Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Pramoedya Ananta Toer Florence 11C - Coggle Diagram
Pramoedya Ananta Toer Florence 11C
Masa Muda
Pram menamatkan pendidikan sekolah dasar di Institut Boedi Oetomo di Blora. Kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Radio Surabaya selama satu setengah tahun. Di Jakarta, Pram melanjutkan pendidikan di Taman Siswa (1942—1943), kursus di Sekolah Stenografi (1944—1945) dan menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945) untuk mata kuliah Filsafat, Sosiologi, dan Sejarah.
Saat SD, Pram sempat tidak naik kelas 3 kali
saat berada di bangku sekolah dasar. Pram kemudian dipaksa keluar oleh ayahnya dan belajar di rumah dengan ayahnya.
Ketika ibunya yang menderita TBC dan ayahnya keduanya meninggal, Pram harus menghidupi keluarga, sekaligus menjadi sosok bapak untuk adik-adiknya. Pram sempat bekerja di Kantor Berita Jepang “Domei” sebagai juru ketik.
Keluarga
Pram adalah anak sulung dari 8 bersaudara. Ia memiliki 4 adik laki-laki dan 3 adik Perempuan.
Pram lahir di keluarga bangsawan/priyayi. Namun didikan ibunya untuk menjadi seorang yang teladan membuat Pram tidak terpengaruh oleh status keluarganya yang priyayi.
Ayahnya bernama Mastoer, adalah keturunan priyayi yang merupakan pengajar di HIS dan kepala sekolah di Institut Boedi Oetomo. Ibunya bernama Siti Saidah berasal dari keluarga santri di Rembang Jawa Tengah
Tujuan Pram Menulis
Pram menulis sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah dan pengabdian terhadap bangsa Indonesia. Pram berharap karyanya dapat memberikan kekuatan untuk berpihak pada yang benar, adil dan indah, dan supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih baik di masa depan.
Pram menulis untuk meninggalkan sejarah dan mengawetkan nama; supaya tidak hilang dari sejarah dan dilupakan masyarakat.
Pendapat orang lain mengenai Pram
Menurut adiknya, Soesilo Toer, Pram adalah sosok yang optimistik dan bertanggung jawab. Pram merupakan sosok yang sangat percaya diri terhadap pendapat yang dilontarkannya.
Menurut Peminat Sastra Iwan Gunadi, keseriusan Pram dalam meriset sebelum menulis karya sastra pantas menjadi panutan bagi para para penulis karya sastra masa kini.
Menurut aktor senior Slamet Rahardjo, Pram adalah sosok ideal yang dibutuhkan Indonesia dijelang tahun politik 2019 mendatang. Menurutnya, karya Pram seperti Gadis Pantai dan Keluarga Gerilya bagaikan membaca sebuah skenario sehingga dapat sangat cocok untuk perkembangan industri perfilman Indonesia, khususnya penciptaan naskah skenario.
Ciri khas karya Pramoedya
Kebanyakan dari karya Pram mecnceritakan seorang tokoh atau riwayat seseorang atau sebuah keluarga. Karyanya seringkali bersifat biografis atau semi-otobiografis atau semi-biografi dirinya atau keluarganya.
Karya Pram cenderung membahas dan menguraikan persoalan sejarah dan kebanyakan bertendensi pada kemanusiaan, nilai-nilai humanis dan benturan dengan nilai tersebut pula.
Latar belakang penulisan novel Gadis Pantai
Latar belakang penulisan novel Gadis Pantai
Novel Gadis Pantai merupakan karya Pram yang terinspirasikan oleh kisah hidup neneknya yang merupakan anak selir penghulu Rembang. Novel ini menceritakan tentan pernikahan dini dan menggambarkan feodalisme Jawa, antara kaum priyayi dan rakyat jelata pada masa penjajahan dulu. Sayangnya novel ini tidak lengkap sebab hanya buku pertama dari trilogi ini yang ditemukan sedangkan kedua buku lainnya hilang dalam vandalisme politik 1965.