampisilin 2 g dan metronidazol 500 mg) jika terjadi perdarahan hebat segera rujuk
-
atonia uteri
masase uterus dan berikan agen uterotonik, jika perdarahan belum berhenti, berikan asam traneksamat 1 g IV (dapat diulang setelah 30 menit), jika belum berhenti juga berikan tamponade balon intrauterin serta KBI atau aorta abdominal, kemudian di rujuk
komplikasi
komplikasi yang tersering adalah anemia berat, tromboemboli, kerusakan organ, sindrom asherman, dan adhesi intrauterin
prognosis
kematian ibu akibat PPH di negara berkembang sekitar 1 per 1000 persalinan. angka ini jauh berkurang jika penanganan PPH cepat dan tepat. resiko rekurensi PPH sekitar 15%
edukasi dan pencegahan
Edukasi yang dapat diberikan kepada ibu hamil yakni menyarankan ibu untuk rajin memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit). Pemeriksaan rutin pada ibu hamil disebut sebagai asuhan antenatal (Antenatal Care / ANC
pencegahan yang terbaik adalah dengan melakukan penanganan aktif kala III persalinan. PAKT adalah sebuah tindakan yang bertujuan mempercepat lahirnya plasenta dengan meningkatkan kontraksi uterus sehingg menurunkan kejadian perdarahan post partum karena atonia uteri, tindakan ini meliputi 3 komponen, yaitu:
- pemberian oksitosin 10 IU IM
- melakukan tarikan/traksi tali pusat terkendali
- masase uterus
farmakologi uterotonika
oksitosin
farmakodinamik
-
oksitosin dapat dihambat agonis adrenoseptor beta, MgSo4, anestesi inhalasi
mengubah arus ion transmembran dalam sel otot polos miometrium > kontraksi uterus yang terus menerus
-
-
dosis
-
induksi keluarnya ASI
spray nasal, dalam posisi duduk, 2-3 menit sebelum menyusui
-
kontraindikasi
fetal distress, prematuritas, bayi abnormal, ketidak seimbangan sefalopelvik, diberikan bersama obat simpatomimetik, preeklamsia berat
-