Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Kolaborasi dan Kerja Sama Tim Kesehatan, Dyandra Wirahana Hasan -…
Kolaborasi dan Kerja Sama Tim Kesehatan
Filosofi dan Peran
Profesi Dokter
Filosofi
Pendidikan kedokteran tidak hanya berfokus pada pemahaman dan keterampilan, tetapi juga berfokus pada sikap profesionalisme
Harus memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis kedokteran, kemampuan komunikasi, kemampuan memilah informasi, sikap mawas diri, dan profesionalisme
Merupakan profesi yang melayani masyarakat yang menderita sakit
Peran
Sebagai pendidik, sebagai pengembang teknologi layanan kesehatan, sebagai pengabdi masyarakat, dan pembelajar
Profesi Apoteker
Peran
Leader, decision maker, communicator, lifelong learner, teacher, care giver, and manager
Filosofi
Apoteker merupakan bagian dari tenaga kesehatan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pelayanan kefarmasian yang berkualitas kepada masyarakat
Farmasi berasal dari kata pharmacy (Bahasa Inggris) atau pharmacon (Bahasa Yunani) yang berarti obat. Farmasis, atau yang lebih dikenal dengan apoteker di Indonesia, adalah seseorang yang memformulasikan obat, melakukan dispensing obat, memberikan informasi obat kepada pasien atau tenaga kesehatan lainnya.
Dimulai sekitar 50.000 sebelum masehi (SM) dengan ditemukannya fosil yang memiliki khasiat obat oleh The Neanderthal.
Profesi Dokter Gigi
Peran
Profesionalisme, Penguasaan ilmu pengetahuan kedokteran dan kedokteran gigi, Pemeriksaan fisik secara umum dan sistem stomatognatik, Pemulihan fungsi sistem stomatognatik, and Kesehatan gigi mulut masyarakat
Filosofi
Mulai ada di Indonesia sejak tahun 1928
Bekerja di tingkat keluarga dan masyarakat untuk menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut
Bertanggung jawab pada area gigi, mulut, dan area otot di daerah kepala leher rahang, lidah, kelenjar saliva, dan sistem saraf di area kepala dan leher
Perawat
Filosofi
Sejarah tentang perawat dimulai ketika terdapat sekelompok wanita tua dan janda yang membantu tabib dalam melakukan perawatan terhadap orang sakit. Namun, perawat dipandang sebagai budak dan mendapatkan penghargaan yang rendah pada zaman keagamaan.
Perawat adalah tenaga profesional yang mempunyai pendidikan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Peran
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, Peran sebagai advokat pasien, Peran edukator, koordinator, kolaborator, dan konsultan
ahli kesehatan masyarakat
Filosofi
Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan dan efisiensi melalui upaya sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit infeksi, pendidikan kesehatan individu, dan lainnya.
Peran
Memantau, mendiagnosa, menginformasikan, menjalin kemitraan, menegakan hukum, menciptakan sistem, menjamin tenaga kesehatan, mengevalusi, meneliti dalam kalangan masyarakat
Kolaborasi
Model Kolaborasi
Model tim interprofesi
Terdiri dari berbagai tim profesi yang memiliki tujuan bersama yaitu memenuhi kebutuhan pasien.
Model Tim yang Dipimpin Perawat
Karena kurangnya dokter dan akses ke layanan kesehatan primer, sehingga tim ini memberikan peran utama kepada perawat untuk memberikan perawatan, perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, perawatan/pengobatan, edukasi, pengetahuan pasien, serta pemantauan pasien.
Model Manajemen Kasus
Model manajemen kasus biasanya ditemukan pada multidisiplin dan interdisiplin, dan berfokus pada saat pasien dalam kondisi kronis.
Model Perawatan Bersama
Model perawatan bersama melibatkan 2 tenaga kesehatan yang membagi tanggung jawab bersama untuk suatu pasien atau program.
Komponen Kolaborasi
Roberts and Breadley
Transmutational purpose (penyatuan tujuan)
Keanggotaan yang tetap dan sukarela
Organisasi
Proses interaktif
Properti sementara
Grey
Penyatuan pemikiran secara konstruktif untuk mencapai solusi
Keputusan bersama semua aktor (joint ownership of decision)
Saling ketergantungan
Tanggung jawab bersama
Robert Agranoff dan Michael McGuire
Nilai tambah
Deliberasi
Komunikasi
Prinsip Kolaborasi
Terdapat Hubungan Dokter dan Pasien yang Baik
Terdapat Pemimpin yang Terbaik
Pelayanan Berpusat Pada Pasien
Terdapat Rasa Saling Menghormati
Terdapat Komunikasi Yang Efektif
Terdapat Kejelasan Peran dan Lingkup Pelayanan Kesehatan
Terdapat Kejelasan Tanggung Jawab
Terdapat Perlindungan Terhadap Kerugian Untuk Seluruh Tim
Terdapat Sumber Daya Manusia dan Fasilitas yang Memadai
Terdapat Tim Edukasi Yang Baik
Terdapat Pendanaan dan Pengaturan Pembayaran yang Memadai
Terdapat Penelitian dan Kolaborasi
Tujuan dan Manfaat Kolaborasi
tujuan
Membangun dan mempertahankan kolaborasi tim kesehatan sangat diperlukan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan optimal.
Konsep kolaborasi tim kesehatan itu sendiri merupakan konsep hubungan kerjasama yang kompleks dan membutuhkan pertukaran pengetahuan yang berorientasi pada pelayanan kesehatan untuk pasien di Rumah Sakit.
Memberikan pelayanan yang tepat, oleh tim kesehatan yang tepat, di waktu yang tepat, serta di tempat yang tepat.
manfaat
Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
Menambah ilmu pengetahuan antarprofesi
Membentuk tim fungsional dengan mengintegrasikan kemampuan pelayanan kesehatan
Jumlah penawaran pelayanan profesional meningkat
Memaksimalkan produktivitas
Meningkatkan kepuasan profesionalisme, loyalitas, dan kepuasan kerja
Peningkatan akses ke pelayanan kesehatan
Efisien dan Efektif
Memberikan kejelasan peran dalam interaksi
Definisi Kolaborasi:
Berdasarkan WHO tahun 2011, Tim merupakan Kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berinteraksi secara dinamis, saling tergantung, dan adaptif menuju suatu tujuan/ misi bersama, di mana setiap anggota telah memiliki peran/ tugas dan fungsi spesifik, dengan masa keanggotaan yang terbatas
Berdasarkan Canadian Heath Services Research Foundation, Teamwork adalah interaksi atau hubungan di antara dua atau lebih profesi yang bekerja secara saling tergantung untuk mencapai suatu tujuan bersama. Untuk mencapai suatu kerja sama tim dibutuhkan suatu tim dan kolaborasi
sedangkan menurut Mickan dan Roodger pada 2005, Kolaborasi didefinisikan sebagai proses interaksi dan hubungan antarprofesi yang bekerja pada sebuah lingkungan kelompok.
Kolaborasi dalam Tim Kesehatan
Sistem pelayanan kesehatan sesuai Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) di Indonesia
Sekunder
Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta dapat merujuk kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merujuk. adapun Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder ini dapat menerima rujukan dari pelayanan primer dan memfasilitasi dalam bentuk infrastruktur, sumber daya, SDM, dll.
Tersier
Pelayanan kesehatan perorangan tersier Merupakan pelayanan kesehatan yang menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya, dan dapat merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang dirujuk. Pada Upaya ini berfokus kepada perorangan dan dilaksanakan oleh dokter subspesialis atau spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus. sedangkan kesehatan masyarakat tersier memberikan fasilitas dalam bentuk infrastruktur dan SDM, termasuk pengembangan bidang kesehatan masyarakat dan penapisan teknologi.
Primer
Pelayanan Primer perorangan merupakan pelayanan kesehatan yang di mana terjadi kontak pertama secara perseorangan sebagai awal proses awal pelayanan. sedangkan pelayanan kesehatan masyarakat primer berfokus kepada keluarga atau sekelompok masyarakat yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan dan pencegahan tanpa pengobatan.
Membangun dan Mempertahankan Kolaborasi Tim Kesehatan : Model dan Faktor Yang Mempengaruhinya
Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Tahun 2017
Pedoman dalam berkolaborasi dan bekerja sama dalam tim pelayanan Kesehatan, khususnya pada level pelayanan di rumah sakit.
Sistem dan aturan yang dilengkapi dengan pemahaman tentang setiap profesi kesehatan telah terbukti sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kolaborasi pelayanan kesehatan (Setiadi et al., 2017; Soemantri et al., 2019).
Asuhan pasien diberikan oleh profesi kesehatan sebagai Profesional Pemberi Asuhan (PPA) yang bekerja dalam tim interdisiplin dengan kolaborasi interprofesi dan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang berperan sebagai ketua tim asuhan pasien (clinical leader).
Asuhan pasien diselenggarakan dengan berpusat pada pasien dan bersifat terintegrasi, melibatkan dan memberdayakan pasien dan keluarga.
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kolaborasi dan Kerja sama Tim Kesehatan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Setiadi et al. (2017)
Level Organisasi
Level Personal
Level Tingkat Kesehatan
Menurut WHO (2020)
Faktor Dukungan Institusi
Faktor Kultur Kerja
Faktor Lingkungan
Konsep Layanan Kesehatan Kolaboratif yang Diterapkan DI RS UI
Alur Pasien di Layanan Sekunder
(Rawat Inap)
Hospital Information System
Alur Layanan Rawat Jalan
Masalah dalam Proses Kolaborasi Pengelolaan Masalah Kesehatan
Tahapan Manajemen Konflik
Tahap 2: Persiapan
Tahap 3: Melakukan Pembicaraan
Tahap 1 Kesepakatan
Gaya Manajemen Konflik
Gaya Bersaing (Competing)
Gaya Akomodasi (Accomodating)
Gaya Menghindar (Avoiding)
Gaya Kompromi (Compromising)
Gaya Kolaborasi (Collaborating)
Definisi dan Tipe-Tipe Konflik
Konflik merupakan gejala sosial yang ada dalam kehidupan sosial. Konflik bersifat inheren, yaitu konflik akan ada dalam setiap ruang dan waktu.
Tipe-Tipe
Konflik antara individu dan kelompok
Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik antar individu dalam organisasi yang sama
Konflik antar organisasi
Konflik dalam individu
Conflict Prevention
Compromising/ berkompromi
Accommodating/ akomodatif
Competition/ bersaing
Collaborating/ berkolaborasi
Avoiding/ menghindari
Anger Management
Pribadi
Redakan tanda-tanda fisik kemarahan yang terjadi
Berpikir logis
Hindari kemarahan
Ekspresikan perasaan secara efektif dan sesuai
Temukan solusi dari masalah yang menyebabkan kemarahan
Let go
Orang lain
Kumpulkan informasi
Jadwalkan pertemuan
Mulai dari diri sendiri
Engage with the person
Evaluasi dan ambil sikap
Komunikasi Interprofesi
Kegagalan Komunikasi Interprofesi
Komunikasi yang gagal melakukan rujukan dengan tepat
Komunikasi yang tidak lengkap dan tidak akurat
Komunikasi yang terlambat
Komunikasi yang tujuannya tidak tercapai
Hambatan dalam Komunikasi Interprofesi
Hierarki
Budaya
Gender Bias
Perbedaan bahasa dan jargon
Perbedaan latar belakang dan budaya profesi
Hambatan fisik
Kemajuan Teknologi
Hambatan sarana dan prasarana
Kepribadian Individu
Jenis Komunikasi Interprofesi
Menurut Waktu Keberlangsungannya
Komunikasi synchronous: Terjadi secara langsung dan merujuk pada tindakan komunikasi antarindividu pada waktu yang sama.
Komunikasi asynchronous: Terjadi secara tidak langsung dan merujuk pada tindakan komunikasi yang terjadi di waktu yang berbeda.
Menurut Bentuknya
Komunikasi Verbal: Menekankan pada penggunaan bahasa atau kata secara lisan atau tertulis.
Komunikasi Nonverbal: Meliputi penampilan, gaya berjalan, gerak-gerik tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, visual cues (bahasa tubuh), jarak proxemics dan lingkungan fisik, penampilan, suara, serta sentuhan.
Membangun Komunikasi interprofesi yang Efektif
Sifat Terbuka
Sopan Santun
Kolaborasi
Definisi Komunikasi Interprofesi
O’Daniel dan Rosenstein (2008)
Komunikasi yang terjadi baik antar profesi maupun antara profesi dengan masyarakat yang dilakukan secara terbuka, kolaboratif, dan responsif
Hamid et al. (2016)
Komunikasi Interprofesi didefinisikan sebagai situasi saat antar petugas profesional dan klien berkomunikasi secara terbuka, kolaboratif, dan responsif
Kepemimpinan
Definisi
Suatu upaya untuk mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu
Gaya
delegating
Supporting
Directing
Coaching
Ciri-CIri
ditemukan di semua level
dapat menyelesaikan masalah secara kolaboratif
dapat membantu anggota tim
manfaat
mendapt banyak solusi atau ide
memiliki komitmen dan tenggung jawab
membangun kepercayaan diri
Posisi individu
aksis formal dan informal
aksis internal dan eksternal
Sumber Kekuatan
Personal power
Position power
Dyandra Wirahana Hasan - 2106717682
Fakultas Kedokteran Gigi IPE-21