Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Neurosistiserkosis - Coggle Diagram
Neurosistiserkosis
-
diagnosis
anamnesis
nyeri kepala, pusing, demam naik turun, muntah tanpa disertai mual, kelemahan anggota gerak kejang, peningkatan tekanan intrakranial
peternak babi, seringnya terpapar babi, kebersihan diri
-
definisi
merupakan penyakit infeksi pada sistem saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh kista stadium larva cacing pita Taenia solium atau sistiserkus.
-
epidemiologi
Di amerika latin, india, afrika, dan china. Di Indonesia Penyakit ini bersifat endemis terutama daerah sumatera utara, bali, papua. Prevalensi sistiserkosis di Indonesia bervariasi antara 2% di Bali dan 48% di Papua.
morfologi taenia solium
-
Badan cacing terbagi atas bagian kepala (skolek), leher dan proglotid-proglotid.
-
-
-
Jumlah total proglotid berkisar antara 800 - 1000 buah yang terdiri atas proglotid immature, mature dan gravid.
Pada proglotid immature organ reproduksi masih belum tampak terbentuk karena merupakan proglotid termuda.
Pada proglotid mature terlihat struktur kelamin seperti folikel testis yang berjumlah 150 – 200 buah tersebar di bidang dorsal.
-
-
tatalaksana
albendazol dan prazikuantel
Dosis albendazol adalah 15 mg/kg/hari selama satu bulan dan dosis untuk prazikuantel adalah 50 mg/kg/hari selama dua minggu.
pencegahan
Dilakukan dengan cara menghindari makan makanan yang tercemar oleh telur cacing pita yang dibawa oleh penderita pembawa (carrier) taeniasis dan mencegah terjadinya autoinfeksi, serta memasak daging sampai masak.
edukasi
- Mengobati penderita (praziquantel, mebendazole, albendazole, niclosamide, dan atabrin) untuk menghilangkan sumber infeksi dan mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing.
- Memelihara kebersihan lingkungan dengan buang air besar tidak sembarangan (menggunakan jamban keluarga) sehingga feses manusia tidak dimakan oleh babi dan tidak mencemari tanah atau rumput.
- Pemeriksaan daging oleh dokter hewan di RPH (Rumah Pemotongan Hewan), sehingga babi mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas peternakan)
- Menghilangkan kebiasaan makan makanan yang mengandung daging setengah matang atau mentah.
- Memasak daging babi di atas suhu 50C selama 30 menit untuk mematikan larva sistiserkus atau menyimpan daging babi pada suhu 10C selama 5 hari.
6.Memberikan vaksin pada hewan ternak babi (penggunaan crude antigen yang berasal dari onkosfer, sistisersi, atau cacing dewasa Taenia solium)
7.Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, sebelum makan atau, mengolah makanan serta Mengajari anak untuk mencuci tangan dengan sabun.