Sistem Syaraf
Struktur Sel saraf
Akson
Selubung myelin
Dendrit
Akson terminal
Nodus ranvier
Nukleus
Mempercepat laju rangsangan
Penerima rangsangan / tempat menerima informasi
mengenali informasi yang diterima dan diteruskannya
Menerima/menghantarkan rangsangan dari badan sel
Menerima/menghantarkan rangsangan ke badan sel
loncatan dari impuls saraf
Jenis sel saraf
Sel saraf motorik
Sel saraf intermediate
Sel saraf sensorik
Skema terjadinya gerak
Gerak refleks
Gerak sadar
Sistem Saraf pusat
Susunan saraf pusat (SSP) yaitu encephalon dan medula spinalis, terletak dalam Cavitas cranii dan Canalis vertebralis yang merupakan pusat integrasi dan kontrol seluruh aktifitas tubuh
Organ sistem saraf pusat
Enchepalon ( Brain)
Medulla spinalis (Spinal Cord)
Medula spinalis terletak memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai dari ruas-ruas tulang leher sampai ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Medula spinalis terbagi menjadi dua lapis yaitu lapisan luar berwarna putih (white area) dan lapisan dalam berwarna kelabu (grey area)
Cavitas Cranii
Cairan cerebrospinal
mengelilingi ruang sub araknoid disekitar otak dan medulla spinallis serta mengisi ventrikel otak. Fungsi > sebagai bantalan untuk pemeriksaan lunak otak dan medula spinalis, juga berperan sebagai media pertukaran nutrien dan zat buangan antara darah dan otak serta medula spinalis.
Konsistensi seperti puding lunak , otak tersusun atas 85% air , bagian tubuh lainnya 65% .
Komponen medulla spinalis
General Somatic Afferent (GSA) : komponen ini menghantarkan impuls exteroceptif dan proprioceptif.
General Viseral Afferent (GVA) : komponen ini menghantarkan impuls yang berasal dari organ visera seperti impuls tarikan/regangan, perubahan tekanan, perubahan kadar 02/CO2, perubahan kimiawi,
General Somatic Efferent (GSE) : komponen ini menghantarkan impuls motorik ke otot rangka. Terdiri atas neuron motorik alfa dan gamma
General Visceral Efferent (EVU) : komponen ini menghantarkan impuls otonom yang terdiri atas komponen simpatis dan parasimpatis
Sistem Saraf Tepi
Berdasarkan letaknya, Sistem Saraf Tepi terbagi menjadi
Berdasarkan fungsinya, Sistem Saraf Tepi terbagi menjadi
Nervus Cranialis
Nervus Spinalis
Sistem Saraf Somatik (SSS)
Sistem Saraf Otonom (SSO)
lanjutan dari Organ Medulla Spinalis untuk menjadi 31 pasang bagian yg masing-masing keluar dari Canalis vertebralis melalui Struktur Foramina intervertebralis.
Nucleus/Inti yang sebagian besar terdapat di Struktur Brain stem (Bagian organ Mesencephalon - Pons Medulla oblongata) di Organ Encephalon sehingga menjadi 12 pasang bagian dengan jaras perjalanannya masing-masing melalui Struktur Foramen / canal/Fissura di Fossa basis cranii ossa cranium.
Sistem saraf somatik menyalurkan pesan-pesan tentang penglihatan, suara, bau, suhu, posisi tubuh dan lain-lain ke otak.
Saraf sensorik (Aferen) dari sistem somatik mengirimkan informasi tentang stimuli eksternal dari kulit, otot dan sendi ke SSP.
Saraf motorik (Eferen) dari sistem somatik membawa impuls dari SSP ke otot-otot tubuh dimana gerakan dimulai.
Sistem saraf otonom mengatur jaringan dan organ tubub yang tidak disadari. Sistem saraf ini mengatur kelenjar dan aktivitas-aktivitas involunter seperti detak jantung, pernapasan, pencernaan, serta banyak berhubungan dengan respons emosional.
Saraf Simpatis lebih banyak terlibat dalam memberikan respons emosional.
Saraf prasimpatis seringkali merupakan kebalikan dari saraf simpatis.
Proses pertumbuhan dan perkembangan sel saraf pada janin
Hari ke-16 sudah terbentuk endoderm dan mesoderm
Hari ke-14 - 15 setelah fertilisasi terbentuk primitif streak dari permukaan epiblast.
Hari ke-17 notocord menyentuh lempeng procondral sehingga terjadi proleferasi ektoderm membentuk lempeng saraf dengan penebalan ke arah dorsal.
Pandangan dorsal pada usia sekitar 20 hari.
Hari ke-19 semakin terbentuk neural groove
Hari ke -19 Neural plate (Otak janin) terus bertumbuh dan kemudian berubah menjadi tabung saraf (Neural tube).
Pandangan dorsal mudigah presomit lanjut berusia sekitar 18 hari. Amnion telah diangkat dan lempeng saraf dapat terlihat jelas.
Hari ke -20 primitif steak semakin terdesak kebawah dan terbentuklah somite,yang membentuk kolumna vetebre dan otot segmental.
Hari ke -22 Terjadi penutupan somite,yang terjadi pada hari ke-20 sampai 22.
Hari ke - 25 Blok mesoderm(somite)harus tertutup kearah kranial.Munjulnya tonjolan perikardium serta arkus faring pertama dan kedua.
Trauma Saraf dan tatalaksana
Trauma saraf medula spinalis
Trauma saraf Medula Spinalis adalah cedera pada tulang belakang baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan gangguan fungsi utamanya, seperti fungsi motorik, sensorik,autonomik dan refleks. Trauma medula spinalis menimbulkan gangguan neurologik dan dapat menyebabkan kecatatan dan kematian.
Trauma saraf medula spinalis adalah trauma yang terjadi pada jaringan medula spinalis yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebrata atau kerusakan jaringan medula spinalis lainnya termasuk akar-akar saraf yang berada sepanjang medula spinalis sehingga mengakibatkan neurologi.
Penyebab
penyebab utama trauma medula spinalis adalah kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh,kecelakaan kerja, kekerasan fisik,dll.
Dapat menyebabkan
Trauma Medula Spinalis dapat menyebabkan komosio, kontusio, laserasi atau kompresi medula spinalis.
National Spinal Cord Injury Association mengkategorikan trauma medula spinalis menjadi:
Thoracic Nerves (T1-T5)
Thoracic Nerves (T6-T12)
Low Cervical Nerves (C5-C8)
Lumbar Nerves (L1-L5)
High Cervical Nerves (C1-C4)
Sacral Nerves (S1-S5)
REGENERASI SARAF PADA SISTEM SARAF PERIFER
regenerasi pada saraf perifer dapat terjadi karena beberapa faktor.
pembersihan cedera (oleh makrofag) jauh lebih cepat daripada CNS
proses regenerasi dibantu oleh sel schwaan
membutuhkan waktu
3 TIPE KERUSAKAN SARAF
(KLASIFIKASI SEDDON)
AXONOTMESIS
NEUROTMESIS
NEURAPRAXIA
demielinisasi, gangguan konduksi saraf
terjadi lesi, menyebabkan hilangnya kontinuitas akson
diskontinuitas akson disertai ruptur epinerium
BEBERAPA MAKANAN YANG MEMBANTU MENJAGA KESEHATAN SISTEM SARAF
kacang-kacangan
alpukat
teh hijau
oatmeal
cocoa
minyak zaitun
sayuran hijau
Penyebab terjadinya gangguan miksi dan defekasi pada kerusakan medula spinalis
Gangguan miksi
Gangguan defekasi
Pusat Miksi Pons
Daerah kortikal yang mempengaruhi pusat miksi pons
Pusat miksi pons berperansebagai pusat pengaturan yang mengatur refleks spinal dan menerima input dari daerah lain di otak
esi pada bagian anteromedial dari lobus frontal dapat menimbulkan gangguan miksi berupa urgensi, inkontinens, hilangnya sensibilitas kandung kemih atau retensi urine.
Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi
Gejala-gejala disfungsi kandung kencing neurogenik terdiri dari
retensi
inkontinens
frekuensi
urgensi
Tiga jenis utama gangguan kandung kemih:
Lesi antara pusat miksi pons dansakral medula spinalis
Lesi Lower Motor Neuron (LMN)
Lesi supra pons
Untuk membantu defekasi ada dua proses :
gangguan defesi pada medulla spinalis
Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi, yang terletak di medula dan sumsum tulang belakang.
refleks defekasi intrinsik yang dimulai dari adanya zat sisa makanan (feses) terdapat direktum sehingga terjadi distensi, kemudian flexus mesenterikus yang merangsang gerakan peristaltik dan akhirnya feses sampai di anus, kemudian spingter interna relaksasi maka terjadilah proses defekasi.
refleks defekasi parasimpatis, adanya feses di rektum merangsang saraf rektum yang kemudian ke spinal cord, dan merangsang ke kolon desenden, ke sigmoid. Rektum dengan gerakan peristaltik dan akhirnya terjadi relaksasi sphincter interna maka terjadilah proses defekasi.
Trauma C8, Pasien masih mampu menggenggam dan melepaskan objek yang digenggam. Tidak terdapat gangguan kontrol atau terdapat sedikit kontrol terhadap fungsi berkemih atau defekasi tetapi pasien dapat mengatur fungsi tersebut sesuai dengan keinginan dengan bantuan alat
Trauma C7 , Sebagian besar pasien mampu menggerakkan bahu, dengan gangguan ekstensi siku dan ekstensi jari – jari tangan. Tidak terdapat gangguan kontrol atau terdapat sedikit kontrol terhadap fungsi berkemih atau defekasi tetapi pasien dapat mengatur fungsi tersebut sesuai dengan keinginan dengan bantuan alat.
Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan stimulus sensori untuk defekasi. Gangguan mobilitas bisamembatasi kemampuan klien untuk merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan. Akibatnya, klien bisa mengalami konstipasi. Atau seorang klien bisa mengalami fecal inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkter ani.