Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Sejarah Kondisi Politik, Ekonomi, dan Kewarganegaraan Bangsa Indonesia -…
Sejarah Kondisi Politik, Ekonomi, dan Kewarganegaraan Bangsa Indonesia
1. "Merdeka ga merdeka" Pada Awal Kemerdekaan Tahun 1945 - 1954
a.) Anomie
Anomie adalah situasi ketidaadanya norma, kekacauan, dan tidak terdapatnya peraturan.
Pada awal kemerdekaan, Indonesia terjadi Anomie.
Anomie bisa terjadi, karena anomie masyarakat adalah pertemuan dan perbentukan nilai lama ke nilai yang baru.
Hal ini bisa terjadi, karena adanya transisi pada pola pikir atau perubahan pola pikir, potensial yang menyebabkan konflik antara masyarakat, sehingga menimbulkan kerusuhan.
b.) Hiperinflasi/ Inflasi
Inflasi yang tidak terkendali, dimana kondisi ketika harga-harga naik begitu cepat serta nilai mata uang turun drastis.
Beredarnya mata uang Jepang yang tidak terkendali pada masa awal kemerdekaan, menyebabkan terjadinya hiperinflasi.
Pada masa itu, pemerintah Indonesia tidak melarang peredaran uang jepang, karena Indonesia belum memiliki mata uang sendiri.
Pada tahun 1946, mulai diumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai pasuka sekutu.
Kebijakan tersebut menyebabkan peredaran mata uang Indonesia semakin tidak terkendali
Belanda masih belum mengakui kemerdekaan Indonesia dan masih berusaha memprovokasi rakyat dan pemerintah sehingga menghambat kehidupan ekonomi masyarakat.
c.) Invasi Jerman
Invasi Jerman ini berhubungan dengan perang dunia ke-2 terhadap Belanda
Perlawanan terakhir mereka adalah ketika pekerja kereta api Belanda melakukan pemogokan (bisa dibilang sengaja) untuk mencegah pengangkutan orang-orang Yahudi.
Pekerja kereta api tersebut mencegah pengangkutan orang-orang Yahudi ke kamp-kamp konsestrasi di Timur serta mencegah pergerakan pasukan Jerman kembali ke Jerman untuk melindungi dari Sekutu invasi.
Fyi, perlawanan Belanda ini adalah sebuah gerakan rakyat Belanda yang melawan pendudukan Jerman atas Belanda pada masa Perang Dunia II.
Salah satu masalah gerakan perlawanan Belanda ini adalah ketika komunikasi terjalin dengan lambat.
Masalah lainnya juga ketika munculnya perlawanan secara lokal.
Invasi Jerman ini terjadi dari Mei 1940, hingga Mei 1945.
Sebagai tanggapan dari Dinas Ketertiban, Dewan Perlawanan, dan lainnya, Jerman mengerahkan pasukan kolaborator untuk melawan perlawanan.
Jerman berhasil mengalahkan Belanda, karena serangan yang dilakukan Jerman secara mendadak, yang membuat belanda kewalahan.
Baru pada akhir perang, sebuah kelompok pemberontakan bernama De Kern, tetapi pada akhirnya tidak efektif dalam mengorganisir gerakan yang meluas.
Pada saat itu, Belanda juga tidak memiliki tujuan nasional yang jelas, dan berjuang untuk berhasil (walaupun pada akhirnya tidak berhasil).
Dalam invasi Jerman ini, sebenarnya itu memberikan pengaruh baik pada masyarakat Indonesia.
Pengaruh baik itu adalah, Indonesia menjadi lepas dari penjajahan Belanda. Belanda ini juga sudah memikirkan negaranya sendiri, bagaimana cara mengalahkan Jerman, dan lainnya. Maka dari itu, berkat Jerman, Belanda menjadi lepas dari Indonesia.
d.) Agresi Militer
Agresi Militer Belanda I
Pada tanggal 21 Juli tahun 1947, Agresi Militer 1 dimulai, sasarannya adalah Jawa dan Sumatera.
Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.
Pemerintah RI mengadukan kepada PBB yang dinilai melanggar Perjanjian Linggarjati.
Belanda mengumumkan bahwa tidak lagi terikat terhadap perjanjian Linggarjati, dan keesokan harinya, Agresi Militer Belanda I dimulai.
Walaupun Indonesia telah merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, tetapi Indonesia belum damai, alias belum bebas dari perang.
Agresi Militer Belanda II
Serangan tersebut dimulai pada tanggal 19 Desember hinggan 20 Desember 1948.
Setelah mereka gagal pada Agresi Militer I, Belanda lagi dan lagi kembali menyerang Indonesia setahun kemudian.
Tujuan Agresi Militer II ini untuk melumpuhkan pusat pemerintahan Indonesia sehingga Belanda bisa menguasai Indonesia kembali.
Belanda ingin merebut kekayaan alam yang ada di Indonesia untuk kepentingan mereka sendiri.
Belanda ingin menumbuhkan perekonomian negaranya yang hancur setelah kalah dalam Perang Dunia II.
2. Konferensi Meja Bundar
Isi Perjanjian KMB
Belanda harus menyerahkan kedaulatan RI selambat-lambatnya 30 Desember 1949
Penyelesaian masalah Irian Barat akan dilakukan setahun lagi setelah pengakuan kedaulatan
Indonesia harus membayar utang negeri Hindia Belanda sebesar 4.3 miliar gulden
Kapal perang Belanda segera ditarik dari Indonesia dan beberapa korvet dan kapal selam diserahkan kepada RIS
Pasukan Belanda ditarik dan KNIL dibubarkan. Anggota KNIL yang diperlukan termasuk TNI
Efek yang dirasakan Indonesia dari hasil KMB
Utang pemerintah Belanda sebesar 4,3 miliar gulden sejak 1942 sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah RIS
Indonesia dapat segera memulai konstruksi dari beberapa penyerangan yang dilakukan Belanda selama revolusi fisik
Beberapa penyerangan tersebut, termasuk dua kali agresi militer yang memakan korban jiwa dan materi
Keterlambatan dalam menyelesaikan masalah Irian Barat untuk setahun kemudian
Soekarno mulai kebingungan, bagaimana cara membayar utang 4.3 miliar gulden, atau kurs sekarang, 16 triliun, 223 miliar, 410 juta rupiah
Belanda bersedia mengakui kedaulatan RI dengan catatan, Indonesia harus menanggung utang dari zaman pemerintahan Hindia Belanda hingga penyerahan kedaulatan.
Indonesia harus menanggung pembiayaan 17 ribu karyawan eks Belanda yang berada di Indonesia selama 2 tahun, serta menampung 26 ribu tentara mantan KNIL.
Solusi yang dilakukan presiden dalam menyelesaikan masalah KMB
Selama tahun-tahun awal setelah pengakuan kedaulatan, pemerintah Indonesia menerapkan strategi tambal-sulam.
Indonesia mengajukan pinjaman kepada negara-negara komunis, yakni Uni Soviet dan sekutu-sekutunya, yang sebagian besar hasilnya itu digunakan untuk membayar utang warisan Belanda.
Ketika Sukarno memutuskan untuk mengabaikan pembayaran utang warisan Belanda pada 1956, Indonesia sebenarnya sudah melunasi sebagian utang tersebut hingga 82 persen.
Meski demikian, Soekarno terus saja berutang kepada negara-negara komunis, dimana pada akhirnya tidak semua hasil KMB dipenuhi atau dilaksanakan
Masalah yang tak dapat terpecahkan dan hasilnya
Pada tahun 1965, saat berakhirnya orde lama pemimpin Soekarno, Soeharto selaku presiden RI berikutnyalah yang harus menanggung beban utang warisan tersebut
Pada tahun 1965, beban pinjaman pemerintah Indonesia mencapai 2,36 miliar dolar AS, naik dua kali lipat ketimbang utang warisan Belanda hasil KMB tahun 1949
Lalu, bagaimana sistem Soeharto dalam menanggung semua hutang yang ada?
Ternyata sama saja, seperti apa yang dilakukan Soekarno saat masa orde lama lalu
Pemerintahannya terus meminjam uang, walaupun bukan lagi dari Blok Timur, melainkan dari Blok Barat, terutama Amerika Serikat
Dan besaran utang sebagai “tumbal” pengakuan kedaulatan itu terus-menerus diwariskan kepada presiden-presiden RI berikutnya, hingga kini
3. Perbebatan Irian Barat
a.) Asal Muasal Nama Iran
Dari hasil KMB, Irian Barat belum menemui titik terang. Indonesia menyatakan bahwa Papua adalah milik mereka, lalu Belanda juga menyatakan bahwa itu bukan milik Indonesia, sehingga Belanda bisa mengambil daerah tersebut.
Belanda keras kepala atau "ngotot" sekali bahwa Papua itu bukan milik Indonesia, karena perbedaan etnis dan ras yang sangat berbeda di wilayah Papua dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya.
Belanda menamai Papua atau Irian, sebagai Netherlands New Guinea
Maka dari itu, mereka ingin menjadikan Papua bagian barat sebagai negara tersendiri di bawah naungan Kerajaan Belanda.
Tetapi, seiring berjalnnya waktu, nama Papua ini telah dihapus oleh Abdurrahman Wahid (presiden ke-4 Indonesia) karena kata "Papua" terdengar lebih sensitif.
Yang memberi nama Irian, adalah Frans Kaiseipo. Dan memiliki arti "Ikut Indonesia Anti Nederlands".
b.) Lamanya Durasi Ditundanya Masalah Ini
Karena tidak ditemukannya kesepakatan, maka KMB memutuskan bahwa masalah Papua Barat ini akan diselesaikan dalam waktu setahun kedepan.
Namun, dari tahun 1949, sampai 12 tahun telah berlalu, persoalan tersebut belum juga dibahas lagi.
c.) Hadirnya Amerika Serikat
Ini menjadi sebuah keunikan, karena tiba-tiba Amerika menawarkan diri menjadi mediator, antara Belanda dan Indonesia.
Lebih uniknya lagi, Amerika berada di tim sekutu atau temannya Belanda, tetapi Amerika tidak berpihak pada Belanda, Amerika justru ingin menjadi penegah.
Antara Belanda, Amerika, dan juga Indonesia, mereka akan mengadakan suatu pertemuan yang dinamakan Konferensi New York.
Konferensi mereka berlangsung di Virginia, Amerika Serikat. Perwakilan Indonesia dipimpin Adam Malik, sedangkan Belanda mengutus Dr. Jan Herman van Roijen. Dan, diplomat AS, Ellsworth Bunke, bertindak sebagai penengah.
Amerika juga ingin membicarakan status kepemilikan Papua bagian barat, sehingga mendorong pihak-pihak yang bersengketa untuk duduk di meja perundingan.
e.) Perjanjian New York
Inti dari perundingan tersebut, atau yang dinamakan sebagai Perjanjian New York ini adalah Belanda harus menyerahkan Papua bagian Barat kepada Indonesia, paling lama tanggal 1 Mei 1963.
Irian Barat akan ditempatkan di bawah perwalian sementara PBB yang disebut United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA).
Pasukan Indonesia di wilayah Irian Barat berada di koordinasi UNTEA.
Pasukan Belanda bertahap akan ditarik dari wilayah Irian Barat.
Dan, Indonesia harus mengadakan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyar), untuk menentukan sikap Papua.
d.) Alasan Besar Amerika Serikat Ikut Campur
Ternyata, mereka tidak tulus membantu Indonesia dalam menangani perdebatan Irian Barat ini. Alasan pertama mengapa mereka membantu Indonesia, adalah dalam konteks perang dingin.
Pada tahun 1960, Presiden Russia, Nikita Khrushchev ingin memberikan pinjaman atau dana kepada Indonesia sebanyak 700 juta Dollar Amerika.
Jadi sebenarnya, efek dari pada Indonesia itu dari kejadian-kejadian internasional. Yang pertama adalah perang dingin, yang kita ketahui bahwa ada dua kekuatan utama di awal tahun 1960-70 yaitu antara Amerika Serikat dan Russia.
Pertemuan Indonesia dengan Russia berlangsung 2 kali. Pertemuan pertama, pemerintah Russia datang ke Jakarta, dan pertumuan kedua, pemerintah Indonesia datang ke Moksow.
Naiknya John F. Kennedy sebagai Presiden AS pada 1961 membuat persaingan dengan Russia, Sehingga dia mengirimkan surat pribadi kepada Soekarno.
Presiden Amerika berkata bahwa akan membantu permasalahan Irian Barat, memberikan dana 18 juta Dollar Amerika (untuk mengalihkan kedekatan Soekarno dengan Uni Soviet), dan dia akan menyuruh Belanda untuk melepaskan Irian Barat.
Di sisi lain, ternyata Amerika memiliki tujuan besar dalam membantu Indonesia, yaitu mereka dapat melihat bahwa Irian Barat ini memiliki potensi besar dalam tambang emas dan mineral.
Soekarno pada saat itu memiliki 2 pilihan, dimana dia mau pilih Russia atau Amerika Serikat. Tetapi, pada akhirnya Soekarno memiliih Amerika Serikat.
4. PEPERA
a.) Hadirnya Freeport McMoran
Setelah John. F. Kennedy tewas, dan Soekarno pun lengser, kekuasaan sebagai pemimpin Indonesia berpindah kepada Seoharto.
Pergantian pemimpin negara inilah yang memuluskan jalan untuk Sejarah adanya Freeport Mcmoran ini memasuki tanah Papua.
Tidak lupa juga pada isi dari pada perjanjian New York yang mengatakan bahwa Indonesia harus mengadakan PEPERA di wilayah Papua.
Sebab, Soeharto justru memandang modal asing adalah jalan keluar untuk mengurai carut-marutnya perekonomian Indonesia pada masa itu
Maka, salah satu peluang yang paling terbuka adalah Papua yang sudah dilirik oleh Freeport.
Sebelum Soeharto menjadi Presiden, ia bahkan membuat UU tentang Penamaan Modal Asing No.1 Tahun 1967
Salah satu kebijakan awal Soeharto yang berdampak panjang, termasuk menyangkut nasib rakyat Papua, adalah kontrak karya kepada Freeport
Untuk mengamankan investasi itu, Soeharto harus menjamin Papua tetap menjadi bagian Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah RI harus mengamankan suara warga Papua dalam melalui Pepera
b.) Efek Yang Dirasakan Irian Barat dari PEPERA
Amerika mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari Freeport McMoran ini, ditambah lagi karena Belanda tanpa diketahui, tiba tiba pergi dari sana.
Bisa dibilang bahwa dua tujuan utama Amerika terlaksana dengan baik, yaitu kekuasaan kekayaan alam Papua; dan perang dingin.
PEPERA ini dilaksanakan oleh "seluruh rakyat Papua" secara voting, dimana mereka ingin merdeka atau kembali ke Indonesia.
Pada saat pemilihan dimulai, rakyat Irian Barat atau Papua ini dipantau dengan ketat oleh TNI, sehingga pasti mereka merasa takut dan tegang.
Adanya TNI pada saat itu adalah hal yang sangat mengerikan, atau istilah "hidup dan mati".
Rakyat dari Irian Barat ini pasti sudah merasa dibodohi dan seperti "dipakai" oleh pada saat itu.
Mereka pastinya merasa tidak adil, pertama: kekayaan alam disana sudah dikuasai, dan bahkan voting saja perlu diawasi dengan ketat TNI, Polri, dll.
c.) Apa kontroversi dari PEPERA Ini?
Pada tahun 1963, hasil dari PEPERA ini menunjukkan bahwa Papua atau Irian Barat kembali bersama Indonesia.
Mustahil bukan? Pasti ada kecurangan!
Iyap. PEPERA ini banyak sekali kecurangan. Karena, sebenarnya orang-orang Papua ini tidak dilibatkan.
Ada yang mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia atau orang yang bukan dari papua yang voting
Ada juga yang mengatakan bahwa Orang Papua ini diancam, dan terjadi penyiksaan yang dilakukan oleh TNI kepada orang-orang Papua Barat.
Dan, sebenarnya banyak sekali kontroversi yang terjadi, tetapi lagi-lagi, disembunyikan dari sejarah.
d.) Usaha Soeharto dalam melancarkan PEPERA
Tindakan yang Soeharto lakukan dalam melancarkan PEPERA ini termasuk, kebijakan, pendekatan, dan ancaman kepada rakyat Papua
Untuk menarik hati rakyat Papua, Ali Moertopo memberikan hadiah-hadiah berupa bir dan tembakau kepada kepala suku Papua
Pendekatan tersebut dilakukan, tetapi juga dibarengi oleh tekanan
Orang-orang Papua yang akan memberikan suara dalam Pepera 1969 itu juga ditentukan oleh pejabat Indonesia. .
Dan, pelaksanaannya PEPERA 1969 itu pun dijaga ketat oleh militer, TNI dan polisi Indonesia
Orang-orang Papua pada saat itu diancam oleh para TNI dan militer Indonesia, dan terjadinya juga penyiksaan atau pembunuhan oleh TNI ke orang-orang Papua